Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
isi dua hati


__ADS_3

Queen merasa cemas, setiap menit yang ia lalui ketika menunggu suaminya pulang. Meski fokusnya sudah ia coba alihkan dengan melihat drama Korea, tetap tak bisa mengalihkan rasa cemas di hatinya.


Pemilihan kata seperti apa yang harus ia sampaikan agar Aska tidak salah paham lada maksud dan tujuannya untuk bertemu pada Arya. Queen sangat paham, jika Arya adalah satu-satunya lelaki yang mampu membuat hatinya merasa resah tapi tak mampu ia ungkapkan, karena rasa sungkannya.


Di tengah kegelisahannya, Queen akhirnya mendengar suara deru mesin motor suaminya. Cepat-cepat Queen membukakan pintu demi menyambut kepulangan suaminya.


Aska menatapnya dari balik helm yang masih ia kenakan. Melihat sosok wanita pemilik hatinya, berdiri sambil tersenyum menyambut kepulangannya adalah hal terindah dan luar biasa yang akan selalu Aska rindukan setiap kali pulang ke kediamannya.


"Hai mas.." Sapa Queen, mencium punggung tangan suaminya.


"Hai.." Aska mencium kening Queen, kemudian mengajaknya masuk ke dalam.


Aska memilih duduk sejenak di sofa, menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


"Capek banget ya mas?" Queen kembali dari dapur, setelah mengambil teh hangat buatannya sesaat sebelum suaminya pulang.


"Minum dulu mas.."


Aska menerimanya dengan senyuman. "Makasih ya Ra." Queen mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kamu mau mandi dulu, atau mau makan dulu?" Tawar Queen.


"Mandi dulu ah, biar seger."


"Oke."


Aska mencopot semua perlengkapan dinasnya yang ia kenakan. Kemudian beranjak ke dalam. Namun belum sampai pintu dapur, ia memanggil nama Queen.


"Ra.."


"Kenapa mas?" Queen datang menghampiri suaminya yang masih berdiri menunggu dirinya.


"Temenin aku mandi dong Ra." Aska memeluk tubuh Queen dari belakang. Memaksanya melangkah maju sambil terus melingkarkan tangannya dari belakang.


"Ada-ada aja deh kamu mas."


"Nggak pa-pa lah Ra, mumpung anak kita belum lahir, jadi kita harus punya waktu berduaan lebih banyak." Aska menghentikan gerakannya di depan pintu kamar mandi, lalu mencopot semua pakaian yang ia kenakan, memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.


"Hayok Ra."


"Ha? Yang bener aja apa mas," Queen masih enggan untuk ikut masuk.


"Aku pengen di gosok punggungnya sama kamu. Sekalian kita bahas yang kamu mau bicarain tadi."


Aska tak lagi mau ada penolakan. Tak perduli dengan Queen yang masih mengenakan pakaian, ia tetap memaksa istrinya untuk masuk. "Kamu udah mandi apa belum?"


"Aku udah mandi tadi mas, nanti kalo baju aku basah terus aku demam gimana?"


"Nanti aku rawat kamu sampe sembuh." Aska menutup pintunya. Mengunci Queen di dalam bersama dirinya.


Queen sedikit menyingkir ketika Aska mengguyurkan air dari atas kepalanya. Queen masih enggan untuk terkena basahan. Melihat Aska duduk bersila di lantai kamar mandi, Queen turut duduk di bangku kecil yang biasa ia gunakan untuk mandi.


Aska tersenyum merasa nyaman. "Ayok, coba kamu ngomong, apa mau kamu tadi?" Queen terdiam sebentar.


"Mas, kamu nggak niat ngurung aku di dalam sini kan?" Queen mencari wajah suaminya dari samping.


"Haha.. ya enggaklah Ira. Emang kamu kira aku udah gila apa." Aska tergelak sebentar. "Makanya sengaja aku minta kamu temenin aku tuh, soalnya biar kita tetap adem biarpun kemauan kamu aneh-aneh nantinya."

__ADS_1


"Enggak aneh-aneh kok mas."


"Yaudah, buruan ngomong. Emang kamu mau disini lama-lama?" Aska berbalik sebentar-sebentar, mengusap pipi Queen dengan ibu jarinya.


"Em... aku mau ketemu Arya mas, sebentaaar aja. Boleh nggak?" Queen mengucapkannya seraya menunduk dan tangan yang terus mengusap pelan di punggung Aska.


"Mau ngapain?" Jawab Aska datar.


"Nggak tau,aku ngerasa aku butuh ketemu dia."


"Hemm.. bukan karena kamu mau cerita tentang kelakuan aku yang kemaren kan Ra?" Aska enggan menoleh kebelakang. Ia juga tertunduk, merasakan sudut hatinya berdesir ngilu. Ada rasa takut yang ia rasakan.


"Enggak. Aku kan udah ijin cuti tadi, mungkin aku sama dia bakalan susah ketemu."


"Emang kenapa kalo kamu nggak ketemu dia lagi?"


"Aku ngerasa, aku masih ada salah sama dia mas."


"Ra.." Aska berbalik menatap wanitanya. "Dengerin saya ya Ra, hubungan kita itu mungkin awalnya karena waktu yang salah, tapi nggak ada yang salah sama yang namanya perasaan. Nggak ada perasaan yang bisa dipaksain. Kalo kamu selalu ngerasa kayak gitu setiap kita ada masalah, hubungan kita nggak akan bisa maju Ra. Hidup kamu juga bakalan susah lihat hikmah di balik semuanya." Aska mengucapkannya dengan perlahan.


"Tapi mas-"


"Jadi kamu udah ngerasa nyesel sekarang?" Tatapan Aska menelisik kedalam manik mata Queen. Menerawang nya mencari jawaban yang sejujur-jujurnya dari Queen.


Queen tertunduk.


"Berati kamu belum bisa maafin kesalahan saya sepenuhnya ya Ra?" Queen masih tertunduk, Aska menarik ke atas dagunya, meminta Queen menatap matanya. "Jawab saya Ra, biar saya bisa kasih keputusan."


"Aku nggak tau mas." Tubuh Queen bergetar menahan air mata yang akan jatuh.


"Tapi saya nggak bisa ninggalin kamu berduaan sama dia Ra, saya nggak mau ambil resiko."


"Enggak mas, aku juga pengennya ada kamu disana. Aku nggak mau kamu salah paham." Queen mulai bersemangat.


"Oke. Kalo gitu, besok kan aku libur, kita ketemu dia. Tapi kamu harus kabarin dia dulu. Aku nggak mau ngerusak jadwal rencana orang."


"Oke mas.." Queen sudah mendapatkan lampu hijau. Betapa senang dan lega hatinya kini.


"Yaudah, kamu tolong siapin baju aku ya Ra, aku mau ngelanjutin mandinya sendiri." Aska mengecup bibir Queen, lalu melumatnya sebentar. Barulah ia membukakan pintu yang tadi ia kunci.


Setelah Queen tidak ada di sampingnya lagi, Aska merasa ada yang meremat hatinya kuat-kuat. Hati perempuannya sudah tidak utuh lagi, kepercayaannya memang sulit di dapat. Sekali ia kehilangan mungkin memang masih bisa kembali, tapi tidak mungkin dalam keadaan utuh. Itulah hal yang Aska dapat pelajari dari apa yang telah ia lakukan.


Mengambil keputusan tanpa kompromi dulu, apalagi ia menutupnya dan menjalankan rencananya sendiri, tanpa memberitahukan satu hati yang ia tengah lindungi. Siapa sangka, benteng ia coba bangun demi memberikan kebutuhan yang layak bagi pasangannya, malah membuat apa yang sudah ia bangun susah payah, runtuh dalam sekejap mata.


Aska memang tidak kehilangan sosok Queen. Masih bisa melihatnya tersenyum menanti kehadirannya pulang. Tapi Aska kehilangan separuh hati Queen. Yang artinya sama saja kehilangan separuh kepercayaan tentang dirinya.


Memikirkannya membuat kepala Aska yang masih basah menjadi panas. Maka ia menyiramnya berkali-kali tanpa henti. Berusaha menetralkan kembali suasana hatinya. Ini semua salahnya, maka ia sendiri yang harus menyelesaikan semuanya.


Karena itu, Aska berjanji akan bersikap lebih baik kepada Queen, meskipun sebelah hatinya menolak menerima permintaan istri tercintanya itu.


***


Kau.. menyisakan tangis,


pertengkaran semalam di antara kita


kini, ku harus berdiri di tepian hatiku

__ADS_1


bimbang tuk memilih..


kau harus tau,


dalam hatiku bergetar


waktu ku tau


kau terluka saat aku,


buatmu menangis


buatmu bersedih


ingin ku memelukmu


dan ucapkan maaf, maafkan aku..


maafkan aku,


maafkan aku..


Aku, aku pun mencoba


tuk beri yang terbaik


untuk kau miliki


kini, kau harus berdiri


di tepian hatimu


bimbang tuk memilih.


kau harus tau


dalam hatiku bergetar


waktu ku tau


kau terluka saat aku..


buatmu menangis


buatmu bersedih


ingin ku memelukmu


dan ucapkan maaf,


maafkan aku..


maafkan aku..


maafkan aku..


🙃🙃😉

__ADS_1


__ADS_2