Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab95. Tanganmu.


__ADS_3

"Apa tidak ada tamu yang datang membawakan kita makan siang gratis?" tanya Karina, saat gadis itu keluar dari kamar mandi menuju tempat rekan kerjanya.


Ketiga orang itu saling menyikut dan memandang, sepertinya pemikiran mereka satu frekuensi.


"Maksud kamu tuan Indra, Karin?" tanya Risma yang kepo. Mata gadis itu mengerling seolah menggoda temannya.


"Berdasarkan fakta, cinta memang berawal dari kebencian," timpal Rindi menyenggol lengan Risma.


"Katakan saja merasa kehilangan," celoteh Imam, tidak biasanya pun lelaki itu ikut menimbrungi ledekan kedua gadis yang sudah mulai mengabaikan pertanyaan Karina.


Rindi, dan Risma mengangkat jempolnya. Bahwa kata-kata Imam memang benar. Karina mengernyit ketika melihat reaksi teman-temannya yang meledek dirinya. Mereka tidak tahu jika hatinya telah tersemat nama lelaki yaitu hanya Bian seorang.


Karina menggelengkan kepala dan tidak ambil pusing, dia tidak merasa perasaan yang menyebalkan itu menjadi cinta pada Indra. Dia merasa bersalah, tetapi dia tidak mau mengakuinya.


Indra datang bersama Kia, Karina tersenyum kearah Kia, lalu menatap datar kearah Indra. Lelaki itu memicingkan alisnya karena sikap Karina. Yang sudah jelas tadi pagi dia datang membawa sarapan meski tidak sempat dia makan.


"Gadis itu memang aneh," batin Indra.


Indra membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Nita bersama Kia. Nita tersenyum sumringah karena Kia sudah mulai mau bertemu lagi dengannya.


Namun, sepertinya keduanya tidak terlibat percakapan. Kia datang dengan wajah kesalnya, menyimpan tas saja sampai dia membantingnya. Nita menatap kearah Indra seolah meminta perjelasan akan kekesalan pada Kia. Namun, Indra menggedikkan bahu mengingat dia tidak mengetahui apapun.


"Kenapa, Kia?" tanya Nita pada gadis itu yang tengah mengerucutkan bibirnya.


"Kia sedang sebal, Mbak," jawab Kia, lantas gadis itu memutari meja dan memeluk Nita dengan sayang.


"Mbak, bisa tidak suruh orang yang datang bersamaku untuk tidak mengganggu aku," rengek Kia, dengan mendelik kearah Indra. Lelaki itu merasa tidak mengganggu Kia. Dia lantas ikut memutari meja dia dan berdiri disamping Kia.


"Maksud kamu aku, Kia?" Tunjuk Indra pada dirinya sendiri. Lelaki itu mendesah frustrasi lalu menyugar rambutnya.


"Aku ada salah sama kamu? Bicarakan denganku, Kia. Jangan mengadu pada Nona Nita, aku malu," oceh Indra yang masih tidak ditanggapi oleh Kia.


"Masa dia pegang-pegang tangan Kia, loh Mbak," adu Kia lagi dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Indra menggeleng mengangkat tangannya melambai. Dia tidak merasa memegangi tangan gadis itu.


"Katanya tangan Kia bau sambal terasi!" Gerutunya memandang wajah Nita dengan wajah kesalnya.


"Emang Kia makan sambal terasi?" Nita sudah tidak kuat lagi ingin memarahi Indra, sudah jelas-jelas lelaki itu susah payah mengajaknya keluar. Dan seenaknya saja meledek gadis itu.


Kia mengangguk dan menguraikan pelukannya. Dia berjalan kearah sisi kanan agar tidak berdekatan dengan Indra. Lelaki itu menepuk dahinya, merasa menyesal karena telah mengacaukan kerja kerasnya sendiri.


"Mmm, aku cuma bercanda, Kia." Indra mulai mendudukan bokongnya disamping Kia. Namun, gadis itu tidak menghiraukan ucapan Indra. Kia sibuk mengotak-atik ponselnya.


Beberapa menit berlalu seseorang mengetuk pintu ruangan Nita. Nita mempersilakannya masuk. Ari datang dengan sopan membungkukkan kepalanya, memberi hormat.


Kia langsung berdiri dan bergelayut manja di lengan Ari.


"Nona Nita, saya datang untuk menjemput Nona Kia, permisi." Ari kembali membungkukkan kepalanya dan berpamitan.


Nita lantas berdiri dan berkacak pinggang dihadapan lelaki itu.


"Katanya ingin dekat lagi mengapa kamu bisa mengatakan hal konyol yang membuatnya marah." Nita memijit keningnya merasa pusing dengan tingkah lelaki itu.


"Heran sama kaum lelaki, pas susah payah malah seperti itu. sebenarnya dia niat tidak untuk menjadikannya kekasih lagi."


***


Indra melihat Karina yang memasuki kamar mandi. Dia menunggunya di depan pintu, ketika Karina membuka pintu gadis itu terkejut, memegangi dadanya. Dia berusaha untuk bersikap normal.


"Mau ikut menemani tidak?" goda indra saat Karina melewatinya. Gadis itu memelototinya dan melayangkan tangannya untuk memukul Indra. Namun, dengan sigap Indra mencegah tangan Karina agar tidak memukulnya.


"Eh, kucing garong!" Indra mengerlingkan matanya dengan genit, dia sama sekali tidak merasa bersedih saat Kia malah memilih pergi dengan Ari, tetapi dia malah menggoda gadis itu.


"Lepas! lelaki mes*m! itu matamu, mau kucolok!" Tangan Karina mengarah bola mata Indra, lelaki itu langsung memiringkan tubuhnya dan melepaskan tangan Karina.


"Kerja lagi sana. Jangan buang-buang waktu untuk menemui orang di pagi hari buat ngasih sarapan." Lantas Indra langsung masuk kedalam kamar mandi. Karina termenung memikirkan ucapan Indra, dia pun teringat jika tadi pagi--Karina datang kesana. Gadis itu menelungkupkan tangannya merasa malu karena kedatangannya diketahui oleh pemilik rumah.

__ADS_1


***


"Kenapa wajahmu kusut begitu?" Ari ingin mengetahui sebab gadis disampingnya hanya terdiam dengan wajah kesal. Kia malah mengangkat tangannya dan mengarahkan ke hidung Ari, lelaki itu menatap sekilas dan bingung dengan tangan yang menempel di hidungnya.


"Bau terasi nggak, Mas?" Kia menatap Ari dengan wajah khawatirnya. Di mata Ari eksperisnya itu sungguh menggemaskan. Dia pun menjawab dalam hatinya jika ia tangan gadis itu sungguh bau terasi dan menyenyat.


"Enggak." Ari menjawab dengan berbohong. Dia tidak ingin membuat semakin kesal gadis di sampingnya.


"Mas Ari bohong, ya? kata Indra juga tanganku bau terasi, bayangkan saja Mas dia menggapai tanganku memeganginya dan malah mengendus tanganku, dia berkata tanganku bau terasi. Apa-apaan," gerutunya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tapi kamu merasa 'kan? kenapa malah marah?"


"Aku gak marah, aku malu." Kia menelungkapkan wajahnya.


Ari hanya mengulas senyum, dia tidak ikut meledeknya. Kia yang merasa lelaki itu sedikit aneh pun bertanya.


"Jangan bilang hatimu itu sedang meledekku. Jangan bilang sudah, aku tidak mau dengar." Kia menyomot bibir Ari, tidak membiarkan lelaki itu mengeluarkan kata sepatah pun. ari tidak memprotes akan apa yang dilakukan gadis itu.


Merasa pegal karena sepanjang jalan dia menyomot bibir Ari, dia pun melepasnya. Ari menatap seklias kearah Kia dengan wajah datarnya. Sedangkan Kia menatap lelaki itu dengan tersenyum kikuk karena malu.


"Kenapa gak makan jengkol sekalian." Ari langsung keluar mobilnya untuk membukkan pintu mobil. Kia pun menurunkan kakinya dengan ragu-ragu, dan menundukkan kepalanya.


Ari memegangi pakaian gadis itu untuk tidak pergi lebih dulu. Dia ingin memberi pelajaran karena telah seenaknya mencomot bibirnya agar tidak bersuara.


"Tidak merasa bersalah?" Kia membungkukkan kepalanya meminta maaf pada lelaki itu.


"Aku cuma mau bilang, kalau Mas Ari tumben hari ini bau." Kia menutup hidungnya dengan tangan. Ari mengendus pakaiannya dan menoleh kearah Kia.


"Wangi Nona Kia, bau apa maksudmu?"


"Bau ketek!" dusta Kia, dia langsung berlari kedalam untuk menghindari sentilan lelaki itu. Ketika Ari mendongak dia sudah melihat Kia yang sudah diambang pintu.


"Padahal belum saya beri hadiah."

__ADS_1


***


__ADS_2