
Nita tengah merebahkan tubuhnya di ranjang ketika lelah telah menerpa. Setelah Indra dan Tazkia makan malam itu, sikap keduanya berbeda. Apa yang mereka bicarakan?
Tubuhnya menyamping, satu tangannya menjadi bantalan. Lalu berguling kesana-kemari berulang kali. Indra semakin gencar untuk mendekatinya. Bahkan begitu terang-terangan saat berada di sekitaran Tazkia.
Bagaimana bisa lelaki itu melakukan hal konyol seperti ini. Malam ini pun lelaki itu memintanya untuk meluangkan waktu untuk makan malam.
"Mbak!" Teriak Karina dari luar, gadis itu kini tinggal di rumah Nita saat Ana belum pulang dari kampung. Tidak terasa pun dia telah ditinggal selama satu Minggu. Rasanya dia merindu wanita baya itu.
Karina masih berdiri di depan pintu kamar Nita. Menunggu sampai wanita itu keluar dari kamarnya. Meski mereka tidur di satu kamar yang sama, dia tidak pernah masuk jika Nita belum mengizinkannya. Begitu lama tidak kunjung keluar dia kembali mengetuk.
"Mbak!" Panggilnya lagi, mengetuk tanpa jeda. Namun, Nita tidak mendengarnya dia terlalu memikirkan Ana hingga lupa sekelilingnya.
Meski malas untuk keruang tamu, dia tetap berjalan dengan wajah malas. Berani-beraninya lelaki itu datang. Sepertinya Indra minta dihajar,
tangan Karina lipat di dada, tatapannya tajam, seolah akan menerkam lelaki itu. Namun, Indra sama sekali tidak merasa takut, dia bahkan mengedipkan matanya sebelah untuk menggoda Karina.
Gadis itu merasa mual, berpura-pura akan muntah. Indra tergelak melihat reaksi wanita itu. Dia lantas berdiri dari duduk dan mulai mendekati Karina. Gadis itu perlahan mulai mundur dari tempatnya untuk menghindari Indra.
"Mau apa kamu, jangan macam-macam. Sebelum aku berteriak meminta bantuan Mbak Nita, dasar mes*m sana-sini mau. Pilih lah salah satu diantara mereka berdua!" Nada bicaranya mulai tidak ramah. Karina menatap meremehkan, dia jengkel, sangat jengkel terhadap lelaki itu.
Belum puas dia menggoda Karina, tetapi Nita sudah keluar dari kamarnya. Dengan terpaksa Indra pun memutar tubuh untuk menjemput Nita. Namun, sebelum dia pergi, dia berbisik di telinga Karina.
"Urusan kita belum selesai," bisiknya, embusan napasnya begitu menyapu di gendang telinga Karina. Sempat-sempatnya Indra menggoda bahkan mengatakan jika urusan mereka belum selesai.
Demi Tuhan, Karina sungguh ingin menghajar lelaki itu. Andai Mbak Nita tidak keluar begitu cepat.
Nita sempat melihat saat Indra mencodongkan tubuhnya dan berbisik pada Karina. Ingin berusaha masa bodo, tetapi dia tetap tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya. Lantas apa yang sebenarnya Indra inginkan, dan siapakah wanita yang sebenarnya dia inginkan? apakah harus dia mendekati mereka bertiga?
Indra langsung menyambutnya dengan uluran tangan. Tatapi Nita enggan untuk membalasnya. Dengan tangan yang terangkat di hadapan Nita, Indra pun menariknya.
__ADS_1
"Sudah siap, mari berangkat."
Karina menghadang mereka untuk pergi. Bahkan tangan gadis itu dia rentangkan agar menghalangi mereka.
"Berhenti, Mbak! aku punya kejutan untuk kalian." Karina memapah Nita untuk mengikutinya. Mereka pun menuju kearah taman belakang, Indra dan Nita beralih menatap Karina dengan mengernyit. Tidak ada apa-apa lantas apa yang menjadi kejutan.
Karina masih setia di sana, menjadi orang ketiga diantara Indra, dan Nita. Oh, tidak itu semua tidak cocok. Mengingat mereka berdua bukan pasangan. Karina menggeser tubuhnya untuk berada di tengah-tengah Indra dan Nita.
"Malam ini aku tidak mau kalian hanya berdua saja. Sedangkan aku sendirian rasanya tidak adil. Jadi kita makan malam di sini. Mari Mbak duduk," titah Karina. Wanita itu menurut dan mendudukkan bokongnya di kursi.
Indra pun mulai menyeret kursi untuk dia duduki di dekat Nita. Tetapi dengan cepat Karina menyerobotnya. Karina mendongak dan menatap dengan senyuman mengejek.
"Ahh, baik sekali tuan Indra ini, terima kasih ya," ucap Karina.
Suara bel berbunyi membuat wajah gadis itu berbinar, dia meminta Indra, dan Nita tetap di sana. Karina pun berlari untuk kedepan. Lalu dia datang kembali dengan beberapa keresek yang telah dia pesan.
"Tara!" Karina mengangkat keresek yang telah dia bawa. "Makan malam akan segera dimulai," racaunya, tangannya terampil untuk menyiapkan. Sedangkan Nita masih diam terpaku, dia tidak menyangka jika dia dan Karina bisa satu hati seperti ini. Inilah yang dia pikirkan sebelum dia keluar kamar.
"Ayok makan Tuan Indra, makan malam di luar sama di sini sama kok, gak ada bedanya." Karina mengedipkan matanya sebelah. Dengan senyuman sinis.
***
Karina mengusap perutnya yang telah terisi. Sungguh kenyang membuatnya merasa ngantuk. Dia sengaja melakukannya agar Indra pulang kelaparan. Nita dan Indra tidak sempat makan, mengingat mereka begitu terkesima dengan lahapnya gadis itu. Entah berapa hari Karina tidak makan.
"Apakah kamu tidak memberinya makan Nona Nita?" tanya Indra saat melihat gadis itu terlentang dengan mata yang tertutup.
"Hah! Mana mungkin aku membiarkan dia kelaparan." Nita berusaha menangkap Karina yang akan hampir terjatuh.
"Aduh Mbak, aku kekenyangan." Karina memegangi perutnya kembali.
__ADS_1
Indra mulai berdiri dan ikut berdiri di samping gadis itu. Nita bersusah payah untuk memboyong gadis itu masuk kedalam. Tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk membawanya. Hingga akhirnya Indra menawarkan diri untuk menggendong Karina kedalam kamarnya.
"Hah!" Nita sejenak berpikir, jika bukan Indra yang menggendong siapa lagi, akan lebih merepotkan jika dia memanggil satpam. Akhirnya pun Nita setuju agar Indra menggendongnya.
Sudah tiba di depan kamar, Nita menggapai knop pintu untuk membukanya. Dia juga menyingkap selimut sebelum tubuh Karina dibaringkan di ranjang. Setelah tubuh itu di baringkan, Indra memilih keluar lebih dulu dari kamar itu.
Dia tidak ingin berlama-lama tinggal di sana. Takut jika sewaktu-waktu tetangga datang menjadi salah paham. Entahlah, pemikirannya terlalu jauh, padahal dia hanya ingin membantu.
Nita perlahan-lahan menutup pintu saat mereka sudah membawa Karina kedalam kamar.
"Terima kasih, Tuan," ucap Nita, Indra mengangguk.
"Saya pulang kalau begitu. Makan malam, malam ini sungguh mengesankan." Indra berucap dengan senyuman yang tulus. Nita berusaha mencerna kata lelaki itu. Bagaimana bisa dia bilang mengesankan?
"Mendekatkan diri dengan calon istri, dan juga calon saudara," imbuhnya sembari memasukkan tangan kedalam saku celana.
Kening Nita mengkerut, apa maksud ucapan lelaki itu?
"Semoga mimpi indah, Nona Nita," kata Indra, berbisik di telinga Nita. Wanita itu langsung menjauh seolah merasa terganggu yang hanya membuat Indra terkekeh.
"Jangan gugup. Nanti akan ada yang lebih tegang!" Seru lelaki itu menaikkan alisnya sebelah.
Bukannya membuat Nita mengerti. Malah membuat kerutan kening wanita itu semakin berlipat-lipat.
"Tidak apa-apa, kamu tidak mengerti. Suatu saat juga akan memahaminya." Indra pun berpamitan untuk pulang. Dia lantas memasuki mobilnya.
Setelah melewati Nita lelaki itu membuka kaca jendela mobil dan memberikan kiss bye pada Nita.
***
__ADS_1