Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Baba43. Tidak Pernah Pergi.


__ADS_3

Bab43. Tidak Pernah Pergi.


***


"Kamu mau makan, Ta?" tanya Krisna dengan senyum merekahnya. Karena dia sudah bisa membobol pertahanan Nita malam kemarin. Mungkin jika itu terjadi lebih dulu dia tidak akan pernah mencintai Kasih. Bahkan Kasih tidak akan ada di tengah-tengah mereka.


Kini Krisna merasa hatinya sudah mulai mencintai Nita kembali seperti dulu. Namun, Nita yang dulu selalu mengemis perhatian dan meminta hak batinnya kini berubah menjadi dingin.


Tidak ada sapaan setiap pagi yang kini terucap. Nita hanya bergeming, seolah menutup telinga. Dia masih betah mengamati ponselnya daripada menjawab pertanyaan Krisna.


Krisna hanya bisa mengingat perlakuan Nita dulu, bagaimana dia memperhatikannya dan juga begitu terasa dia begitu menyayanginya. Namun, ketika rasa itu tumbuh kembali Nita tidak menyambutnya dengan hangat. Terkesan tidak menginginkannya lagi. Tetapi, Krisna akan berusaha agar dia bisa mengambil kembali hati Nita yang telah patah karena dirinya.


Dia baru menyadari rasa itu memang selalu ada dalam hatinya. Tidak pernah hilang. Tapi dia tidak mengakuinya. Dia ternyata egois karena terlalu memikirkan diri sendiri tanpa memperhatikan Nita yang selalu tulus padanya.


Tidak mendapat jawaban dia membeli makanan untuk sarapan mereka berdua. Krisna berharap jika Nita bisa berbicara lagi padanya. Bisa seperti dulu berbagi suka, dan duka. Lelaki itu terus merutuki kebodohannya dulu. Jika dia bisa, dia ingin mengulang kisah masa lalu mereka di masa yang telah terlewati.


Ponsel Krisna berdering, dia sudah bahagia ketika dia berfikir jika Nita menghubunginya. Namun, bahagia itu berubah kecewa ketika yang menghubungi dirinya adalah Riska.


["Kamu membawa menantuku kemana Krisna!"] Teriak Riska di seberang sana. Dia murka karena sudah dua hari Krisna masih tidak membawa memberitahu kemana Nita berada.

__ADS_1


Lelaki itu sengaja membawa Nita tengah malam agar Riska tidak menghalangi niatnya. Supaya dia bisa bebas melakukan apapun ketika dia tahu jika Nita pasti akan menolak keinginannya.


["Ma, dia pergi bersama suaminya bukan orang lain. Kenapa Mama sekhawatir itu, dia akan baik-baik saja,"] jawab Krisna.


["Mama akan lebih senang jika dia pergi bersama lelaki lain saja. Daripada kamu Kris, kamu hanya bisa menyakiti hatinya. Tanpa mengerti dengan perasaannya. Awas saja jika kamu tidak memulangkan dia malam ini juga!"] Gertak Riska. Dia sudah ingin memeluk Nita yang sudah beberapa hari tidak ia sapa.


Krisna bahkan membohonginya. Dia mengirimkan Kasih dan Riska untuk berlibur sedangkan dia berpura-pura akan menyusul bersama Nita. Namun, nyatanya dia malah menculik menantu tercintanya.


["Berhentilah berprasangka buruk, Ma. Aku akan menjaganya seperti biasa. Mama tidak usah khawatir. Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk istriku,"] ucap Krisna membuat Riska merutuki anak lelakinya itu.


["Krisna! Ingat pesan Mama, Mama tidak suka kamu membawa dia pergi, jika terjadi sesuatu padanya Mama tidak akan memaafkan kamu, camkan itu Krisna!"] Sambungan telepon pun dimatikan Riska. Jika dia terus mendengarkan Krisna dia akan semakin darah tinggi.


***


"Ta, makan ayok. Aku akan menyuapi kamu jika kamu malas makan," ucap Krisna. Namun, Nita hanya menoleh sekilas lalu menatap Kembali ponselnya.


Tangan Krisna terulur untuk menyuapi Nita. Tetapi Nita menghindar seolah enggan untuk memakannya. Dan benar saja Nita berdiri akan pergi ke kamarnya. Krisna merasa tidak di hargai. Dia mengikuti Nita, dan mencekal tangan Nita. Langkah Nita terhenti, akhirnya dia tidak melanjutkan perjalanannya.


"Kenapa kamu tidak menghargai usahaku?" tanya Krisna. Nita berbalik dengan ekspresi datarnya.

__ADS_1


"Lalu selama ini, kamu mengapa mengabaikan aku? Sudah cukup Kris, sekuat pun kamu berusaha kamu tidak akan menumbuhkan rasa cinta ini lagi. Lupakan! Semuanya sudah berakhir, kisah kita hanya akan menjadi kenangan. Seorang wanita yang bodoh rela di madu, padahal suaminya tidak mencintainya tetapi dia masih bertahan," terang Nita panjang lebar.


"Bicaralah apa yang harus aku lakukan untuk menembus semua kesalahanku. Sekarang aku menyadari, bahwa cinta itu tidak pernah pergi dari hatiku. Di saat kamu diam-diam menemui lelaki lain, aku tidak suka! Di saat kamu juga di berikan kalung sebagai hadiah aku juga tidak menyukainya. Bahkan kamu selalu tertawa riang dengannya. Sedangkan berada di sampingku kamu selalu memberikan jarak, seolah membatasi ruang agar kita tidak terlalu dalam di segala hal," ungkap Krisna. Kini dia berkata jujur akan hatinya. Tentang semua yang membuatnya menjadi tidak berperasaan.


"Maafkan aku Ta, karena telah menampar kamu waktu itu, aku cemburu, aku cemburu melihatnya." Krisna mencoba memegangi tangan Nita. Namun, Nita dengan cepat menepisnya. Nita membelakangi Krisna, dia tidak ingin melihat lelaki itu lagi.


"Aku tidak pa-pa jika kamu belum bisa memaafkan kesalahanku. Aku sadar begitu besarnya kesalahan yang telah aku lakukan hingga membuat kamu terluka begitu dalam seperti ini. Tapi setidaknya kamu makan, kamu belum mengisi perutmu dari semalam. Aku takut kamu sakit," pinta Krisna. Dia tetap berusaha membujuk Nita. Wanita itu berbalik menatap tidak suka kearah Krisna.


"Kamu takut aku sakit? Lalu kamu dulu kemana saja? Bukan fisikku saja yang sakit! Tapi hatiku!" Teriak Nita menunjuk dadanya sendiri. Dia juga meneteskan air mata ketika dia mempunyai waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua kegelisahan, rasa sesak yang selama ini menghimpit relung hatinya.


"Sampai kapanpun rasa itu tidak akan pernah hadir lagi, Kris. Kamu harus berusaha mengikhlaskan aku pergi. Sudah saatnya kita memulai kehidupan baru dengan pasangan masing-masing yang membuat diri kita bahagia, kamu akan menjadi ayah. Jangan membuat anakmu merasa bingung karena harus mempunyai dua ibu," kata Nita, mampu membuat Krisna lemah seketika. Lelaki itu mengacak rambutnya frustrasi. Ketika dia akan mengatakan permohonannya Nita sudah tidak berada di hadapannya.


Krisna menggedor pintu Nita. Dia tidak menerima semua kata-kata itu. Baginya belum terlambat untuk memperbaiki segalanya. Seiring berjalannya waktu, perasaan Nita pasti akan hadir lagi.


"Nita keluarlah, aku tidak terima dengan keputusan kamu. Aku akan menceraikan Kasih, dan memulai hidup baru bersama kamu. Percayalah padaku seperti waktu dulu aku akan membuatmu bahagia. Dan saat inilah waktunya. Waktu yang tepat jika kita akan memulai semuanya dari awal. Kita akan membesarkan anak Kasih bersama." Tangan Krisna tidak berhenti menggedor pintu kamar Nita.


"Buang harapan itu, Kris. Aku tidak mau lagi hidup bersama kamu. Aku sudah terlalu kecewa dengan keputusan kamu yang memilih menikah lagi, daripada membuat hatimu kembali mencintaiku. Maafkan aku, Kris, maafkan aku." Krisna pun berhenti menggedor pintu. Dia berjalan dengan gontai mencari kursi untuk dia duduki. Padahal hanya sebuah penolakan. Bagaimana dengan hati Nita yang telah berusaha untuk bertahan selama ini. Bahkan dia tidak berperasaan meminta dia dan Kasih satu rumah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2