
Tazkia, meringis menahan sakit ketika mengingat tatapan Krisna. Lelaki pengganti ayah-nya itu sungguh berubah dalam sekejap mata.
Haruskah lelaki itu bersikap seperti itu padanya. Apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan. Bukankah Indra telah berbaik hati padanya untuk memberikan perusahaan itu, dan membersihkan nama Krisna dalam sekejap.
Awalnya Krisna tidak Keberatan saat Kia berkata bahwa dia tidak lagi mencintai Indra. Tetapi tadi pagi, dia mengiriminya pesan beruntun agar dia bisa menikah dengan Indra.
Suara ketukan dari depan pintu utama membuatnya mengalihkan tatapan kearah sana. Lantas Kia menjuntaikan kakinya untuk turun dan mulai berjalan untuk kedepan.
Krisna, lelaki itu datang dengan tatapan tajam. Membuat Kia seketika merasa takut, dia bahkan merasa lelaki itu bukankah kakak kandungnya. Krisna memaksa Tazkia untuk pergi dari rumah itu. Meski satpam berusaha membantu, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun, mengingat mereka saudara.
"Mas, tanganku sakit!" Rintih Kia saat lelaki itu menyeretnya dengan kasar tanpa memedulikan rintihannya.
Krisna tidak menjawab lantas lelaki itu langsung menghempaskan Kia kedalam jok mobil depan dengan kasar. Kia terisak di dalam mobil sembari meniup tangannya yang memerah.
Tidak ada kata seucap pun yang terlontar dari mulut lelaki itu. Krisna membawa Kia kedalam kelab. Mata Tazkia membola sempurna tidak percaya jika Krisna membawanya kesana.
"Mas! Aku tidak mau, aku tidak mau Mas!" Erang Kia, tubuhnya meronta saat Krisna tidak jua melepaskannya.
Krisna menekan tombol lantai tiga, ketika pintu besi itu terbuka lebar, Krisna masih menyeretnya. Saat tiba di sebuah kamar hotel Krisna menghempaskan tubuh adik kecilnya hingga tersungkur di atas ranjang.
Mata Kia menyapu seluruh ruangan yang berada di sana. Tetapi matanya menangkap sesosok gadis yang tengah terbaring tidak sadarkan diri diatas sofa yang tidak jauh dari ranjang.
"Mas apa yang kamu lakukan padanya." Tazkia histeris tidak kuasa menahan tangis yang menyesakkan hatinya. Apa yang sudah Krisna lakukan padanya. Sungguh membuat hatinya kian tercabik.
"Kamu kejar Indra, atau aku akan menjual gadis itu!" Tangan Krisna menunjuk kearah Karina yang tengah tidak sadarkan diri.
Tazkia memandang Krisna dengan tatapan memohon. "Aku tidak mencintainya Mas, aku mencintai Mas Ari. Dia lelaki yang kucintai, aku mohon jangan lakukan ini pada Kia Mas. Kita saudara kandung," mohon Kia dengan mengatupkan tangannya. Bahkan gadis itu bersimpuh di kaki sang kakak yang menatap datar kearahnya. Hati Krisna seolah beku tanpa merasa iba sedikitpun.
__ADS_1
"Kamu tidak pernah mendukungku Tazkia. Maafkan Mas, ini semua demi kebaikanmu. Jika kamu tidak mau menuruti keinginan, Mas. Dengan terpaksa Mas akan menjualnya. Pikirkan baik-baik." Suara lelaki itu terdengar tegas dan tidak main-main.
"Tapi dia tidak bersalah, dia tidak memiliki hubungan diantara kita Mas. Dia itu orang lain, lantas haruskah dia menjadi tawanan kamu!"
"Dia saudara Kasih, yang jelas dia juga iparmu Kia." Krisna menegaskan.
"Tapi di--"
Namun, Krisna menatap dingin kearah Kia yang masih berlinangan air mata. Dia tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah dukungan dari adiknya. Dengan mengancamnya seperti ini gadis itu pasti tidak akan bisa menolaknya.
***
Satu jam berlalu dia telah dikurung di sana. Bahkan Karina pun sudah mulai terbangun dari pingsan. Lantas gadis itu memandang dengan tatapan yang takut.
"Nona Kia, kenapa kita ada di sini, ucapan Karina yang membuat Tazkia merasa tidak nyaman. Apakah ucapan Krisna tidak main-main. Semoga saja lelaki itu tidak serius.
Suara decitan pintu yang mulai terbuka lebar membuat kedua gadis itu semakin memeluk erat dengan embusan napas yang terengah-engah. Ketakutan begitu menghiasi keduanya.
Keduanya menutup mata, dan berharap mereka sedang bermimpi. Mereka berharap ketika mulai membuka mata mereka tengah di kamar mereka masing-masing. Tazkia dan Karina mulai membuka mata perlahan, tetapi tempat mereka tetap di tempat semula.
"Ya Tuhan, bukan mimpi!" Ringis Karina. Embusan napas keduanya semakin berpacu lebih cepat. Pikiran yang buruk melintas dalam benaknya. Mereka berdua menyapu seluruh ruangan.
Bernapas lega, karena tidak ada orang yang masuk. Menganggap semua hanya ilusi karena rasa takut yang menyelimuti. Namun, baru saja merasa lega, suara decinta pintu kamar mandi terdengar lagi.
Lelaki tambun itu keluar dengan memakai bathrobe. Keduanya gemetar menahan rasa takut dengan kehadiran lelaki tambun dengan kepala botak plontosnya.
"Kamu yang bernama Karina sayang, kemari." Tangan lelaki itu menjentik meminta Karina untuk mendekat. Tetapi Karina menggeleng kuat dan semakin mengeratkan pelukan. Keringat dingin mulai membasahi pelipis gadis itu.
__ADS_1
"Mas Krisna tidak main-main dengan ucapannya," batin Kia. Tubuhnya gemetar karena ada masa depan Karina yang dipertaruhkan.
Kia mulai menguraikan pelukannya dan menatap sendu kearah Karina. Demi masa depan gadis itu, iya dia tidak memiliki alasan untuk menolak selain menerima tawaran Krisna.
"Nona Kia, aku mohon." Karina mengikuti kemanapun Tazkia melangkah.
"Nona Tazkia, dia berpesan jika anda menyetujuinya anda akan bisa menyelamatkan gadis itu. Tapi saya berharap anda memikirkan diri sendiri dan membiarkan gadis itu menemani saya!" Mata lelaki tua itu mengerling kearah Karina.
"Aku bersedia."
***
Mereka berdua kini telah keluar dari kelab. Karina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia ingat dia sedang berada di luar untuk membeli makanan. Tetapi seseorang membekapnya dan setelah itu dia tidak mengingat apapun.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing. Yang sama sekali tidak keduanya ketahui.
Kia menyandarkan tubuhnya di balik pintu mobil dengan perasaan sesak. Saat dirinya telah mengerti akan perasaan itu. Tetapi keadaan memaksa dirinya untuk mengubur rasa itu dalam-dalam.
Di dalam gelapnya malam, gadis itu merenungi semua nasib yang telah menimpanya. Bukan dari orang lain melainkan dari sang kakak yang tega melakukan hal kotor seperti ini.
Air matanya jatuh tanpa di minta. Terlalu sakit hatinya ketika dia dipaksa harus mengejar orang yang sama sekali tidak dia cintai.
"Nona Kia!" Kia menoleh dengan wajah sembabnya.
"Maafkan aku Kak Karin," sesal Kia, Karina menggeleng kuat agar gadis itu tidak merasa bersalah. Karina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyanggah ucapan maaf itu dengan cepat.
"Bukan salahmu Nona Kia." Senyuman tulus itu seolah mengejek Tazkia. Ah, haruskah dia jujur jika itus semua karena ulah kakaknya. Dia semakin merasa bersalah jika dia tidak mendengarkan Krisna, nasib Karina akan hancur di tangannya.
__ADS_1
***