
Masih ada perasaan yang tak menentu di hati.
Bila ingat sorot mata yang kurasa berbeda.
Oh janganlah terjadi, yang selalu ku takutkan.
Beribu cara kan ku tempuh..
Oh cintaku,
ku mau tetap kamu yang jadi kekasihku dan jangan pernah berubah
selamanya,
kan ku jaga dirimu seperti kapas putih di hati. Dan tak kan ku buat noda.
Bayangkanlah ke dua matamu
bayangkanlah aku di sisimu
Oh janganlah terjadi, yang selalu ku takutkan
beribu cara 'kan ku tempuh..
***
Satu minggu berikutnya Aska tak pernah lagi membelikan es krim untuk Queen. Ia menggantinya dengan makanan yang berbeda-beda setiap harinya, sesuai apa yang di katakan oleh Queen. Jangan tanyakan bagaimana perasaan seorang istri yang selalu di perhatikan setiap kata-katanya oleh sang suami, siapapun pasti bahagia meski hanya mendengarnya.
Yah.. memang seperti itulah Aska, berusaha selalu menjadi yang terbaik untuk wanitanya. Berusaha memenuhi setiap apa yang di inginkan oleh Queen. Berusaha membahagiakan istrinya. Sampai Rindi yang mendengarkan cerita Queen selalu tersenyum tanpa henti, meski hanya mendengarkan melalui sambungan telepon.
Akhirnya ia memutuskan untuk datang menemui Queen. Rindi tau, kebahagiaan seperti ini pasti Queen rasakan, sejak melihat bagaimana kesungguhan juga kedewasaan Aska meski mereka belum menjalin hubungan dulu. Dan Rindi bersyukur, ia tak salah menjodohkan sahabat terbaiknya dengan Aska. Walau janji mereka harus terukir di atas luka hati seorang Arya, yang notabene nya adalah kekasih Queen waktu itu.
Rindi merasa Arya masih kekanak-kanakan bagi Queen, ia tak cukup dewasa untuk menahan sikap dan sifat manja seorang Queeneira Wijaya. Yang Rindi yakini adalah, nantinya Arya akan menuruti setiap keinginan Queen, entah itu baik atau buruk, Arya akan selalu membantu Queen mendapatkannya tanpa perlu berfikir panjang.
Tapi sayangnya, Rindi lupa, jika seseorang selalu memiliki kesalahan yang bahkan tidak di sadari nya. Karena satu orang itu tidak akan bisa memuaskan setiap hati orang yang ia kenal. Pasti akan ada yang terluka olehnya.
Queen begitu senang, ketika melihat sahabat terbaiknya ada di depan pintu rumahnya. Sudah lama semenjak mereka bertemu beberapa minggu setelah dirinya menikah. Rindi sangat jarang datang kerumah Queen. Dirinya sibuk dengan kuliahnya juga urusan tentang pernikahan. Ya.. Rindi memang datang ke tempat Queen tanpa tangan kosong. Ia berniat memberikan undangan khusus untuk sahabatnya itu juga suaminya. Meski mereka sering berjumpa di kampus. Tapi rasanya tetap berbeda jika Rindi datang ke tempatnya. Dan itu membuat hati Queen menjadi semakin baik.
"Gila. Udah mau nikah aja lu, baru juga pacaran berapa bulan?" Queen membuka undangan yang di berikan Rindi.
"Iyalah. Biar anak kita lahirnya bareng."
"Ya nggak bisalah Rin, baby gua udah jalan hampir lima bulan. Lah elu, proses aja beloman." Queen memicing menatap tak percaya pada Rindi.
"Santai ajalah Queen. Pasangan beda setahun mah nggak masalah." Jawab Rindi sekenanya, yang mana semakin membuat Queen tak percaya.
__ADS_1
"Pasangan?" Queen sampai memajukan wajahnya di depan wajah Rindi.
"Kenapa? Ada yang aneh kalo anak lu sama anak gua jadian?" Rindi menantang.
"Astaga.. emang lu yakin anak kita bakalan beda jenis kelamin. Mana tau kalo nanti sama-sama cewek?"
"Iya juga ya.. kalo anak kita sama-sama cowok gimana?"
"Ih.. anak gua cewek ya.." Queen melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hahaha.. PeDe bener bu.. emang udah USG?"
"Belom sih, tapi feeling seorang ibu itukan kuat Rin."
Rindi mengalah
"Yaa baiklah Ibu Queen. Selamat anak anda perempuan." godaan Rindi semakin menambah keriuhan di antara keduanya. Queen bahagia, sekali lagi.
Sudah hampir dua jam mereka mengobrol tanpa ada obrolan yang berarti, hanya saling bercerita tentang pasangan masing-masing, sampai akhirnya, Rindi harus pulang karena hari yang makin sore. Queen menemani Rindi hingga sampai pintu gerbang. Namun, seorang tetangga Queen memotong jalan mereka.
"Mbak Queen.." Panggil seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dari Queen dan Rindi.
"Ya mbak? Ada apa?" Jawab Queen sopan.
"Belum mbak, seharusnya sih udah, kenapa ya mbak?" Awalnya Queen tidak merasa curiga sampai sang tetangga mulai menceritakan apa yang ia lihat beberapa hari belakangan.
"Saya sering ngeliat suami mbak mampir ke minimarket di depan kerjaan saya. Ya awalnya saya mikir, mungkin di suruh mbak Queen, soalnya dia bawa belanjaan. Tapi saya penasaran tuh mbak, maaf ya kalo lancang, nggak lama suami mbak dateng, saya ikutan masuk eeh.. pas suami mbak sampe di depan kasir, dia malah ngobrol sama mbak-mbak kasirnya mbak. Deket banget deh kayaknya."
Sungguh kalimat yang mendobrak hati Queen. Queen dan Rindi saling bertatapan, mereka ragu dengan apa yang dikatakan wanita ini, bisa saja ia sirik dengan keharmonisan rumah tangganya.
"Maap ya mbak, saya ngomong sama mbak Queen tuh soalnya kasian sama mbaknya, soalnya tadi sih Yanti juga w.a saya, dia bilang ketemu sama suami mbak lagi beli bakso, sama cewek lagi. maap loh ya mbak. Laki-laki emang gitu mbak, berjuang kalo ada maunya, tapi kalo udah dapet aja, langsung ilang deh tuh manisnya. Apalagi kalo saya inget, mbak sama suaminya nggak lama-lama ya mbak pacarannya."
"Oh, oke mbak makasih ya infonya. Kita mau lanjut lagi." Rindi lah yang berbicara, memotong ucapan wanita yang terlalu banyak bicara menurutnya. Sedangkan Queen hanya diam, ia masih terpana dalam keterkejutannya. Terlalu banyak informasi yang ia terima dalam sekejap. Queen tidak siap. Ia tidak tau harus berbuat apa. Fikirannya kosong, hanya ada bayangan yang terlintas saat Aska selalu mencium pipinya, keningnya juga wajahnya. Queen merasa tidak ada yang berubah dengan sikap Aska. Hanya jam pulangnya yang semakin ngaret dari biasanya.
Ya benar, jika di lihat dari ceritanya, Aska seharusnya sudah pulang sejak tadi. Tapi kenapa sampai sekarang ia belum juga datang.
"Udahlah Queen, nggak usah di fikirin dulu. Coba nanti lu tanya pelan-pelan sama Aska. Mungkin aja ada kesalahpahaman yang mereka nggak tau." Tentu saja hanya kalimat penguat seperti itu yang Rindi bisa berikan untuk Queen. Dan untungnya Queen mendengarnya saat bersama Rindi. Jadi ia tidak merasa sendiri.
Rangkulan tangan Rindi, sungguh menguatkan hati Queen. Dalam kebingungannya ada orang yang merangkul dirinya, menguatkan tubuh juga hatinya, hingga tidak terjatuh di depan wanita dengan mulut layaknya ember bocor tadi.
"Ojek gua udah nyampe Queen, lu masuk duluan sana, biar gua liatin dari sini."
Queen tidak bergeming, hanya tatapan kosong yang ia arahkan pada Rindi.
"Udah, nggak usah di dengerin, masuk dulu sana, ntar di obrolin sama laki lu."
__ADS_1
Baru saja Queen akan berbalik meninggalkan Rindi, Aska juga motornya yang tadi di sebutkan membonceng wanita lain, nongol di hadapan Queen.
Tidak ada reaksi apapun dari Queen. Ia hanya diam memandangi lelakinya itu, tanpa ekspresi.
"Eh, mas Aska, baru pulang?" Lagi-lagi Rindi yang bersuara.
"Rindi. Mau kemana?"
"Mau pulang mas."
"Oh.. udah mau pulang?"
"Iya, udah kelamaan maennya. Nungguin mas Aska lama banget tadi."
"Oh, maaf ya jalanan macet banget tadi. Ada perlu apa emang?" Aska masih tidak menyadari ada yang berbeda dengan dua wanita di depannya.
"Enggak ada apa-apa, cuma ada salam dari bang Is."
"Wa'alaikumsalam.. salam balik buat mas Is ya Rin. Kapan-kapan ajak maen kesini."
"Nggak lama lagi juga bakalan kesini bang Is nya."
"Oh, yaudah saya tunggu." Aska masih dalam keadaan hati yang baik. Tidak tau apa maksud dalam ucapan Rindi.
"Jalanan macet mah udah biasa ya mas.. kalo macetnya di depan cewek tuh baru luarrr biasa. Ya nggak bang ojek?" Rindi berujar seraya menaiki ojek yang menunggu dirinya sejak tadi.
"Bener mbak. Tapi biasa juga sih kalo buat cowok mampir ke cewek mah." Abang ojeknya ikut bersuara.
dasar si abang ojol, nggak paham sikon nih.
"Gua balik dulu ya Queen. Hati-hati sama calon mantu gua ya. Bye." Rindi dan abang ojolnya pun berlalu, meninggalkan Queen juga Aska di depan gerbang kontrakan mereka.
"Ayok Ra naek." Ajak Aska. Namun Queen menolak.
"Aku jalan aja mas."
"Naik motor kan lebih cepet. Hm?" Senyum itu lepas menatap Queen dari jarak dekat. Haruskah Queen meledak sekarang? Tapi wajah itu membuat Queen ikut tersenyum menatapnya.
"Deket kok, aku juga capek duduk terus dari tadi. Itung-itung olah raga." Ucapan Queen meyakinkan.
"Oke. Aku duluan ya." Aska mendekatkan wajahnya, mencium pucuk kepala wanitanya itu, lalu melajukan motornya, meninggalkan Queen berjalan sendiri dengan suasana hati yang tak menentu.
Kalau di pikir-pikir, memang ada yang beda dengan sikap Aska. Biasanya Aska akan memaksakan kehendaknya dengan tegas, tapi belakangan Aska hanya menunjukan sikap manisnya untuk Queen. Mungkinkah ini salah satu bujuk rayu Aska, atau hanya pengalihan perhatian Queen agar tak menaruh curiga.
🙃🙃😉
__ADS_1