
Ari menghapus air mata yang sempat jatuh di pipi istrinya. Ada rasa bahagia, dan haru yang bercampur menyelimuti dirinya juga, saat melihat Nita mantan istri majikannya dibahagiakan oleh lelaki lain. Ari tidak lagi melihat Nita yang frustrasi karena Krisna yang selalu mengabaikannya dam tidak pernah memberikan kebahagiaan dalam rumahtangga nya.
"Sudah sayang, jangan menangis." Ari memeluk istrinya dari samping.
"Aku bahagia, Mas Ari. Aku baru kali ini melihat Mbak Nita menangis bahagia seperti ini. Aku masih mengingat bagaimana saat Mbak Nita berada di kampung karena melarikam diri untuk menjauh dari Mas Krisna. Meski dia kakak kandungku aku juga tidak akan membenarkan sikapnya yang telah menyia-nyiakan Mbak Nita," terang Kia panjang lebar.
"Sudah jangan diungkit lagi, bukankah, Tuan Krisna pun sangat menyesalinya. Kita semua tahu bagaimana Tuan Krisna mengejar, Nona Nita,"
"Tapi, Mas ...." Ari menempelkan jari telunjuknya pada bibir istrinya.
"Baik buruknya dia, dia adalah kakakmu, kamu tidak boleh selalu menghakimi kakakmu, aku juga tidak membenarkan tentang caranya yang telah menyakiti hati wanita. Jangan diulangi lagi membicarakan keburukkan Mas-mu dia yang telah membanting tulang untuk menghidupimu, merawatmu." Petuah Ari pada istrinya. Kia menatap pupil mata suaminya dengan kagum.
Semakin lama bersama dengan orang ini membuat Kia semakin hari semakin mencintainya. Rasa itu tidak pernah berkurang, sungguh Kia begitu beruntung karena telah memilih Ari menjadi pendampingnya.
__ADS_1
"Ahh, aku menyayangimu. Terima kasih selalu menegurku saat aku salah." Cup Kia mengecup pipi suaminya dengan mesra. Sedangkan Ari dia menunduk sembari menatap bahagia wajah istrinya.
Kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu tidak menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian. Ternyata keromantisan mereka mengalahkan pemilik acara. Indra rasanya ingin menonyor mantan sekretarisnya itu yang telah membuat hancur rencananya.
Imam bersiul seolah memberi kode agar mereka untuk sadar. Akan tetapi kedua manusia itu mengira jika siulan itu tertuju pada pemilik acara. Tazkia melepaskan pelukannya dari sang suami, perlahan dia membuka matanya, begitupun dengan Ari, membuka matanya saat dia tengah merasai kehangatan dari sang istri.
Ketika semua mata tertuju pada Ari, dan Tazkia keduanya hanya tersenyum kikuk merasa malu.
"Ini ada apa? Kok malah lihatin kami," tanya Kia dengan polos. Matanya menatap kearah Indra yang tengah menatapnya dengan heran.
Namun, sebelum menjauh dari toko, Nita meronta meminta ingin dilepaskan. Dia belum membawa tasnya. Namun, Indra tidak membiarkan Nita pergi, dia malah menggendong Nita untuk masuk kedalam mobilnya. Sebelum mobil melaju ketukan dari kaca mobil terdengar.
"Mbak, ini tasnya." Karina mengulurkan tasnya kearah Nita. Nita membawanya dan mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"Bos-mu aku bawa dulu Karina, untuk acara yang telah sukses kalian boleh pesan makanan dan Bian yang akan mengurusnya," tandas Indra, Karina mengangguk mengerti. Dia melihat mobil kedua majikannya yang tengah melaju membelah jalanan.
Mereka berdua sangat serasi, bagai romeo dan juliet saling memahami satu sama lain. Semoga saja kebahagiaan selalu mereka rasakan. Karina berbalik dan sudah mendapati Bian yang tengah berada dibelakangnya.
"Kamu!! Bikin kaget aku saja." Karina mengelus dadanya.
"Apa aku mengagetkanmu?"
"Menurutmu, masih bertanya saja. Memang kamu kira aku tidak bisa kaget," omel Karina.
"Ya, aku tahu kamu pasti kaget, seperti kehadiranku yang tiba-tiba," ucap Bian. Karina menatap malas kearah Bian.
"Tuan Indra mentraktir kami makan sebagai hadiah karena acaranya berjalan lancar meski sedikit terganggu," ketus Karina, entah kapan dia mulai berani pada Bian. Bukan salahnya karen dia berperilaku seperti itu.
__ADS_1
***