Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab125. Egois


__ADS_3

Tazkia berjalan menuju pintu utama saat dia telah memberikan bekal makanan yang semula untuk Indra. Dia tidak terlalu ambil pusing kemana Indra pergi. Pergi untuk liburan, perjalanan bisnis, atau bahkan berkencan itu haknya.


Di ambang pintu Krisna tengah menunggunya. Tangan lelaki itu di lipat di dada, dengan wajah yang dingin. Haruskah Krisna memperlakukannya seperti ini, haruskah saudara kandung satu-satunya di muka bumi ini memperlakukannya dengan tidak baik seperti ini.


Tazkia melambatkan langkah kakinya, dia tidak ingin bertemu dengan Krisna. Apalagi dia yang meminta dirinya untuk segera melangsungkan pernikahan itu.


Krisna mencekal pergelangan Tazkia, saat gadis itu melewatinya. Tidak ada senyum manja, dan juga rengekan seperti biasanya. Tazkia sudah terlalu sungkan untuk mengatakan hari-harinya.


"Apakah kamu bertemu dengan calon suamimu?" tanya Krisna dengan dingin. Sedangkan Kia dia menatap kearah depan tanpa berniat untuk menengok Krisna.


"Tidak ada," jawabnya singkat.


"Apa yang telah dilakuakn Indra pada Nita, di toko tidak ada, di rumahnya pun tidak ada. Aku yakin mereka kabur, dan kawin lari," tandas Krisna mengungkapkan kekhawatiran yang bersarang dalam hatinya. Kia, mendesah berat.


Hal konyol apa yang telah Krisna katakan. Indra adalah lelaki yang bertanggungjawab di matanya. Dia tidak mungkin melakukan hal konyok seperti itu.


"Buanglah kecurigaanmu itu, Mas. Itu hanya akan membuatmu menderita seorang diri saja. Berpikirlah positif agar tidak menjelekkan orang lain," sahut Kia dengan datar.


Krisna mencekal pergelangan tangan Kia dengan kasar. Lalu dia beralih memegangi pundak sang adik lalu meremasnya kuat-kuat, meluapkan semua amarahnya karena Indra.


"Kamu ini calon istrinya bagaimna bisa kamu bilang tidak peduli. Sedangkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik tengah di depan mata. Bagaimana jika itu terjadi apakah kamu akan diam saja!" teriak Krisna.


Tazkia menutup matanya, lalu membuka matanya perlahan. "Aku tidak peduli, karena memang ini tidak pernah aku harapkan!" Kia menghempaskan tangan Krisna dari pundaknya lalu berlari menuju kelantai atas menuju kamarnya.


Hanya karena ambisinya yang tidak ingin Nita bersama Indra, Krisna sampai memaksa dirinya untuk menikah dengan Indra. Awalnya dia ingin menolak. Tetapi saat Krisna membawa Karina dalam masalahnya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurut.


Sepanjang kakinya melangkahi anak tangga, hatinya berdenyut nyeri. Sampai kapan Krisna akan berbuat seperti ini padanya. Dia rindu kehadiran mama-nya yang telah tertidur mengahdap Sang Pencipta.


Air matanya berjatuhan tanpa diminta, serapuh inikah dirinya. Bahkan dia yang terkenal ceria kini berubah menjadi pendiam.


Gadis itu mengusap pipinya dengan kasar lalu menuruni tangga dengan cepat. Untung saja Krisna sudah tidak berada di ambang pintu. Sekilas Kia menoleh kearah tempat parkir, dan mobil Krisna telah tidak ada di tempatnya.

__ADS_1


Dia yakin jika Krisna pasti sedang mencari-cari Nita.


***


Kia memandang pilu tumpukan tanah yang menggunduk di hadapannya. Tidak bisa lagi dia hanya memendam seorang diri. Dia tidak lagi setegar dulu, dia rapuh, sangat rapuh.


Memegangi batu nisan yang bertuliskan nama sang mama. Hatinya menjerit, sesak dan nyeri tidak bisa dia tahan lagi.


"Ma, adilkah ini untukku? Mas Krisna terlalu memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan hatiku, kebahagiaanku, Ma." Kia menyandarkan kepalanya di batu nisan sang mama.


"Kia tidak sanggup lagi, Ma. Tolong sadarkan Mas Krisna, jika Mbak Nita sudah terlalu kecewa akan sikapnya. Dia harus melangkah kedepan, Ma. Dia tidak boleh hanya menatap kebelakang. Jika dia mencintai Mbak Nita, harusnya dia merelakan Mbak Nita bahagia bersama orang lain." Menunduk di depan makam sang mama saat telah mengatakan uneg-unegnya.


Tangan seseorang menepuk pundak Kia dengan lembut. Lelaki itu tersenyum hangat sembari mengusap bekas air mata di pipinya dengan ibu jari.


Dia mengusap puncak kepala Kia dengan sayang lalu merentangkan tangannya untuk Kia memeluk dirinya. Kia langsung memeluknya tanpa malu.


"Bersabarlah sampai hari pernikahan datang," ucap Ari, menenangkan. Kia terisak-isak saat mengingat hari pernikahannya dua minggu lagi.


"Mari pulang, sebelum kamu sakit karena masuk angin. Dan apakah kamu tidak takut malam-malam di kuburan seorang diri." Kia menyapu sekitar yang hanya lampu seadanya. Serta suasana yang sudah malam sangat sepi.


"Aku terlalu sedih, hingga tidak memedulikan hal begitu," jawab Kia, menguraikan pelukannya.


Ari lebih dulu berdiri lalu mengulurkan tangannya agar Kia berdiri.


***


Dengan wajah yang khawatir Krisna kembali mencari Nita untuk kerumahnya. Satpam membukakkan pintu lalu Krisna keluar mobil tergesa-gesa dan menekan bel rumah dengan cepat.


Karina yang baru selesai membersihkan diri langsung memakai pakaiannya. Dia langsung berlari keluar kamar menuju pintu utama. Setelah di depan dia mengatur napasnya lalu membuka pintu perlahan.


Krisna yang melihat Karina membukakkan pintu langsung menyerobot untuk masuk. Mencari keseluruh ruangan untuk mencari Nita.

__ADS_1


"Ta, Tata!" teriak Krisna memanggil Nita. Kakinya terus menyusuri ruangan rumah Nita. Namun, di dalam begitu hening mengingat Nita memang tidak berada di rumah.


"Maafkan aku, Ta. Kamu boleh memarahiku, atau memukulku. Tapi jangan mendiamkan aku seperti ini," papar Krisna dengan nada frustrasinya.


Seluruh ruangan telah dia telusuri, kini hanya tinggal kamar utama yang belum dia lihat. Dia menatap Karina dengan tatapan tajam.


"Kemana sebenarnya dia pergi!" teriak Krisna bertanya pada Karina. Gadis itu tekejut hingga menundukkan kepalanya tidak berani menatap Krisna.


Krisna terus memandangi Karina yang hanya menunduk tanpa berniat mengatakan sepatah kata pun.


"Jawab, saya!"


"S-saya sungguh t-tidak tahu, T-Tuan Krisna," jawab Karina gugup.


"Saya ingin mencari Nita di dalam kamar ini." Tunjuk Krisna seolah meminta izin. Karina mengangguk lalu Krisna langsung membuka pintu untuk mencari NIta.


Setelah puas mencari Nita di dalam, di berjalan gontai dengan wajah sendu. Tidak ada, di mana wanita itu sebenarnya. Apakah Nita benar-benar pergi dengan Indra?


Dia pun akhirnya bertanya pada Ari, hingga akhirnya dia sadar Nita dan Indra tidak ada di hari yang sama, dia yakin mereka berdua pergi bersama-sama.


"Satu rumah tidak tahu kemana Nita, sungguh kau memang tidak berguna!" maki Krisna pada Kariana.


Karina hanya menangis saat Kisna mulai meninggalkan rumah itu. Dia tidak tahu kenapa Krisna begitu membencinya. Apalagi dia sama sekali tidak terlibat dengan masalah mereka.


Dia memanggil nomor Bian seperti biasa. Kali ini dia tidak sadar jika panggilan itu berdering.


["Yan, tidakkah kamu merindukkan aku? aku sungguh sangat sedih saat ini,"] ucap Karina, Bian mengaktifkan kembali kartu itu. Kartu terakhir kalinya dia berkomunikasi dengan Karina.


["Tapi ... aku kuat tanpa kamu, kok. Tidak apa kamu tidak kembali bersamaku, asalkan kamu bahagia aku pun akan ikut bahagia untukmu."] Isak tangis Karina begitu melukai hati Bian.


***

__ADS_1


__ADS_2