Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab53. Menyindir.


__ADS_3

Bab53. Menyindir.


***


Kasih mencoba mencari tempat sepi agar dia bisa mengangkat telepon dari seseorang. Ketika kemarin dia mencecar orang suruhannya untuk mencari Nita. Mungkin kah kabar yang membuat dia bahagia. Sudah dipastikan itu, dia sudah tidak sabar ingin mendengar kabar itu.


Baru saja tangannya akan mengangkat dan menempelkannya di daun telinga. Seseorang mengejutkan Kasih. Tazkia gadis yang tengil kini berada di hadapannya dengan tatapan yang curiga. Gagal sudah kebahagiaan yang sudah ingin dia dengar.


Meski hatinya sangat sebal dengan Adik iparnya itu, dia tetap berusaha menampilkan senyuman ramah pada Tazkia.


"Sudah pulang kamu Kia? Kemana saja sudah beberapa hari tidak pulang? Liburan?" tanya Kasih. Tazkia merengut ketika dia di tuduh liburan di saat suasana sedang tidak memungkinkan.


"Hoy, kakak ipar rahasia kenapa mulutmu itu tidak bisa melihat situasi. Bagaimana aku bisa liburan, sedangkan kakak ipar tersayangku belum juga di temukan," jawab Kia. Mata gadis itu sesekali mendelik, karena tidak suka. Andai wanita itu tidak hamil, dia sudah ingin menendangnya dari rumah itu.


Rumah ini adalah punya Nita, tetapi seolah dia yang menguasai.


"Ya, saya kira," tandas Kasih membuat Tazkia memikirkan cara untuk menyindirnya. Namun, dia teringat jika dia harus mengulik semua informasi dari wanita itu. Dia berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya.


'Kasih kamu harus tetap ramah pada dia. Agar bisa mengambil hatinya,' batin Kasih mengingatkan dirinya sendiri.


"Eh, adik ipar maukah kamu mencoba membereskan pakaian untuk calon keponakan kamu?" Ajak Kasih, Kia tampak berfikir. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk agar dia bisa lebih jelas dan mengetahui siapa yang diam-diam menghubungi Kasih.


Mereka berdua berjalan kearah kamar Kasih, ponsel wanita itu kembali berdering. Namun, dia tidak mengangkatnya. Dia lebih memilih membuka almari dan meminta bantuan Kia.


Cukup lama mereka membereskan. Banyak cerita yang Kasih ucapkan bahwa dia begitu di cintai Krisna. Setengah hati Tazkia mendengarkan dan rasanya ingin muntah. Namun, ketika Kasih berbalik dan menatap Kia dia berusaha tersenyum.


"Ngidamnya kok aneh sih, kalau aku jadi bayinya merasa terhina sekali. Sudah jelas-jelas kan ini bukan rumah Mama-nya, masa iya mau menguasai begitu. Gak tahu malu!" Celetuk Tazkia. Membuat wanita itu kesal. Saking kesalnya Kasih langsung berpamitan kekamar mandi. Dia menggerutu di dalam sana cukup lama. Agar emosinya tidak ia perlihatkan pada Tazkia. Dia harus berusaha sabar menghadapi adik iparnya yang ceplas-ceplos.


"Sabar Kasih, sabar." Kasih mengelus dadanya berulang kali, bahkan hingga mengatur napas agar dia bisa menstabilkan amarahnya.

__ADS_1


Ketika kasih masih berada di kamar mandi Kia melihat jika ponsel Kasih berdering lagi. Dia berusaha melihat, dan dia menyalin nomor itu.


"Yeay, sudah dapat. Aku harus beritahu mas Ari. Aku takut terjadi sesuatu pada Mbak Nita di sana," gumam Kia, dia akan keluar. Namun, sejurus kemudian Kasih pun keluar.


"Mau kemana Kia? Keponakanmu masih ingin bermain denganmu," ucap Kasih, seketika menghentikan langkah Tazkia. Baru saja dia akan menggapai knop pintu tetapi dia urungkan. Dia berbalik kearah Kasih dan berkata.


"Mbak, tolong bilang sama keponakanku, aku mau istirahat karena baru pulang. Kan aku sudah menemaninya membereskan pakaian," tandas Kia. Namun, Kasih berdalih bahwa Kia harus mengelus perutnya dan bersimpuh. Dia juga beralasan jika itu kemauan anaknya. Padahal dia hanya mengerjai Tazkia.


Gadis itu menganga tidak percaya dengan apa yang diinginkan Kasih. Dia tahu jika wanita itu mengerjainya. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat anak yang dikandung Kasih adalah keponakannya. Dia pun melakukan apa yang diperintahkan Kasih.


"Hallo tampan. Hemm, sepertinya kamu kelak harus selalu bersama ___aunty, jangan bersama Papa-mu. Papa-mu lelaki tidak setia. Kamu harus jadi lelaki tangguh, dan juga kamu tidak boleh bersama Mama-mu, hemm, karena dia itu Pelakor, bisa-bisa kamu jadi Pebinor. Aunty tidak akan membiarkan itu terjadi. Dadah sayang." Ketika telah menyindir Kasih, Tazkia langsung beranjak berdiri dan meninggalkan Kasih yang sedang menatap garang padanya.


"Dasar adik ipar kurang aj*r, selalu menyindir kakak iparnya sendiri!" Gerutu Kasih, tidak terima dengan ucapan yang telah dilontarkan Tazkia.


***


Tazkia langsung kocar-kacir untuk memasuki kamarnya. Dia ingin secepatnya mengabari Ari. Dan memberikan nomor yang telah ia salin dari ponsel Kasih. Namun, tidak biasanya kali ini nomor Ari tidak bisa di hubungi. Lalu haruskah dia kekantor Krisna. Jika Dia kesana akan curiga Krisna padanya.


"Hey, sok sibuk dia," gerutu Tazkia. Dia mondar-mandir tidak jelas di kamarnya.


Setelah hampir satu jam berlalu dia akhirnya bisa menghubungi nomor Ari.


["Sok sibuk, nomornya dimatikan! Sok keren deh,"] gerutu Tazkia ketika terhubung dengan Ari.


["Kenapa kamu yang posesif. Kamu bukan kekasihku gadis kecil,"] jawab Ari di seberang sana. Membuat Kia salah tingkah.


["Hey bukan maksudku begitu, Mas. Aku punya kabar buruk!"]


["Kapan kamu memberikan saya kabar baik, Nona,"] goda Ari.

__ADS_1


["Dengarkan saja, daripada aku harus berdebat denganmu. Aku punya nomor--"]


["Yang ujungnya 321 bukan?] Potong Ari membuat kening gadis itu mengkerut.


["Hey, kenapa kamu sudah tahu. Kamu punya mata batin?"]


["Sudah beres, tenang saja! Dia adalah suruhan Nona Kasih. Namun, saya sudah meminta dia memberikan laporan palsu. Kalau Nona Nita yang harus dia celakai sudah dia lakukan,"] ucap Ari memberitahu Tazkia.


["Kita tunggu sampai dia melahirkan Nona Kia, saya sudah merancang kejutan yang fantastik untuknya."]


["Aku--,"] Tut, sambungan telepon dimatikan Ari. Baru saja dia ingin mengetahui bagaimana dia melakukan itu dengan cepat. Tetapi dia malah menghindar seolah tidak ingin mendengar ocehan Kia.


"Sebal, sekali! Bagus dia memang harus diberi pelajaran seperti kabar palsu. Dan juga kejutan fantastik," ucap Kia, dia tidak menyadari apa yang dia ucapkan.


***


Tazkia keluar kamarnya dengan lesu, ketika dia tidak mendapat informasi yang dia mau. Dia juga penasaran. Bagaimana Ari bisa secepat itu mengatasinya. Padahal jelas sekali waktu mereka belum menemukan Nita dia pun sudah frustrasi. Dan sekarang begitu cepat tanggap.


"Apa dia mempunyai mata-mata di sana?" Gumam Tazkia. Dia tampak berpikir keras. Ketika dia sedang berpikir, sesuatu mengganggunya.


Dia bertemu lagi dengan Kasih. Wajah wanita hamil itu tampak bahagia. Di saat dia jelas melihat ketika keluar dari kamarnya Kasih sangat kesal padanya.


"Mood orang hamil memang cepat bergantinya," ucap Kia. Tetapi senyumannya begitu tidak biasa. Apakah dia sudah mengangkatnya dan mendapat kabar palsu.


"Kayaknya dia baru selesai mendapat kabar. Sayang banget aku gak dengar,"


"Nikmati masa bahagia sampai kamu melahirkan. Kejutan setelah anakmu lahir menantimu. Hey, tapi apa kejutannya. Kenapa Mas Ari tidak memberitahuku."


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2