Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab90. Luka Lama.


__ADS_3

Nita menghela napas lega ketika pagi ini dia tidak berangkat kerja bersama Indra. Dia merasa tidak enak hati jika terus-menerus bersamanya. Ingin sekali rasanya dia menghubungi Bian dan meminta lelaki itu agar saudaranya tidak mengganggu dirinya lagi.


Akan tetapi semua itu Nita urungkan, dia hanya ingin tahu, sedekat apa mereka saling mengenal. Seolah mencoba menjadi orang asing. Namun, jika berdua sikap Indra akan berubah dari biasanya.


Nita berjalan kearah lantai dua untuk mencari Tazkia. Gadis itu masih sering melamun dan tidak mempunyai semangat hidup.


Ketika langkah terakhir di tangga atas, Nita sudah disambut dengan tatapan kosongnya gadis itu. Nita pun mencoba menawarkan Tazkia untuk berkunjung ke toko miliknya.


Tazkia mendongak, dan mengangguk. Nita pun membantu gadis itu untuk bersiap. Setelah selesai mereka berdua berjalan beriringan untuk turun.


***


Keduanya turun dari taksi ketika telah sampai di pelataran toko Nita, Tazkia menyapu seluruh toko Nita dengan tatapan yang tidak biasa. Langkahnya pun mengikuti Nita kemana wanita itu pergi. Di sana sudah ada Karina yang sedang sibuk banjir orderan.


Mereka sibuk kesana-kemari mencari barang yang dipesan oleh para seller. Tazkia melihati mereka yang tengah sibuk, dia pun menghampiri Karina.


"Nona Kia!" seru Karina tidak percaya jika gadis itu mulai keluar rumah, setelah satu minggu hanya berdiam diri di rumah. Karina memeluk erat tubuh Kia.


"Menyingkir kak Krin, sesak, aku tidak bisa bernapas," rengek Kia, saat dirinya dihimpat. Karina melepas pelukannya dan tersenyum bahagia.


"Jangan berdiam lagi seperti kemarin, aku sungguh khawatir." Karina kembali merepatkan tubuhnya. Kia mulai berontak dan mulai menjauh, wanita itu meminta daftar orderan pesanan. Karina mengernyit .


"Aku akan membantumu." Kia mencoba menyibukkan dirinya untuk membantu Nita. Setelah beberapa hari termenung merasa bersalah karena kepergian sang mama. Dia masih mengingat tentang petuah sang mama sebelum wanita yang telah melahirkan dirinya pergi.


"Kamu harus belajar mandiri tanpa bergantung pada mama, mulailah hidup seperti gadis remaja lainnya. Mengejar mimpi," ucapan itu selalu terdengar indah di indera pendengarannya.

__ADS_1


Pukul 12 siang, para karyawan telah selonjoran di lantai. Pesanan yang membludak membuat mereka kewalahan. Mereka bertiga sampai tidak menyadari jika ada orang baru yang telah membantunya. Mereka bertiga saling pandang, dan menyikut.


"Ini bukan karyawan baru, ya. Ini Kia adik ipak Mbak Nita," ucap Karina memberitahukan mereka, mereka pun manggut-manggut. Tawa Kia kembali membentuk di bibirnya.


Dari arah depan seseorang tengah melihati tawa lepas dari Kia. Indra masuk membawa makanan untuk makan siang mereka. Setelah membawa makanan Rindi, Risma, dan Imam pergi.


Tertinggalah Kia, Karina dan Indra. Kia langsung membungkam mulutnya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi kembali ketika lelaki itu menggenggam tangannya. Kia berusaha menarik tangannya agar lelaki itu melepaskannya.


"Aku akan melepaskan, jika kamu mau ikut bersamaku untuk berbicara," pinta Indra memohon. Kia menghela napas berat, tanpa menoleh kearah Indra dia langsung menunjuk ruangan Nita.


Gadis itu berjalan, dan Indra mengekor dibelakangnya, Kia membuka knop pintu, membuat Nita mendongak dan menatap heran mereka bisa datang bersama-sama.


"Ada yang bisa dibantu?" Nita beranjak berdiri untuk menyambut Kia.


Kia mendudukkan bokongnya di kursi di hadapan Nita, Indra pun ikut mendudukkan bokongnya di kursi berdampingan dengan Kia. Nita yang melihat wajah memohon Indra untuk pergi pun menyetujuinya. Namun, Nita tidak benar-benar pergi dia menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


"Aku hanya minta maaf karena telah membuat kamu terluka, aku sungguh menyesal karena tidak berpamitan padamu." Indra berusaha menggapai jemari tangan Kia, akan tetapi gadis itu menariknya seolah enggan untuk disentuh Indra.


"Aku sudah memaafkan kamu!" seru Kia, dia pun beranjak pergi meninggalkan Indra yang masih ingin berbicara padanya. Nita langsung berlari kearah depan untuk melihat pegawainya.


Kia mengembuskan napas kasar, bersandar dibalik pintu. Sedangkan di dalam Indra pun melakukan hal yang sama. Dia mendengarkan Kia yang tengah menelepon seseorang.


["Mas Ari, datanglah ketoko mbak Nita, nanti aku share lok."]


***

__ADS_1


Ari datang ketoko seorang diri, sedangkan Krisna tidak mengikuti sekretarisnya itu. Dia tidak ingin melihat kedekatan antara Nita dan juga Indra. Pemandangan tadi pagi saja sudah membuatnya begitu lelah hati.


Lelaki itu telah sampai di depan. Mengirimi Kia pesan singkat, Kia pun datang untuk menyambut Ari, meminta bantuan Ari untuk menjadi pasangan palsunya.


"Pura-pura menjadi kekasihku, ya, mas Ari," bisik Kia ketika mereka berjalan kedalam. Indra yang baru keluar dari ruangan Nita termenung dengan tatapan sendu.


"Mbak Tata, Kia, pulang dulu!" teriak gadis itu menghiraukan tatapan Indra yang seolah tidak terima jika gadis itu bersama lelaki lain. Nita memandangi Indra dari belakang, dia tersenyum sinis lalu menyeret lelaki itu untuk masuk kedalam ruangannya kembali.


"Saya ingin anda jujur, apa hubungan diantara kalian?" Nita berdiri, melipat tangan di dada.


"Anda mendekati saya karena saya dekat dengan Kia, kalau begitu jangan datang lagi," ancam Nita, Indra tampak kaget mendengar pernyataan Nita. Tidak biasanya Nita sejutek itu padanya.


Indra sejenak berpikir, haruskah dia mengatakannya. "Tapi saya tidak tahu kalau dia adalah adik ipar kamu. Sungguh saya hanya di suruh Bian untuk menjaga kamu dan membuat kamu keluar rumah agar tidak berdiam diri saja di dalam rumah," terang lelaki itu menjelaskan. Namun, Nita tidak memercayainya. Dia tetap teguh pada prasangkanya.


"Saya tidak percaya, jika anda tidak mengatakan hal sebenarnya," ketus Nita. Tatapan tajam dia berikan. Mau tidak mau Indra pun harus mengatakan tentang masa lalunya.


"Baiklah, saya akan mengatakannya. Saya dan dia pernah menjalin hubungan. Namun, karena saya yang merasa dia tidak berharga pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun," sesal Indra, suara yang lesu terdengar begitu dalamnya penyesalan Indra di masa itu.


"Setelah saya pulang, dia tidak mau menemui saya lagi. Bahkan kami sudah hilang kontak selama beberapa tahun kebelakang. Namun, setelah Bian meminta saya untuk menemani anda, saya bisa bertemu lagi dengannya." Indra menyangga tangannya dan memijit pelipisnya. Di saat dia tengah lelah bekerja akan beban perusahaan dia juga harus menahan rasa sakit akan kesalahan bod*hnya di masa lalu.


"Kisah yang kamu alami begitu hampir mirip dengan saya. Bedanya anda yang menyakiti, sedangkan saya di sakiti. Saya pun sama halnya berada di posisi Kia, saya terlalu kecewa dan tidak memberikan kesempatan kedua." Nita mulai membuka kisah kelam yang telah dilaluinya.


"Meski bibir kami mengatakan memaafkan, tetapi luka di dalam hati tidak bisa sembuh dalam sekejap. Mungkin masih bisa diperbaiki jika masih masa pacaran. Sedangkan saya, terlalu fatal. Seorang istri yang tidak diharapkan oleh suaminya, begitu menyedihkannya saya. Tidak punya harga diri dan merasa bodoh karena masih bertahan."


***

__ADS_1


__ADS_2