Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
JANJI ASKA


__ADS_3

Kata orang, jika seseorang yang hampir mencapai puncaknya, tetapi tidak diteruskan, maka akan berakibat pada mood yang menjadi tidak baik. Contohnya, itu akan membuat dirinya menjadi gampang marah dan uring-uringan.


Jika benar demikian, maka itulah yang menjadi alasan Queen atas rasa dihatinya.


Cukup lama, Queen menunggu Aska yang berada dalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukan lelaki itu. Tapi beberapa waktu tdi Queen sempat mendengar suara air layaknya orang mandi.


Ngapain tuh orang mandi malem-malem. Kurang dingin apa cuacanya? Gumam Queen.


Queen sudah memejamkan matanya, sambil berbaring miring menghadap dinding kamarnya.


Aska keluar kamar mandi bersamaan dengan wangi yang menguar dari tubuhnya. Queen sangat hafal dengan bau harum sabunnya itu. Meski matanya terpejam, tapi tak sepenuhnya kesadarannya menghilang.


"Maaf Ra lama." Aska masih mengusap rambutnya dengan handuk milik Queen. Tubuhnya masih setengah telanjang, dengan celana panjang yang telah ia kenakan, karena kaos yang tadi, masih berada di atas lantai.


Namun, saat Aska sudah berada di dekat ranjang kasur Queen, Aska baru menyadari, gadisnya itu belum mengenakan kembali pakaian yang tadi sempat di tarik turun olehnya.


"Kenapa masih begini sih Ra, di pake dong bajunya" Dengan cepat Aska menaruh handuk dan menarik selimut menutupi tubuh gadisnya.


"Emang aku yang buka tadi?" Suara Queen ketus.


Aska membuang nafasnya kasar, mengetahui gadisnya tengah merajuk.


"Iya maaf.." Tuturnya. Aska menarik turun kembali selimutnya, menaikan dress yang masih berada sebatas pinggul.


"Ma'af, ma'af.. kaya nggak nikmatin aja."


Aska menyipitkan matanya, mulai tak mengerti alasan dari sikap Queen. Ia memilih ikut masuk kedalam selimut, memeluk gadisnya dari belakang.


"Kenapa sih sayang? tiba-tiba kok marah gini?" Aska mencium kepala belakang Queen.


"Ngantuk!"


"Em, yaudah tidur. Saya temenin"


Queen tidak menjawab, tapi di hatinya masih terasa kesal.


"Ra, saya mau tanya deh"


"Apa?"


"Em, mama kamu ada dimana sih? saya nggak pernah denger kamu cerita deh."


"Tanya aja sama Rindi."


"Kok sama Rindi? Itu kan mama kamu"


"Biasanya juga kamu nyelidikin aku lewat Rindi." Queen berbicara sesingkat mungkin, tanpa ingin melihat wajah kekasihnya.


"Kamu kenapa sih Ra?" Aska menyentuh bahu Queen, memaksanya memutar badan. Tapi Queen menolaknya.


"Kalo saya ada salah, coba di kasih tau dong."


Karena Queen tak kunjung ada respon, Aska mengangkat wajahnya, mencari wajah gadisnya dari balik bahu Queen.

__ADS_1


"Kamu marah karena perlakuan saya tadi? saya minta maaf banget ya. Tadi ada kompor meleduk di deket saya. Jadi saya langsung ikutin kamu."


Meski Aska berbicara selembut mungkin, dan memperlakukannya sehalus yang ia bisa, Queen masih tak tersentuh.


Berkali-kali Aska mencium lembut disekitaran rambut, kening, juga bahu Queen. Tapi Queen masih tak merespon.


Aska menyerah, ia menyibak selimut dan bangkit.


"Yaudah kalo nggak mau di ganggu.." Barulah Queen memegang tangan Aska, berbalik menghadapnya.


"Kenapa?" Tanya Aska.


"Mas mau kemana?" Suaranya pelan.


"Mau pake baju, dingin."


Queen membuang nafasnya pelan. Rasanya menyesal ia berbalik badan.


"Nggak usah, gini aja aku suka liatnya" Yakinlah, itu alasan yang nyata. Demi membuang rasa malu atas tindakannya tadi.


Aska tersenyum. Merebahkan tubuhnya, kembali memeluk Queen, kali ini mereka saling berpelukan.


Queen memainkan jari telunjuknya di atas dada tegap Aska. Mengikuti setiap lekuk yang ada.


"Mas, aku mau tanya"


"Nanya yang banyak" Jawab Aska.


"Kalo nanti kita putus, kita masih bisa temenan nggak, kayak aku sama Arya?" Aska melepaskan pelukannya, raut wajahnya berubah seketika.


"Em.. Terus kalo nanti aku jalan sama temen cowok lagi, kamu bakal ngulangin kayak tadi?" Queen kembali memeluk Aska.


"Nggak akan ada 'nanti' lagi. Saya juga nggak mau ngulangin lagi sebelum kita sah"


"heuh.. kecewa dong aku"


"Jangan mikir yang aneh-aneh ya kamu."


Saat mereka tengah memperbaiki perasaan Queen, terdengar bunyi ponsel Aska. Dengan cepat Aska bangun menghampirinya. Dia tak ingin membangunkan tetangga yang lain.


Tertera nama Rendi di layar, Aska langsung mengerti apa yang harus dia lakukan.


Sebentar ia berbicara dengannya dan langsung mengakhiri.


Aska mengenakan kaosnya dengan cepat, juga pakaian Dinas yang tadi ia lepas dan taruh di atas kursi.


Queen hanya diam mengamati gerakan lelakinya.


"Saya pergi dulu ya Ra, sebentar." Aska mengecup kening Queen.


"Kamu tidur ya, selesai tugas, kita jalan nanti" Lanjut Aska. Tapi Queen kembali memegang tangan Aska, tak ingin ditinggal begitu saja.


Wajah Queen yang memelas membuat Aska terenyuh. Ia kembali duduk di pinggiran ranjang kasurnya. Sambil mengusap rambut Queen.

__ADS_1


"Ini tugas sayang, nggak bisa di tunda." Queen mencebik.


"Tapi bener ya nanti kita jalan."


"Iya saya janji." Aska mencium kening Queen pelan, kemudian turun melumat bibir Queen, meski hanya sebentar, tapi Queen merasakan kelembutan dan kehangatan di hatinya.


"Tidur ya, saya berangkat." Aska beranjak pergi, meninggalkan Queen yang masih rindu, dan selalu rindu akan sentuhan lelakinya.


Dan jangan lupakan bahwa tadi Aska sempat berjanji kepadanya.


***


Sesampainya Aska di tempat yang Rendi sebutkan tadi. Hujan yang masih terus mengguyur daerah Tangerang dan daerah sekitaran ibu kota lainnya, membuat lalu lintas sedikit lebih sepi dari malam tahun baru biasanya.


Rendi mengajak Aska berpatroli. Memantau pergerakan lalu lintas di dalam tol seputaran BSD-Ciledug.


"Muka lo cerah ka. Abis ngapain lo?" Tanya Rendi santai.


"Ngelakuin apaan. Belom ngapa-ngapain lu udah ganggu" Aska menjawab dengan cengiran.


"Ah, bego aja lu. Udah gua kasih waktu lama masih beloman. Mending belajar aja dulu baru pacaran" Rendi memukul lengan Aska yang sedang mengemudi.


"Gua nggak kayak elo. Maen nyosor aja"


"Gua nggak suka basa-basi ka. Jadi, maen cepet aja."


"Dasar lo. Udah jadi polisi, tapi buaya nya nggak tobat." Mereka tertawa santai dalam obrolannya.


Sesekali Aska membunyikan klakson, jika ada mobil yang menggunakan bahu jalan.


"Tapi ka, cewek lu beneran oke banget. Pasti anaknya orang kaya."


"Emang," Aska singkat menanggapi. Mengingat aset yang Queen miliki sepeninggalan kematian ayahnya beberapa waktu lalu. Dan itu semua ia tau dari Rindi.


"Lu serius atau main-main doang?" Kali ini nada suara Rendi serius.


"Insya Allah, mau nya gua dia yang terakhir."


Mendengarnya, Rendi malah tertawa.


"Haha.. Aska.. Aska.. kita ini masih muda, masih banyak pilihan. Nggak bakal kekurangan yang namanya cewek. Buru-buru amat sih lu. Emang lu yakin bakal dapet restu ortunya."


"Itu dia. Gua masih nyari nyokapnya, kalo bokapnya udah meninggal. Gua takut bakal di tolak." Aska membuang nafasnya berat.


"Santai aja Aska." Rendi menepuk-nepuk bahu Aska. "Kalo di tolak, masih banyak ibu-ibu laen yang mau lu jadi mantunya."


"Ah elu.." Aska sedikit tak nyaman dengan jawaban teman di sebelahnya.


"Kalo lu di tolak, gua siap maju. Kayaknya cewek kaya gitu, masih bisa sedikit di perjuangin." Kembali tawa Rendi pecah.


Entah apa maksud lelaki itu selalu mengatakan inginkan Queen setelah usai dengan Aska. Dan sedikit banyaknya itu mengganggu pikiran Aska.


**boleh minta like nya setelah baca??!!**

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2