Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
ekspresi Aska


__ADS_3

Bagaimana jadinya, jika hal yang kita takutkan akan sifat seseorang, malah terjadi pada diri kita. Apa yang harus di lakukan jika orang yang selama ini kita sayang dan kita jaga, malah kita sendiri yang membuat dirinya menangis.


Sama seperti yang terjadi dengan Aska dan Queen. Pasangan yang baru saja menikah dua bulan lalu dan belum memiliki pengalaman tentang kehamilan, membuat keduanya buta akan tanda-tanda kehamilan.


Hampir setiap teman Aska yang mengenal Queen, mengatakan bahwa Aska nantinya akan repot jika Queen gadis manja itu hamil. Sifat dalam kesehariannya yang selalu bersikap manja dan kekanakan membuat mereka menantikan kehamilan wanita muda itu, demi melihat penderitaan sang suami.


Tapi, siapa sangka jika yang terjadi malah sebaliknya. Aska yang tadinya ingin menunda memiliki anak, malah harus merasakan sensasi dari yang biasa kita sebut "ngidam".


Awalnya mereka tidak tahu, tentang perubahan yang terjadi pada lelaki yang selalu bersikap dewasa, kini berubah hampir 180 derajat. Dan anehnya, terkadang ia lupa akan apa yang terjadi padanya beberapa menit lalu. Queen sampai gemas menyikapi perubahan sikap suaminya.


Sampai suatu hari, saat Queen tidak sengaja bertemu Arya di kantin kampus. Arya melihat wajah Queen yang tampak lelah dan putus asa. Arya menghampirinya, bertanya tentang kabar Queen. Melihat perubahan pada raut wajah Queen, Arya juga tak segan bertanya tentang alasan yang membuat semangat wanita yang selalu ia puja, tampak terkuras.


Setelah mendengar penjelasan akan perubahan sikap Aska, akhirnya Arya berinisiatif mengajak Queen bertemu dengan dokter kandungan yang bekerja di rumah sakit milik ayahnya.


Dokter wanita setengah baya itu nampak tersenyum ramah, mendengar setiap kata demi kata yang Queen ceritakan padanya. Queen juga terkejut saat sang dokter bertanya tentang periode menstruasi. Wanita muda itu baru tersadar bahwa dirinya memang sudah telat.


Betapa Queen berharap dengan penuh keyakinan, bahwa nantinya ia akan menerima kabar baik, saat sang dokter meminta Queen melakukan pengecekan melalui alat uji kehamilan. Queen enggan memeriksanya di ruang praktek dokter. Ia ingin melihat hasil tesnya dengan suami terkasih. Andai memang benar mereka akan segera memiliki momongan, Queen akan sangat bahagia, karena mereka berdua lah yang pertama kali mengetahuinya.


Arya yang juga beranggapan bahwa Queen sedang mengandung, ia berinisiatif juga di minta dokter untuk mengantar Queen pulang. Di tambah tenaga Queen yang tampak lelah dan terkuras, Queen menyetujui tawaran dari Arya.


Namun, setibanya mereka di halaman parkir kontrakan Queen. Ia melihat suaminya tengah duduk bersandar pada keramik yang menyekat antara tiap kamar. Queen panik, ia takut Aska akan berfikir yang aneh-aneh, dan malah akan menjadi masalah nantinya.


Arya turun menghampiri Aska. Mengikuti Queen yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


"Sore bang.." Sapa Arya. Awalnya Aska menatap Queen dan Arya tajam, saat mereka berjalan menghampiri dirinya. Tapi Aska tidak ingin bertindak bodoh, ia memilih diam sambil menahan seluruh gejolak dalam hatinya. Aska masih berusaha menyikapi dengan kepala dingin.


"Hm.. dari mana jam segini baru pulang?" Suara Aska tegas, namun pelan. Tidak sampai terdengar seperti keributan.


Queen segera mencium punggung tangan Aska. Tidak ingin membuat lelakinya lebih marah lagi.


"Abis nganter Queen ke dokter tadi."


Aska memicing menatap Queen yang sedang membuka kunci pintu kamarnya.


"Oh, oke makasih. Mau mampir dulu?"


"Engga usah bang, udah sore. Saya langsung pamit aja."


Aska mengangguk. "Makasih ya, masih perhatian sama istri saya."


Queen dan Arya sama-sama terdiam dalam posisinya. Keduanya sama-sama bingung dengan ucapan Aska. Apakah itu kalimat sindiran, atau murni ucapan terima kasih.


Arya yang segera tersadar, mengulas senyumnya. "Sama-sama bang. Saya pamit dulu." Arya berbalik, setelah menjabat tangan Aska.


Dan tanpa menunggu kepergian Arya kembali ke mobilnya, apalagi melihat sampai meninggalkan lahan kontrakan mereka. Aska sudah masuk mengekori Queen yang lebih dulu masuk kedalam. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada Arya.


Queen takut, sangat takut jika suaminya nanti akan salah paham pada ucapan atau raut wajahnya untuk Arya. Ia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Arya sampai ia menginjakkan kakinya ke dalam kamar.


"Kamu sakit apa?"


Tanya Aska. Mereka yang kini dalam kamar tidur, Queen yang sedang sibuk melepaskan segala perlengkapan ke kampusnya tadi dan Aska yang duduk di tepi ranjang. Menatapnya seperti menyelidik.


"Aku nggak sakit apa-apa."


"Terus kenapa kamu ke dokter?"


"Em.. cuma mastiin sesuatu."


"Apa?"


"Belum yakin sih, ini aku baru mau tes. Kita pastiin sama-sama yuk." Ajak Queen. Ia menarik lengan Aska, meminta mengikutinya.


Sebelumnya ia mengambil kantong plastik yang berisi alat uji kehamilan. Yang tadi di berikan oleh dokter untuknya.


"Apaan sih Ra?"


Meski enggan. Tapi Aska menggerakkan kakinya malas, mengikuti langkah Queen ke kamar mandi.


"Mau ngapain sih?" Aska enggan ikut masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"Em.. yaudah mas Aska tunggu disini aja, jangan kemana-mana, tunggu sampe aku selesai, oke?"


Tatapan Queen yang penuh binar di manik matanya, sedikit membuat hati Aska terenyuh. Tapi ia tidak ingin luluh begitu saja. Aska masih belum mendapatkan penjelasan yang lengkap dari kedatangan Arya dan istrinya tadi.


"Hmm." Sahut Aska.


Menunggu Queen yang entah sedang apa di dalam, Aska bersidekap di depan pintu kamar mandi, memasang telinganya lebar dan fokusnya ia tujukan pada setiap suara yang ia dengar dari dalam kamar mandi.


"Ra.. ayo buruan.." Teriak Aska.


"Sebentar lagi.."


"Ngapain sih di dalem lama-lama. Aku pengen makan martabak duren nih. Ayok temenin nyari." Sesekali Aska mengetuk daun pintu kamar mandinya.


Queen yang terkejut dengan ucapan suaminya, langsung membuka pintu, menanyakan tentang ucapannya sekali lagi.


"Apaan mas?" Tanya Queen tak yakin.


"Pengen martabak duren. Kamu lama amat sih. Ngapain?"


"Aku.. hehe.." Queen tertawa, menunjukan deretan gigi putihnya.


"Kenapa?"


"Nggak pa-pa sih mas."


"Kenapa sih Ra, senyum-senyum mulu. Seneng ya abis jalan sama mantan?" Ketus Aska sambil melangkahkan kakinya berbalik menuju kamar.


"Gitu banget sih mas ngomongnya."


Queen ikut ke dalam. Dirinya memang tau hasilnya. Tapi ia masih menunggu momen terbaik untuk menyampaikannya pada sang suami tercinta.


"Oh, jadi kamu pulang cepet karena pengen beli martabak? Tapi mas, mana ada tukang martabak yang buka? Ini baru jam tiga. Siang menjelang sore lho. Biasanya kan abang martabak bukanya abis maghrib?" Queen baru menyadarinya.


"Ya kita cari lah Ra.. Masa kamu jalan sama mantan semangat banget, tapi jalan sama suami sendiri ogah-ogahan gitu."


Aska yang sudah melepas semua seragam dinas yang melekat pada tubuhnya, kini duduk di tepi ranjang hanya menggunakan celana pendek di atas lutut.


"Tapi aku mau ganti baju juga. Ini udah lengket di badan aku."


"Ya udah terserah. Yang penting baju aku sama warnanya kayak kamu."


"Kita kan udah bukan ABG mas. Ngapain sih sama-samaan segala?"


"Biar semua orang tau, kalo kamu punya aku. Bukan punya Arya. Mantan kamu!"


Lebay banget dah ah!!


Queen mengambil pakaian yang sama untuk dirinya juga Aska. Setelah mereka rapih dengan pakaiannya masing-masing. Queen meminta Aska untuk mengambil video bersamanya.


"Ngapain di video segala? Kaya ABG aja sih Ra." Aska mengulangi ucapan Queen tadi.


"Aku cuma pengen 'say helo' sama seseorang nantinya."


"Siapa lagi?"


"Ada deh.." Queen memulai rekaman mereka. Meski Aska menolak, tapi ia berusaha senyum saat Queen menyebut namanya.


"Hai.. calon bunda sama calon ayah udah rapih nih, pake baju samaan segala, kayak seragam mau jalan-jalan.. haha.. kita mau nyari makanan yang nggak akan mungkin kita temuin di siang hari.. tapi nggak masalah.." Queen menarik tangan Aska. Membuat lelaki itu memeluk wanitanya dari belakang. Tak lupa Queen mengusap telapak tangan Aska di atas perut Queen yang masih datar. Aska tidak mengerti maksud Queen. Ia hanya mengikuti setiap gerakan yang di arahkan wanitanya.


"Demi calon buah hati yang mulai hadir di perut bunda.."


Kalimat terakhir Queen yang pelan, namun mampu menusuk pendengaran Aska.


Lelaki itu seketika menatap Queen dari samping. Membuka matanya lebar-lebar. Ia terkejut, terkesima dengan ucapan wanitanya.


"Apa Ra?"


"Kamu bakal jadi ayah sebentar lagi mas.." Senyum Queen kian mengembang, melihat ekspresi suaminya.

__ADS_1


"Yang bener? Jangan mainin aku Ra.. ini bukan sesuatu yang bisa buat main-main."


"Aku serius mas.."


Queen menunjukan hasil tes nya pada Aska. Yang membuat lelakinya semakin terperangah.


Tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibir Aska. Ia hanya diam memandangi alat uji kehamilan di tangannya.


Perlahan, ia berlutut di hadapan Queen. Mensejajarkan pandangannya pada perut wanitanya. Aska membuka baju Queen sebatas perut. Ia mengusap pelan dan lembut perut datar Queen. Seraya mengecup beberapa kali di atasnya.


"Selamat datang calon buah hati ayah.." Ucap Aska. Sekali lagi ia kecup perut Queen. Lama. Ia mencoba mencurahkan segala keterkejutannya atas kehadiran malaikat kecil dalam perut Queen.


Aska bangkit. Memeluk wanitanya dengan penuh haru. Air mata Aska bahkan sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Makasih Ra.. Kamu berhasil bikin kejutan buat aku." Cium Aska di pipi Queen. "Sebentar lagi kamu bakalan repot banget karena perbuatan aku." Aska masih memeluk tubuh Queen erat. Ia takjub. Bagaimana gadisnya yang manja dulu berubah menjadi wanita yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya. Apalagi kini ia harus menjaga nyawa yang ada dalam perutnya. Yang selalu akan ia bawa kemanapun selama sembilan bulan, dalam usia yang masih muda.


Aska tak pernah membayangkan sedikitpun. Bahkan sejak ia memutuskan akan menikahi Queen, Aska tidak berfikir akan segera memiliki momongan. Ia masih berharap Queen menikmati masa mudanya, agar tidak ada kata penyesalan di tengah perjalanan mereka.


Tapi kini, Queen yang berharap memiliki buah hati. Ia tak ragu untuk melepas masa mudanya demi si kecil yang nantinya selalu mengganggu tidurnya, mengikutinya kemanapun, tanpa mengenal waktu atau kondisi apapun. Si kecil itu yang nantinya akan menemani Queen selama Dua puluh empat jam dalam tujuh hari. Selama ada atau tidak ada suami di sisinya.


Aska melepas pelukannya, menangkup pipi Queen dan menyeka air mata wanitanya.


"Ra.. apapun yang kamu mau, kamu harus ngomong sama saya. Cuma sama saya. Jangan sampe minta sama orang lain. Apalagi alasannya cuma karena takut ganggu saya. Waktu saya seluruhnya buat kamu. Oke?" Titah Aska tegas.


Queen mengangguk setuju. Rasa senangnya begitu membuncah, sampai ia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya diam menerima pelukan erat suaminya.


"Aku seneng banget Ra dengernya." Ucap Aska lirih di samping telinga Queen.


Benarkah? Ini bukan pura-pura kan? Soalnya, kemarin Aska menentang keras saat Queen mengungkapkan keinginannya pertama kali. Aska bahkan punya seribu alasan untuk menolak permohonan Queen. Tapi hanya dengan kalimat Queen yang bilang, akan iri pada Arya jika dia yang lebih dulu memiliki anak dengan pasangannya, Aska langsung mengangguk setuju dengan harapan Queen.


Aska bahkan tak pernah absen untuk selalu menanamkan benihnya di rahim Queen. Selalu berharap mereka akan segera berhasil.


"Kamu pengen apa Ra sekarang?" Tanya Aska antusias.


"Aku belum pengen apa-apa"


"Oh.. ya udah. Kalo gitu kita beli yang aku mau dulu ya.. nanti kalo ada yang kamu mau, langsung ngomong sama aku ya Ra!"


"Oke."


"Eh, tapi, katanya ibu hamil nggak boleh kecapean, apalagi kamu masih hamil muda ya Ra.." Aska berfikir sejenak. "Kamu tunggu di rumah aja deh. Biar aku yang beli sendiri."


'Beli sendiri? Yakin banget bakal ketemu? Dalam hati Queen.


Aska beranjak keluar, setelah mencium kening Queen dan mengucapkan salam. Tak lama, Aska kembali.


"Tapi Ra.. yang nemenin aku siapa? Masa aku sendirian di jalan. Bete banget nggak ada kamu." Rengek Aska.


"Ya udah aku ikut."


"Tapi kamu kan harus istirahat.. kamu di rumah aja deh, aku minta temenin Rendi."


"Iya."


"Tapi Ra.. masa aku sama Rendi sih. Istri aku kan kamu. Entar Rendi ngira kita lagi berantem. Terus dia mulai ngedeketin kamu. Nggak jadi sama Rendi deh."


"Mas.." Panggil Queen lembut. Ia menyentuh pipi suaminya yang sedang gusar.


"Aku ikut! oke?" Tatapan Queen intens. "Aku nggak pa-pa selama kamu bawa mobilnya santai, nggak ngebut dan nggak bikin aku jantungan. Itu nggak akan berpengaruh sama baby kita.." Jelas Queen.


Aska Kembali terpukau dengan ucapan Queen. Gadisnya benar-benar sudah berubah menjadi wanita dewasa di matanya.


"Oke. aku bakalan pelan-pelan bawanya." Janji Aska.


Dengan senyum, Queen menatap setiap raut wajah yang tercetak pada suaminya.


Semoga kebahagiaan ini abadi untuk selamanya..


Yah.. siapa yang tahu. Kerikil selalu ada di setiap jalan yang bahkan bebas hambatan sekalipun.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2