Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab149. Kejar Dia!


__ADS_3

Nita terperanjat dengan potret Karina yang tampak akrab dengan Krisna. Alisnya menukik heran, benarkah Karina? Tidak salah lihatlah dirinya melihat mereka tampak akrab seperti itu?


Nita terus menzoom poto itu, meneliti keduanya. Ah, benar itu Krisna, dan Karina dia sama sekali tidak salah lihat, tidak sedang berhalusinasi. Sejak kapan mereka begitu dekat seperti itu?


"Ini kenapa malah mereka yang seperti pacaran? Harusnya Karina dan Bian 'kan, mereka itu masih saling mencintai kenapa harus saling menyakiti seperti ini," resah Nita. Entah kenapa dia pun ikut sakit hati merasakan apa yang tengah Bian rasakan. Dia yakin jika Bian begitu tersiksa saat melihat kedekatan mereka.


Belum juga menemukan jawaban, ponsel Nita berdering. Karina yang meneleponnya.


"Ya, Karina kenapa?" tanya Nita berusaha berpura-pura tidak tahu, meski mulutnya sudah gatal ingin menanyakan perihal kedekatannya dengan Krisna.


"Aku boleh membawa keponakanku ke toko, Mbak? Kebetulan Tuan Krisna mengizinkan sekarang, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk dekat dengannya," ungkap Karina kegirangan.


"Dekat dengannya?!"


"Ya, Mbak. Keponaknaku ini. Kamu tidak keberatan 'kan Mbak?"


"Ohh, ya-ya tentu saja tidak. Bawa saja jika kamu ingin membawanya."


"Terima kasih, Mbak. Aku tutup ya, maaf telah mengganggu,"


Nita yang berada di dalam kamar dengan memegang ponsel Indra dan juga dirinya tidak menyadari jika Indra tengah memperhatikan Nita yang tengah gelisah. Lelaki itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana. Nita yang perlahan memutar badan terperanjat saat melihat suaminya sedang berada di sana.


"E-eh, sudah bangun ya. Mau sarapan apa aku buatkan,"


"Tidak perlu!" jawab Indra dengan suara tegasnya.


"Ponselku ada di kamu sayang?" Indra bertanya dengan tatapan seriusnya. "Aku mencari kesana-kemari."


Nita langsung menunduk melihat tangannya yang tengah memegang dua ponsel. Nita merutuki dirinya sendiri yang sampai bisa membawa ponsel suaminya.


"Maaf ya, aku tidak sengaja," balas Nita dengan merasa bersalah.


"Tidak apa, hanya saja kamu salah malah meninggalkan aku sendirian di sana. Mau ikut ke kantor bersamaku?" ajak Indra mencairkan suasana.


Nita mendongak, "aku ingin ke toko saja, sudah lama aku tidak datang ke toko," ucap Nita, Indra pun mengangguk dan menyuruh Nita untuk bersiap.


***

__ADS_1


Kini Indra dan Nita tengah berada di dalam mobil untuk menuju tempat tujuan. Sepanjang perjalanan Indra sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Nita dia berulang kali menoleh kearah suaminya dengan ekor matanya. Meski dia telah menikah dia tetap memberikan perhatian terhadap Bian apalagi sekarang ini dia telah menjadi adik ipar nya.


"Ya, aku sedang dalam perjalanan."


Sesekali Indra hanya berdehem mungkin sebagai jawaban pada karyawannya yang tengah menelepon. Saat telepon telah dimatikan Nita langsung memegang tangan suaminya dengan tatapan menghiba.


"Ada apa? Memelas seperti itu?" tanya Indra ketika melihat raut wajah Nita.


"Kamu tahu kalau Karina, dan Krisna ...."


Seketika rem mobil langsung diajak, hingga terdengar decitan. Bukan karena Indra tekejut akan tetapi dia tengah menghindari kucing yang tengah menyebrang.


"Untung saja," gumam Indra merasa lega.


Setelah melihat kucing itu berlarian dengan selamat Indra langsung melajukan kembali mobilnya. "Kenapa mereka?"


"Mereka pacaran,"


"Iya lalu urusannya denganku apa sayang?" tanya Indra santai.


Bian, lelaki itu sungguh membuatnya cemburu karena telah membuat perhatian istrinya terbagi. Setelah perdebatan itu Indra lebih baik tidak bertanya lagi, akan tidak baik jika dia terus bertanya yang ada dia akan kena amarah istrinya lagi .


Ketika Nita akan membuka pintu mobil, dia melihat Karina yang baru datang membawa seorang anak lelaki. Tangannya seketika mengambang di udara tanpa melanjutkan untuk membuka.


"Ke kantorku saja jika kamu tidak tahan melihat anak itu," ucap Indra memberi saran. Nita pun seketika tersadar dan menggelengkan kepala.


"Aku baik. Aku tidak akan merasa sakit lagi karena aku punya kamu, Tuan Indra," jawab Nita dengan senyuman manisnya. Indra tidak sanggup untuk melihat pesona istrinya itu, dia memegang tengkuk istrinya dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu memang yang terbaik," puji Indra.


"Sudah berapa kali kamu mencium keningku ini," ucap Nita dengan meledek suaminya. Indra hanya balas tersenyum. Dia tidak bisa menyangkal karena memang kenyataanya.


"Aku turun, ya? Hati-hati di jalan suamiku." Bibir itu mengatakan hal yang lebih manis membuat Indra seketika menghentikan langkah Nita.


"Berhenti di sana sayang!" Perintah Indra, Nita mengernyit heran dan menatap suaminya bingung.


"Kenapa? Ada yang salah dengan pakaianku? kenapa tidak bilang dari tadi sih," gerutu Nita, ia kembali masuk kedalam mobil suaminya.

__ADS_1


"Bukan, bukan pakaianmu." Indra semakin dalam menatap Nita. "Iya lalu apa?" Keheranan belum hilang. Namun, suaminya malah membuatnya semakin bingung.


"Ucapkan lagi kata-kata tadi,"


"Aku turun, ya? Hati-hati di jalan, sudah begitu saja 'kan, apa yang salah sih,"


"Kata terakhir setelah kamu mengatakan kata itu." Nita tampak berpikir dan mengingatnya dia pun mengulangnya lagi.


"Hati-hati di jalan sua-mi-ku." Mata Nita membulat sempurna ketika dia sadar telah mengatakan kata yang keramat.


Indra berdehem, dengan senyuman yang tidak pudar di bibirnya. Dia pun menyuruh istrinya untuk masuk kedalam toko.


***


Setelah meeting selesai dan waktunya makan siang, Indra memilih berbincang berdua dengan Bian yang kini menjadi sekretarisnya.


"Kenapa sampai fatal, dan dia menjadi pacar Tuan Krisna!" Pertanyaan telak yang membuat Bian seketika menatap Indra dengan rasa tidak percaya.


"Jangan bercanda kau Indra! Mereka baru beberapa hari akur, kenapa bisa pacaran!" Bian tidak Terima dengan ucapan Indra. Indra menatap tajam kearah Bian karena berani meninggikan suaranya.


Bian yang tersadar langsung mengembuskan napas kasar.


"Apa yang telah kamu lakukan untuknya, untuk meminta maaf pada gadis itu?" tanya Indra, Bian hanya menoleh sekilas kearah Indra lalu tatapannya lurus kedepan.


"Aku hanya mengikutinya saja, beberapa kali. Pernah dua kali mungkin aku hanya meminta maaf padanya. Bagiku itu cukup untuk membuatnya mengerti," terang Bian. Seketika emosi Indra menggebu pantas saja Karina bisa berpacaran dengan orang lain, ternyata saudaranya yang bodoh.


Indra langsung menonyor kepala Bian dengan keras. Gemas sekali dia dengan sikap Bian.


"Apa yang kamu lakukan!" Seru Bian tidak Terima, dia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena pukulan Indra.


"Dasar bodoh! Kejar dia setelah pulang bekerja. Kamu akan merelakannya begitu saja, saat kamu mati-matian untuk berjuang agar mendapat jabatan CEO?"


Bian mendengkus dengan kesal. Kata-kata Indra begitu telak hingga tidak bisa ia sangkal.


"Kejar dia, mengerti! Jangan membuat istriku menjadi banyak pikiran, dia selalu khawatir padamu. Jangan sampai aku tidak bisa menghamili istriku karena kamu tidak becus mengejar gadis itu!"


***

__ADS_1


__ADS_2