Pernikahan Kedua Suamiku

Pernikahan Kedua Suamiku
S2. RI. Bab108. Berusaha Mendekati.


__ADS_3

Karina keluar dari mobil dengan wajah yang di tekuk. Mengapa lelaki itu selalu menyebalkan. Membuat mood nya hancur. Dia sudah bersimpati karena masalah tadi. Dia berubah pikiran saat tahu jika Indra dan Nita tidak memiliki perasaan. Karena Karina tidak ingin Krisna selalu menghantui Nita. Dia ingin melihat wanita itu bahagia.


Tetapi bukankah Bian telah melamar Nita? ya, yang Karina tahu jika Nita telah bertunangan dengan lelaki itu, lelaki yang telah dicintainya selama ini. Dia bahkan mengunci hatinya berharap Bian datang untuk mengucapkan permintaan maaf. Jika benar mereka menjalin hubungan, cara agar Nita dan Indra bersatu akan membuat Nita dan Bian menjauh.


Nita terlihat menatap mereka di depan jendela kamarnya. Dia sama sekali tidak merasa curiga akan kedekatan Indra dan Karina. Dia mengetahui jika Bian lelaki yang telah meminta Indra untuk menjaga gadis itu.


Dari dalam Nita bisa melihat jika Karina memegangi sudut bibir lelaki itu. Alis Nita menaut. Sekelebat pertanyaan memenuhi isi pikirannya, apakah dia harus keluar dan melihat mereka?


Apa tanggapan lelaki itu jika Nita perhatian padanya?


Tidak, Nita tidak bisa melakukan itu. Dia sudah berjanji akan menjauhi Indra, apalagi saat kedatangan Krisna ke tokonya. Lelaki itu meminta Nita untuk membantu acara pernikahan mereka. Bukankah hubungan mereka sudah di tahap yang lebih serius.


"Aku harus menghapus rasa yang mulai hadir, tidak mungkin aku selalu mendambanya tetapi dia sudah menjadi calon suami Tazkia. Mana mungkin aku bisa mencintai lelaki itu," gumam Nita, dia memijit pelipisnya yang terasa mulai berdenyut.


Mengapa di saat hatinya terbuka dia malah mencintai orang yang salah?


Nita memegangi kalung yang dia simpan setelah Tazkia membuangnya. Kalung itu adalah pemberian dari lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Apa kamu mencari ku seperti aku yang tengah mencari dirimu," ucap Nita sembari tangannya mengangkat kalung itu di hadapannya. Sedangkan matanya menatap dalam-dalam kalung yang tengah dipegangnya.


Embusan napas berat terdengar, dia menggeleng pelan. Lalu menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan nanar.


"Apakah kamu sudah mempunyai keluarga? Aku juga sudah, hanya saja hancur karena pondasi kesetiaan dalam hubungan kami tidak ada." Senyuman sinis terlihat kala Nita mengatakannya.


Deru mesin mobil terdengar menjauh dari pelataran rumahnya. Nita buru-buru melihat kearah jendela untuk melihat, dan benar saja Indra telah pulang. Dia pun keluar dari kamar dan melihat Karina membawa komperasan serta kotak P3k.


Nita langsung mendekat. Menekan pundak Karina, lalu memutar tubuhnya. Melihat-lihat apakah gadis itu terluka.


"Hey kamu tidak terluka." Nita bernapas lega.


"Tapi ini." Tunjuk Nita kearah kotak P3K yang tengah di tenteng Karina. Gadis itu memainkan bola matanya kesana-kemari seolah tengah bingung untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Tu-tuan Indra Mbak, yang ter-terluka,"


"Kenapa dia? Apakah terjadi kecelakaan saat kalian perjalanan pulang. Atau di--" ucapan Nita menggantung ketika bibirnya malah memberondong Karina dengan banyak pertanyaan.


"Mbak, kamu ...," Tebak Karina dengan senyuman menggoda.


"Aku ha-hanya ... Ah, sudahlah, tidak penting."


"Mbak, ini penting loh!" Teriak Karina. Namun, Nita tidak mendengarkannya.


Ponsel Nita berdering, Krisna lelaki itu memanggilnya berulang kali.


["Suasana hatiku sedang tidak baik, maukah kamu menemaniku?"]


Haruskah dia mengizinkan Krisna untuk datang? Nita membaca ulang pesan itu berulang kali, hatinya sungguh enggan untuk mengiyakan. Tetapi dia juga tidak bisa selalu menghindar dari Krisna. Dia harus tetap bersikap biasa. Agar lelaki itu tidak merasa jika dirinya membenci Krisna.


["Iya.] Nita membalasnya dengan perasaaan gamang.


***


Gadis itu terlalu segan dan takut pada Krisna. Akhirnya dia hanya bisa pasrah. Namun, dia akan tetap memberikan asupan agar Nita tidak pernah memberikan kesempatan pada lelaki itu.


"Bagaimana jika Mbak Nita mulai membuka hatinya lagi untuk Tuan Krisna, ahh, aku tidak rela. Wanita sebaik Mbak Nita bersanding dengan tuan Krisna. Lelaki pendendam, aura pemimpin dalam perusahaan begitu kentara untuknya. Tetapi untuk pemimpin keluarga tidak cocok."


***


"Silakan diminum," ucap Nita saat Krisna bertamu.


Nita memilih duduk di kursi seberang Krisna. Meski Krisna menepuk kursi disampingnya tetapi Nita berusaha untuk menolaknya dengan halus.


"Mereka berdua sekarang tampak begitu romantis, Ta. Apakah kamu merasa bahagia karena Tazkia akan segera menikah,"

__ADS_1


Deg ...


Jantung itu terasa di hujam dengan ribuan belati. Untuk sekadar menghirup udara saja seolah sulit ketika Nita mendengar kata-kata yang sangat melukai hatinya. Dengan gigi bergemurutuk Nita berusaha menampilkan senyuman manis. Meski begitu terlihat senyum itu dipaksakan.


Bibir Krisna tersenyum jahat ketika melihat tingkah Nita yang mulai tidak nyaman.


"Ya, aku senang mendengarnya. Aku ikut bahagia." Meski menyesakkan dia tetap ikut serta berbahagia.


"Menurutmu kalau mereka secepatnya menikah bagaimana? Tidak baik juga 'kan kalau berlama-lama Berpacaran," ucap Krisna meminta saran. Nita menelan ludah dengan susah payah, haruskah dia mengatakan kalau dia keberatan.


Tetapi dia tidak mungkin mengatakan jika dirinya pun menyukai Indra lelaki yang telah menjadi calon suami mantan adik iparnya.


"Aku jadi teringat kita saat menikah." Krisna mulai mengingatkan masalalu yang telah mereka lalui.


"Kamu terlihat cantik, dan memesona saat memakai gaun pengantin." Krisna berucap mengagumi Nita dahulu. Ya, dulu mungkin akan terasa mendebarkan untuk jantungnya. Tetapi sekarang sedikitpun hatinya sama sekali tidak tersentuh.


"Kamu masih ingat masa kecil kita, Ta. Kamu selalu mengajakku menikah, dan berkata bahwa kamu akan tetap selalu mencintaiku meski aku tidak pernah mencintaimu," racau Krisna lagi. Namun, lagi-lagi Nita tidak menyahut.


Raganya memang berada di dekat Krisna, tetapi hatinya telah berkelana. Tidak tenang dan rasanya dia ingin pergi saja dan menenangkan pikirannya untuk sesaat dengan menyendiri. Tetapi bagaimana dengan lelaki yang tengah berada di hadapannya ini, dia tidak mungkin mengusirnya.


"Umm." Nita memandang Krisna dengan salah tingkah. Lelaki itu mengernyit dalam. Hatinya bertanya apakah Nita mulai terpancing dan mulai resah?


Hati Krisna mulai bersorak.


"Aku bawa camilan dulu, Kris," pamit Nita.


Oh, shittt, Krisna kira Nita akan tersentuh dengan ucapannya. Nyatanya wanita itu hanya ingin menghindari dirinya tentang membicarakan masa lalu mereka. Tetapi, Krisna tidak pernah patah semangat. Dia akan terus mengingatkan tentang masa lalu mereka. Meski Nita sama sekali tidak merespon kata-katanya.


Karina yang tengah gundah gulana di dalam kamar, masih tidak bisa membiarkan mereka berdua berbicara. Dia akhirnya memberanikan diri untuk mengirimi pesan pada Nita.


"Ingat Mbak, hatimu jangan goyah!"

__ADS_1


***


__ADS_2