Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab49. Sejauh Ini?


__ADS_3

Bab49. Sejauh Ini?


***


Di pedesaan Nita sedang gelisah, karena persediaan makanan untuk menyokong hidupnya telah habis. Kasih yang semula bersedia akan membantu nyatanya dia belum juga memberikan apa yang dia butuhkan. Dia akhirnya mencoba mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.


Dia datang kesebuah warung makan. Sebelum dia masuk kedalam dia dikejutkan dengan dua orang yang begitu familiar. Apakah mereka bermain atau liburan hingga sejauh ini? Baru saja Nita memutar tubuhnya untuk pergi seseorang memanggilnya.


"Tunggu!" Suara itu tidak asing bagi Nita. Ini terasa mimpi baginya. Nita memutar badan kembali untuk menoleh kearahnya.


Alis Nita mengernyit ketika apa yang dia lihat benar adanya. Bukan sebuah halusinasi, orang itu datang menghampiri Nita. Menatapnya dengan dalam.


"Bi-Bian ... Kamu sedang apa di sini?" tanya Nita. Lelaki itu tersenyum manis dan hangat pada Nita. Sebelum menjawab dia membawa Nita masuk kedalam. Di sana juga ada Karina yang tengah menatap tidak suka karena Bian memegang tangan Nita.


Nita yang merasa tidak enak langsung mencoba melepaskan tautan tangan itu. Namun, kuatnya tangan Bian, tidak mengindahkan pegangan tangan mereka.


"Yan, lepaskan! Yan, aku cemburu!" Kelakar Karina memohon pada Bian, tetapi Bian begitu dingin seolah tidak memperdulikan Karina.


"Yan, kenapa kalian bisa sejauh ini sampai kemari. Kalian sedang mencari seseorang?" tanya Nita.


"Pesanlah makanan untuk mengganjal perutmu, Mbak," jawab Bian mengabaikan pertanyaan Nita. Dia pun memesan makanan yang membuatnya menggugah selera.


"Ingat Karina jangan mengatakan apapun terkait aku dan kamu pada Mbak Nita, Mengerti! Dan jika aku dekat dengannya kamu dilarang melarangku, paham!" Tegas Bian, membuat Karina berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika Bian akan melakukan hal seperti ini padanya.


"Bian, bukankah kita saling mencintai, mengapa kamu melakukan ini padaku. Aku tidak tahu tentang--"


"Berhenti bicara atau aku akan membuat kamu membayar semuanya dengan nyawamu! Nikmatilah saat kita tengah berada di sekitar Mbak Nita, karena ada dia aku tidak akan melakukan hal apapun padamu," potong Bian dengan dingin. Karina memegangi dadanya yang kian merasakan sesak.


'Haruskah seperti ini, Yan,' batin Karina.

__ADS_1


Karina menghapus jejak air mata yang sempat terjatuh saat Nita datang menghampiri mereka. Dia langsung tersenyum meski ia paksakan.


***


"Karina kamu baik-baik saja? kamu tampak pucat daritadi pula kamu hanya diam," tanya Nita pada Karina, ketika mereka sudah menghabiskan makanan masing-masing.


"Hey, kalian berdua kemari? apa kalian pasangan pengantin baru?" tanya Nita mengalihkan pertanyaannya.


"Kami hanya ingin suasana baru saja Mbak, kamu jangan banyak tanya sama Karin. Dia masih malu-malu karena kejadian waktu itu," ucap Bina. Membuat Nita langsung memegangi tangan Karina. Dengan senyuman yang dia tampilkan mampu meluluhkan hati Karina, Bian semakin mengagumi sosok Nita.


"Sudah lampau kejadiannya. Hidup itu harus dijalani. Jika tidak membuatmu bahagia tinggalkan," ucap Nita tekekeh. Dia tidak menyindir siapapun, toh, dia tidak tahu bagaimana hubungan keduanya. Dia hanya tengah membicarakan dirinya yang sempat bodoh karena bertahan.


"Kenapa bisa sampai sejauh ini, apa kamu meninggalkan suami yang kamu cintai?" Nita tersenyum dengan pertanyaan Bian. Dia melihat kearah dua sejoli itu.


"Aku pergi, aku tidak bisa membiarkan hatiku selalu terluka. Tidak ada yang sayang padaku, kecuali diriku sendiri," ucap Nita. Bian semakin mengagumi Nita, sosok wanita kuat dan tegar. Sesuai dengan kriterianya. Meski usia Nita jauh lebih tua darinya, tidak mengindahkan rasa kagumnya pada wanita dewasa itu.


"Mbak Nita, tunggulah sebentar ada sesuatu yang harus kami bicarakan." Karina tidak mendengarkan Bian, Karina menyeret Bian menjauh dari Nita.


Karina memandang Bian dengan tatapan kecewa. Mereka telah bersama cukup lama, tetapi mengapa Bian tidak mempercayainya. Hingga membawanya sejauh ini dan bertemu dengan Nita.


"Bian kita sudah saling mengenal lama, harusnya kamu mengerti perasaanku ini. Aku tidak tahu apa-apa tentang meninggalnya kakakmu. Kamu harusnya menjagaku di saat orangtuaku mendekam di penjara," lirih Karina. Bian tersenyum sinis.


"Memang bukan kamu, tapi saudaramu. Dan kamu yang harus membayarnya. Aku tidak mungkin menyeret saudaramu itu, karena dia istri orang kaya,"


"Ingat satu hal Karina, perjanjian kita!"


Nita mendekati mereka untuk melanjutkan perjalanan. Karena sedari tadi ponselnya berbunyi. Mereka pun pergi meninggalkan rumah makan itu dan memulai perjalanan menuju rumah Nita.


Ketika mereka sampai, Bian langsung dikejutkan dengan seseorang yang tengah menunggu di rumah Nita.

__ADS_1


Tangan lelaki itu mengepal kuat, tatapannya begitu menusuk kearah seseorang. Nita tidak menyadari semua itu, karena setelah sampai dia langsung keluar dan menyambut Kasih.


"Kasih kenapa kamu lama sekali, aku semalam kelaparan. Tidakkah kamu memikirkan aku yang hanya sebatang kara di desa ini," oceh Nita ketika Kasih menemuinya terlambat.


Kasih menatap tidak suka pada Nita. Lalu berjalan kedalam rumah. Dia tidak menjawab pertanyaan Nita.


"Kamu harusnya mengerti jika aku tidak menjawabnya, keadaan yang tidak memungkinkan aku untuk membawakan apa yang kamu butuhkan. Aku hampir saja ketahuan karena ulahmu. Tidakkah kamu tahu, kalau adik iparmu selalu mengawasi aku," decak Kasih. Sedangkan dua orang yang menguntit Kasih tengah mengawasi mereka.


"Kamu bukannya punya ATM itu cukup untuk menyokong kehidupanmu. Mengapa menyusahkan aku, " gerutu Kasih.


Nita berdecak, dan menatap heran pada orang di hadapannya. Dia menggelengkan kepala dengan muka masam.


"Jika aku membawa uang di ATM, bukankah Krisna akan tahu keberadaanku. Apakah kamu ingin dia menemukan aku, dan menendangmu pergi," jawab Nita membuat Kasih seketika menoleh kearahnya dengan tatapan jengah.


"Pintar membalikan situasi." Setelah memberikan apa yang dia butuhkan, Kasih memilih pergi meninggalkan Nita. Namun, sebelum dia pergi dia melihat kearah Bian dan Karina.


Dia sedikit terkejut. Namun, dia pergi tanpa berpamitan pada mereka.


"Kamu lindungi dia, dan dia tidak pernah melindungimu!" Bisik Bian di telinga Karina. Nita keluar melihati keduanya yang tampak seperti musuh. Bukankah Bian mengatakan jika dia mencintainya.


Nita hanya bisa mengamati interaksi keduanya. Tatapan Bian pada gadis itu sedikit berbeda. Mengapa Nita merasa tatapan Bian berubah menjadi dendam.


"Hey, apa yang kalian bicarakan? Serius sekali sampai tidak keluar mobil. Mau melanjutkan perjalanan ya?" tanya Nita. Namun, Bian keluar mobil dan mengatakan jika dia ingin menginap satu malam di rumah Nita.


Nita pun mengiyakan. Sebelum mereka bermalam, Nita memilih memberitahu pada RT, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2