Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
penantian


__ADS_3

Jika kerinduan yang terpendam hanya akan menyakiti hati, lalu, untuk apa lagi harus tersimpan. Luka yang di rasakan mungkin tak akan bisa hilang hanya dalam satu kenangan bahagia.


Hujan yang mengguyur deras di pinggiran ibu kota, membuat udara malam semakin terasa dingin, begitu pula sejak kepulangan Aska dan Queen dari kampung halaman Aska.


Lelaki yang sudah menemaninya selama beberapa bulan ini, mampu menjungkir-balikan rasa yang Queen alami.


Queen masih berdiri di depan jendela, mengamati turunnya setiap tetesan air dari atas langit. Tapi sedikit banyaknya Queen mengerti, suara hujan seperti ini setidaknya bisa memberikan ketenangan dalam hatinya, atas kerinduan kepada sang kekasih.


Semenjak mereka pulang beberapa hari lalu, Aska menjadi lebih sibuk dari hari sebelumnya. Ya, memang begitulah tugas sang abdi negara, tidak tahu waktu. Yang mereka tahu hanya slalu siap atas perintah mutlak sang atasan.


"Mas, disini hujan.. disana hujan nggak?" Satu pesan terkirim via aplikasi untuk Aska.


Butuh hingga lima belas menit sampai Queen mendapatkan balasan.


"hujan." Jawabnya singkat.


Ya,, meskipun sudah hampir seminggu nggak ketemu, setidaknya Queen tau, mereka masih di bawah langit yang sama.


***


Pagi menjelang, waktunya Queen berangkat ke kampus. Queen masih memandangi satu pintu disebelah kamarnya. Pintu yang slalu tertutup sejak beberapa hari saat ia melihatnya.


Queen membuang nafasnya berat. Apa yang membuat lelakinya itu sangat sibuk? Malam natal dan pergantian tahun baru membuat waktunya terkuras hampir seluruhnya. Aska selalu sibuk di luar. Hanya sang ojek online yang tak pernah absen mengantarkan makan malam untuk Queen. Tentu saja pengirimnya atas nama Aska Prayoga.


Queen sudah selesai dengan kelasnya, kali ini Rindi tidak satu kelas dengannya, tapi sama sama ada jadwal mata kuliah, maka itu mereka bertemu di kantin.


"Queen, besok malam udah tahun baru. Mau ngerayain dimana?" Rindi menyeruput minuman es teh manisnya. Duduk berhadapan dengan Queen.


"Nggak tau gua. Masih abu-abu" Jawab Queen malas.


"Kenapa? Biasanya lu yang hobi banget ngerayain tiap ada hari besar?" Satu kalimat terucap sebelum Rindi memakan baksonya.


"Nggak ngerti dah. Nggak ada pacar nggak seru"


"Yailah Queen.. mandiri dikit lah. Bang Is bilang, kalo mereka nggak akan bisa ngerayain bareng kita. Sabar aja sih.." Rindi melirik tangan Queen yang mengaduk malas kuah bakso dihadapannya.


"Dimakan, elah.. ntar gua bilangin mas Aska lho kalo nggak makan"


"Sabar.. ntar juga gua makan"


"Queen.. gimana kalo kita ajak ka Agung buat maen bareng kita?" Tanya Rindi antusias, hingga memajukan wajahnya mendekati Queen.


Tapi Queen menjawabnya dengan satu getokan sendok di atas kepala Rindi.


"Jangan yang aneh-aneh lu. Ntar gua bilangin abang Is" Sungut Queen kesal.


"Pacar gua mah asik aja orangnya, nggak masalah" Queen yang emosinya sudah terpancing tadi, semakin berhasrat untuk memaki sahabatnya itu.


"Iyalah, pacar lu mah nggak sayang, makannya dia nyantai aja lu di gebet sama laki lain. Beda sama cogan gua." Queen membela diri.

__ADS_1


"Takut kehilangan? Jodoh nggak ada yang tau jeng.. saling percaya aja"


Mendengar kalimat Rindi yang begitu santai, Queen menjadi terdiam, mengamati setiap kata yang sahabatnya itu ucapakan.


"Pulang yuk!" Ajak Rindi yang juga membuyarkan lamunan Queen.


***


Malamnya Queen masih memikirkan obrolan singkatnya tadi dengan Rindi. Aska yang jarang memberikan kabar untuknya, apalagi mereka tidak juga bertemu, padahal rumah adalah satu tembok.


"Ah.. mas Aska bakal balik gak ya malam ini?" Queen membuang nafasnya pelan. Ponselnya tak kunjung lepas dari perhatian Queen, maaih menunggu kabar dari sang pacar.


Suara ketukan pintu, membuat Queen bangun dari kasurnya, meski dengan gerakan yang malas. Sebenarnya ia tau siapa yang ada di balik pintunya.


"Pesanan makanan mba, atas nama pak Aska Prayoga untuk mba Queen?" Ojek online yang diutus oleh Aska sudah absen, dengan membawa makanan untuk Queen.


"Oh iya mas, udah di bayar belum?" Tanya Queen sopan.


"Udah mba." Queen menerima makanannya setelah mengucapkan terima kasih kemudian kembali menutup pintu kamarnya lagi.


"Makanannya mulu. Orangnya kapan datengnya" meski dengan hati yang tak tentu antara senang dan kesal, Queen tetap menyantap makanan yang sudah Aska berikan.


Setelah selesai makan, Queen yang sudah menimbang-nimbang ucapan Rindi tadi, akhirnya ia beranikan diri untuk bertanya kepada Aska.


"Mas.. Malam tahun baru nanti, kalo kamu sibuk, Rindi mau ajak ka Agung buat kumpul bareng." Satu pesan berhasil Queen kirim.


Perut yang sudah terisi, membuat matanya semakin berat untuk terjaga.


Sudah dua kali Queen melihat layar ponsel, tapi tak kunjung ada balasan dari kekasihnya.


sepuluh menit,


lima belas menit,


hingga setengah jam kemudian balasan itu tak kunjung datang. Hanya dua centang berwarna biru yang menandakan pesan itu sudah terbaca.


Dan kini, mata Queen semakin berat untuk terjaga, sampai akhirnya alam sadar Queen menjemput.


Queen kembali tersadar, ia terkejut mendapati dirinya ketiduran, segera ia memeriksa ponsel yang berada disebelahnya sejak tadi. Ternyata masih tak kunjung ada jawaban. Queen melirik jam dalam layar ponselnya. Sudah jam dua dini hari, dan lelakinya itu masih belum membalas pesannya.


Hati Queen semakin berdesir ngilu. Kenapa lelakinya itu semakin terasa jauh dan sulit di hubungi. Queen membanting kasar handphone nya di atas kasur, ia juga menghentakkan tangannya di atas kasur dengan keras, memukul permukaan bantal yang kini menutupi wajahnya.


Hati Queen maaih terasa kesal, saat saat ia mengingat bahwa nomor Aska sedang online. Lalu kenapa dia tidak membalas pesan singkatnya, meski hanya satu atau dua kata.


Queen masih tengkurap dengan wajah yang bersembunyi di bantal. Tangannya juga masih kuat memukul permukaan kasur. Air mata nya mulai membasahi kain pembungkus bantal. Queen semakin terisak dalam tangisnya.


Kenapa semua jadi begini. Dulu selama dengan Arya, tidak akan sulit baginya, jika hanya untuk mendapat kabar, apalagi jika ada hari perayaan seperti ini. Arya yang akan bertanya kepadanya, beberapa hari sebelum hari H, dan mempersiapkan segalanya. Sedangkan dirinya hanya duduk santai sambil menunggu hari itu tiba.


Apakah sesulit ini untuk berhubungan dengan seorang polisi. Atau ini karma untuknya karena telah menyia-nyiakan Arya dulu. Queen semakin tak tahan dengan rasa sesak didadanya.

__ADS_1


"Mas Aska jahat!!" Umpatnya kesal. Hanya saja, suara yang terhalang oleh bantal tidak akan terdengar jelas.


Begitu juga dengan Aska yang tidak mengerti dengan ucapan Queen.


"Ngomong apaan sih Ra?" Suara yang sudah Queen rindukan, terasa samar ditelinganya. Queen terdiam, masih dengan muka yang tersembunyi, hanya saja tangisnya mereda. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar, sampai ia mengira itu hanyalah halusinasinya saja.


Tangis Queen kembali pecah, rasa sakitnya kembali terasa, mengingat apa yang tadi ia dengar dalam ketidaksadarannya.


"Ngapain sih Ra, nangis malem-malem?" Kali ini ia juga merasakan seseorang duduk di sebelahnya, mengusap rambut belakangnya.


Queen bangun, duduk dengan cepat. Ia mengusap pipinya yang basah.


"Kenapa Ra? Hm?"


Sorot mata yang slalu Queen tunggu kehadirannya, kini nampak dihadapannya.


"Mas Aska?" Queen tak percaya.


"Apa? Kamu kenapa?" Tanya Aska lembut, satu tangannya merapihkan rambu Queen yang berantakan.


Queen yang sudah tidak tahan dengan rasa rindunya, langsung memeluk tubuh lelaki dihadapannya.


Aska terkejut.


"Kenapa sih Ra? makanya kalo mau tidur tuh baca do'a dulu" Tutur Aska.


Queen melepaskan pelukannya, Aska hanya mengikuti setiap gerakan yang yang di buat oleh gadisnya.


Mata mereka saling bertatapan, tapi berbeda dengan mata Queen yang sayu dan lembab.


"Aku tuh kangen tau mas.. kamunya jarang ada kabar. Kemana aja sih?" Suara Queen yang manja dan merengek, membuat senyum di bibir Aska mengembang.


Dua tangannya menggenggam erat tangan Queen.


"Oh.. kangen. Sama saya juga." Dengan santainya lelaki itu menjawab.


"Ih.. kamu tuh." Rengek Queen, ia kembali memeluk sosok tubuh yang belakangan ini ia rindukan. Dengan menghirup aroma tubuh sari leher Aska, Queen mengeluarkan segala rasa yang tertahan di hatinya.


Tapi sayangnya, Aska mendorong tubuhnya pelan, melepaskan pelukan yang sudah Queen dambakan.


"Jangan gini Ra, udah malem. Diluar lagi hujan" Queen tidak mengerti dengan maksud ucapan Aska.


"Apaan sih kamu."


"Nggak pa-pa." Aska tersenyum penuh arti. Ia kembali menolak pelukan yang Queen inginkan. Membuat Queen tak mengerti dan bertanya-tanya. Ada apa dengan lelakinya ini? Tak sehangat seperti hari sebelumnya..


**maafkan, akunya lagi nggak jelas**


🙃🙃🙏

__ADS_1


__ADS_2