
Jika keduanya saling mencintai, mereka akan tetap dipertemukan bagaimana pun caranya. meski keduanya sempat saling mencoba menjauh, tetapi jodoh yang kuat tetap akan mempertemukan keduanya. Keduanya memang di takdirkan untuk bersama. Seperti kisah Bian dan Karina yang semula saling gengsi kini telah bertahap ke arah serius menuju halal untuk mengikrarkan kisah cinta mereka dengan pernikahan.
Raut wajah Nita tidak luput dari senyuman kala melihat keduanya tengah berbahagia di pelaminan. Dia mengembuskan napas lega mengingat Bian telah memilih untuk menikahi Karina secepat mungkin seperti apa keinginannya.
"Mereka berdua tampak bahagia," bisik Nita sembari mencodongkan tubuhnya ke arah Indra. Namun, matanya masih menatap kearah pasangan pengantin.
"Kamu juga dulu begitu," jawab Indra datar pun memandangi Bian dan Karina. Nita menyikut perut suaminya dengan gemas. Dia malu sendiri dengan jawaban suaminya.
Tidak ada yang akan tidak bahagia jika orang yang sempat ia kagumi menjadi miliknya, bahkan menjadi pendamping hidupnya. Sikap suaminya yang lembut dan perhatian membuat Nita tidak menyesali dengan keputusannya yang telah memilih menikah dengan Indra, meski hatinya saat itu belum sepenuhnya percaya dan yakin akan perasaannya terhadap lelaki yang yang terpaut usia beberapa tahun lebih muda darinya.
Sempat mempunyai pikiran buruk perihal tingkah suaminya yang belum juga menginginkan anak. Namun, ketika Indra menjelaskan dia bisa lebih mengerti dan mencoba untuk menunda lebih dulu program kehamilan sampai suaminya nanti siap.
"Itu pipimu merah merah seperti tomat saja." Telunjuk Indra mendarat di pipi sang istri dengan menusuk-nususukkan jarinya di pipi Nita.
"Apa, sih!" gerutu Nita yang dibuat kesal dengan godaan suaminya.
"Jadi ingin makan kamu!" seru Indra sembari menyeringai.
"Sepertinya kita pun harus memesan kamar." Indra Lagi-lagi membuat istrinya memberengut karena ucapannya. Di saat Indra sedang tergelak karena menggoda istrinya, MC memanggilnya dan menyuruh Indra untuk naik keatas pelaminan untuk sesi pemotretan keluarga.
Indra menatap tajam kearah Bian, yang tengah tertawa mengejek kearahnya. Sudah dipastikan jika Bian sengaja memanggilnya hanya untuk membuat kesusahan pada dirinya.
"Kurang ajar kamu Bian! Pengganggu!" gerutu Indra dalam hatinya.
"Kenapa malah bengong, ayo! Cepat, kita kesana," titah Nita, dia menggandeng lengan suaminya untuk segera naik ke pelaminan.
Setelah sesi pemotretan, dan saling berpelukan guna memberikan ucapan selamat. Indra tampak menyimpan dendam pada Bian yang sudah mengganggunya. Namun, seketika wajah yang tampak garang dengan tatapan tajam itu berubah menjadi seringai saat Bian membisikkan.
__ADS_1
"Aku sudah pesan kamar untuk kalian. Dan tentunya sudah di dekor sama seperti kamar pengantinku,"
Tatapan tajam Indra berubah menjadi heran, lalu sedetik kemudian tatapan itu menjadi semringah. Dengan refleks pula Indra memukul kasar bahu saudaranya itu. Tidak ada ucapan Terima kasih yang terlontar dari mulut Indra, dia hanya mengangkat satu jempolnya kearah Bian.
Saat Nita memandang Indra dia terheran melihat tingkah suaminya.
"Kenapa dia? tumben sekali akrab dengan Bian," batin Nita.
Indra pun membawa istrinya pergi, sedangkan Bian bergetar menahan tawa. Karina yang penasaran pun mendekat kearah suaminya.
"Kenapa dengan Tuan Indra?" tanya Karina dengan penasaran.
"Aku pesan kamar untuk mereka juga," jawab Bian. Bibir Karina terangkat sebelah saat lelaki yang telah menyandang status suaminya itu menjawab.
"Dasar konyol. Jadi dia mendahului kita begitu," ucap Karina terkekeh. Bian pun ikut tertawa mendengar celotehan istrinya.
Senyuman, tawa candanya begitu bahagia, bahkan wajahnya terlihat jauh lebih muda saat ceria yang selalu terpatri. Mungkin keputusannya untuk merelakan Nita bahagia bersama orang lain tidaklah sia-sia. Hal yang tidak pernah Krisna lakukan saat wanita itu masih berstatus istrinya.
Krisna memegangi dadanya merasa amat bersalah. Mungkin saat dirinya memilih pergi pun Nita tidak pernah memedulikannya mengingat jahatnya sikap Krisna pada wanita itu. Krisna mengingat kembali pada masa saat dirinya meminta izin untuk menikahi wanita lain, hingga dia memiliki anak dari pernikahan keduanya.
Saat istri keduanya meninggal dunia. Krisna mengejarnya habis-habisan. Tentu saja Nita akan berpikir jika dia hanya akan dijadikan wanita pengasuh anaknya. Padahal Krisna kini mengerti mengapa Nita tidak memberikannya kesempatan kedua.
"Tuan," panggil Ari, saat Krisna bergeming dengan tatapan kosongnya.
Krisna masih terhanyut dalam lamunan. Tazkia yang melihat dari kejauhan pun mulai mendekat dan menepuk punggung suaminya dengan lembut.
"Mas!" Ari sedikit terkejut mengingat Tazkia sudah berada dibelakangnya.
__ADS_1
"Tidak usah gugup, aku melihat saat kamu mencoba menghubunginya. Hanya saja aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!" seru Tazkia, wanita itu mencoba mengambil alih ponsel Ari untuk menyadarkan kakaknya itu.
i
"Mas Krisna, Mas!" teriak Tazkia dengan nada frustrasi. Dia tahu betul jika saudara kandungnya itu tengah merasakan sakit yang amat dalam di lubuk hatinya.
Namun, haruskah Ari malah membuat kakaknya melihat moment itu? Untuk apa Krisna menjauh tetapi masih selalu diberikan kabar menyakitkan seperti ini. Tazkia menoleh kesamping di mana berada suaminya yang tengah melihat layar ponsel sama halnya dengan dirinya.
Wanita itu menarik kasar suaminya agar keluar dari gedung menuju parkiran untuk masuk kedalam mobilnya.
"Mas! Kamu bisa tidak jangan pernah memberikan kabar apapun tentang Mbak Nita, Mas Krisna masih mencintainya dan dia pasti akan terluka melihat keromantisan mereka. Kenapa kamu tidak mengerti!"
"Dan aku tidak bisa menghiburnya, karena aku tidak tahu dia di mana." Kia menunduk menyembunyikan wajah sedihnya yang kentara. Ari yang merasa bersalah pun memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku, ya," ucap Ari dengan lembut. Tazkia terisak kala mendengar ucapan Ari. Ari sengaja merahasiakan di mana Krisna berada. Meski Tazkia mencoba mencari dia hanya akan mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa Krisna belum juga di temukan.
Bukan tanpa alasan Krisna tidak memberitahu adiknya itu. Dia hanya tidak ingin luluh saat Tazkia bersedih karena keadaannya.
Beberapa detik keduanya saling mencurahkan rasa, Krisna pun kini mendengar perdebatan keduanya. Ia pun ikut merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Tazkia yang merasa telah tenang pun menguraikan pelukan lalu memandang kembali ke layar ponsel.
Ketika Tazkia memandang layar ponsel sudah disuguhkan dengan senyuman hangat dari sang kakak. Tazkia tidak kuasa menahan rasa sedih, lalu kembali menjatuhkan air matanya.
"Sudah jangan menangis, Mas tidak apa-apa, Kia." Lelaki itu mencoba menguatkan.
"Kenapa malah mencari kesedihan, bukankah kamu meninggalkan aku sejauh itu karena ingin menghibur diri!" seru Kia dengan bersungut-sungut. Krisna menyunggingkan bibirnya kala melihat adik-nya merajuk.
***
__ADS_1