Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab87. Ayunan.


__ADS_3

Indra tampak lihai menyiapkan makanan pesanan yang baru sampai. Mata Nita berulang kali mengernyit ketika lelaki itu menghidangkannya. Sedangkan Tazkia hanya memandang datar kearah Indra, mulutnya seolah terkunci. Dia sama sekali tidak ingin mengatakan apapun, walau sekadar kata terima kasih.


"Silakan, dimakan," titah Indra ditujukan pada Tazkia, dia lalu menoleh kearah Nita, "kamu juga makan Nona Nita." Indra tersenyum pada wanita itu.


Nita menggelengkan kepalanya, "tidak, terima kasih," tolak Nita mengingat lelaki itu hanya memesan satu porsi.


Tazkia langsung melahap makanan yang terhidang di atas meja itu dengan lahap. Indra memandangi Tazkia yang tengah menyantapnya dengan senyuman yang merekah.


Nita hanya menyimpulkan jika mereka memang pernah dekat. Tetapi, apakah mungkin? pertanyaan-pertanyaan itu kembali hadir menggerogoti rasa penasarannya. Setelah selesai menyantapnya Tazkia berpamitan untuk kedalam kamarnya.


"Aku akan istirahat, Mbak," ucap Kia dengan dingin. Nita mengerti mungkin dia sedikit risih dengan kehadiran Indra. Nita pun meminta bantuan pada pelayan untuk membersihkan sisa makan Kia barusan.


Mereka berdua pun berjalan-jalan menuju taman belakang, tampak canggung ketika mereka hanya berdua. Indra menatap Nita dengan ujung matanya. Wanita itu tidak memedulikan keberadaannya disampingnya dia menikmati perjalanannya, bernostalgia ketika dirinya dan Riska sedang bercengkrama di sana.


Nita menunjunk kearah ayunan yang berada tidak jauh dari mereka. Wanita itu juga menarik tangan Indra tanpa menyadarinya. Lelaki itu mengekor mengikuti kemana arah Nita pergi. Membiarkan tangannya digenggam oleh wanita itu.


Ketika sampai Nita merasa ada yang salah, ya, salah karena telah menarik tangan lelaki itu.


"Eh, maaf," ucap Nita, Indra tersenyum dan menyempilkan anakan rambut kedaun telinga Nita.


"Tidak pa-pa," jawab Indra, Nita pun perlahan melepaskan tangannya dari tangan Indra. Dia tampak malu-malu mengingat perlakuan Indra sungguh manis. Namun, Nita menggeleng sikap yang pertama dia tampilkan masa bodo dan tidak mudah baper seperti ini.


Dia pun berdehem dan mengatakan rasa rindunya terhadap almarhum.


"Ayunan ini menjadi saksi kalau kami begitu dekat." Nita memutari ayunan dan menyentuhnya ketika dia melewatinya.

__ADS_1


Setelah puas memutarinya dia mendudukan bokongnya di sana. Kakinya menjuntai ketanah, menekan dan mengayunkan, Nita juga menutup matanya mengingat masa-masa itu. Masa yang tidak akan pernah dia lalui kembali.


"Andai saya mengabaikan rasa sakit itu, dan datang ketika dia merindukan saya. Penyesalan ini tidak akan sedalam ini," ungkap Nita, wajah sedih dia tampilkan. Dia tidak menghiraukan Indra yang menurutnya orang asing. Tetapi dia sungguh menyesalinya. Merasa sakit ketika hanya memendamnya.


Indra berjalan kebelakang ayunan, dia mendorong ayunan itu dengan perlahan. Dia sama sekali tidak ikut menimpali keluhan Nita. Nita pun menoleh kearah belakang dan melihat Indra.


"Apakah kamu pernah merasakan penyesalan?" tanya Nita, lelaki itu berjalan dan ikut duduk disamping Nita, Indra mengembuskan napas kasar seolah enggan untuk mengatakannya. Tetapi dia terbawa suasana dan mulai berbicara pada Nita.


"Semua orang pasti pernah mengalami rasa penyesalan dalam hidupnya, begitu pun saya. Andai bisa mengulang waktu saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kehadirannya disamping saya. Ketika takdir mempertemukan kembali kami malah seperti orang asing, meski saya telah mencoba mengingatkan dia akan perhatian dan kenangan saat bersama. Nyatanya itu semua tidak cukup untuk membuatnya memaafkan saya," ucap lelaki itu, terdengar berat dan juga kesedihan yang teramat dalam.


"Apakah kamu pernah meminta maaf padanya?" tanya Nita, Indra menoleh menatap datar.


"Dari gelagat kamu, sepertinya kamu tidak pernah mengatakan alasan memilih pergi darinya dan tidak pernah meminta maaf padanya," tebak Nita, lelaki itu mengalihkan tatapannya dan berdiri.


"Pentingkah itu Nona Nita, saya rasa perhatian yang tidak biasa cukup membuatnya mengerti," timpal lelaki itu, seolah kata maaf tidak penting baginya.


"Jika aku mengatakannya, apakah kamu akan memberikan maaf padaku."


***


Indra mencari Nita keseluruh ruangan, tetapi dia tidak menemukan wanita itu. Namun, bukannya bertemu dengan Nita dia malah berpapasan dengan Tazkia yang tengah menelepon seseorang. Posisi Kia saat ini membelakangi Indra, lelaki itu tidak berniat pergi darinya, dia ingin mendengarkan gadis itu berbicara.


["Kapan kamu pulang, Mas?'] tanya Kia, terdengar berat, isak tangis masih terdengar.


["Pulanglah cepat, jika telah selesai."] Kia berbalik, dia terkejut dan memegangi dadanya ketika Indra berada dibelakangnya. Indra menatap gadis itu dengan dalam, seolah tidak ingin menyia-nyaiakan waktu saat ini.

__ADS_1


Kia berjalan dengan cepat untuk menghindari lelaki itu. Namun, Indra terus menghadang Kia hingga gadis itu terjebak di sana.


"Pulanglah," titah Kia tegas, gadis itu mulai bersuara. Wajah Indra tampak terharu dan refleks akan memeluk Kia. Namun, gadis itu mundur beberapa langkah.


"Biarkan aku di sini untuk menemanimu. Walau kamu tidak menginginkan aku hadir kembali dalam hidupmu." Indra memohon pada Kia, gadis itu mengembuskan napas kasar, seolah berat untuk mengizinkannya.


"Aku tidak akan mengizinkannya, cepat pergi!" teriak Kia, wajah wanita itu begitu marah. Nita yang mendengar suara Kia pun langsung turun kebawah.


Melihat pemandangan yang tidak biasa, sorot mata Indra bahkan terlihat memohon. Tetapi Kia seolah dia merasa terganggu akan kehadirannya. Nita terus menatap keduanya secara bergantian.


"Tuan Indra, saya harap anda mengerti dengan keadaan Kia saat ini. Pergilah keluar dan tunggulah saya di luar." Nita membawa Kia untuk kelantai atas. Menenangkan gadis itu dari rasa amarahnya.


Setelah sampai di kamar, Nita memapah Kia untuk berbaring di ranjang, "istirahat, ok. Urusan dia biar Mbak yang selesaikan." Nita mengusap rambut Kia. wanita itu pun berdiri, sebelum Nita melangkah tangan Nita digenggam Kia.


Nita pun menoleh kearah Kia, "maafkan aku karena sering merepotkan kamu, Mbak." Kia tampak bersalah karena dirinya Nita harus mengurus lelaki itu.


Namun, Nita tidak merasa keberatan. Dia mengusap tangan Kia dengan lembut dan tersenyum.


"Tidak pa-pa. Bukankah Mbak sudah mengatakan jika Mbak akan melakukan apapun untuk kamu." Kia melepaskan tautan tangan mereka. Nita pun melangkahkan kakinya untuk turun kelantai bawah.


"Apa yang mereka bicarakan, hingga membuat Kia marah seperti itu. Biasanya gadis itu yang akan membuat orang marah, bukan malah sebaliknya," gumam Nita, dia berlarian kecil agar cepat sampai di depan. Setelah sampai di depan pintu utama dia merapikan dahulu penampilannya dan mulai mengatur napasnya agar tidak terlihat ngos-ngosan.


Nita membuka pintu, di sana ada Indra yang tengah gelisah. Lelaki itu bahkan mondar-mandir tidak jelas.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Indra, seolah dia tidk sabar menunggu jawaban Nita.

__ADS_1


"Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Nita balik bertanya. Namun, lelaki itu terlihat gelisah dan salah tingkah.


***


__ADS_2