Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
kedatangan bang Is dan Rindi


__ADS_3

Tak pernah setengah hati, ku mencintaimu ku memiliki dirimu


setulus-tulusnya jiwa, ku serahkan semua hanya untukmu


Tak pernah aku niati untuk melukaimu


atau meninggalkan dirimu


sesal ku slalu bila tak sengaja,


aku buat kau menangis


Memiliki mencintai dirimu kasihku..


tak akan pernah membuat diriku menyesal


sungguh mati ku, hidupku kan selalu


membutuhkan kamu


memiliki mencintai drimu kasihku


tak akan prnah membuat diriku menyesal


sungguh mati ku, hidupku kan selalu


membutuhkanmu...


***


Hubungan Queen dan Aska pagi ini bisa di katakan sudah lebih baik di bandingkan kemarin. Queen sudah mau bangun lebih awal dan kembali menyiapkan segala keperluan tidak gas suaminya. Tentu hal itu di sambut baik oleh sang lelaki yang sedang dalam masa penyesalannya.


Bila beberapa hari belakangan Aska lah yang bangun lebih awal dan menyiapkan sendiri kebutuhannya, bahkan Aska juga yang menyiapkan sarapan serta membantu Queen menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya. Kini Queen sudah berbaik hati dan merelakan segala hak yang telah terjadi.


"Pagi Ira.." Sapa Aska. Saat akan menuju kamar mandi dan bertemu Queen tengah mencuci piring.


"Subuh ini mas," Jawabnya. Meski ia tidak menoleh ke arah Aska, namun lelaki itu tau, kalau hati wanitanya sudah mencair.


"Oh subuh.. aku kira udah pagi. Soalnya mataharinya terang banget sih." Senyum Aska mengembang, menatap Queen dari sampingnya.


Queen terdiam sesaat, lalu menoleh, menghadap suaminya yang masih terus menatapnya dengan senyum.


"Mas Aska lagi ngegombal?"


"I..ya.. semacam itu lah. Emang kenapa?" Jawabnya bingung.


"Sumpah mas, itu gombalan paling garing yang pernah aku denger.."


Queen mencebik, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Oh.. berapa banyak gombalan yang pernah kamu denger?" Wajahnya serius.


"Ha? em.. ya, lumayan seringlah. Tapi itu semenjak aku belum nikah sih."


"Terus, pas udah nikah?"


"Kalo udah nikah ya paling kak Rendi sama kak Fiki aja yang masih setia ngegombalin aku.." Queen tersenyum bangga dengan dirinya, sambil kembali melanjutkan acara cuci piringnya.


"Yaudah nanti aku belajar dari mereka deh, biar cuma aku aja yang boleh ngegombalin kamu."


"Eh jangan!" Dengan cepat Queen menginterupsi ucapan suaminya. "Nggak usah lah mas."


"Emang kenapa?"


"Ya, kamu garing aja masih banyak yang ngegodain, apalagi kalo kamu kaya duo buaya itu, haduh.. mau jadi apa rumah tangga kita nanti."


"Haha.. kamu mikirnya kejauhan deh Ra. Kan cuma kamu doang yang bakal dengerinnya, yang lain mah aku nggak sudi."


"Bisa banget kalo ngomong. Udah sana mandi, nanti kesiangan." Queen mendorong tubuh Aska agar cepat masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya, iya, aku mandi."


Siapa sangka, obrolan singkat tanpa faedah di pagi hari itu bisa mencairkan suasana yang terlalu beku kemarin. Hubungan mereka kini seolah menghangat kembali. Queen mungkin sudah menutup lukanya rapat-rapat.


Seusainya mereka dari kegiatan masing-masing, kini mereka juga berhadapan kembali. Duduk bersama seraya menyantap hidangan yang di buat khusus oleh Queen pagi tadi.


"Ra.." Aska membuka suara, sambil memandang masakan istrinya dalam satu piring yang Queen sajikan.


"Apa?"


"Em.. berapa lama sih kamu nggak masak?"


"Kenapa emang?"


"Aku kangen banget sama masakan kamu."

__ADS_1


"Gombal."


"Bener Ra." Wajah Aska kembali serius menatapnya. "Jangan pernah marah lagi ya Ra sama saya. Rasanya, kemaren hidupku tuh kayak.. apa ya Ra.." Aska berfikir, mencoba mencari kalimat yang tepat, yang dapat menggambarkan perasaanya. "Mungkin bisa di bilang, saya tuh kayak berdiri di ujung tebing. Yang bisa jatuh ke ujung jurang dengan sekali sentuhan dari kamu." Aska meringis ngilu, mengingat setiap kejadian dan ucapan dari Queen beberapa hari lalu. "Jangan pernah Ra. Jangan pernah lagi.." Ia menggeleng pelan dalam tunduknya. Mencoba menghempaskan segala ingatan menyakitkan yang terus berputar dalam memorinya.


"Mas.." Queen mengiba. Melihat Aska yang terlihat sangat terluka, lelaki itu bahkan hampir menangis, dengan manik mata yang berbinar basah.


"Aku nggak akan berbuat nekat kalo kesalahan kamu nggak fatal. Dan kejadian kemarin itu, aku harap kamu nggak akan pernah ngulangin lagi. Karena nggak ada manusia yang suka di bohongin mas.. kamu paham kan perasaan aku kemaren?" Sentuhan tangan lembut Queen di jemari Aska, mampu membuat lelaki itu kuat.


"Saya janji, nggak akan ada kedua kalinya kayak gitu. Tapi Ra, kamu nggak mu tanya alasan saya kemaren?"


Queen menarik tangannya dari jemari Aska. Ia tersenyum kaku. Kemudian menggeleng pelan." Nggak. Aku nggak mau tambah sakit mas, biar aj semuanya terkubur sama waktu."


"Yang perlu harus kamu tau, alasan aku berbuat kayak gitu, bukan karena aku khilaf, atau karna aku sengaja ngelakuin itu. Tapi mungkin, kamu pasti bakal denger dari seseorang nanti. Biar kamu nggak berspekulasi macam-macam."


"Iya. Mungkin kalo hati aku udah kuat nanti, aku bakal cari tau alasannya. Udah, sekarang makan dulu. Aku marah lagi nanti, kalo makanan aku terbuang percuma tanpa kamu sentuh."


Aska tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala Queen. "Jangan lupa bawain aku bekel ya Ra. Aku pengen selalu ada kamu di manapun aku berada."


"Lebay.." Queen berdiri meninggalkan suaminya yang tengah menatapnya serius, Aska langsung kehilangan senyumnya, mendengar jawaban dari Queen. 'Sadis banget sih.. orang ngomong bener-bener, malah di bilang lebay. Parah parah parah parah' Aska menggelengkan kepalanya beberapa kali. Barulah ia menyantap makanan istrinya itu.


Waktu berjalan dengan sangat lambat, bagi Queen dan Aska. Setelah keberangkatannya Aska tadi pagi. Queen terus mencari kesibukan di dalam rumahnya, ia ingin membunuh waktu yang seperti tidak bergerak, setiap ia melihat jarum jam di dinding kamarnya.


Padahal Queen yakin, sudah menyelesaikan semua pekerjaan, tapi kenapa siang tak kunjung datang. Ia merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur. Berusaha menetralkan kembali tenaga yang sudah hampir terkuras.


Tak terasa Queen memejamkan matanya, ia tersadar saat bunyi ponselnya berdering. Dengan mata yang masih enggan terbuka Queen mencoba membaca nama yang tertera di atas layar ponselnya.


"Hai Ira.." Sapanya dari kejauhan.


"Hai mas Aska." Jawab Queen, suara parau khas orang bangun tidur membuat Aska semakin merindunya.


"Suaranya yang bener sih Ra. Bikin pengen ketemu deh."


"Apa sih mas, aku bangun tidur ini."


"Oh.. kamu di rumah kan?" Tanya Aska, sebenarnya ia ragu menanyakannya.


"Iyalah mas."


"Oh.. jangan kemana-mana ya Ra, tunggu aku pulang. Sebentar lagi.."


"Iya."


"Yaudah, aku tutup ya telfonnya.


"Iya."


***


Aska sungguh tak perduli dengan kehadiran orang-orang yang menatap mereka. Entah itu pandangan sinis, sirik, atau ikut bahagia. Apalah itu, Aska tak perduli.


Ya terpenting adalah kebahagian hatinya sekarang. Karena setengah hari yang terlewat tadi seolah membunuh kesabarannya. Aska terus kepikiran dengan sikap manis Queen pagi ini. Aska sangat takut, kalau itu adalah kebahagiaan semu yang akan menjadi bencana luka di hatinya. Aska sangat takut, kalau-kalau nanti, ia tidak dapat menemukan istrinya saat kembali di rumah.


Namun, prasangka itu hilang sudah. Aska masih menemukan Queen berdiri di hadapannya dengan senyum manis dan manik mata yang selalu ia rindukan.


Dan.. disinilah mereka saat ini. Queen yang merebahkan tubuhnya di atas sofa, dengan berpangku pada suaminya, satu tangannya mengusap-usap perut buncit Queen. Menemani Queen melihat acara tv favoritnya. Aska termasuk orang yang protektif tentang acara tv yang akan Queen lihat.


Ia hanya di perbolehkan melihat acara lawakan atau acara yang berisi wawasan. Aska sangat melarang Queen melihat sinetron. Bukan tanpa alasan. Aska hanya tidak ingin Queen terpengaruh dengan peran jahat yang ada di tv. Aska akan sellau menemani Queen setiap kali wanita itu akan melihat acara tv. Kecuali jika dirinya sedang bekerja, entah Queen akan menuruti ucapan suaminya atau tidak, asal tidak ketahuan oleh Aska.


Waktu yang menunjukan hampir jam delapan malam, adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dari rutinitas yang melelahkan. Tapi siapa sangka ada orang yang masih bertamu di jam seperti itu.


Bunyi ketukan pintu menginterupsi kegiatan santai nan mesra mereka. Aska yang memilih untuk membukakan pintu bagi tamunya.


Tanpa di duga-duga Bang Is dan Rindi datang mengunjungi mereka. Aska tersenyum senang. Melihat tamu istimewa bagi dirinya. Ya.. bang Is adalah orang yang sangat Aska hormati. Bukan hanya lelaki itu bekas atasannya dulu, tapi bang Is juga adalah seorang yang sangat berjasa selama tumbuh kembangnya seusai peninggalan ayah Aska dulu.


"Mas.." Sapa Aska dengan senyumnya. Namun, balasan yang Aska dapati berbanding terbalik dengan apa yang Aska rasakan saat itu.


Bang Is maju, memukul wajah Aska dengan kencang, hingga ia tersungkur. Queen dan Rindi yang melihatnya sontak berteriak tak percaya.


Rindi langsung masuk, membantu Aska untuk berdiri lagi.


"Apa-apaan sih bang?" Teriak Rindi marah.


"Biarin aja. Lelaki kayak gitu pantes di gituin Rin." Dengan emosi yang masih menggebu-gebu bang Is meminta Rindi membawa Queen masuk ke dalam, agar tak melihat kejadian yang tak menyenangkan ini.


"Bawa Queen ke dalam. Aku pengen ngomong sama lelaki ini." Titahnya tegas. Rindi lalu beralih pada Queen yang masih berdiri terpaku dengan wajah kagetnya.


"Ayok Queen, biarin mereka ngomong berdua dulu." Queen masih terdiam, ia hanya mengikuti setiap langkah yang Rindi tuntun.


Meninggalkan Aska dan bang Is yang masih di liputi amarah, Queen sebenarnya enggan beranjak. Ia benar-benar takut dengan sikap kekasih Rindi kali ini. Ia tak ingin suaminya terluka lagi.


"Ngadek As." (berdiri As? Titah bang Is ia memilih menggunakan bahasa daerah agar dua wanita itu tak mengerti.


"Koe reti ora kesalahan mu ki opo? Ha?" (kamu tau nggak kesalahan mu tuh apa? Ha?)


Aska mengangguk pelan. Ia tak berani membalas tatapan tajam lelaki di hadapannya. Ia bahkan tak berani mengusap luka berdarah di ujung bibirnya.

__ADS_1


"Otak mu nang ngendi As? Kok iso koe ngelakokno koyok ngono? Ha? Koe ngisin-ngisini aku, reti ora?" (Otak mu di mana As? Kok bisa kamu ngelakuin kayak gitu?) Bang Is menggeleng kesal. Dua tangannya berkacak di pinggangnya.


"Aku sing tanggung jawab ambe mbokmu. Aku sing nggowo koe ngelamar nde' ne. Aku sing dadi seksi koe nikah As! Aku sing tanggung jawab dunyo akhirat karo bapak mu, reti ora sih koe ki? Kok iso sih guoblok tenan dadi wong lanang. Mikir ora sih koe ki? Ha?" (Aku yang tanggung jawab sama ibu mu. Aku yang bawa kamu ngelamar dia. Aku yang jadi saksi kalian nikah As! Aku yang tanggung jawab dunia akhirat sama bapakmu, tau nggak sih kamu nih? Kok bisa sih go blok banget jadi lelaki. Mikir nggak sih kamu ni? Hah?)


Emosi bang Us sangat menggebu. Ia bahkan menunjuk bahu Aska dengan sedikit mendorong.


"Coba ngomong, apa alasanmu begitu?"


"Saya cuma bantu Rendi mas, dia pengen deket sama cewek itu. Ya karena saya tau dia kerja deket daerah sini, makanya saya bantu Rendi kenalan sama dia. Gitu doang"


Namun bang Is seolah tak bisa menerima alasan Aska. Baginya itu sangat tidak masuk akal bagi seorang lelaki yang sudah menikah.


Sekali lagi ia memukul Aska sekuat mungkin di tempat yang sama.


"Kalo punya otak itu di pake As. Jangan cuma tampang doang, lelaki itu harus punya pendirian. Rumah tangga kamu jadi tarohannya bodoh. Kon bisa-bisanya istri lagi hamil, kamu malah nonton bioskop sama cewek lain. Ck.."


Queen yang mendengarnya tak percaya. Ia tau Aska berbohong, tapi ia tidak tau apa saja yang sudah suaminya itu lakukan.


Queen keluar dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Kamu tega banget sih mas sama aku. Aku kira kamu cuma makan sambil ngobrol doang." Queen kembali terdiam. Aska yang terkejut dengan kehadiran Queen disebelahnya, langsung menangkup bahu Queen.


"Saya minta maaf Ra. Minta maaf banget sama kamu. Itu nggak di rencanakan. Saya sama dia lagi nunggu Rendi tapi Rendi nggak dateng-dateng, terus.."


"Uwis meneng As, meneng." (Udah diem As, diem) bang Is beralih duduk di sofa.


"Kita selesaiin ini sekarang. Kalian berdua duduk." Titah bang Is.


"Bang, biarin mereka selesaiin masalahnya berdua aja bang, mereka udah sama-sama dewasa. Lagian ini juga masalah rumah tangga. mereka." Pinta Rindi.


"Apanya yang dewasa Rin? Orang dewasa tuh nggak bakal mau ngelakuin hal bodoh cuma demi taruhan Rin.. Lagian juga dia tuh tanggung jawab saya. Saya udah janji sama almarhum bapaknya sebelum beliau meninggal." Bang Is mengusap wajahnya kasar. Ia seolah ikut frustasi dalam masalah itu.


"Udahlah As, kita selesai-in dengan cepet. Queen, saya denger kamu minta pisah kemarin? Kalo keputusan kamu udah bulet bilang saya, saya bakal bantu sepenuhnya apapun keputusan kamu." Bang Is menatap Queen serius.


"Mas.. tolong, saya sama dia udah baikan semalem. Jadi dia udah nggak kepengen pisah." Jawab Aska.


"Siapa yang bilang aku nggak kepengen pisah?" Queen menyela dengan isak tangisnya.


"Ra!" Aska kembali menyela. "Kamu udah janji kan sama saya tadi pagi."


"Iya, tapi aku bilang kalo kesalahan kamu nggak fatal."


"Aska kamu bisa diem nggak sih? Saya tanya Queen bukan kamu." Bang Is menengahi.


Aska rasanya sudah putus harapan. Masalah yang baru saja ia lewati, sekarang kembali ter-ungkit. Bagaimana mungkin semua hanya kebahagiaan semu yang Aska rasakan sesaat. Wanitanya kini kembali pada putusan awalnya.


"Udah Queen, sekarang apa keputusan kamu. Biar saya urus nanti."


"Mas. Sampean kok tego temenan ambek aku sih mas." (Mas. Kamu kok tega bener sama aku sih mas.) Queen menunduk lemas, harapannya benar-benar sudah hilang. Tulangnya tak dapat lagi ia rasakan.


"Diem. Itu semua karena ulahmu sendiri tau nggak? Kamu nggak bakal tau rasanya kalo nggak dapet hukumannya."


Aska hanya diam tak lagi menjawab. Ia merasa apapun yang ia katakan sekarang percuma. Melihat wanitanya kembali menangis di sebelah karna ulahnya. Sungguh. Ia sama sekali tidak menyangka, perbuatan dengan niat baik malah membuat wanitanya terluka. Bahkan mengoyak kebahagiaan mereka.


"Aska. Queen. Jangan ada yang kasih tau ibunya Aska ya. Nanti kalo udah sidang putusan, biar saya yang ngomong sama ibunya Aska. Kalo kamu mau kasih tau mama kamu tentang kelakuan suami mu, kasih tau aja. Siapa tau mama kamu mau bantu kasih pelajaran buat menantunya yang bodoh ini."


"Ra. Katanya kamu pengen punya anak perempuan. Terus siapa nanti yang bakal jadi walinya. Wanita itu butuh wali Ra. Katanya kamu mau jodohin anak kita sama anaknya Rindi nanti, terus kalo anaknya Rindi sama-sama perempuan gimana? Kita bisa buat anak lelaki biar bisa di jodohin sama anaknya Rindi nanti. Tolong difikirin baik-baik Ra." Ucap Aska perlahan. Ia masih menunduk dengan perasaan hampa.


Mungkin Aska akan memilih untuk mati nanti, jika Queen benar-benar meninggalkannya. Semua seperti bayangan hitam. Queen terlihat lebih serius sekarang. Di tambah dukungan dari bang Is, rasanya semua akan menjadi kenyataan yang pahit.


"Saya udah terima Ra, kalo emang itu yang terbaik, tapi saya minta, kamu jangan ambil keputusan kalo lagi emosi sesaat."


"Yaudah, saya tunggu sampe besok, kabarin Rindi kalo udah tau apa keputusan finalnya. saya pamit." Bang Is beranjak dari duduknya, ia berjalan ke arah luar pintu, di susul Rindi.


"Tunggu bang." Cegah Queen.


"Kenapa Queen?"


"Aku masih mau kasih mas Aska kesempatan kedua bang. Aku yakin maksud bang Is baik, tapi Aku juga percaya, mas Aska nggak ngelakuin hal-hal yang sampe bikin wanita itu dateng karena hamil. Kamu nggak gitu kan mas?" Tanya Queen menatap Aska.


Aska yang mengerjap tak percaya menatap Queen. "Enggak Ra, saya nggak begitu, saya beneran bersih. Saya cuma sayang sama kamu, saya jamin saya nggak macem-macem sama perempuan itu, saya nggak nyentuh dia sedikitpun." Ucapnya sungguh-sungguh.


"Aku percaya." Jawab Queen sambil memegang tangan suaminya.


"Yaudah terserah kalian. Tapi As. Jangan pernah ulangin lagi. Kalo sampe saya denger kamu temuin perempuan itu lagi, saya pulangin kamu ke kampung." Ancam bang Is sebelum meninggalkan rumah Aska dan Queen.


Saat itu juga, tenaga Aska kembali pulih. Harapan kembali datang.


"Kamu tau nggak Ra. Kamu cantik banget hari ini." Aska tersenyum senang.


"Aku minta jangan pernah bahas masalah ini lagi ya mas. Aku nggak mau denger berita apapun lagi."


"Iya Ra. Nanti aku bilang sama semuanya. Makasih ya Ra. Makasih banget ya Ra atas pengertiannya."


_

__ADS_1


Aska benar-benar mendapat syock terapi malam ini. Lalu meminta Queen menemaninya berbaring di atas kasur. Entah bagaimana cara mereka meluapkan kebahagiaannya. Katanya, adegan ranjang lebih ampuh untuk mengembalikan keharmonisan setelah pertengkaran panjang yang tak menyenangkan itu.


🙃🙃😉


__ADS_2