
Pukul tujuh malam Nita pulang kerumahnya. Dengan badan yang lelah ia mulai membuka pintu utama dan masuk kedalam kamarnya. Mbak Ana mencoba bertanya pada majikannya jika dia mengingkan makan malam apa, supaya dia bisa menyiapkannya.
Namun, Nita menolak beralasan jika dirinya telah makan sebelum sampai rumah. Ana mengangguk dan membersihkan dahulu cucian piring, dan mengelap meja makan. Setelah selesai dia lantas langsung menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Nita pun memejamkan mata saat kantuk mulai mendera. Di tengah-tengah impiannya dia dikejar sesorang dengan pakaian yang serba hitam. Wajah orang itu bahkan begitu tertutup tidak bisa Nita lihat. Membawa pisau mencoba menusuknya.
Nita pun terbangun karena ketakutan dengan mimpi itu. Dia menyugar rambutnya lalu memeluk lututnya dengan penuh rasa cemas. Semoga saja ini bukan pertanda buruk untuk dirinya. Apakah karena dia terlalu berpikir keras tentang seseorang yang telah membuntuti Karina hingga membuatnya menjadi parno.
Nita lantas turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandinya. Dia ingin berendam air hangat malam ini. Entah mengapa pesanan beberapa hari itu sungguh tidak bisa mengizinkannya untuk beristirahat. Bukan Nita dia mensyukuri karena toko online-nya telah memiliki cost yang banyak. Akan tetapi dia sedikit curiga, siapa yang telah mempromosikan barang dagangannya.
Apakah Indra? mengingat lelaki itu pernah mengatakan jika dirinya bersedia membantu memperomosikan tokonya. Nita merebahkan tubuhnya di bathup. Aroma terapi yang dia hirup membuatnya sedikit rileks. Setelah hampir setengah jam dia berendam, dia pun berdiri dan memakai kimono handuknya.
Nita lantas mencari piyama tidurnya untuk dia kenakan. Entah mengapa dia mersakan sesuatu yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Merasa ada seseorang yang tengah mengawasinya. Suasana pun terasa sunyi seolah dia tengah berada di hutan. Sayup-sayup dia mendengar suara langkah seseorang dari luar kamarnya.
Meski rasa takutnya begitu kuat, tetapi Nita berusaha untuk mengeceknya. Dia tidak mau kalau sampai perampok itu menggeledah rumahnya. Nita berjalan mengendap-endap agar tidak ada orang yang mengetahinya.
Ketika dia tengah celingak-celinguk melihat situasi, seseorang memegangi pundaknya. Mata Nita melotot tajam lalu berteriak dengan kencang.
"Nona! ini saya!" Ana berusaha memberitahu wanita itu, agar dia berhenti berteriak, Nita perlahan membuka matanya dan bernapas lega. Satpam di depan yang mendengar teriakkan majikannya pun langsung berlari kedalam rumah.
"Ada apa nona Nita?" tanya satpam itu dengan rasa khawatir. Nita masih terengah-engah belum bisa membuka suara.
"Pak, bisa patroli mengelilingi rumah Nona, mungkin dia merasa ada orang asing," pinta Ana dengan sopan. satpam itu lantas berpamitan dan mulai memutari rumah majikannya. Mengecek setiap sudut rumah majikannya dengan teliti. Bahkan satpam itu berulang kali mengeceknya.
Dirasa aman dia pun langsung masuk kedalam dan memberitahukannya. Ana bernapas lega, karena kekhawatiran majikannya tidaklah terbukti.
__ADS_1
"Mungkin Nona terlalu lelah, besok liburlah dulu. Bukankah ada Nona Karina yang membantu anda? dan sejauh ini karyawan anda orang-orang baik, dan berpegang pada kejujuran, seperti pemiliknya." Ana memberi saran sembari membawa minuman untuk Nita.
Nita menengguknya sampai tandas. Dia juga menatap Ana dengan datar.
"Iya, Mbak, saya tidur lagi." Nita pun beranjak berdiri dan masuk kembali kedalam kamarnya.
"Apakah perasaanku, atau memang ada yang mengawasiku," gumam Nita, gadis itu mulai menyingkap gorden di kamarnya dan mengamati keadaan luar. Sesekali dia mendongak menatap pohon yang tumbuh di area rumahnya, dia takut jika orang itu bersembunyi di atas pohon. Namun, nihil tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Ketika dia mulai berjalan untuk menuju ranjangnya, dia dikejutkan dengan suara nyaring dering ponselnya. lagi-lagi Nita mengelus dada, mengapa rasa khawatir berlebihan seperti ini membuatnya ketakutan.
Karina memanggil ...
"Dasar gadis nakal, tengah malam menghubungiku. Tidak bisakah dia menghubungi besok pagi saja," gerutu Nita tak ayal wanita itu tetap menjawabnya.
["Ok, jemput aku,"] Nita lantas mematikan sambungan telepon, dia juga bergegas untuk mengganti pakaiannya.
Setelah mengganti pakaian Nita langsung keluar kamar dan mengembuskan napas kasar. Dia lantas buru-buru untuk menuju kedepan. Menunggu Karina yang akan menjemputnya.
"Aku merasa diawasi," batin Nita kembali merasa tidak tenang.
"Nona kenapa? apa perlu saya mengecek lagi?" tanya satpam. Tetap Nita menolak, dan menyuruhnya untuk menemani dirinya sampai Karina tiba.
Jarum jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Karina memilih Mobil driver maxs*m menjadi kendaraannya. Kali ini dia tidak memakai jasa gojek, mengingat dia akan datang bersama Nita. Dia pun keluar dan menjemput Nita.
Setelah sampai tujuan Nita lantas yang membayar, dia menolak Karina untuk membayar. Beberapa menit menunggu Mobil box itu datang tepat di depan toko Nita, Karina mulai sibuk mengecek barang dan menyamakan jumlah di nota serta barang yang di kirim.
__ADS_1
"Aman, Mbak." lapor Karina dengan memberikan hormat, Nita menurunkan tangan gadis itu dan berterima kasih pada pegawai yang telah mengirimkan barangnya.
"Menurut kamu ada yang aneh, tidak Karin," Nita bertanya pada Karina, gadis itu tampak berpikir dan menggelengkan kepalanya. Dia mengunci pintu toko dan memesan taksi online lagi.
Mereka berdua memasuki mobil, setelah setengah perjalanan Nita terus menoleh kearah belakang.
"Mobil itu dari tadi ngikutin kita, Karin." Berulang kali Nita mengecek kebelakanag. Karina pun ikut menoleh kebelakang.
"Mungkin satu arah Mbak," jawab Karina yang merasa itu hal wajar, mengingat jalan yang mereka lalui jalan umum. Siapapun bisa melewatinya.
"Daritadi mbak Nita tampak ketakutan, ada apa sebenarnya," batin Karina, akan tetapi dia merasa tidak enak jika langsung bertanya padanya.
"Karin, menginaplah di rumah Mbak," pinta Nita, Karina menoleh dengan telinga yang semakin dia tajamkan. Tidak biasanya Nita meminta dirinya untuk menginap.
"Ah, iya, baik, Mbak. Saya akan menginap untuk menemani kamu," jawab Karina, tidak bisa menolak ajakannya.
Nita dan Karina berjalan beriringan untuk masuk kedalam rumah Nita. Nita pun langsung menuju kamarnya dan Karina mengekor di belakangnya. Wanita itu membawa piyama untuk Karina kenakan. Setelah mengganti pakaian mereka berdua langsung menuju ranjang untuk tidur.
Namun, baru saja mereka menyentuh selimut. Ponsel Nita berdering. Karina sekilas lebih dulu menoleh, mengingat ponsel Nita tepat berada di sampingnya. Bian, ya lelaki itu menghubungi Nita di tengah malam.
Karina yakin jika Bian begitu mengkhawatirkan Nita hingga membuatnya menghubungi di tengah malam.
"Mungkin saat, Bian pulang. Mereka bertunangan."
***
__ADS_1