Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
BonChap. Bab70. Menyetujui.


__ADS_3

Bab70. BonChap, Menyetujui


***


Satu Minggu berlalu setelah perdebatan mereka terjadi membuat Nita enggan untuk bertemu dengan keduanya. Krisna--lelaki itu sungguh membuatnya sakit kepala. Sudah berulang kali dia mengatakan jika mereka sudah tidak mempunyai ikatan lagi. Tetapi lelaki itu tetap saja bersikeras bersikap posesif.


Sungguh perilaku Krisna membuatnya merasa illfeel. Namun, pada Bian--wanita itu bingung harus menolaknya dengan apalagi. Dia tidak bisa membuka hatinya untuk lelaki muda itu. Memang usia tidaklah menjadi patokan untuk dua insan saling memiliki. Tetapi dia merasa sudah seperti adik terhadap Bian.


Nita tengah mengkhayal di saat dirinya sedang melayani Bian sebagai suaminya. Tidur bersama, menyiapkan perlengkapan kerjanya. Memasakkan makanan untuk sarapan paginya. Dia tergelak sendiri memikirkan itu semua.


"Kayaknya bakal jadi aneh, di saat aku selalu memanganggapnya adik dia malah menjadi suamiku. Geli sendiri aku." Wanita itu menggelengkan kepalanya seraya membuang pikiran yang membuatnya malu sendiri.


Dari kejauhan Ana yang melihati majikannya tertawa sendiri hanya bisa mengelus dada. Apakah Nona-nya itu depresi hingga menjadi seperti itu. Tidak ingin membuat Nona-nya menjadi lebih buruk, Ana membawakan makanan untuk wanita itu.


Perlahan dia menuangkan teh hangat untuk Nona-nya serta camilan untuknya. Sebelum membawa nampan itu, Ana menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia pun berjalan menuju Nita yang masih terkikik. Seperti orang yang tengah mengalami kerasukan.


"Bukankah rumah ini tampak tidak mistis, selama aku tinggal di sini baru aku melihat kejadian aneh seperti ini," gumam Ana, sembari matanya tetap memperhatikan Nita.


Wanita yang baru saja menyandang status janda tanpa anak itu masih tertawa terkikik sembari tangan ia tempelkan di mulut. Dia tidak berpikir jika kelakuanya itu membuat Ana salah berspekulasi.


Ketika beberapa langkah lagi menuju Nita, Ana tampak hati-hati menyimpan nampan itu. Dia juga tampak bergidik karena takut sendiri.


"Kamu kenapa Mbak?" tanya Nita, dia melihat aura yang aneh terpancar di wajah Art-nya itu. Seperti tengah menjaga jarak, tetapi ingin membawakannya sesuatu.


"Nona anda baik-baik saja?" Bukannya menjawab Ana malah memberikan wanita itu pertanyaan. Nita mengernyit heran, dengan lontaran Ana. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan heran.


"Aku kenapa Mbak Ana?" Keduanya kini saling kebingungan. Bukannya mendapat jawaban keduanya semakin bingung dengan pertanyaan yang sempat mereka lontarkan.


"Mmm, anu loh, Non. Apa anda tidak perlu di ruqyah?" Nita terjingkat, wanita itu langsung bergidik sendiri lalu mengusap tengkuknya.


"Apa di sini ada aura mistis Mbak?"


"Bu-bukan begitu Non, sa-saya melihat anda tertawa sendiri, saya takut jika an--"


"Cukup Mbak, kamu salah aku sama sekali tidak sedang kerasukan." Nita rasanya ingin menenggelamkan dirinya kedalam perut bumi. Dia kira Ana tidak memerhatikan dirinya. Tetapi dia salah, malah membuat wanita itu berpikiran yang tidak-tidak.


"Lalu kena--"

__ADS_1


"Tidak apa-apa Mbak," potong Nita dengan cepat, sembari melempar pandangan. Ana mengingat saat lelaki muda itu melamarnya. Dia pun malu sendiri karena telah berpikiran negatif.


"Nona ... Mmm, apa anda sedang memikirkan jika anda sebagai istri si berondong?" tanya Ana, membuat Nita membulatkan matanya. Mengapa wanita itu bisa menebaknya. Nita hanya tersenyum kikuk dengan pertanyaan itu.


"Jika cinta lantas mengapa hanya dibayangkan, kalau kata orang Sunda mah, gaskeun Non." Ana mengangkat tangannya memberi dukungan.


"Tidaklah mudah untukku membuka hati Mbak, meski aku merasa nyaman dengannya. Aku hanya menganggap dia adikku,"


"Tapi, Non,"


"Mbak!" Suara seseorang mengagetkan keduanya. Mereka memutar badan dan melihat Bian sudah berada dibelakang mereka. Nita menutup mata, dan bingung harus berkata apa pada Bian.


"Aku akan membuang rasa itu untukmu Mbak, tapi aku mohon jangan pernah seperti ini lagi. Tidak ingin menemuiku, dan biarkan aku dekat denganmu agar tuan Krisna kepanasan." Nita mengernyit dengan apa yang dilontarkan Bian. Nita menatap lekat-lekat mata lelaki itu. Yang di tatap hanya mengedipkan matanya sebelah.


"Aku setuju Non!" Ana berteriak memberikan support pada Bian. Dia juga merasa sedih ketika mengingat perlakuan Krisna pada Nita.


Nita memijit pelipisnya dengan memutar. Teramat dalam luka yang telah Krisna beri. Dan juga hatinya tidak pernah terbuka untuk Bian. Lalu apakah dia harus bersekongkol dengan Bian untuk membuat Krisna terbakar.


Ana masih menunggu jawaban dari Nita. Dia sampai menangkup pipinya untuk mendengar jawabannya. Sedangkan Bian, lelaki itu pun sama menatap Nita dengan menunggu jawabannya.


Hampir 20 menit lamanya Nita masih melamun. Namun, Bian dan Ana masih setia memandang dengan penuh penasaran. Ketika Nita mendongak, dia sudah dihadapkan dengan dua pasang mata yang sedang memintanya jawaban. Nita menelan ludah dengan susah payahnya. Tatapan mereka begitu menusuk.


***


Tazkia sedang memandangi Krisna yang seperti begitu bersedih. Sudah satu Minggu lamanya lelaki itu tidak bersuara, pulang kerja langsung kedalam kamar untuk menyendiri.


Ari kali ini masih berada di dalam rumah Krisna. Dia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas. Tazkia yang penasaran pun menuju ruang kerja untuk melihat Ari.


Tangannya menggapai knop pintu, begitu terbuka dia berusaha mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Ari.


"Tidak usah berjalan seperti itu, seperti pencuri!" Kelakar Ari mengagetkan gadis itu. Tazkia sampai memegangi dadanya karena terkejut. Ari menatap gadis itu dengan tatapan datarnya.


"Ada apa?" tanya Ari, dia menghentikan sejenak pekerjaannya.


"Mas Krisna pasti sedang dalam keadaan buruk bukan. Karena lelaki muda itu lagi, siapa sih namanya?" cerca Tazkia. Ari berdiri mendekat kearah gadis itu.


"Namanya Bian," jawab Ari membisikannya, membuat Kia seketika meremang. Dia merasa merinding hingga menampar Ari yang sedang berada disampingnya. Kia memegangi mulutnya yang menganga. Dia refleks melakukannya.

__ADS_1


"Apa sakit mas Ari? Habis ngejawabnya pake dibisikkan segala, kaya di film-film bisikkan setan," ucap gadis itu sembari merasa bersalah.


"Maksudmu saya ini seperti setan?" Tanya Ari yang sedikit jengkel. Dia memegangi pipinya yang terkena tamparan. Sebenarnya tidak seberapa dengan sakitnya, tetapi entah mengapa dia ingin berpura-pura teraniaya dihadapan gadis usil itu.


"Ya ampun, aku merasa bersalah. Apa aku perlu menciumnya agar sakitnya berkurang. Seperti di Drakor mas Ari, agar sakitnya berkurang," celetuk Kia dengan tangan ia angkat, dan jarinya berbentuk V.


Ari menyeringai, dia lebih mendekat kearah Kia sembari memegangi pipinya.


"Wah, ide bagus. Bocil sudah berpikiran mesum." Kia menutup matanya ketika Ari mendekatkan wajahnya kearah Kia.


"Pohon pisang!" Celetuk Ari, lelaki itu membalikan badannya untuk berjalan kearah meja kerja. Sedangkan Kia perlahan membuka matanya, merasa lega. Karena Ari tidak melakukannya.


Kia berjalan mendekat kearah Ari dan tersenyum kikuk.


"Satu lagi pertanyaan, namanya hanya Bian saja!"


"Namanya Bian," jawab Ari, dia sudah mulai melanjutkan pekerjaannya.


"Iya, kepanjangannya apa?"


"Namanya Bian!"


"Iya kepanjangannya dia apa mas Ari?"


"Nona Kia, namanya Bian!"


"Ohh, namanya hanya Bian saja! Irit juga ya, berarti tipikal orangtua pecicilan memberi nama saja hanya satu kata tanpa kepanjangannya, marganya saja tidak ada."


"Apa hubungannya dengan orangtua pecicilan?" Ari mengernyit dengan lontaran gadis itu.


"Mas--" ucapan Kia terhenti ketika lelaki itu mulai berdiri lagi.


"Pergi atau aku akan menci--"


"Iya aku pergi!" Kia pun berbalik langsung keluar dari ruang kerja kakaknya. Sembari mulutnya tidak berhenti komat-kamit mengumpati lelaki yang berada di dalam.


"Pake marah-marah segala sih, tinggal ngomong saja namanya Bian saja! Sudah beres, menyebalkan."

__ADS_1


***


Nikmati BonChap nya dengan kecemburuan Krisna ya teman-teman 🤗


__ADS_2