
"Mas Askaa.." Queen menghambur memeluk Aska dari belakang, saat lelaki itu tengah berdiri mencuci piring. Kepala Queen menengok dari samping, mencari wajah kekasihnya.
Aska tersenyum, menanggapi sikap manja Queen. "Aku mau ke rumahnya Rindi dulu ya.." Pamit Queen, masih memeluk Aska.
"Nanti, abis saya selesaiin ini dulu." Jawab Aska.
"No, no, no.." Queen menggeleng. "Aku bisa jalan sendiri ko."
Aska menghentikan gerakannya, merangkul bahu Queen dari samping. "Tunggu saya sebentar, oke?" Queen mencebik, kemudian mengangguk setuju. Membuat kekasihnya tersenyum lalu mengecup kening Queen sebentar.
Queen melepaskan pelukannya, bergeser ke sebelah Aska. "Ibu kapan dateng mas?" Tanya Queen, sambil mengamati gerakan tangan lelakinya.
"Eem, lagi di jalan sih, paling abis maghrib sampe lah.. kamu harus pulang sebelum Ibu sampe ya!" Tegas Aska, Queen melirik jam di tangannya.
"Ini udah jam 4, kalo mas Aska anterin aku, nanti aku jadi cuma sebentar dong di rumah Rindinya. Aku kan kangen dia mas.." Rengekan Queen tetap tak bisa membuat hati Aska mengiba. Ia malah tersenyum gemas.
"Ngapain lama-lama disana? Lagian, biasanya juga dia yang kemari." Aska menyelesaikan piring terakhirnya, membilas lalu mencuci tangannya sendiri.
"Sebentar ya, saya ganti baju dulu." Tutur Aska, berbalik menuju kamar.
"Tuh kan, jadi lama." Queen megekori Aska. Tetapi ia berjalan lurus hingga ke sofa.
Lelakinya masih melarang Queen untuk melihat dirinya yang berganti pakaian.
"Mas Aska jadi protektif deh sekarang." Queen mencebik, menarik-narik tali tas yang ia kenakan.
"Saya cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa." Di cubitnya pipi Queen sebentar. "Udah ayok jalan. Jangan ngambek mulu."
Queen segera berdiri, menghampiri Aska yang sudah bertengger di atas motor.
Ya, memang setelah kepulangan mereka dari Bandung dua minggu yang lalu, sikap Aska lebih banyak berubah. Aska sudah tidak ragu melarang gadisnya untuk pergi main, atau mengantar kemana Queen akan main, dan jemput setelah Queen selesai hang out bersama temannya.
Awalnya Queen suka, lama kelamaan dia menjadi tidak leluasa. Tapi mau gimana lagi, Queen sudah tidak bisa menolak setiap ucapan atau titah kekasihnya.
Besok adalah hari dimana Queen dan Aska akan menjalani sidang wanjak. Dimana, setiap anggota kepolisian wajib menjalani sidang ini saat akan mengajukan pernikahan.
Karena itu, Ibu dan mama Queen akan datang sebagai pendamping calon pengantin. Ibu Aska akan datang sore ini, sedangkan mama Queen akan bertemu besok di tempat yang sudah ditentukan.
"Nanti kalo udah mau pulang kabarin saya ya." Titah Aska, sesampainya mereka tepat di depan kediaman Rindi.
"Aku bisa pulang sendiri mas Aska.." Rengek Queen sekali lagi. Ia masih berharap, hari ini Aska akan memberi perlakuan khusus, yaitu sedikit kebebasan.
"Enggak! Kamu nggak boleh pulang sendiri." Aska mengusap rambut Queen lembut sebelum pandangannya beralih kearah Rindi. "Saya langsung pulang ya Rin. inget! Jangan kasih Queen pulang kalo saya belom dateng." Ultimatum Aska. Membuat Rindi dengan cepat menganggukkan kepalanya, dan membuat huruf O dari ibu jari dan telunjuknya .
Seiring suara motor Aska yang semakin tak terdengar, Queen dan Rindi masuk ke dalam sambil mengobrol santai.
"Mas Aska lu jadi posesif gitu Queen, emang lu betingkah apa lagi?" Rindi yang tau betul, bagaimana sikap dan kelakuan Queen tak segan langsung bertanya, menghilangkan rasa penasarannya sejak beberapa hari lalu.
"Em, ga ngerti gua juga." Queen seperti berfikir. "Mungkin, karena gua ke Bandung sendirian kali ya?" Queen memang kurang yakin, apa yang membuat sifat lelakinya menjadi berubah.
"Harusnya lo ajak gua kalo mau ke Bandung. Lagian ngapain sih lu kesono sendirian? Takut gua ngeganggu gitu?" Oceh Rindi.
Mereka sudah berada di dalam kamar Rindi, hanya ada mereka berdua dan satu asisten rumah tangga di kediaman Rindi saat ini.
"Iya ya.." Queen mendudukkan tubuhnya di atas kasur. "Lu kan yang nyomblangin gua sama mas Aska. Harusnya lu yang ada di garda depan, kalo ada apa-apa sama hubungan gue."
"Enak aja lu ngomong!" Rindi memukul lengan Queen kencang, membuat Queen mengusapnya kesakitan. "Lo kira gua penjaga perbatasan, kalo ada perang gua duluan yang kena." Rindi mencebik, merebahkan tubuhnya di atas kasur depan Queen.
"Ortu lu kemana Rin, sepi aja." Queen ikut membaringkan tubuhnya di sebelah sahabatnya itu.
"Bokap masih di kantor, nyokap gue lagi arisan, gua abis pulang kondangan, bibi gue lagi masak, pacar gue sibuk gara-gara ngurusin orang yang mau nikahan bentar lagi." Queen memicing, menatap Rindi tajam.
"Gua cuma nanya ortu lu, kenapa jadi banyak banget jawaban lu." Rindi malah tertawa mendengar ucapan Queen, begitu pula dengan Queen.
Sudah lama rasanya Queen tidak bertandang ke tempat Rindi, selama dirinya sibuk dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi imam di hidupnya.
Apa yang biasa di lakukan oleh dua orang gadis yang sudah berteman sejak lama? Meski hanya berbaring sambil bercerita tentang kejadian kecil yang mereka lalui, atau membahas lagu favorit mereka masing-masing, setidaknya itu bisa membunuh waktu menjadi sangat singkat.
Rasanya baru saja Queen merebahkan tubuhnya, sambil tertawa mengejek Rindi dengan pacarnya. Tapi, suara klakson Aska sudah terdengar, membuat asisten rumah tangga Rindi berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Rindi.
"Maaf, mbak, si mas nya udah nungguin di luar." Tutur bi Inah, asisten rumah tangga Rindi.
__ADS_1
Queen membuang nafasnya jengah, sedangkan Rindi malah tersenyum.
"Gila. Gua berasa jadi anak Tk tau nggak sih lo. Besok-besok kita janjian kalo mas Aska lagi dinas aja lah. Biar nggak jadi anak Tk gue." Meski merutuki nasibnya karena sikap Aska, tapi Queen tetap menuruti semua titah Aska.
"Emang waktu lu Tk, ortu lu kayak dia, mau anter jemput? Bukannya dulu lu hampir jadi anaknya asisten rumah tangga nyokap lu?" Ejek Rindi, sekaligus mengingatkan. Tapi Queen tidak marah dengan ucapan Rindi yang memang benar seperti kenyataannya.
Queen dan Rindi saling tertawa, sampai mereka berada di depan pintu rumah Rindi, dimana sudah ada Aska yang menantinya.
"Baru juga sebentar mas aku disini." Rengek Queen
"Iya maaf, besok kan bisa main lagi. Ya kan Rin?" Aska meminta persetujuan Rindi. Rindi mengangguk dengan senyum.
"Sekarang kita pulang dulu, Ibu bentar lagi sampe, saya juga belum siapin makanan buat Ibu makan malem." Suara lembut Aska membuat Queen luluh dan mengerti. Memang benar jika Aska mengatakan maaf. Bukan sekedar kata maaf yang Queen dengar, Queen juga turut merasakan penyesalan atas sikap Aska kali ini.
"Pamit dulu ya Rin, makasih udah bikin Ira saya ketawa kayak tadi." Rindi dan Queen melongok, penuturan Aska yang di luar prediksi, membuat hati Queen berdesir hangat.
"Iya sama-sama mas Aska. Hati-hati di jalan ya." Jawab Rindi, melambaikan tangan pada dua orang yang sedang berbahagia.
Queen dan Aska melesat cepat dengan motor Aska. Jarak rumah Rindi sekitar 20memit, tanpa ada halangan macet. Karena itu, Aska menjemputnya sebelum jam 6. Apalagi mereka harus membeli makanan untuk makan malam nanti.
"Mau beli apa mas buat Ibu?" Tanya Queen, suaranya samar, karena angin yang kencang.
Aska hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak tau. Bukan hanya suara angin yang mampu meredam obrolan mereka, tetapi juga karena mereka yang sama-sama menggunakan helm, membuat Queen tidak bisa merapatkan kepalanya ke arah Aska.
Hingga saat Aska melajukan motornya pelan, dan berhenti tepat di depan tukang sate. Queen turun lebih dulu, membuka helmnya dan memberikannya kepada Aska.
"Kita beli sate sama soto aja lah, biar Ibu bisa makan. Kamu mau kan?" Aska meminta pendapat Queen sebelum mereka berdua memasuki kedai di depannya.
"Mau. Lagian, kita udah berenti di sini juga, enggak enaklah kalo nggak jadi beli." Aska tersenyum, merapikan rambut Queen yang sempat kusut karena angin.
Aska masuk lebih dulu, dan Queen mengekorinya. Sampai Aska memesan makanannya, Queen duduk di bangku dalam kedai.
"Mas Aska." Panggil Queen pelan.
"Hng?" Aska menatap Queen. "Kenapa?"
"Ibu nginep berapa hari?" Tanya Queen pelan.
"Kenapa adik kamu enggak ikut? Kasian kan di rumah sendiri. Terus Ibu kamu kesini sama siapa?" Queen mulai antusias.
"Nanti, kalo akad nikah, baru dia dateng. Ibu kesini sama Zaki. Jadinya besok sore Ibu langsung pulang lagi ke Semarang." Jelas Aska. Mendengar nama Zaki di sebut, Queen semakin antusias.
"Zaki ikut kesini. Asiik.."
"Kok asik?" Aska tak suka. Aska lalu menatap Queen yang duduk di hadapannya dengan intens. "Dengar ya Ra.. nggak ada laki-laki lain yang harus kamu tunggu kedatangannya. Selain suami kamu nantinya." Tegas Aska.
"Iya ngerti." Queen mencebik.
"Nggak suka?"
"Enggak suka!"
"Kenapa?"
"Soalnya nanti malem aku tidur sendirian."
"Apa?" Aska meminta Queen mengulanginya lagi, ia tidak yakin dengan pendengarannya tadi.
"Gimana Ra? Tadi apa kata kamu?" Desak Aska.
Queen berdecak malas. "Nanti malem aku tidur sendirian dong mas?" Suara Queen manja.
Mendengar suara rengekan Queen yang seperti itu, membuat Aska merasa lucu. Aska mengusap rambut Queen lembut, sambil menatapnya intens.
"Cuma semalem doang Ira.. sabar ya.." Aska terkekeh. "Emang kamu mau, kita kelonan di depan Ibu? Emang nggak malu?" Tanya Aska sedikit meledek.
"Aku enggak malu, kalo mas Aska nya berani."
"Iya bener.. sekarang saya belom berani. Tapi nanti, kalo kita udah sah, nggak akan saya biarin kamu tidur sendirian, meski pun banyak tamu di rumah. Oke?" Aska meyakinkan Queen yang masih merajuk. Dia menyesal, harusnya Aska membiarkan Queen menginap di rumah Rindi. Saat-saat mendebarkan seperti ini, rasanya Queen butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Aska menerima pesanan makanannya yang sudah jadi, menggandeng tangan Queen keluar dari kedai.
__ADS_1
"Nanti sebelum tidur, saya sempetin nengok kamu sebentar ya.." Ucap Aska sebelum membawa motornya kembali melesat di tengah jalan.
***
Tidak lama setelah mereka sampai, Ibu Aska yang sudah di nanti sejak tadi, akhirnya sampai. Queen yang sudah berada di kamarnya sendiri, mengganti pakaian yang lebih sopan dan kasual.
Aska menyambut kedatangan Ibunya, sebelum ia memanggil Queen ikut datang ke kamarnya.
"Assalamualaikum Ibu.." Sapa Queen, mencium punggung tangan Ibu Aska.
"Wa'alaikumsalam ndok.." Ibu Aska tersenyum. "Dari mana cah ayu?" Suara lembut Ibu Aska terdengar merdu dan menyenangkan hati Queen.
"Aku, di kamar aku tadi." Queen menjawab pertanyaan Ibu Aska, sebelum menyalami tangan Zaki yang sudah menanti.
"Hai Zaki.." Baru saja Queen merapatkan tangannya pada Zaki, Aska langsung melepaskan jabatan tangan mereka, membuat Zaki mendumal dan berlalu ke belakang. "Pelit!" Tuturnya.
"Ayok, kita makan dulu, abis itu Ibu harus istirahat." Ajak Aska, ia membawakan makanan yang tadi mereka beli, menatanya di atas piring lalu di letakkan di meja depan tv.
"Ayok ndok, ikut makan. Biar rame." Ibu Aska menarik tangan Queen, agar lebih dekat dengannya.
Queen tersenyum, acara makan pun berlanjut, dengan Zaki yang memimpin doa sebelum makan.
Wanita paruh baya yang lebih dari 8jam berada di dalam mobil selama perjalanannya, membuat Aska memintanya dengan tegas untuk segera beristirahat.
"Masih belom malem kali mas, masa udah di minta tidur aja." Queen masih ingin berbincang dengan Ibu Aska, juga Zaki.
Aska sama sekali membatasi Queen berinteraksi dengan Zaki. Setelah Ibu nya hendak tidur, Aska meminta Queen pulang dan beristirahat juga.
"Biarin aja sih mas, mbak Queen nya disini. Aku masih pengen ngobrol juga." Pinta Zaki kesal dengan sikap kakak sepupunya.
"Enggak. Ntar Ibu ke ganggu. Kamu juga harus istirahat, besok kan harus balik lagi ke Semarang." Aska tegas.
"Udah di sini juga, masih nggak boleh deket-deket sama mba Queen. Pelit dasar." Rutuk Zaki sekali lagi.
Queen tersenyum, melambaikan tangannya pada Zaki, karena Aska yang terus memintanya untuk segera pulang.
Malam semakin larut, saat Queen sudah pulang sejak tadi, dan Aska menjadi tidak tenang.
Ibu Aska sudah terlelap, tapi belum dengan satu orang yang tadi ikut bersamanya. Aska sebenarnya sudah memaksa Zaki untuk tidur, entah kenapa, bocah belom dewasa itu enggan untuk memejamkan matanya, membuat Aska semakin jengkel.
Semakin gusar saat Aska melihat jam dindingnya. Sudah lewat sebelas malam, tapi gadisnya masih terlihat online dalam chat.
Aska mengusap wajahnya kasar. Tak tahan lagi. Entah sudah berapa banyak chat yang ia kirim, memerintahkan Queen segera mematikan ponselnya. Queen jawab sebentar lagi, sebentar lagi, sampai beberapa jam terus berlalu.
Aska bangkit dari duduknya, membuat Zaki terkejut.
"Mau kemana mas? Udah malam." Tegor Zaki.
"Mau keluar dulu, kamu harus tidur sebelum saya balik. Denger?" Kenapa Aska sekarang suka sekali memerintah.
Aska menutup pintu kamarnya, beralih menuju pintu kamar Queen. Tanpa permisi tanpa mengetuk, Aska langsung membuka daun pintu kamar Queen. Dan menutupnya kembali dengan pelan.
"Kenapa belum tidur?" Tegas Aska dekat ranjang kasur Queen.
Queen yang sedang menonton drama Korea di ponsel, sembari sesekali membalas pesan Rindi juga Arya. Sedikit terkejut mendapati Aska yang sudah berdiri di dekatnya.
Aska mengambil ponsel Queen dengan paksa. Meletakkannya di atas meja dekat kasur.
"Ayok tidur saya temenin sebentar." Aska ikut masuk, merebahkan tubuhnya dalam selimut dekat Queen.
"Satu episode lagi tau mas.." Rengek Queen tak terima.
"Besok lagi, udah malem. Besok kesiangan nanti."
"Mas Aska aja masih keluyuran." Sangkal Queen.
Aska tak percaya dengan jawaban Queen. Ia lalu mendekatkan bibirnya dengan Queen. Mencium bibir gadis itu sebentar. lalu mengecup kecil beberapa kali.
"Dari tadi pinter banget sih nih ngomongnya." Tutur Aska, Queen yang malu lalu masuk kedalam pelukan Aska.
"Dah tidur, saya temenin." Aska mengusap rambut belakang Queen, hingga gadisnya tidak lagi bergerak, dan bernafas teratur.
__ADS_1