Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
izin Queen


__ADS_3

Orang bilang, pernikahan di bawah usia lima tahun adalah masa-masa yang paling rawan. Bukan hanya tentang emosi kedua belah pihak yang masih labil, juga karena menyatukan dua pemikiran dalam satu atap, tidaklah mudah. Banyak hal yang hanya di sukai satu belah pihak dan yang lainnya tidak begitu menyukainya. Maka adu pendapat atau argumen akan selalu mewarnai keseharian mereka.


Meskipun kepada dua orang yang saling menyayangi dan mencintai, stigma itu masih tetap berlaku. Dan hukum karma dari sikap dan perilaku yang pernah kita lakukan entah itu baik atau buruk, tetap akan datang dan memberi kita balasannya.


Menyangkut masalah mereka sebelumnya, Queen tidak hentinya memikirkan sikap dirinya pada mantan kekasihnya dulu, Arya. Ia takut karma sedang melandanya. Jujur saja, Queen tidak ingin kehilangan Aska. Pria itu terlalu hebat untuk Queen lepaskan. Queen juga sudah terlanjur merasa nyaman hidup bersama suaminya itu. Meski cobaan baru saja menghampiri rumah tangga mereka.


Setiap kali melihat tempat cincin pemberian Arya yang ia simpan di atas meja riasnya, Queen merasa selalu rindu dan ingin selalu menemuinya. Satu-satunya mantan pacar yang ia punya. Maka dari itu, Queen memberanikan diri untuk meminta ijin pada Aska.


Seperti biasa, setiap sebelum berangkat, Queen akan menyempatkan sarapan bersama sang suami. Meskipun kerjaan dan tugas kuliahnya masih banyak.


"Mas.." Panggil Queen.


Ia sebenarnya agak takut membicarakan masalah ini pada sang suami.


"Apa?"


"Em.. hati kamu suasananya lagi baik atau gimana?" Queen memilih mencari aman. Ia tidak mau jika rumah tangganya terkena ujian lagi.


"Kenapa emang?" Aska memicing, menatap Queen dengan penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Aku sih ada sesuatu yang pengen aku sampein mas. Tapi, takut bikin mood kamu jelek." Queen tertunduk.


"Oh.. yaudah, kalo gitu enggak usah ngomong." Aska menenggak minumannya sampai tandas tak tersisa.


"Kok gitu?"


"Iyalah, kalo menurut kamu itu ngerusak mood aku, ya, mending nggak usah ngomong." Aska bangkit dari duduknya. Bahkan sarapannya pun tidak ia habiskan.


Queen hanya diam memandangi suaminya yang terus bergerak dari satu sisi ke sisi lain, mengenakan jaketnya, sepatunya, lalu meminta Queen menghampirinya dengan kode.


"Mau berangkat sekarang mas? Kan masih ada waktu sebentar lagi." Lirih Queen.


"Sini dulu kamunya."


Ya, Aska sudah berada di depan pintu, siap untuk meluncur. Tapi Queen tidak juga menghampirinya.


"Sini dulu Ira. Gimana aku bisa tau apa yang kamu mau, kalo kamu nggak mau deket aku."


Queen sadar, Aska sudah memberikan lampu kuning. Tinggal cara pemilihan katanya saja, agar tidak berubah menjadi lampu merah lagi.

__ADS_1


Queen berdiri, menghampiri suaminya dengan senyum mengembang. Ia memeluk Aska sambil bergelayut manja.


"Aduh... calon bunda, masih manja aja." Aska mengusap rambut Queen lembut, setelah mengecup sekali pucuk kepala wanitanya. Ia lalu menangkup kedua pipi Queen. Meminta Queen membalas pandangannya.


"Ngomongnya nanti aja ya Ra, abis aku pulang kerja. Biar lebih banyak waktunya buat kita bicara nanti. Oke?" Melihat Aska yang tersenyum, Queen juga mengangguk, membalas senyuman manis suaminya.


"Oke. Makasih ya mas." Queen kembali merapatkan wajahnya pada dada bidang Aska. "Sayang deh sama kamu."


"Aku juga."


Queen melepaskan pelukannya.


"Aku berangkat dulu ya Ra, biar cepet pulang nanti."


"Oke." Queen mencium punggung tangan suaminya, "Hati-hati di jalan ya mas. Jangan mampir mampir lagi lho!"


"Iya. Kamu juga hati-hati nanti kalo ke kampus."


Queen mengangguk, memperhatikan suaminya dan melambaikan tangannya hingga lelakinya tidak terlihat lagi.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2