Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab134. Tak Acuh


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Indra saat melihat kecemasan yang begitu mendominasi wanitanya. Nita menatap Indra dengan sendu lalu memberikan ponselnya. Di sana terpangpang nama Karina yang tidak membaca pesannya.


Indra pun berinisiatif untuk mengabari Bian, agar lelaki itu mencarinya. Namun, baru saja dia akan menelepon Bian, Karina membalas pesan Nita.


Tanpa pikir panjang Nita langsung meneleponnya. Dia khawatir jika Karina belum juga pulang.


["Di mana kamu? Kenapa belum pulang?"] Tanya Nita tanpa basa-basi.


["Aku di rumah Rindi, Mbak. Sepertinya aku akan tidur untuk beberapa hari di sini karena dia tengah sakit,"] jawab Karina.


["Yasudah, hati-hati. Besok Mbak telepon lagi, ya. Dan Mbak akan menitipkan toko padamu. Selama beberapa hari kedepan Mbak akan sibuk mengurus pernikahan Mbak,"] ucap Nita. Akan tetapi Karina tidak mengatakan sepatah katapun untuk memberikan selamat. Nita sampai berulang kali memanggilnya. Namun, Karina tidak juga menjawabnya.


Setelah hampir lima menit dia baru menjawab, ["Selamat Mbak, aku ikut senang."] Karina pun berpamitan dan telepon pun berakhir.


Nita bernapas lega, akhirnya Karina mengangkatnya.


***


Nita bergeliat dan berguling-guling di atas ranjangnya. Dia masih memikirkan semalam, Indra melamarnya dan dia akan menjadi pengantin dalam waktu dekat ini. Apalagi Krisna yang sudah berlapang dada merelakan dirinya untuk menikah dengan Indra.


Nita membawa ponselnya yang berada di atas nakas, mencoba menelepon Karina untuk datang kerumahnya. Dia ingin berbagi kabar baik ini, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata apalagi selain tersenyum. Namun, sayang Karina telah berangkat Ketoko, mau tidak mau Nita pun harus datang Ketoko untuk bertemu dengan Karina.


Dia pun mulai turun dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah dua puluh menit dia pun selesai dan besiap untuk menuju toko. Memesan taki online, lalu membalas pesan Indra yang sempat menanyakan apakah dia mau diantar?


["Tidak perlu, aku sudah naik taksi, sebentar lagi juga sampai toko,"] jawab Nita menolak.


["Ya sudah, hati-hati,"] balasan pesan dari Indra.


Sang supir pun memberitahukan jika mereka telah sampai, Nita lantas membayar dan mulai turun dari taksi. Dia berjalan dengan sumringah ingin segera sampai toko, dan memberitahu pada Karina.


Nita berpapasan dengan Rindi, lalu bertanya, "bagaimana keadaan kamu sekarang Rindi? kalau sakit kenapa memaksakan untuk masuk. Libur dulu juga tidak pa-pa," ucap Nita pada Rindi, gadis itu hanya mengernyit heran dengan lontran bos-nya.


Sakit? siapa yang sakit, Rindi bahkan sampai menyapu seluruh runagan saat pertanyaan itu dilontarkan. Dia semalam baik-baik saja. "Eh, m-maksudnya, Mbak?" tanya Rindi bingung.

__ADS_1


"Tidak apa, jangan sungkan padaku Rin, semalam Karina mengabariku, dia merawatmu dengan baik bukan?" ah, sungguh pertanyaan konyol apa yang di maksudkan bos-nya itu. Rindi hanya meringis dengan pikiran bingung.


Nita bahkan menempelkan punggung tangannya di dahi Rindi, "sepertinya kamu sudah sehat ya, Rin. Tidak usah terlalu lelah. Ok," ucap Nita lagi, wanita itu pun pergi setelah mangatakannya.


Rindi dengan cepat mencari Karina kegudang, dia harus meminta penjelasan pada gadis itu yang telah menjualnya dengan alasan sakit. Jika dia sakit beneran bagaimana? padahal tubuhnya tengah sehat bugar.


Setelah menemukan Karina, Rindi langsung bertanya, "apa maksudmu Karin? kenapa menjualku dengan alasan sakit. Apa yang akan kamu berikan padaku karena aku telah membantumu?"


"Apa Mbak Nita bertanya padamu? kamu tidak mengatakan jika aku berbohong bukan?" tanya Karina dengan cemas.


"Menurutmu aku memberitahu kebohongan kamu? asal ada uang tutup mulut saja." Rindi mengangkat tangannya untuk meminta uang. Karina berdecih, bukannya setia kawan dia malah memanfaatkan keadaan.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu alami Karin, hanya saja aku tidak bisa memaksamu untuk mengatakan apapun, ohiya, besok mungkin aku akan minta cuti, ibuku sakit Karin, entah aku akan bekerja lagi di sini atau mungkin mencari pekerjaan di sana untuk menjaga ibuku," terang Rindi, Karina merasa iba.


Terlintas dalam pikirannya untuk ikut pergi bersama Rindi, bukankah ini jalan agar dia bisa menghindar dari Bian?


"Aku ingin ikut denganmu bagaimana Rin?" pertanyaan Karina membuat Rindi heran.


"Tolong aku, aku mohon." Karina menangkupkan tangannya meminta belas kasih pada Rindi. Rindi mengembuskan napas kasar saat dia tidak bisa menolak untuk memberikannya bantuan.


"Biar aku yang meminta izin pada Mbak Nita."


***


Karina tengah berdiri di depan pintu dengan gugup. Menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan, dia melakukannya berulang kali. Baru saja tangannya menggapai knop pintu seseorang telah keluar dari ruangan Nita. Karina terhenyak hampir saja terjatuh jika Bian tidak mendekapnya.


Tatapan mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama. Tatapan Bian begitu dingin padanya, Karina menyimpulkan jika lelaki itu sudah tidak lagi mempunyai perasaan padanya. Jelas saja itu akan terjadi, bukankah Bian akan menikah dalam waktu dekat.


Karina pun tersadar dan perlahan menjauhkan dirinya dari dekapan Bian. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain. Bian pun membenarkan jasnya dan berjalan untuk meningglakn Karina.


"Selamat, semoga lancar sampai waktunya tiba," ucap Karina, langkah Bian terhenti ketika Karina mengatakannya, dia kebingungan dengan ucapan selamat itu.


"Apa maksud--" Ketika Bian memutar badan Karina sudah masuk kedalam ruangan Nita. Tetapi Bian tidak ingin ambil pusing, dia lantas melangkahkan kakinya untuk pergi dari toko.

__ADS_1


***


"Kebeulan sekali kamu datang Karin." Nita berjalan mendekati Karina lalu memapahnya untuk duduk di sofa.


"Bian ...."


"Aku sudah bertemu dengannya di depan, Mbak," jawab Karina menyela. Nita pun menganggukkan kepalanya.


"Mbak sedang senang, Karin." Dengan wajah yang sumringah dia mengatakannya, sedangkan Karina menjadi tidak bisa menahan diri untuk sakit hati.


Dia mencoba untuk melupakan rasanya terhadap Bian, akan tetapi semakin mencoba dia akan semakin terluka. Nita mengatakn semua tanpa cela tentang malam itu saat lelakinya melamarnya. hati Karian tercubit. Bibirnya sesekali melengkungkan senyuman meski hatinya bergejolak menahan sakit.


"Apa tidak terlalu cepat, Mbak. Kamu menerima terlalu mudah,"


"Tidak Karin, dia sudah lulus uji, bukankah selama ini kami dekat. Hanya saja kesalah pahaman yang terjadi pada kami hanya bagian dari rencananya," ungkap Nita, Karina pun menganggukkan kepalanya.


Rasanya Karina ingin segera pergi dari hadapan Nita, agar dia bisa mennagis sesuka hatinya. Untuk menumpahkan rasa sakitnya.


Setelah Nita selesai bercerita, kini keheningan mulai menerpa, Karina pun mencoba mengungkapkan apa yang yang akan dia katakan pada wanita di sampingnya.


"Mbak," panggil Karina dengan ragu. Dia takut jika Nita tidak akan memberikan izin padanya.


"Ibu-nya Rindi sedang sakit, Mbak,"


"Iya, lalu kenapa? kenapa tidak dia yang datang dan kenapa malah kamu, Karin?"


"Aku ingin ikut bersamanya, Mbak. AKu ingin menemani Rindi, kasihan dia jika pulang sendiri aku takut terjadi apa-apa saat dia dalam perjalanan pulang,"


Nita memandang Karin dengan tatapan heran, "apakah kamu tidak ingin membantu, Mbak untuk menyiapkan pernikahan Mbak? padahal Mbak butuh kamu,"


"Aku akan pulang saat Mbak menikah."


***

__ADS_1


__ADS_2