Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
Bab66. Cintaku Tidak Pernah Berubah.


__ADS_3

Bab66. Cintaku Tidak Pernah Berubah.


***


Setelah insiden kemarin Nita tidak banyak berkomentar ketika di rumah. Sikapnya masih biasa seperti hari-hari kemarin. Entah apa yang akan Nita lakukan lagi untuk menyakiti hati Krisna.


Di satu sisi Krisna merasa bahagia karena anaknya telah dekat dengan Nita. Namun, di sisi lain lagi Krisna tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Kadang dia bersikap dingin, kadang juga bisa bersikap biasa saja.


Berangkat kerja kali ini Krisna memilih tidak sarapan di rumahnya. Dia malas harus cemburu pada Ari, yang selalu Nita layani. Membawakan makanan kedalam piringnya. Sedangkan dia, di tanya pun tidak apalagi diambilkan.


Kali ini bahkan dia tidak meminta sekretarisnya itu untuk menjemputnya.


"Ari kemana, Kris?" Tanya Nita, dia tengah menggendong anak Krisna yang sekarang tidak pernah lepas dari asuhannya.


"Aku tidak memintanya kemari," jawab Krisna. Dengan sedikit tegas dia mengatakannya. Ini adalah bentuk protesannya.


"Lah kenapa?" tanya Nita polos.


"Aku cemburu!" Tandas Krisna, yang hanya membuat Nita tergelak. Alih-alih menenangkan wanita itu malah nyelonong masuk tanpa melihat Krisna pergi bekerja.


Krisna pun berlari mengikuti wanita itu untuk masuk. Namun, Nita seperti biasanya tak acuh pada lelaki itu. Seolah Krisna tidak berada dalam lingkungannya.


"Sampai kapan kamu menghukumku seperti ini, Ta? Rasanya menyakitkan, bisakah kamu memaafkan aku? Bukankah manusia tidak luput dari kesalahan?" ungkap Krisna.


"Lalu apakah hati yang telah hancur akan seperti semula? Diibaratkan sebuah gelas yang sudah pecah tidak akan bisa seindah semula meskipun kamu berusaha memperbaikinya," kata Nita membuat Krisna tidak bisa mengelak lagi.


"Aku mohon maafkan aku, bukankah kamu juga mencintai anak ini? Kita bisa membesarkannya bersama." Krisna masih berusaha memohon.


"Jalani saja dulu," titah Nita, Krisna tersenyum sumringah. Lelaki itu tampak bahagia.

__ADS_1


"Kamu sudah memaafkan aku?" tanya Krisna antusias. Nita mengeleng pelan dengan senyuman dia tampilkan.


"Aku tidak pernah mengatakan itu,"


"Lalu kamu mulai mengasuh anakku tandanya apa? Jika kamu bukan memberiku kesempatan,"


"Aku hanya merasa iba saja pada anakmu. Mengapa kamu berpikir seperti itu? Jalani saja dulu, sampai waktunya tiba aku akan memberikan kejutan yang sangat fantastis untuk kamu. Pergi Kris, nanti kamu kesiangan,"


Tanpa menjawab lagi, Krisna memilih berangkat bekerja. Tidak akan ada kepastian jika terus mendesak wanita itu. Tetapi Krisna yakin jika Nita sudah mulai memaafkannya.


***


Kini Krisna pulang malam hari itu, dia menyandarkan punggungnya di kursi ruang tengah dengan tangan memijit pelipisnya. Pekerjaannya hari ini cukup menguras tenaga bahkan pikirannya. Tetapi dia tidak bisa mengeluh pada Nita, wanita itu sudah banyak berubah sekarang. Tidak bisa Krisna andalkan untuk menyandar.


Karina keluar kamar dia melihat Krisna yang tengah duduk di kursi. Gadis itu cukup kasihan. Apalagi dengan sikap Nita sekarang mungkin cukup membuatnya menjadi setres. Karina berinisiatif membuatkannya teh manis. Dia pun langsung membuatkannya. Setelah selesai dia membawanya dan memberikannya tepat di hidung Krisna. Lelaki itu tampak mengendus, aromanya cukup menenangkan. Dia sudah bahagia, Krisna berpikir jika Nita lah yang melakukannya.


Namun, ketika matanya terbuka dia hanya menatap Karina, membuat wanita itu salah tingkah.


Karina berjalan kearah kamar penghuni baru itu. Tadi sore dia cukup terkejut dengan kehadirannya. Mengapa Nita bisa membawanya, sedangkan padanya dia tidak pernah mengabarinya lagi.


Tangannya terangkat berulang kali. Namun, dia ragu-ragu untuk mengetuknya. Belum juga tangannya menyentuh pintu lelaki itu sudah membukanya.


"Bisakah kita berbicara?" Tanya Karina. Lelaki itu langsung menyeret Karina untuk kebelakang rumah. Di sana mungkin akan menjadi tempat aman agar orang tidak mendengarkan perbincangan mereka.


Bian ... Ya, lelaki itu orang yang sangat Karina rindui. Namun, sikapnya seolah tidak memiliki rasa yang sama. Haruskah rasa mereka berakhir seperti ini?


Karina berusaha untuk mengusap bahu lelaki itu, tetapi dia ragu. Bian yang dulu dia kenal sudah berubah.


"Cepatlah berbicara!" Tegas Bian. Ucapannya membuat Karina terluka, bahkan wanita itu merasa jika Bian dan Nita memiliki hubungan yang spesial.

__ADS_1


"Kamu dan Non-Nona Nita ...."


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu berpikir bahwa aku simpanannya?" tanya Bian. Karina menggeleng pelan.


"Lalu apa!" Serunya yang sudah mulai gemas karena Karina tidak kunjung mengatakan apapun.


"Apa hubungan antara kalian Yan? Bisakah kamu menjelaskannya padaku? Mengapa kamu melakukan ini padaku," lirih Karina. Kini wanita itu mulai mengatakan apa yang ingin dia tanyakan.


Lelaki itu memutar badan dan mengahadap Karina. Sedangkan wanita itu menatap Bian, berusaha tegar di depannya. Namun, airmatanya terjatuh juga. Dia mengusapnya dengan kasar. Tidak ingin terlihat lemah, meski dia nyatanya memang rapuh.


"Apa hakmu bertanya seperti ini padaku?" tanya Bian. Nada suaranya terdengar tidak suka dengan pertanyaan Karina.


"Bukankah kita ini saling mencintai Yan, mengapa kamu melukai hatiku. Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini," kata Karina, dia mulai mengatakan masalalu mereka. Semoga saja bisa membuka hati lelaki itu.


"Bukankah kamu pernah bilang, jika aku dan kamu tidak akan berpisah. Lalu kenapa kamu mengingkarinya? Tidakkah kamu mengerti pada perasaanku. Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Nona Nita, hentikan ini Yan, hentikan aku mohon. Aku sakit melihatnya," lirih Karina. Lagi-lagi dia meneteskan air mata. Bahkan dia perlahan memeluk Bian.


Meresapi aroma tubuhnya yang telah lama dia tidak hirup. Harusnya dia bisa lebih dekat dari ini. Tetapi takdir seolah tengah memberi mereka ujian. Dia bisa menunggu, dia bisa yakin bisa melewati masa kebencian yang ada di hati Bian. Dia yakin Bian mencintainya. Dia pasti tidak bersungguh-sungguh melakukan ini.


"Sudah memeluknya!" Bian, melepaskan dengan paksa tangan yang sempat memeluknya. Lelaki itu berbalik dan tersenyum menyeringai.


Lelaki itu berjalan maju mendekati Karina, sedangakan Karina perlahan mundur untuk menjauhinya. Bian memegangi dagu Karina.


"Berhentilah mencintaiku, rasa ini tidak akan pernah hadir lagi. Kamu hanya akan bermimpi jika kita bisa mengulang masa lalu. Kamu harus move on. Karena kita akan hidup menjalani masa depan. Yang artinya waktu terus berputar, bukan masalalu yang tidak pernah akan terulang lagi." Bian melepaskan tangannya dari dagu Karina.


Namun, Karina tidak menyerah. Wanita itu berusaha mencekal tangan Bian agar tidak pergi dari sampingnya.


"Berhentilah berbicara omong kosong, Yan. Aku tahu kamu masih mencintaiku 'kan? Kamu bersama Nona Nita hanya menganggap adik, kakak tidak lebih. Kamu mencintaiku 'kan." Namun, Bian tidak menjawabnya dia menghempaskan tangan Karina dan pergi meninggalkanmya.


Krisna yang akan membawa air minum pun melihat pintu belakang terbuka langsung kesana. Dia takut jika maling sedang berkeliaran. Namun, betapa terkejutnya dia ketika dia melihat Karina yang tengah menangis dengan memeluk lututnya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2