Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. Ri. Bab129. Perbuatan Tercela


__ADS_3

Beberapa menit berlalu keheningan menyelimuti saat Indra tiba di dalam ruangan Krisna. Indra bingung harus berkata apa, sedangkan Krisna merasa dirinya terpojokkan jika Indra mengetahui segalanya.


Bagaimana jika Nita tahu semua ini? akankah wanita itu semakin membencinya.


"Tuan Krisna, bukan saya yang akan menikahi Nona Kia, tetapi Ari sekretaris anda. Semoga anda bisa memberikan restu pada mereka. Dan lihatlah nanti bagaimana mereka terlihat bahagia. Jika anda tidak memberikan restu saya akan memberi tahukan semuanya tentang anda pada Nona Nita. Ingat Tuan Krisna, saya tahu segalanya. Tanpa terkecuali, bahkan rekamannya pun ada," pesan singkat bernada ancaman itu sungguh mengganggu pikirannya.


Larut dalam lamunan yang cukup lama, akhirnya Indra mulai membuka perbincangan.


"Saya tahu anda yang telah menculik Nona Karina, dan membawa Nona Tazkia kedalam kamar hotel malam itu. Namun, sebelum anda membawanya anda sempat mengancam Nona Tazkia mengingat dia menolak keras karena tidak ingin menikah dengan saya."


Krisna berdecih, "memang orang seperti anda tidak akan pernah kehilangan informasi sedikit pun,"


"Saya masih mempunyai hati, karena tidak memberitahu di hadapan Nona Nita. Bukankah jika dia tahu dia akan membenci anda," decak Indra, dia perlahan mengatakan semua yang telah dia ketahui.


"Nona Kia memohon pada saya agar saya mau membantunya. Dia tidak mencintai saya Tuan Krisna, dan anda harusnya tahu kedekatan sekretaris anda dan adik anda telah menumbuhkan rasa cinta di antara mereka," papar Indra memberitahu. Krisna yang semula berdiri berjalan untuk menduduki kursi kerjanya. Dia membelakangi Indra.


"Saya menyetujuinya, karena memang saya pun ternyata sudah tidak mencintainya lagi," terang Indra, Krisna yang semula tenang kini berdiri menatap nyalang kearah Indra.


"Si*lan kau, memangnya adikku tidak mempunyai persaan dan kau bisa pergi sesuka hati anda begitu!" Krisna mulai murka. Bagaimana pun Kia yang tidak memihaknya dia tetap menyayangi adik satu-satunya itu.


"Saya sudah bilang Tuan Indra, kami tidak saling mencintai." Indra menghempaskan tangan Krisna yang mulai memegangi kerah kemejanya.


"Bukankah anda pun meminta orang untuk memata-matai Nona Nita agar dia merasa ketakutan. Anda terlalu kejam pada orang yang anda sayangi. Hanya agar dia menghubungi anda, dan nyatanya dia sama sekali tidak menghubungi anda." Krisna bergeming tidak menyanggah ucapan Indra.


"Anda memanipulasi semuanya seolah saya-lah yang telah jahat karena menculik Nona Karina. Dan saya tegaskan pada anda Tuan Krisna, perusahaan anda tetap milik anda, anda tidak perlu khawatir. Saya memberikannya karena terdapat saham Nona Nita," terang indra.

__ADS_1


Krisna meresapi semua yang telah di katakan Indra padanya. Dia telah salah selama ini, dia terlalau egois karena selalu memikirkan perasaan dirinya, tanpa memedulikan perasaa orang lain, dan orang di sekitarnya.


"Bukankah selama ini anda merasa keteteran, karena Ari tidak berada di samping anda? saya yang menyuruhnya untuk berhenti waktu itu, agar anda sadar dan berhenti berbuat kejahatan, jika cinta kejarlah dengan semua ketulusan anda, tidak seperti itu. Jika Nona Nita sudah tidak ingin bersama anda, anda harus perlahan merelakannya."


Indra berjalan dan berdiri di samping kursi Krisna, Indra terus menjelaskan semuanya rencananya pada Krisna. dia bahkan meminta maaf pada Krisna karena telah mempermainkan dirinya yang telah berpura-pura akan menikahi Tazkia.


"Saya harap anda biasa memaafkan saya, dan memberikan restu dengan ikhlas untuk pernikahan adik anda,"


Tetapi apa boleh buat dia juga ingin Tazkia mendapatkan kebahagiannya, mengingat bahagia Tazkia hanya bersama Ari. Dia hanya membantu Kia agar Krisna sadar, dan memilih menyerah dengan cintamu yang hanya akan melukai hatinya.


"Renungi semuanya Tuan Krisna, semoga anda bisa memberikan saya kesempatan untuk membahagiakan orang yang telah anda cintai." Indra pun berjalan keluar dari ruangan Krisna. Meninggalkan lelaki itu yang hanya memejamkan mata tanpa berani berbuat kasar lagi padanya.


Saat pintu dibuka, Indra melihat Nita yang tengah berada di sana. Dengan menempelkan telinganya di pintu ruangan. Indra memandangnya dengan datar, sedangkan Nita berusaha menutup mulutnya agar tidak terdengar bising dengan suara teriakannya.


Indra perlahan memutar kepalanya untuk menoleh kearah Krisna, berharap lelaki itu tidak melihat Nita, yang telah mengetahui rencana buruknya. Indra bernapas lega saat lelaki itu masih dengan posisi semula.


***


Tatapan Indra lurus kedepan mengabaikan orang di sampingnya yang tengah mencuri-curi pandang. Indra tidak ingin banyak berkomentar dan menasihati wanita yang tengah duduk di sampingnya. Dia tidak bisa berkata-kata dan bingung harus mengatakan apa.


"Mmmm." Indra menoleh pada Nita sekilas.


"Maaf," ucap Nita merasa bersalah. Setelah mengatakannya dia mengalihkan pandangannya kearah lain.


Tidak menjawab, akan tetapi Indra menepikan mobilnya dan mencodongkan tubuhnya kearah Nita. Nita yang tidak menyadari keberadaan Indra terkejut, matanya membola sempurna.

__ADS_1


Bagaimana tidak merasa terkejut, jarak diantara mereka begitu dekat, bahkan hanya berjarak beberapa inci. Nita langsung memundurkan kepalanya agar bibir mereka tidak bersentuhan.


"Suatu saat bibir itu akan setiap saat aku kecup," batin Indra, matanya tersenyum menyeringai, Nita yakin jika lelaki itu tengah memikirkan hal kotor.


Nita menjentikkan tangannya di kening lelaki itu, agar segera tersadar. Dan benar saja, lelaki itu langsung tersadar. Namun, bukan karena sakit, akan tetapi karena terkejut.


"Kamu senyum-senyum sendiri memikirkan apa!" ancam Nita, matanya menatap tajam, sedangkan tangannya dia silangkan di depan dada.


"Menurutmu aku memikirkan sejauh itu? aku hanya tengah mengamati bibirmu itu yang sesekali manis karena senyuman, kadang juga bibir itu mengucapkan kata-kata pedas," ungkap Indra, Nita merutuki kebodohannya sendiri yang terlalu berpikiran jauh.


Nita memukuli kepalanya dengan tangannya sendiri, Indra yang melihatnya dengan cepat menghentikannya.


"Pukul saja aku, jangan menyakiti dirimu sendiri," pinta Indra, lelaki itu memegangi kedua tangan Nita menatapnya dengan serius.


Nita terkesima dengan perhatian kecil itu, dia kini memandangi Indra dengan tatapan tidak biasa. Begitu bahagianya dia saat pernikahan Indra dan Kia tidak lah benar. Senyum bibirnya tercetak, sedangkan Indra menatap heran dengan ekspresi Nita yang berubah bahagia. Sedang memikirkan apa wanita yang dicintainya itu?


Perlahan Indra menurunkan tangannya dan membisikkan sesuatu di telinga Nita.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Indra, embusan napasnya begitu hangat terasa di telinganya. Nita mendorong dada Indra hingga lelaki itu menjauh darinya.


Nita membenarkan duduknya lalu mulai menatap dengan tajam kearah Indra. "Yang sopan, mau bagaimana pun aku lebih tua darimu," cerca Nita.


"Apa artinya usiamu, jika aku yang muda adalah calon suamimu, bukankah kamu tetap harus menghargaiku,"


"Aku tidak memarahimu, akan tetapi apa yang kamu lakukan seperti tadi tidaklah baik, jika kamu merasa tua, tentu kamu tahu jika menguping pembicaraan orang perbuatan tercela."

__ADS_1


***


__ADS_2