
"Mas..." Queen melambaikan tangannya di depan wajah Aska. Semenjak turun dari mobil tadi, Lelakinya itu seperti tidak pada jiwanya. Aska tetap membantu Queen membukakan pintu mobil untuknya, tetap menggenggam tangan Queen selama berjalan sampai di depan pintu rumah, tetapi tidak satu katapun yang ia ucapakan, bahkan lirikan matanya saja sama sekali tidak tertuju pada Queen.
Astaga!
Apa yang salah pada suaminya. Apakah Queen mengucapakan kalimat yang salah? Queen berusaha mengingat kembali percakapan mereka selama di dalam mobil. Tapi Queen tetap merasa tak ada yang salah dengan perkataannya.
"Mas Aska!" Queen menyentak tangan lelakinya, membuyarkan lamunan Aska seketika.
"Kenapa?" Tanya Aska santai.
"Kamu itu, ih.. ngeselin deh.." Queen mencebik, tanpa sadar ia menjatuhkan tubuhnya keras di atas sofa.
"Aduh duh duh.." Queen memegangi perut buncitnya, seraya meringis pelan kesakitan.
"Ira!!" Suara Aska meninggi. "Kamu itu, pelan-pelan dong, jangan sembrono gitu kenapa?!"
"Ya maaf.. aku nggak sengaja. Sakit nih mas, jangan marah-marah dulu."
"Ck!" Aska ikut duduk di sebelah Queen, ikut mengusap perut wanitanya itu, halus dan perlahan. "Maaf ya de, bundanya nggak hati-hati ya.." Aska lebih memilih berbicara dengan makhluk dalam perut Queen.
"Ih.. kamu mah gitu!" Queen memukul lengan Aska kencang.
"Lagian kamu. Kenapa sih, sampe ngambek gitu?"
"Aku tuh kesel, kamu cuekin aku tau nggak! Salah aku apa coba? Jangan-jangan kamu mikirin cewek lain ya? Ngaku?" Tatapan Queen tajam.
"Kapan sih aku cuekin kamu? Jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Dari tadi tuh cuma kamu yang ada di kepala aku Ira, nggak usah macem-macem mikirnya."
"Bohong!"
"Yaelah.. terserah dah." Aska bangkit, sebelumnya ia mengecup perut Queen sebentar, seperti pamit pada makhluk kecil di dalamnya.
"Mau kemana mas?" Tanya Queen cepat, sebelum suaminya sampai pada ambang pintu.
Aska menoleh ke arah Queen sambil berdecak.
"Aku mau bersihin kamar sebelah dulu, katanya kamu mau tidur di situ!"
"Ooh.. ya.. yaudah.." Queen menunduk malu. Ia malu karena ia fikir Aska pergi dan sengaja menghindarinya. Kenyataannya lelaki itu malah akan melakukan seperti janjinya tadi. Padahal kalo Aska boleh jujur, Aska sengaja bangun dan pergi karena memang ingin menghindari ocehan Queen yang tak masuk akal.
Padahal Aska tadinya ingin meminta Queen untuk memikirkan kembali keinginannya yang satu itu. Sungguh, Aska tak ingin tidur sendiri di tengah cuaca dingin yang mendukung kegiatan olahraga di tengah malam mereka, seharusnya. Tapi apa daya, Queen yang seperti sedang ngambek, bahkan sampai tak sadar ada nyawa dalam perutnya, membuat Aska urung mengatakannya. Ia tak ingin kesalahpahaman lagi dan lagi hadir dalam hubungan mereka.
Alhasih, mau tak mau Aska harus mengalah pada istrinya juga pada cuaca dingin saat ini. Biarlah, yang penting istri kecilnya itu tetap bahagia selama dalam masa kandungannya.
Bermodalkan semangkok bakso telur, di tambah satu gelas teh hangat tadi yang menjadi sumber tenaganya kini, Aska membersihkan debu-debu dalam kamar milik Queen. Awalnya Aska selalu rajin membantu Queen mengurus kamarnya ini, namun belakangan, Aska seperti tak memiliki waktu untuk mengerjakannya. Karena itu, sekarang saat Queen akan memakainya, jadilah Aska harus bermandikan peluh saat melakukannya.
Menyapu, mengepel, lalu mengganti kain seprei tak lupa juga beberapa sarung bantal favorit Queen, demi kenyamanan istri kesayangannya. Cuaca dingin tak lagi ia rasakan. Di akhir kegiatannya membersihkan kamar Queen, Aska menyalakan Ac, agar saat Queen masuk, ia sudah merasakan sejuk dalam kamar.
Gak terasa, kegiatan yang harusnya bisa Aska hindari, kegiatan yang tak masuk dalam daftar olah raga malam Aska, cukup memakan waktu juga tenaga. Hampir tiga jam Aska berkutat. Saat Aska menghampiri Queen di dalam kamar, Queen bahkan sudah tertidur di sofa.
Senyum langsung mengembang di wajahnya.
"Ra.. pindah ke kasur ya.." Aska berbisik halus di dekat telinga Queen, tanpa menunggu jawaban Queen.
Aska mulai menggendong tubuh Queen ala bridal. Berjalan ke dalam. Ia fikir, Queen pasti sudah tertidur. Maka, malam dinginnya hari ini akan aman. Batinnya.
"Mas..." Baru saja Aska meletakkan tubuh mungil nan buncit Queen ka atas kasur Aska, belum sempat ia merebahkan wanitanya. Mata Queen keburu terbuka, menyapanya dengan lirih.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau tidur disini." Manik mata teduh Queen, juga suara lirihnya, membuat hati Aska terenyuh, enggan untuk menolak.
"Yaudah." Ada desahan dalam ucapannya.
Maka itu, masih dengan menggendongnya, Aska berjalan keluar pintu, beralih ke dalam kamar Queen. Barulah ia merebahkan tubuh Queen di atas kasur yang tadi sudah ia ganti keseluruhannya.
"Saya temenin kamu disini ya Ra?" Aska ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Queen. Bersiap untuk memeluk wanitanya.
Queen menggeleng lemah. "Enggak. Bukan gini yang aku mau.." Lagi.. suara lirih nan parau begitu melemahkan hati Aska.
"Tapi, aku takut kamu kenapa-kenapa kalo sendirian Ra.."
"Telfonnya jangan di matiin."
"Heuh.." Aska menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya pelan. "Aku ambil hp kamu dulu ya.." Aska bangkit, beralih dari sisi Queen.
Tak lama Aska kembali dengan ponsel Queen, memberikannya pada pemiliknya.
"Aku tidur di sofa aja deh, ya Ra?" Tawar Aska
"Enggak. Aku maunya sendirian."
"Ya udah lah." Aska beranjak, menutup pintu kamar Queen. Tapi bukannya berada di luar, Aska malah mengendap-endap berjalan ke arah sofa milik Queen. Perlahan merebahkan tubuhnya di atas sofa dan berharap Queen tidak mengetahuinya.
"Mas..." Panggil Queen.
"Mas Askaa... aku tau ya kamu di sofa."
"Ih." Aska memukul gemas bantal kecil yang ia peluk. "Iya iya aku keluar." Dengan ltngkah kesal ia keluar dari kamar Queen. Menutup pintunya keras, dengan sengaja agar Queen mendengarnya.
__ADS_1
Janji Queen, yang ia bilang tidak akan mematikan telfonnya ternyata memang benar. Ia benar-benar telfonan dengan mamanya. Dengan mamanya. Bukan dengan Aska, suaminya.
Ini gimana sih?
Aska tak bisa menghubungi nomor Queen. Berkali-kali Aska mencoba menghubungi, tapi tetap tak bisa tersambung. Aska kesal, ia juga takut ada apa-apa. Karena itu Aska menghampiri kembali kamar Queen, membuka pintunya, buru-buru menghampiri Queen.
And then...
Queen yang mengetahui kedatangan Aska langsung meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya sendiri. Aska terpaku melihatnya.
Hanya gerakan bibir Queen yang ia perhatikan, suaranya bahkan tak mencicit sedikitpun. "Lagi telfon mama. Nanti aku telfon kamu ya.." Bahu Aska merosot lemas. Dalam-dalam ia menghirup udara. Mencoba mengeluarkan segala emosi yang bersarang di dalam dada juga kepalanya.
Queen menjulurkan satu tangannya, meminta Aska menghampirinya. Aska mendekat. Memeluk Queen sebentar lalu mengecup kedua pipi Queen, di susul kening, barulah bibir Queen yang terakhir, dalam dan melumatnya sebentar.
Meski berat melepaskannya, tapi mau tidak mau, Aska harus melakukannya. Setelah mengusap rambut Queen sebentar, ia kembali beranjak ke luar. Duduk menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar Queen yang tertutup.
***
Sudah sepuluh menit lebih Aska menunggu, tapi Queen tak kunjung menghubunginya. Rasa jenuh mulai membunuh kesabaran Aska. Ia fikir daripada ia terus mengganggu Queen dan mamanya, Aska memilih menghubungi Rendi.
"Halo, Ren.." Sapa Aska lemah, saat Rendi menerima Panggilannya.
"Halo, As.. kenapa?"
"Nggak ada apa-apa." Aska mendesah.
"Kenapa lo? Lesu amat?"
"Nggak ada apa-apa.."
"Ribut lagi lu? Eh.. tunggu. Lu dimana As?" Rendi mulai menyadari situasinya.
"Di depan."
"Depan mana?"
"Depan pintu."
"Pintu mana?"
"Pintu kamar Ira."
"Ha?? Pintu mana??" Suara Rendi mulai meninggi setiap kalimatnya, berbanding terbalik dengan suara Aska yang kian melemah. "Gimana As maksudnya?"
"Heeuuh..." Lagi-lagi Aska menghela nafasnya berat. "Dengerin bener-bener ya lo. Bi-ni gu-a pe-ngen ti-dur sen-di-ri-an." Aska mengeja tiap katanya, berharap Rendi tidak akan memintanya mengulang. "Ngerti nggak lu?" Ketus Aska.
"Ya makanya gua nelfon elu. Karena gua nggak bisa tidur."
"Kasian banget sih lu, malem minggu, dingin-dingin, di luar, sendirian lagi.. nasib As, nasib.. haha..." Suara tawa Rendi nyaring terdengar di telinga Aska.
"Diem lu."
"Kayak gua dong As.. lo tau nggak, di sebelah gua ada siapa?"
"Bodo amat!"
"Si Dissa As.. gila, canggih nggak gua, bisa sama dia sekarang? Ha? ha?.. Haha..."
"Gila lu dasar. Salamin aja buat dia, bilang, rumah tangga gua masih baik-baik aja sekarang, malah lebih anget." Ketus Aska.
"Anget gimana yang lu maksud? Anget, soalnya lu di peluk sama pintu gitu?" Rendi tak habis-habisnya menertawakan nasib sial temannya yang satu ini.
"Berisik lu."
"Santai mas.. nih cewek udah gua taklukin kok, nggak bakal dia ngerecokin rumah tangga lu lagi."
"Awas Ren.. gara-gara mau ngejagain dia dari kucing garong model lu, rumah tangga gua hampir jadi tarohannya." Aska merasakan ngilu di dadanya.
"Santai aja bos.. dia bekas men.. nggak bakal ngerasa salah banget gua, kalo ampe ninggalin dia nanti."
"Lu kalo ngomong.."
"Biarin lah.. tingkah dia aja ampe ngerusak rumah tangga orang, peduli amat gua ama hatinya.."
"Gila lu dasar."
"Mas Aska!!!!" Queen tiba-tiba membuka pintu, membuat tubuh Aska yang tadinya tengah bersandar, harus terjungkal kebelakang.
"Apa sih Ra? Ngagetin aja deh." Aska benar-benar terkejut.
"Lagi telfonan sama siapa sih? Di telfonnya susah banget!" Queen mencebik kesal, suaranya meninggi. Ia lantas merebut paksa ponsel dalam genggaman Aska. Merapatkan benda pipih itu dengan telinganya.
"Halo. Siapa nih?" Sambar Queen jutek.
"Hy my Queen... lagi marah ya?" Jawab Rendi santai.
"Oh.. kak Rendi." Queen langsung menurunkan suaranya. "Sorry kak, aku kira siapa.."
"Nggak pa-pa.. santai aja.. yaudah, lanjutin marahnya sama mamas Aska nya, aku tutup ya telfonnya.. good night my Queen honey.."
__ADS_1
Kalimat terakhir Rendi begitu nyaring terdengar di telinga Aska. Ia sudah berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Queen. Dan sialnya dia harus mendengar ucapan brengsek temannya itu.
"Si Rendi nyari mati kali ya Ra?" Gumam Aska.
"Udah balik ke kamar sana, aku mau tidur, inget, telfon aku kalo udah nyampe di kamar." Queen mendorong tubuh suaminya keluar pintu, menutup pintunya tanpa menunggu Aska pergi terlebih dahulu.
"Ya allah.." Aska mengelus-elus dadanya. Ia beranjak pergi dari posisinya sekarang.
***
"Hai Ira sayang.." Sapa Aska lebih dahulu, memulai percakapan.
"Nggak usah ikut-ikutan kak Rendi deh.."
"Dih. Wajar dong Ra, kalo aku panggil kamu sayang."
"Iya.. iya.. wajar. Aku mau tidur duluan ya, kamu ngomong aja mas, aku dengerin sampe aku tidur."
"Yaudahlah.. ngomong apa ya Ra?"
"Nyanyi aja mas, udah lama juga aku nggak denger kamu nyanyi."
"Heum.." Aska berdehem beberapa kali, membuat tenggorokannya merasa nyaman, barulah ia memulai nyanyiannya.
"Cinta sejati yang bisa memberi
tanpa harus menerima
Dia membawa damai dan bahagiakan jiwa
'Tuk semua manusia,
Hanya cinta sejati yang bisa
bertahan tanpa mengenal waktu
Takkan pernah sirna bagai karang di samudera
'kan abadi 'tuk selamanya
Seperti itulah cintaku untuk dirimu
tulus dan apa adanya
Datang dari sebuah rasa sucinya hati
atas nama cinta sejati
Dan bila engkau telah mengerti
berapa besar artinya cinta
hingga setiap nafas yang mengalir dari tubuhmu
Ada cinta yang kuasa
Seperti itulah cintaku untuk dirimu
tulus dan apa adanya
Datang dari sebuah rasa sucinya hati
atas nama cinta sejati.
setiap nafas di tubuhmu
karena cinta yang kuasa.." Suara Aska mengayun lirih, ia menjaga suaranya agar tidak terlalu tinggi. "Ra.." Panggilnya, namun tak kunjung ada jawaban.
Aska menimang sebentar, apakah ia harus mematikan telfonnya atau tidak.
sayang juga kan pulsanya.
Aska memilih mematikan sambungannya. Karena pikirannya yang terus melayang pada wajah Queen. Ia juga tidak mau tidur sendirian. Rasanya sangat miris, jika saja waktu pacaran dulu, mereka selalu menghabiskan malam dengan bersama, masa, udah nikah malah tidur sendirian. Aska meringis ngilu di hatinya. Ia putuskan untuk menghampiri istri kecilnya yang berada tepat di sebelah kamarnya.
Perlahan ia membuka pintu kamar Queen agar tak membangunkan wanitanya. Begitu juga saat menutup. Aska sangat berhati-hati, jangan sampai mengeluarkan suara.
Melihat Queen yang sudah tertidur pulas, tentu membuat Aska tak sampai hati jika membiarkannya sendirian di tengah cuaca dingin. Apalagi Queen tidak mengenakan selimut, itu sangat tidak benar bagi Aska.
Ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Queen, menyelimuti tubuh keduanya agar lebih hangat, menarik tubuh Queen dalam dekapannya. Ini baru benar. Suami istri yang saling menyayangi harusnya seperti ini. Tidur bersama saling berpelukan dengan hangat.
Tanpa perduli dengan bagaimana sikap wanitanya saat bangun nanti. Yang penting, malam ini hatinya hangat, tetap bisa memeluk tubuh istri kecilnya.
Aska tak akan pernah sanggup, jika harus tidur sendirian tanpa satu guling hidup kesayangannya. Lalu bagaimana nanti, saat Aska harus merelakan Queen tinggal di kampung, bersama ibu juga adik perempuannya. Seperti permintaan ibu Aska.
Wanita setengah baya itu, tidak akan membiarkan menantu pertamanya harus melahirkan apalagi merawat bayi pertama mereka seorang diri. Membayangkannya saja, membuat Aska memeluk tubuh Queen lebih erat lagi.
"Love you sayang.." Kecup Aska pelan di pucuk kepala Queen. Barulah ia bisa memejamkan matanya, terlelap dalam dunia mimpi dalam pelukan Queen.
🙃🙃😉
__ADS_1