
Waktu telah berlalu satu bulan setelah honeymoon itu terjadi. Keadaan diantara Indra dan Nita tampak baik-baik saja, meski banyak sekali pertanyaan yang berada dalam benak Nita. Apakah suaminya tidak menginginkan buah hati dari pernikahan mereka? Bukankah setiap pernikahan mereka selalu mendambakan seorang anak?
Nita sudah berusaha mencoba mengatakan keinginannya, namun Indra hanya menjawab dengan deheman kadang dia sama sekali tidak menanggapi keinginan istrinya. Seperti malam kemarin Nita mencoba bertanya.
"Kalau ada anak di tengah-tengah kita, pasti kebahagiaan kita lengkap, Mas, suara tangisan dan tawanya akan membuat suasana rumah lebih hidup," ucap Nita dengan mendudukkan pantatnya di tepi ranjang.
Indra masih terfocus pada pekerjaannya menatap layar laptop. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya atau bibirnya untuk sekadar menenangkan istrinya agar membahasnya lain waktu. Lelaki itu diam seribu bahasa seolah Nita tidak berada di sampingnya.
"Mas," panggil Nita yang mulai kesal karena diabaikan. Indra menoleh sesaat lalu berdiri membawa laptopnya dan berpindah tempat ke ruang kerjanya.
Nita hanya mendengus kesal dengan tingkah suaminya. Dia ingin diberikan satu alasan mengapa suaminya bersikap demikian. Bukankah itu akan menimbulkan ke curigaan jika selalu terjadi? Lalu apakah suaminya tidak bisa memberikan dia anak?
Wanita itu buru-buru menggelengkan kepalnya saat pikiran buruk itu mulai menari-nari dalam pikirannya. Dia harus tetap berpikiran positif sebelum suaminya memberikan alasan.
Nita melamun di dalam ruangannya yang telah berulang-ulang diketuk oleh seseorang. Dia tidak menyadari mengingat pikirannya tertuju pada sang suami sedangkan orang yang mengganggu pikirannya tidak berniat untuk menjelaskan.
Karina pun akhrinya membuka pintu perlahan, dan mulai menyembulkan kepalanya kedalam, dia memanggil Nita berulang kali agar dia menoleh. Akan tetapi Nita masih betah dalam lamunan, dia sama sekali tidak mengindahkan panggilan itu.
Perlahan dia mulai menyeret kursi dan mulai mendudukan pantatnya di kursi dengan tatapan penuh selidik. Sepertinya dia bisa membaca perilaku Nita setelah pulang honeymoon. Apakah lelaki itu bertemu dengan selingkuhannya dan membuat Nita menjadi seperti ini?
Ketukan dari luar pun kembali terdengar, Karina mempersilakan tamu itu masuk. Hingga Tazkia pun datang mengunjungi mantan kakak iparnya itu. Ketika dia memasuki ruang kerja Nita, alisnya menukik, terheran dengan pemandangan yang berada di depan matanya. Tatapan Nita begitu kosong, dan terlihat penuh beban.
__ADS_1
Tazkia pun mulai menyeret kursi dan ikut mendudukkan pantatnya disamping Karina.
"Kenapa dengan Mbak Nita?" bisik Tazkia ketika dia sudah duduk. Karina menoleh dan mengedikan bahu, mengingat dia pun tidak mengetahui masalah Nita.
"Setelah pulang honeymoon, Mbak Nita seperti ini. Banyak melamun," ucap Karina membisikkan jawabannya. Kia mengembuskan napas kasar ketika dia mendengarnya. Sepertinya dia harus memberi pelajaran pada lelaki buaya darat itu.
"Aku kira Mbak Nita dapat menjinakkan buaya darat itu, ternyata pawangnya masih bisa di kadali," dengus Kia dengan tatapan jengkel menatap kearah Nita. Bukan dia jengkel terhadap Nita, tetapi dia sangat membenci Indra yang telah berbohong dengan janjinya. Kia masih mengingta saat lelaki itu meminta izin padanya agar bisa memiliki Nita.
"Aku akan mencintainya sepenuh hatiku, tidak akan aku membuatnya terluka!"
Ucap Indra kala itu, Kia mengepalkan tangannya kuat-kuat, untuk membalas dendam atas apa yang terjadi selama ini. Dia dengan refleks berdiri hingga terdengar berdenyit, begitu nyaring di dalam ruangan. Hingga membangunkan Nita dari lamunan.
Nita mengerjap berulang kali, kala melihat dua wanita yang sudah berada di hadapannya. Alisnya mengernyit begitu dalam.
"Kenapa tatapan kalian seperti itu?" tanya Nita lagi dengan kikuk dia pun mendudukkan pantatnya di kursi berhadapan dengan Karina dan juga Tazkia.
"Kenapa sih, Mbak, kalau punya masalah sering dipendam sendiri. Kamu bisa membaginya pada kami, kami pasti akan memberi pelajaran pada lelaki itu!" seru Kia dengan mengepalkan tangannya di udara.
"Apa yang kamu katakan Kia, Mbak tidak mengerti," ucap Nita memijit pelipisnya dengan dentuman yang tidak nyaman terasa. Kehadiran kedua orang itu nyatanya tidak membuatnya merasa rileks dan nyaman. Dia hanya membutuhkan waktu untuk sendirian.
"Mbak, tahu berapa lama kami di sini?" tanya Karina mulai menimpali. Nita pun langsung mengalihkan pandangan dan menatap Karina. Wanita itu menggeleng lemah. Yang dia tahu keduanya sudah berada di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Kami hampir setengah jam, menunggu kamu sadar dari lamunan. Seberapa beratnya masalah yang tengah Mbak hadapi. Kenapa tidak mau berbagi? Kami khawatir Mbak." Karina membeberkan apa yang berada di dalam benaknya.
"Su-sungguh, Mbak tidak apa-apa kok, kalian tidak usah khawatir," jawab Nita sembari memaksakan senyumnya.
Karina dan Tazkia hanya saling memandang kembali dengan penuturan Nita, mereka berdua sudah tahu sifat wanita itu. Dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tidak ingin membuat suasana hati Nita kian buruk Karina pun mengajak Nita untuk mengecek barang yang akan dikirimkan ke beberapa daerah. Tazkia pun mengikuti Karina dan Nita untuk membantu.
"Ini di check lagi ya Mbak, karena banyak pesanan jadi aku terpaksa memanggilmu untuk membantu mengecheck, maaf ya Mbak," kata Karina merasa bersalah. Meski dia terlampau dekat dengan Nita, tetapi dia juga mempunyai batasan akan kedekatan mereka. Karina bisa membedakan di luar perkerjaan dan juga sedang dalam pekerjaan.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Nita masih dengan ekspresi yang tampak dipaksakan untuk tersenyum.
Tazkia melipir untuk mendekati Karina, "kamu bohong 'kan, supaya Mbak Nita punya kesibukkan," bisik Tazkia. Karina menoleh kearah Nita yang mulai sibuk untuk mengecheck barang.
Karina mengangkat jari telunjuknya dan di tempelkan di bibir, "ssss, diam Nona Kia, daripada Mbak melamun saja. Sudah sebulan dia hanya begitu,"
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, tetapi mereka tidak menyadari jika waktu tidak terasa terlewati dengan cepat. Karena banyaknya pekerjaan dan mereka tampak semangat membuat mereka hampir melupakan makan siang.
Indra dan juga Ari datang berkunjung mengingat, mereka tahu jika istri-istri mereka berada di toko milik Nita. Indra datang menenteng makanan untuk makan siang bersama sang istri. Ketika dia mulai memasuki toko, pandangannya lurus kedepan melihat istrinya yang tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan yang seharusnya tidak dia lakukan.
Ari memilih menjauh dari Indra dan mulai mendekati sang istri untuk di ajaknya makan siang. Namun, dia tidak tahu jika karyawan lainnya belum makan siang.
"Kok, cuma untuk aku saja. Yang lain juga belum makan, loh, Mas," kata Kia dengan wajah tidak enak hati pada Karina.
__ADS_1
"Aku sudah memesan untuk Karina dan juga karyawan lainnya, tenang saja!"
***