Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab124. Lelaki Sempurna


__ADS_3

Nita berusaha memberontak, akan tetapi cekalan Indra jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaganya. Wajah lelaki itu tampak menatapnya dengan intens. Seolah menguliti seluruh tubuh Nita hingga membuatnya merasa malu sendiri.


Hingga saat tatapan mereka terkunci, saling merasai perasaan satu sama lain, yang mungkin terhalang karena kesalahpahaman. Nita menyusuri wajah lelaki itu dengan kedua matanya. Bola mata lelaki itu hitam mengkilat, begitu indah, alisnya yang tebal hampir menyatu semakin membuatnya terlihat indah. Hidungnya yang bangir, semakin membuatnya tampan.


Sedangkan Indra tengah berkhayal jika dirinya dan Nita tengah mengikat ikrar suci di depan penghulu. Wajah wanita yang berada di hadapannya memang cantik, bibir tipis berwarna pink, hidung yang imut, serta mata yang indah, bulu mata yang lentik membuatnya mabuk kepayang.


Tetapi Nita secepatnya sadar, dia tidak boleh terpesona lagi akan aura lelaki di hadapannya. Dia harus ingat jika Indra adalah calon suami dari Kia, gadis yang telah dia anggap sebagai adik kandungnya.


"Lepas!" teriak Nita menyadarkan Indra, lantas dia melepaskannya perlahan.


"Tenang saja, tanpa kau minta saya akan tetap mengikutimu." Indra memiringkan kepalanya dan tersenyum amat manis kearah Nita. Jantung Nita kembali berdegup kencang.


Debaran jantungnya semakin tidak karuan. Tidak ada pilihan lain, selain bersikap galak. Nita menginjak kuat-kuat kaki Indra.


"Percaya diri sekali anda Tuan Indra, saya hanya akan memperingati anda jangan membuat Kia terluka saat dia menikah dengan anda. Dan saya minta pulanglah, temani Kia, kasihan dia." Baru saja mengatakn permintaannya, ponsel Indra berdering. Lelaki itu menempelkan jari telunjuknya di bibir memberi kode agar Nita diam. Indra juga menyalakan loudspeaker agar Nita bisa mendengarnya.


["Ya, Kia?']


["Di mana kamu? di kantor tidak ada, aku datang membawakan makan siang,"] Indra langsung melihat jam di pergelangan tangannya. Alisnya menaut.


["Ini sudah sore, gadis kecil. Kau ini,"] ucap Indra memberitahu. Terdengar Kia tergelak.


["Maaf aku baru bangun langsung bawa makanan yang sudah di siapkan pelayan. Lalu di mana kamu?'] pertanyaan Kia kembali terlontar lagi. Sebelum menjawab Indra menoleh kearah Nita, lalu tersenyum samar.


["Sedang dalam perjalanan binis. Kamu berikan saja pada Ari, sepertinya dia belum makan karena sibuk."]


["Ya, baiklah."] teleponpun di matikan. Indra memasukkan ponselnya kedalam saku celanya.


"Masih bisa berbohong ketika calon istri bertanya? sebenarnya dia mencintai Kia tidak?" batin Nita bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kenapa melamun?' tanya Indra saat melihat Nita hanya menatapnya dalam-dalam.


"Hmm, kamu sedang memikirkanku? aku sungguh tersanjung,"


Nita mendelik, "Kenapa harus berbohong padanya," gumam Nita merasa bersalah.


"Apakah aku harus berkata jujur agar dia tahu? ah, benar juga harusnya dia tahu kemana sebenarnya aku pergi." Indra mulai membawa lagi ponselnya dari dalam saku celananya. Nita memekik, dan langsung menggelengkan keplanya.


"J-jangan!" Nita gugup saat Indra akan memberitahukan kebenarannya. Setelah itu dia menekadkan dirinya untuk berkata.


"Aku tidak akan tinggal diam, jika kamu menyakiti adikku!" suara bernada ancaman itu sukses membuat Indra tertawa kecil.


Nita meninggalkan Indra yang masih menatapnya dengan tatapan mendamba.


***


Nita telah selesai memakai baju piamanya. Lalu dia merembahkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan pikiran yang membuatnya kalut. Bagaimana hati Kia jika dia tahu calon suaminya menggoda Nita.


Dia mencoba akan mengaktifkan, tetapi dia langsung menyimpannya lagi kekoper. Dia pun keluar kamar dengan wajah yang di tekuk.


Ana tanpa sengaja melihat Nita yang keluar kamar dengan wajah murung. Wanita itu perlahan mendekat.


"Ada masalah Nona Nita?" tanya Ana, Nita menoleh kearah sumber suara, lalu berjalan dengan pelan memeluk Ana.


Ana menepuk pelan punggung Nita dengan lembut, setelah dua menit berlalu Nita menguraikan pelukannya dan menatap Ana dengan tatapan sendu.


"Ceritakanlah, Nona. Kalau begitu kita cari tempat duduk yang nyaman dulu unuk berbincang," saran Ana, tempat yang Ana pilih ruang tamu. Tetapi Nita menolak mengingat dia tidak ingin diganggu oleh Indra.


Mereka pun berjalan-jalan berdua, sampai akhirnya Ana memilih Nita untuk duduk di pos ronda yang tidak jauh dari rumahnya. Nita mengangguk menyetujui.

__ADS_1


"Mbak tahu lelaki yang mengikutiku kemari?" tanya Nita, terdengar embusan napas berat saat telah melontarkannya. Ana menggeleng pelan karena dia tidak tahu.


"Dia calon suami Kia, Mbak. Tapi aku tidak tahu mengapa dia melakukan ini padaku. Jika semua orang tahu Indra kemari menemuiku, pasti statusku yang di salahkan," keluh Nita pada Ana.


"Aku kemari untuk menghindari lelaki itu, Mbak. Tetapi entah mengapa dia bisa menemukan aku. Aku harus bagaimana, Mbak,"


"Katakan saja yang sejujurnya, Nona, jika nanti Nona Kia mengetahui ini semua. Saya akan menjadi saksi. Nona nikmatilah saat anda berada di sini. Suasana di sini tidak sebising di kota, anda akan merasa nyaman jika beban anda, anda singkirkan lebih dulu dari pikiran," saran Ana. Belum puas saat mencurahkan isi hatinya, Ana dipanggil suaminya.


Mau tidak mau Ana pun harus menuruti suaminya. Dia berpamitan pada Nita, berbarengan dengan kehadiran Indra yang menggantikan Ana untuk menemani Nita.


Ana berusaha untuk menjauhkan Indra dari Nita, akan tetapi Andi melarangnya. Indra mendudukan bokongnya di samping Nita.


Terdengar helaan napas berat, sebenarnya Indra pun merasa jika dia telah berlebihan karena sikapnya yang egois.


"Kamu merasa terganggu dengan adanya aku? aku tahu kamu menghindar kesini untuk menenangkan pikiran, akan tetapi aku malah mengganggu waktumu," sesal Indra dengan wajah bersalah.


Nita memiringkan tubuhnya untuk melihat Indra, dia tidak percaya jika Indra bersikap lembut saat ini. Tidak seperti biasanya dia akan menggoda dan mengganggu Nita.


Indra pun memiringkan tubuhnya kearah Nita. Jarak yang hanya mungkin satu meter membuat keduanya canggung, lalu memosisikan kembali tubuhnya dengan tegap.


"Besok aku akan pulang, aku akan membiarkan kamu untuk menenangkan pikiran. Setelah kamu pulang, jangan harap kamu bisa tenang dengan godaan dan gangguanku." Indra tergelak sendiri dengan sikapnya yang blak-blakkan.


"Hmmm." Nita hanya berdehem.


Indra kembali memiringkan tubuhnya kearah Nita, "sekarang anggaplah aku orang yang baru kamu temui," pinta Indra.


"Mana bisa seperti itu. Saya terlanjur tahu siapa nama anda, kebenaran bahwa anda orang yang berpengaruh dan juga lelaki yang akan menikah, saya terlalu banyak tahu tentang anda," ucap Nita.


"Hmmm, benarkah kamu banyak tahu tentang saya? lalu apakah kamu tahu aku mencintai siapa?"

__ADS_1


Nita tidak ingin mendengarkan ucapan Indra, dia memilih berdiri dan meninggalkan Indra yang akan mengatakan sesuatu padanya. Indra menatap punggung wanita itu yang mulai menjauh.


***


__ADS_2