
Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam akhrinya mereka sampai di tempat tujuan. Nita langsung membanting tubuhnya di atas kasur saat memasuki kamar hotel. Kamar yang mewah dan fasilitas yang membuatnya berdecak kagum.
Namun, rasa lelah itu menuntunnya untuk tertidur, sedangkan Indra dia tengah sibuk memesan makanan untuk Nita, agar jika dia terbangun dia bisa langsung mengisi perutnya. Indra mendudukan bokongnya di sofa yang menghadap kearah balkon. Dari balkon mereka bisa melihat keindahan pulau Bali ini.
Setelah makanan datang, tanpa sadar Indra tertidur dengan posisi duduknya. Sejurus kemudian Nita membuka matanya karena aroma makanan membuatnya terbangun. Baru saja dia akan membuka suara, namun saat melihat suaminya yang tengah tertidur akhirnya dia mengurungkan niatnya. Nita merangkak turun untuk turun dari ranjang. Lalu dia mendekati suaminya dan mengecup pipinya.
"Kamu memang yang terbaik," bisik Nita di telinga suaminya. Dia pun melahap semua makanan yang telah di pesan oleh Indra. Namun, Nita teringat jika suaminya pun belum makan. Dia menepuk pelipisnya kasar merasa bodoh.
Nita akan berdiri namun tangannya di cekal oleh Indra. Ternyata dia belum sepenuhnya tertidur. Dia bahkan mendengar dan merasakan apa yang dilakukan istrinya.
"Mau kemana?" tanya Indra. Nita mengerutkan keningnya dalam, bukankah suaminya itu tengah terlelep mengapa bisa tahu pergerakannya.
"Mmm, a-aku akan membeli makanan kebawah. Semua makanan aku habiskan, entah mengapa selama beberapa hari ini n4fsu makanku bertambah," terang Nita. Dia sepertinya mulai curiga akan keberadaan sesuatu yang dinantinya.
Perlahan Indra mmendudukkan tubuh istrinya dipangkuan. "N4fsu makanku meningkat begitu?" tanya Indra memastikan. Nita hanya mengangggukkkan kepalanya.
Indra mulai meraba perut datar istrinya dan memandang haru, "apakah dia sudah hadir?"
"Jangan aneh deh, aku minta penambah nafsu makan dari dokter. Aku tuh gak mau ya telihat kurus begini. Sedangkan tubuhmu bagus dan berisi!" decak Nita yang secara tidak langsung memuji keindahan tubuh suaminya. Indra terkekeh dengan lontaran istrinya. Dia lebih mengeratkan pelukannya. Punggung Indra yang bersandar di sofa langsung menekan tengkuk istrinya agar mereka tidak berjarak.
"Semua ini milikmu sayang, tidak perlu cemas. Aku tidak akan memberikannya pada siapapun," bisiik Indra di telinga istrinya. Nita bersemu merah dengan ucapan Indra.
Dia memukul manja dada bidang suaminya lalu menatap pupil matanya dengan kagum. Dia pun memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya sekilas.
"Kamu sudah menggodaku? Nanti malam saja, atau kamu ingin sekarang!"
Indra langsung menggedong tubuh istrinya untuk dibaringkan di atas ranjang.
***
__ADS_1
Setelah saling bertukar peluh keduanya saling berpelukan erat seolah menikmati masa honeymoon mereka. Benar-benar honeymoon ini mereka lakukan hanya berada di dalam kamar. Tidak ada hasrat keduanya ingin berjalan-jalan menikmati indahnya tempat tujuan mereka.
Indra menguraikan pelukannya, Nita langsung mengernyit melihat Indra yang turun dari ranjang. Namun, Indra membawakan Bathrobe untuk Nita kenakan.
Indra memakaikannya dan menuntun istrinya untuk duduk di sofa menikmati indahnya malam di sina.
"Kamu senang?" pertanyaan itu meluncur di bibir Indra. Nita menoleh dan mengembungkan pipinya.
"Tentu saja, apapun yang kamu lakukan selalu membuat aku berkesan." Pelukan itu semakin terasa erat saat Nita mengatakannya.
"Aku mencintaimu, sayang!" Indra mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.
"Sepertinya aku juga sudah mencintaimu," ucap Nita sembari mengedipkan matanya.
***
"Kerjaan sedang banyak orderan, dia malah menggangguku. Maunya apa sih," gerutu Karina saat dia sudah masuk kedalam. Niat hati ingin mengabaikan akan tetapi dia takut penghuni kontrakan lainnya terganggu karena Bian tidak pantang menyerah untuk mengetuk pintu.
Karina membuka pintu dan melihat Bian yang tengah membawa makanan di tangannya. Emosi yang semula menggebu kini memudar.
"Aku takut kamu belum makan, makanya aku membelikan kamu makanan," ucap Bian dengan hati-hati.
Karina mengulurkan tangannya untuk mengambil bingkisan itu. Karena dia tidak tega dengan Bian akhirnya dia membiarkan Bian untuk makan malam bersama dengannya.
Keadaan kontrakan yang sempit Karina memilih untuk menyantap makan malamnya di luar. Dia tidak ingin menimbulkan fitnah nantinya yang akan merusak harga dirinya.
"Maaf ya makannya di luar saja. Soalnya kamar dan ruang tamu menyatu takut di kira sedang berbuat tidak senonoh," ungkap Karina. Bian mengerti hanya membalas tersenyum saja.
"Ingin sekali aku mengatakan semua yang telah aku lakukan padamu selama ini Karina. Tetapi aku terlalu takut jika kamu malah berpikir jika aku tengah perhitungan denganmu. Mungkin dengan cara ini bisa sedikit mengurangi rasa sakitmu di masa dulu," batin Bian. Karina melambaikan tangannya di depan wajah Bian saat lelaki itu melamun memperhatikan Karina.
__ADS_1
"Kamu memikirkan apa sih, Yan?"
Bian terkesiap, dia menggelengkan kepalanya untuk menetralisasikan sikapnya. "Aku, aku tidak apa Karin, bagaimana kamu suka makanannya?"
"Tentu saja i-tidak!"
Bian tersenyum geli, saat Karina akan berkata iya, namun dengan cepat berkata tidak. Perempuan memang selalu gengsi untuk mengungkapkan rasa sukanya.
"Iya tidak, tapi sayang aku tidak kebagian," lirih Bian berpura-pura bersedih saat makanan yang tandas tidak menyisakan untuk Bian. Karina merutuki dirinya sendiri yang kebablasan menghabiskan makanan itu.
"Akan kuganti, ok! Kamu tunggu di sini biar aku belikan yang baru." Karina beranjak berdiri untuk membelikan yang baru. Namun, otak Bian bekerja dengan cepat. Dia ikut berdiri dan memberikan tumpangan pada Karina. Entah nasib baik tengah berpihak padanya Karina kali ini tidak menolak.
Tidak memakai mobil atau pun memberhentikan taksi, mereka berdua berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih. Karina tampak canggung hanya sekadar untuk bertanya pun dia enggan, dia lebih memilih diam, sampai Bian bertanya padanya.
Begitu pun Bian dia salah tingkah harus menyapanya bagaimana. Namun, dering ponsel membuat Bian membuka suara.
"Aku angkat telepon dulu, ya," pamit Bian. Dia menggerutu saat Indra meneleponnya bisa-bisanya sedang honeymoon pun mengganggu dirinya.
"Bodoh ngapain kamu malah mendiamkan dia, bukannya mencari kesempatan! kamu ini lelaki atau bukan Bian!" omel Indra di seberang sana. Bian mengerutkan keningnya mendengar ocehan Indra.
Bagaimana bisa dia tahu sedangkan dia tidak berada di Indonesia. Bian langsung mengedarkan pandangan, dia tahu jika Indra tengah mengirim orang untuk memata-matainya.
"Shitt, apa kamu menyuruh orang untuk memata-mataiku Indra!" geram Bian. Indra tergelak di seberang sana.
"Hey, kenapa kamu malah memarahi suamiku Bian? aku yang menyuruhnya." Terdengar Nita menimpali dan membela suaminya.
"Maafkan aku, Mbak. Aku tidak tahu, sepertinya kamu tidak perlu melakukan ini. Ini terlalu berlebihan!"
***
__ADS_1