Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
keinginan Queen


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara resepsi, dan setelah kepulangan Ibu Aska ke kampung halamannya, Queen dan Aska sudah kembali lagi ke kontrakan kamar Aska.


Tidak banyak yang berubah di kamar lelaki yang sudah menikah itu, hanya meja rias milik Queen yang berpindah ke dalam kamar Aska, juga pakaian mereka yang kini sudah berada dalam satu lemari.


Ingatkah bahwa Aska terlahir dari keluarga yang sederhana, maka, Queen juga berusaha untuk menyeimbangkan dirinya dengan lelaki pilihannya.


Queen memang manja, tapi Queen berusaha untuk membuat Aska bangga akan pilihannya. Salah satunya adalah dengan Queen tidak banyak menuntut, meminta hal yang tidak perlu, juga mulai beradaptasi dengan isi dompet suaminya kini.


Dan bukannya Aska memaksa Queen harus mengerti dengan pendapatannya, tapi Aska bahkan tidak tau kalau Queen sangat menghemat demi meringankan beban Aska.


Tidak banyak yang Queen dan Aska inginkan, hanya kebahagiaan mereka untuk sekarang dan selamanya. Tidak ingin terucap kata penyesalan, apalagi harus berakhir di tengah jalan.


Mereka selalu berusaha saling mengasihi juga menyayangi dengan sepenuh hati. Persis seperti pesan Ibu Aska saat mereka tengah sarapan dalam satu meja makan. Ibu sempat berpesan agar Queen dan Aska tidak larut dalam ego masing-masing, jangan sampai membiarkan rasa amarah menutupi akal fikiran mereka. Dan satu pesan Ibu yang selalu teringat dalam benak mereka hingga kini.


Ibu berharap mereka segera mendapatkan buah hati mereka, meski Ibu tidak memaksanya, tapi Queen sebagai seorang perempuan, juga ingin merasakan menjadi wanita haqiqi. Wanita yang bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Tapi siapa sangka, ucapan kalimat pesan dari Ibu Aska malah membuat Aska dan Queen berdebat kecil, saling melempar argumen. Queen menginginkan segera mendapatkan Aska junior, Aska berfikiran agar Queen menyelesaikan kuliahnya dulu. Ia tidak ingin membuat Queen terbebani dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka. Queen masih berhak menikmati masa mudanya.


"Tapi mas.. anak kecil itu lucu. Aku suka.." Seru Queen. Mereka mengulangi perdebatannya lagi dan lagi, ketika salah seorang dari mereka membahas tentang keinginan masing-masing.


"Sayang kuliah kamu kalau harus berhenti di tengah jalan begini Ra.. selesaiin dulu kuliah kamu, abis itu baru kita bahas lagi." Aska dengan tegas mengakhiri perdebatan mereka. Berjalan ke dalam kamar mandi, mencoba menenangkan emosi dalam hatinya.


Queen mencebik, bibirnya mengerucut, tak suka dengan Aska yang memutuskan sepihak.


Baru saja lewat satu minggu mereka menikah, tapi satu masalah saja tak kunjung mereka dapat selesaikan.


***


"Kamu berangkat jam berapa mas?" Tanya Queen. Mereka kini tengah duduk berdua sambil menonton tv. Aska tak lagi memegang ponselnya saat mereka tengah berdua, berbeda dengan Queen yang masih asik dengan temannya di chat, juga masih tak ingin terlewatkan acara drama Korea favoritnya.


"Saya nanti sore berangkatnya." Aska menarik pundak Queen, mencium kening Queen pelan.


Queen yang sangat suka di perlakukan manja, lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Aska. Lelaki itu membelai rambut Queen lembut, sambil menatap sayang manik mata Queen.

__ADS_1


"Maaf ya Ira sayang.. malam ini saya nggak bisa temenin tidur kamu." Suara Aska lirih.


Queen mengangguk dengan tersenyum. "Nggak masalah, yang penting mas Aska sering-sering video call ya?" Pinta Queen, dan Aska menyetujuinya.


Dua-duanya kembali menatap fokus pada layar televisi di hadapan mereka.


"Mas.." Panggil Queen.


Aska menoleh ke bawah, membalas tatapan Queen dengan rasa ingin tahu. "Apa?"


"Mas Aska emang nggak kasian sama aku?"


"Kenapa?" Aska bingung.


"Kalo kamu dinas malem kan, aku sendirian tidurnya. Kalo mas Aska pulang pagi sedangkan aku paginya harus kuliah. Terus kita ketemunya kapan?" Rengek Queen dengan suara memelas.


Aska nampak berfikir. Ia tidak ingin jawabannya membuat dirinya harus memakan buah simalakama.


"Kan saya nggak melulu dinas malam Ra. Ada waktunya saya siang, juga pagi." Aska mengecup rambut poni Queen. "Kamu tenang aja ya Ra.. kamu nggak bakal kesepian kok."


"Siapa?"


"Anak kamu lah. Kalo ada debay, pasti aku nggak bakal kesepian, apalagi ketakutan kalo malem. Nggak bakal lagi ngerepotin kamu. Pokoknya banyak deh hal positif yang bisa aku lakuin kalo udah ada debay."


Queen sangat bangga pada kalimatnya. Ia yakin, Aska akan kalah dan membiarkan Queen mendapati apa yang ia mau.


"Hem.." Aska terkekeh. "Masih banyak cara lain buat bikin kamu bahagia selain hal itu Ira."


Queen tidak menyangka, tatapan Aska telah mengunci dirinya. Membuat syarafnya tidak bisa bergerak, atau berpaling dari tatapan Aska.


Queen terdiam. Haruskah ia yang mengalah kali ini? Tidak sadarkah lelaki itu, tentang kebahagiaan mendapat sebuah momongan.


"Mas.. aku tuh pernah denger, katanya, capeknya lelaki yang sudah menikah karena kesibukan di tempat kerjanya, bakal hilang hanya dengan melihat senyuman simpul dari buah hatinya. Mas Aska nggak mau nyobain itu?" Queen masih berusaha membujuk Aska

__ADS_1


"Kamu itu Ra, dari kemaren sibuk ngomongin anak, minta anak sama saya, terus marah karena saya nolak maunya kamu. Tapi kamu nggak sadar kan, kalo semua itu adalah kehendak Tuhan. Sekarang saya bisa aja bilang, 'oke kita punya anak' tapi emang kamu yakin, kalo Tuhan bakal mau nurutin kemauannya kamu." Aska panjang lebar.


Queen menatap Aska kesal. Dirinya tak percaya dengan pemikiran Aska yang seperti sedang mendoakannya.


"Ya udah deh, nggak usah bawa-bawa kuasa Tuhan dulu. Kamu sendiri aja masih susah buat di ajak usaha dapetin yang kamu mau." Sindir Aska. Queen semakin kesal. Ia bangkit dari posisinya, berganti duduk memunggungi Aska, dengan tangan terlipat di depan dada.


"Gimana, kalau sekarang kita usaha dulu, buat ngewujudin kemauan kamu?" Aska memeluk tubuh Queen, membisikan dengan lembut di telinga Queen.


"Nggak ah.." Ketus Queen.


"Ira.. debay nggak akan muncul di perut kamu, kalo saya nggak nanem disitu."


"Nanem? Kamu kira itu padi."


"Ya emang gitu Ra urutannya."


Queen tertunduk. Suaranya menjadi lirih. "Tapi itu sakit mas.."


Oh, jadi itulah yang membuat Queen selalu enggan mengulangi manisnya malam saat tubuh mereka saling menyatu. Queen takut akan rasa sakit yang tercipta saat malam pertama kemarin.


Aska terkekeh. "Nggak akan sama Ra rasanya. Kamu inget nggak, gimana rasanya waktu kamu sampai di akhir?" Aska memberi jeda, menunggu jasayban dari Queen. "Rasa itu yang bakal kamu rasain mulai dari sekarang dan seterusnya Ra.." Kini giliran Aska yang mencoba meyakinkan Queen, membujuk wanitanya mengulangi pencapaian kepuasan dari penyatuan.


"Saya kasih tau ya, kalo kita kasih jeda dalam waktu yang lama, nanti malah sakit lagi Ra. Jadi sebenarnya kita harus sering usaha, biar kamu cepet dapet yang kamu mau, gimana?"


Penekanan dalam kalimat akhir Aska membuat Queen sedikit tersipu malu membayangkannya.


Queen mengangguk malu. Dan Aska yang melihatnya, tentu tak menyia-nyiakan kesempatan itu lagi.


Ia membawa wanitanya berpindah ke atas kasur dengan menggendong ala bridal. Dalam perjalanan langkah kakinya yang singkat menuju kamar, Aska berfikir keras, mencari cara yang pas untuk Queen. Harus seberapa lembut lagi, agar Queen tidak merasakan sakitnya lagi. Agar Queen tetap mengakui kejantanan milik Aska.


Tapi Aska masih tetap pada pendiriannya. Meskipun sesering apapun mereka berhubungan, Aska masih belum ingin memiliki keturunan. Besok, ia akan membawa wanitanya ke bidan, untuk konsultasi menggunakan alat kontrasepsi yang paling nyaman untuk Queen.


Hari ini, Aska akan melakukannya dan mengeluarkannya di luar. Agar benih dari dirinya tidak menembus kantong rahim milik Queen.

__ADS_1


Kenapa Aska menjadi sangat kejam untuk Queen sekarang? Bagaimana cara Aska merayu Queen besok, setelah mendapatkan kepuasaan darinya malam ini?


🙃🙃😉


__ADS_2