
mencintai dia yang menyayangimu tidaklah seberat saat kau menjaga hati orang yang mencintaimu sepenuhnya. Peluang melakukan kesalahan padanya akan sangat riskan untuk hatinya. Sikap mu akan menjadi mata pisau yang bisa menikam dirinya dan lebih menyakitkan di banding siapapun yang ia kenal.
Itulah yang kini menjadi tuan rumah dalam hati Aska. Lelaki yang awalnya menjaga kenyamanan hati seorang Queeneira. Tapi karena kecerobohannya, di satu kesalahan tanpa sadar ia sudah mematahkan separuh hati istri tercinta. Sialnya lagi, Aska tidak tau apa yang telah ia perbuat hingga air mata terus membanjiri pipi Queen, padahal ia juga sudah tidak bisa merasakan sembab di matanya yang membengkak.
"Ra.." Seperti keinginan istri tercinta, Aska akan menemaninya bertemu Arya. Alasannya adalah demi menenangkan hati Queen yang terus merasa tak tenang sesaat setelah Queen merasakan sakitnya di khianati sang suami.
"Saya tunggu disini aja ya, biar kamu bisa bebas ngomong sama dia tanpa adanya saya." Percayakah jika Aska mengucapkannya dengan tangisan dalam hati.
Lelaki itu menunduk, tak berani menatap mata bening Queen, apalagi melihat bagian tubuh Queen yang semakin membuncit.
"Ikut aja lah mas. Aku nggak mau nanti kamu punya pikiran yang melenceng dari kenyataannya." Queen masih mencoba menarik tangan suaminya, mengajaknya ikut masuk kedalam restoran cepat saji tak jauh dari kediaman mereka.
"Nggak Ra, tenang aja. Saya percaya sama kamu." Aska melepaskan pegangan tangan Queen, beralih mengusap rambut istri kecilnya.
Queen bukan wanita muda yang polos lagi. Ia sudah hidup beberapa bulan bersama lelaki ini. Meski itu tidak menandakan bahwa Queen akan mengetahui segalanya tentang Aska. Setidaknya Queen paham, bagaimana sikap lelakinya. Ia paham betul dengan gaya bicara Aska. Jika ia berbicara dengan bahasa 'saya' yang berati ia sedang dalam mode sangat serius. Dan itu bukan pertanda hatinya sedang baik.
"Udah sana, nanti dia kelamaan nunggunya." Pinta Aska, masih dengan senyum tipisnya.
Queen menggeleng lemah. "Enggak ah, mas Aska di sini sendirian, nungguin aku yang nggak tau lama atau sebentar. Aku nggak bakal tenang mas ngobrolnya nanti."
"Nggak pa-pa Ira. Saya tunggu di mobil, kan ada ac nya. Jadi nggak bakal kena panas, kalopun kamu lama di dalem."
"Aku nggak mau. Mas Aska harus ikut."
Aska tertunduk, melihat bagian bumi yang ia pijak. Kemudian mengangkat arah pandangnya lagi, menatap lurus ke arah manik mata Queen yang selalu ia rindukan binarnya. Dengan menangkup ke dua pipi nya, Aska memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Saya lelaki Ra. lelaki yang udah nyakitin kamu kemarin. Saya mau liat kamu senyum lagi Ra. Kalo dengan kamu cerita sama dia bisa bikin hati kamu tenang, saya bisa relain itu sebentar. Sama kayak kamu yang udah ngerelain hati kamu untuk saya."
Queen terdiam. Ia tidak tau harus menjawabnya dengan kata apa. Lidahnya terasa kelu.
"Mungkin, lebih cepat kamu ketemu dia, lebih cepat juga buat hati kamu jadi lebih baik. Saya sayang kamu. Nggak mau ngeliat kamu terus-terusan sakit sendiri. Oke?"
Queen mengangguk lemah. Belum-belum bertemu dan bercerita dengan Arya, airmata nya sudah ingin terjun bebas tanpa ijin dari Queen.
"Ini demi kebaikan hubungan kita Ra."
"Kalo mas Aska bosen sendirian disini, telfon aku ya mas." Pinta Queen. Aska tak menjawab dengan kalimatnya, tidak juga dengan anggukan, ia lebih memilih mencium keningnya Queen, dalam dan hangat.
__ADS_1
Persetan dengan juru parkir dan security yang terus menatap ke arah mereka. Tak perduli dengan banyaknya pasang mata yang terus mengamati, mungkin juga ada yang mencibir atau berdecak melihatnya.
Tapi inilah kenyataannya. Kejujuran dalam hati Aska. Ia benar-benar masih menyimpan rasa sayang dan cinta yang dalam untuk istri kecilnya. Bahkan ia merasakan lebih saat melihat ketulusan hati wanitanya.
"Bener telfon aku ya mas kalo aku udah kelamaan."
"Iya Ira.." Melihat Aska tersenyum, hatinya sedikit lega.
Ia melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Aska yang masih berdiri mematung di area parkir, di sebelah mobilnya. Bisa Queen tebak, lelaki itu akan terus menatapnya hingga Queen masuk dan duduk bertemu dengan Arya, barulah ia masuk ke dalam mobil, atau mungkin demi membalas kesalahannya sendiri, ia akan terus menunggu di bawah teriknya matahari.
***
Sedangkan diam-diam, Arya yang sudah datang sejak tadi, ia melihat adegan drama yang di buat oleh dua orang di area parkir tadi. Hatinya mencelos, sakit tak berdarah. Lebih sakit dari tusukan duri di hatinya,ketika melihat Aska, yang sudah sah menjadi suami Queen, wanita yang ia cintai seumur hidupnya mungkin. Melihat Aska mencium kening gadisnya dengan penuh perasaan. Arya paham, karena ia sama-sama lelaki. Yang ia tak habis fikir adalah, Queen yang tiba-tiba ingin bertemu dengan dirinya, apalagi sang suami kali ini tidak ikut duduk bersama mereka.
Yang Arya dapat artikan, mungkin, satu masalah mungkin tengah menghampiri mereka. Jika memang demikian, haruskah Arya merasa senang atau sedih? Bukankah ini kesempatan bagus untuk dirinya , menarik Queen kembali dalam dekapannya. Tak masalah jika Queen sudah tak sendiri. Toh, makhluk itu masih dalam tubuh Queen, tidak mengerti siapa ayah yang membuahinya atau yang membesarkannya. Diam-diam Arya tersenyum tipis memikirkannya, namun sedetik kemudian senyumannya berubah menjadi ejekan untuk dirinya sendiri.
Sialan memang !!
"Hai Queen.." Sapa Arya saat melihat Queen menatapnya semakin dekat.
"Hai Ar.. apa kabar?" Queen tersenyum kaku, seraya menarik mundur kursi sebelum ia duduk di atasnya.
"Makasih ya Ar.."
"Sama-sama Queen." Pandangan Arya tak lepas dari wanita yang tengah duduk di hadapannya. "Kamu tambah cantik ya Queen, kenapa ya? Karena suami kamu yang hebat atau karena kamu lagi hamil?" Arya menopang dagunya dengan tangan yang menyangganya dari atas meja.
Queen terdiam sebentar, tiba-tiba terbesit kenangan dimana saat dirinya tengah menarik koper untuk pergi meninggalkan suaminya, beberapa saat lalu.
Lantas, ia hanya menjawab nya dengan senyuman simpul di bibirnya.
"Oiya, kamu kesini sendiri?" Arya berlagak tidak mengetahui apapun.
"Enggak, di anter sama mas Aska."
"Oh.. terus, kok aku nggak ngeliat?" Arya celingak-celinguk melihat ke arah pintu masuk, seperti mencari seseorang.
"Dia tunggu di dalem mobil."
__ADS_1
"Lho! Kenapa emang?"
"Biar aku bisa bebas ngomong sama kamu."
Arya mulai memasang wajah serius.
"Ada apa emang Queen?"
Queen menggeleng, sambil mengaduk minumannya dengan sedotan.
"Ar, kamu masih ada dendam nggak sih sama kami?"
"Dendam?"
"Iya. Dendam. Aku sama mas Aska kan udah nyakitin kamu sebelumnya. Mungkin aja, kamu masih ada sedikit rasa kesel sama aku sama mas Aska."
"Kamu serius nanya nya?"
"Hem'em.." Queen mengangguk. Awalnya Arya tertawa, padahal Queen tidak mengerti apa yang lucu dari ucapannya itu. Namun sejurus kemudian, Arya kembali dengan wajah seriusnya.
"Jangan bilang sedikit Queen. Kalo kamu nanya, aku tentu kesel. Kesel sekesel keselnya." Arya tertawa sinis. "Tapi untungnya apa buat aku? Tetep aja nggak bisa bawa kamu balik lagi sama aku. Yang ada malah bikin aku mengidap penyakit hati. Dan aku nggak mau kayak gitu. Marah waktu ngeliat kamu ketawa sama suami kamu, ketawa waktu ngeliat kamu berantem sama suami kamu." Arya menjeda sebentar. "Aku nggak mau kayak gitu Queen."
Queen menghela nafasnya kasar.
"Kamu tau nggak Ar, aku ngerasa sekarang aku lagi ngalamin karma dari kamu." Satu air mata Queen lolos tanpa diminta. "Kemarin rumah tangga aku di timpa satu masalah, dan itu bener-bener bikin aku down banget Ar, aku hampir aja pergi ninggalin dia."
"Kenapa?"
"Yah.. sebenarnya bukan karena perselingkuhan sih Ar, karena dia ngebohongin aku. Tapi sakit itu bener-bener aku rasain. Aku jadi mikir, gimana perasaan kamu waktu itu, aku udah bohong di tambah selingkuh di belakang kamu." Queen tertunduk, membiarkan air matanya jatuh. Tapi ia berusaha menutupi dengan rambut panjangnya yang ia sibak sedikit ke depan.
Arya menggenggam satu tangan Queen yang berada di atas meja.
"Nggak pa-pa Queen, nggak usah ungkit masa lalu. Dan kamu nggak perlu cerita sama aku tentang masalah rumah tangga kamu. Karena.. jujur aja Queen. Biarpun cerita itu tentang kegagalan kalian, itu tetep bikin aku sakit.. Kamu udah sama dia, yang berati hati kamu udah milih dia. Dia lebih baik di banding aku." Arya terdiam. Ikut merasakan ngilu dalam hatinya.
"Tenang aja Queen. Aku nggak pernah naro dendam sama kalian. Kamu tetap yang terindah buat aku."
Aska melihat adegan itu dari luar. Kaca yang tembus pandang membuat Aska leluasa mengamati gerak gerik yang di lakukan istrinya bersama mantan pacarnya itu.
__ADS_1
🙃🙃😉
Pengen nyanyi sebenarnya.. 😄