Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab118. Dilema.


__ADS_3

Teringat kejadian semalam membuat Nita menyugar ramburnya perlahan kebelakang. Antara bingung dan juga malu. Dia berusaha untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan juga Indra.


Tetapi dia bingung harus berkata apa, setelah Indra memilih memberhentikan langkah kakinya dan Nita malah diam membisu. Sebenarnya dia ingin mengatakan jika apa yang dilihat Indra tidak seperti yang mereka bayangkan.


Namun, kerongkongan Nita seolah tercekat. Dia tidak mengatakan sepatah katapun saat Indra ingin bertanya kenapa Nita mencegahnya untuk pulang.


"Ada apa Nona Nita?" pertanyaan itu membuatnya gila, mengapa tidak. Raut wajah Indra sungguh begitu terluka, dan dia pun merasa bersalah akan hal itu.


"Tidak. Untuk apa aku merasa bersalah, dia bukan siapa-siapaku." Nita berusaha menyanggah perasaan bersalahnya.


"Hati-hati menyesal, Mbak," celoteh Karina di saat gadis itu tengah keluar dari walk in closet kecil di kamar Nita. Dia mulai berjalan untuk keluar dari kamar Nita.


Kesal dengan ucapan Karina, Nita melempar dia dengan bantal yang berada di belakangnya.


"Jangan keluar, Karin. Menurutmu aku harus menjelaskan padanya atau membiarkan dia larut dalam kesalah pahaman itu," tanya Nita, gadis itu menyandar di dinding dengan tangan dia lipat di bawah dada. Karina tengah berpikir, seolah dia sedang memikirkan cara.


"Tanya pada diri Mbak sendiri, jika dia penting bagi Mbak. Aku rasa Mbak wajib untuk menjelaskannya. Kecuali Mbak merasa dia tidak berarti apa-apa, bukankah itu bagus agar dia tidak selalu mengharapkan Mbak, jadi dia berpikir kalau Mbak mulai rujuk lagi dengan mantan suami Mbak," ucap Karina panjang lebar.


Setelah mengatakannya, Karina memilih keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Hah!" teriak Nita merasa frustrasi. Di satu sisi dia tidak ingin memberikan penjelasan, tetapi di satu sisi pula dia tidak mau Indra salah paham padanya. Tetapi apakah Indra akan berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya?


Deru mesin mobil berhenti di pelataran rumah Nita. Dia berpikir sejenak siapa yang bertamu pagi buta, tetapi dia melihat Indra datang, kening Nita mengkerut heran. Ada masalah apa dia kemari?


Buru-buru Nita menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia berdiri lebih dulu di depan pintu kamarnya, mengatur napasnya sebelum dia menemui lelaki itu.


"Ok, Ta. Bersikap polos tanpa dosa. Tanpa memikirkan masalah kemarin malam. Bukankah itu semua tidak penting untuk dibahas." Nita memutar knop pintu dan keluar dari kamarnya.


Meski ragu dia langsung menuju meja makan, kepalanya tidak berhenti celingak-celinguk mencari seseorang.


"Mencari siapa Nona?" tanya seseorang dari arah belakang. Nita pun memegang tengkuk lehernya, lalu memutar-mutar kepalanya seolah dia tengah merasa pegal.

__ADS_1


"Siapa yang aku cari? untuk apa aku mencari seseorang padahal aku tahu di sini hanya aku dan Karina yang tinggal!" ketus Nita. Wajahnya sudah memerah menahan malu. Untung saja Indra tepat dibelakangnya. Sepertinya lelaki itu baru saja dari kamar mandi dekat ruang makan.


"Aku kesini ...." Ada jeda sebelum Indra menuntaskan ucapannya. "Hanya akan menjemput Karina, Nona. Saya harap anda memberikan izin,"


Nita memutar tubuhnya dengan alis menaut, "u-untuk apa?" Nita kepo.


"Tentu saja untuk mengantarkannya bekerja, untuk apalagi Nona," ucap Indra tersenyum pada Nita. Tatapan semalam yang sendu seolah kini hilang, Nita yang semula ingin menjelaskan pun ia urungkan.


"Tidak bisa, aku berangkat sendiri kalau dia pergi bersama kamu," tolak Nita dengan cepat.


"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih. Kamu bisa memintanya untuk menjemputmu bukan?"


"Siapa kekasihku?" Indra tersenyum smirk pada Nita, dengan gerakan lambat dia mulai mendekati Nita.


"Berarti apa yang kulihat semalam itu adalah kecelakaan bukan? kamu tidak perlu menjelaskan aku sudah tahu. Kalau kamu hanya mencintaiku, bukan," ucap Indra membuat Nita salah tingkah. Dia lantas memilih mendekati Karina dan berusaha pergi untuk menghindari pertanyaannya.


"Berhenti bicara omong kosong!"


"Aku merindukanmu, Mbak. Makanya aku datang bersama Tuan Indra," terang Kia. Nita mengangguk dan mempersilakan mereka untuk sarapan bersama.


***


Sarapan kali ini terasa canggung. Sang pemilik rumah terlihat tidak n4fsu ketika melahap makanannya. Apalagi saat perhatian kecil Kia yang dia perlihatkan di hadapannya.


Nita selalu berusaha menyanggah rasa tertariknya pada lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu. Dia selalu menyangkal jika rasa itu benar-benar ada dalam hatinya.


Kini saat perhatian lelaki itu telah memudar untuknya dia mulai merasa kehilangan.


"Mbak aku mau ketoko, boleh, ya?" Rengek Kia, dia mulai berjalan dan memeluk leher Nita dari belakang.


"Mau jadi karyawan dadakan lagi?" Goda Nita sembari mengelus punggung tangan Kia yang tepat berada di wajahnya.

__ADS_1


***


Mereka kini tengah dalam perjalanan menuju toko Nita. Sepanjang perjalanan pula hanya Kia yang terus mengoceh. Sedangkan Indra hanya menjawab dengan deheman.


"Tuan Indra, kenapa Mas Ari tidak menjawab pesanku? Kamu memberinya pekerjaan yang banyak lagi supaya dia tidak mempunyai waktu untuk membalas pesanku. Dasar bos penindas,"


"Hmm," jawab Indra.


"Kalau aku jadi sekretarismu, aku akan melempar setumpuk dokumen kewajahmu yang tampan itu,"


"Hmm,"


"Idih." Kia melempar botol kearah Indra merasa kesal karena ucapannya hanya di jawab dengan deheman.


Kia pun menoleh kebelakang tersenyum kearah keduanya. Meski mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.


"Mbak nanti siang bantu aku memilih gaun," pinta Kia, Nita menoleh kearah Indra dengan tatapan yang heran dan juga tidak percaya.


Helaan napas kembali terdengar ketika kata-kata itu terlontar dengan indah dari bibir gadis cantik itu.


"Mmm, o-oh, dengan Karina bagaimana?" Tolak Nita dengan halus, tetapi Kia menggeleng.


"Aku mau sama Mbak, Mbak yang lebih berpengalaman. Dan kamu Tuan Indra, bisakah kamu menjadi supir kami!"


"Tentu saja, apa yang tidak bisa aku lakukan jika untuk menyenangkan tuan putri." Indra tergelak setelah mengatakannya. Kia merasa tersanjung di saat lelaki itu memanggil dirinya dengan taun putri.


Nita memandang keakraban mereka berdua dengan perasaan yang kian tidak karuan yang mulai bersarang. Apakah dia benar-benar mulai mencintai Indra?


Mesin mobil telah berhenti tepat di pelataran Toko Nita. Indra lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Kia. Sedangkan Nita masih berada di dalam menunggu Indra membukakan pintunya. Tetapi lelaki itu malah masuk lagi kedalam tanpa memedulikan Nita.


"Ok, harusnya aku tidak perlu terlalu banyak berharap. Aku salah menilai perhatiannya padaku," batin Nita dengan menutup pintu mobil.

__ADS_1


***


__ADS_2