Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
karena gadis muda


__ADS_3

Siapa yang bisa menebak tentang sebuah takdir yang akan terjadi dalam hidup seseorang. Alur cerita yang terlihat biasa, biasanya akan timbul gejolak dan mungkin sulit untuk dihindari.


Perasaan yang tulus serta rasa saling percaya sangat di butuhkan dalam sebuah hubungan, terlebih saat mereka sedang mengalami masa kritis untuk melangkah ke arah yang lebih baik.


Queen sebenarnya tidak benar-benar ingin memaksa Aska agar mau mengikuti keinginannya untuk makan nasi goreng di Bandung. Itu hanya akal akalannya saja ingin membuat Aska selalu merasa bersalah.


Bukannya hampir setiap wanita selalu begitu, selalu ingin di perhatikan, di utamakan dalam hidup lelakinya.


Kenyataannya, kadang lelaki lebih memilih bergaul dengan teman, menghabiskan waktu senggang mereka bersama, atau bermalas-malasan di dalam kamarnya dengan barang kesayangan.


Begitu juga dengan Aska, terkadang Aska lebih asik berchat ria di grup dengan sesama anggotanya. Membahas hal hal sepele, meski nantinya mereka akan tugas bersama lagi.


Tak jarang Queen merasa iri, meski Aska ada di hadapannya tapi fokusnya lebih tertarik pada ponsel yang tak henti-hentinya berdering.


"Ra.. bener ini kita mau ke Bandung lagi? Saya masih capek banget. Kamu tau kan saya belum tidur?" Rengek Aska memelas.


"Oh, ya udah kalo gitu kita ajak ka Rendi aja biar bisa gantian bawa mobil sama kamu." Tawar Queen.


"Enggak! Ngapain ngajak-ngajak dia segala, ntar yang ada saya di kacangin lagi." Aska beranjak dari duduknya, ingin mengganti pakaian. Mungkin ia sudah pasrah mengikuti kemauan Queen.


"Aku baru tau lho mas, kalo kamu itu pelit. Curang banget jadi temen." Aska segera menghampiri gadisnya.


"Curang apaan saya?" Aska tidak bisa terima dengan tuduhan Queen.


Queen menatap lekat lelakinya "Ka Rendi aja mau lho berbagi kenalan cewek nya sama mas Aska, tapi mas.. apa? Aku aja di umpetin mulu dari temen-temen kamu."


"Itu beda lagi ceritanya Ira.. dia mah nggak serius sama cewek itu." Aska meyakinkan.


"Bedanya sama aku?" Entah Queen yang bodoh atau ini hanya pancingan. Dia bertanya sambil menatap lekat lelakinya.


"Kalo kamu itu udah jadi setengah nafas aku Ra. Saya serius sama kamu." Aska mengusap pipi gadisnya dengan ibu jari. Queen meleleh..


"Sweet banget sih mas Aska.." Cicit Queen.


Aska tersenyum, masih menatap lekat manik mata Queen sambil mengusap usap lembut pipinya.


"Kamu itu separuh nafas saya.. kamu harus tau itu." Aska menghentikan gerakannya. "Separuhnya lagi punya wanita lain.." Lanjut Aska dan langsung berlari naik ke atas kasur. Menyembunyikan tubuhnya dalam selimut tebal.


Queen tertegun sesaat, otaknya perlu mencerna kalimat yang barusan terucap dari Aska. "Mas Askaaa... iih.. nyebelin." Queen ikut berlari, menghampiri Aska yang sudah membungkus tubuhnya dalam balutan selimut. Berusaha mempertahankan pegangannya pada selimut sekuat mungkin, agar gadisnya tidak bisa menemuinya.


Queen gemas. Kesal. Malu.. baru saja ia serasa terbang saat gombalan manis yang terdengar serius itu ia terima. Sedetik kemudian, kekasihnya sendirilah yang menghempaskan nya jatuh ke dasar lubang paling dalam. Hatinya terasa tercubit, apalagi melihat Aska berlari sambil tertawa senang, seperti berhasil menggoda Queen.


Pukulan demi pukulan terus Queen berikan pada tubuh Aska yang masih terbalut selimut.


"Mas Aska ih.. keluar nggak. Ayok keluar kalo berani, ngomong yang bener coba." Queen masih berusaha membuka selimut itu. Tak kunjung berhasil Queen merasa putus asa dan jengkel. Tawa Aska semakin menyulut emosi di hati Queen.


Tangis Queen meledak. "Mas Aska jahat! Jahat!" Pekiknya, Aska menyerah, mengintip perlahan dari balik selimut. Melihat Queen benar-benar menangis, akhirnya ia keluar dari persembunyiannya. Merengkuh tubuh Queen, membuatnya jatuh di atas tubuh Aska.


"Maaf, maaf.. becanda. Haha.." Tawa Aska tak juga kunjung berhenti meski Queen semakin terisak. "Becanda saya Ra.. cup cup cup.." Aska berusaha menenangkan Queen.


"Gitu banget sih mas becandanya. nyeremin deh." Queen melepas pelukan Aska, dirinya bangkit seraya menyeka air mata di atas pipi juga pelupuk matanya.


"Udah mau malem, cari makan dulu yuk." Ajak Aska.


"Ehm.. makan mie instan aja lah. Males aku keluarnya. Kamu ada nggak?" Mereka duduk di atas kasur dengan saling berhadapan.


"Nggak punya. Saya beli dulu ya.."


"Okeh. Belinya di mini market ya mas, yang ada bacaan Ramyeon nya. Aku lagi pengen ala ala Korea gitu mas." Pinta Queen.


"Oke. Nanti saya vicall kalo udah sampe di sana, biar nggak salah beli." Aska beranjak turun, mengambil kunci motor bergegas meninggalkan gadisnya yang juga beranjak turun berjalan ke arah dapur.


***


"Ira.. mau yang mana?" Aska mengarahkan kamera ponselnya ke arah deretan mie instan bukan buatan lokal.


"Yang itu tuh mas yang bungkusnya warna oranye." Tutur Queen. "Oiya, sama telur ya mas, jangan lupa sama beli sayurannya."


"Ha? Disini nggak ada sayurannya Ra." Aska bingung.

__ADS_1


"Di depan mini marketnya kan ada tukang sayur, mas Aska mampir sebentar, bilang aja caesim yang buat masak mie." Jelas Queen.


"Iya saya tau. Kamu kira saya anak bocah." Di balas tawaan oleh Queen. "Tau banyak banget embel-embelnya mah, mending kamu ikut tadi." Aska berjalan mencari telur, setelah memasukan beberapa bungkus jenis mie instan termasuk jenis pesanan Queen tadi.


"Aku masak airnya, biar cepet. Mas Aska cepetan ya, ini udah mau mendidih airnya." Perintah Queen lagi. Aska berdecak mematikan ponsel, dan langsung menuju meja kasir.


Setelah mendapatkan semua pesanan gadisnya, Aska memacu motornya cepat. Mengingat Queen sudah menunggunya. Dasar gadis itu. Kenapa nggak nunggu pesanannya datang duku baru masak airnya.


Sesampainya, Queen langsung memasukkan semua bahan serta mie kedalam panci yang berisi air yang sudah menggolak.


"Harusnya kamu tunggu saya dulu Ira." Aska serius.


"Nggak papa mas, kan gini jadi cepet. Hehe.." Queen cengar-cengir.


"Udah sana, biar saya yang lanjutin."


"Nggak nggak nggak.. aku yang masak. Mas Aska tunggu aja di depan." Aska mengedikkan bahunya, berjalan santai menuju sofa.


Dalam hati Aska senang, terserah jika gadisnya akan membuat dapurnya berantakan, atau membuatnya seperti kapal pecah, terserah.. yang penting mereka tidak jadi ke Bandung hanya untuk makan nasi goreng dipinggir jalan itu. Sama sekali tak bernyawa mengingat perjalanan yang harus mereka tempuh andai nya jadi.


Tak berapa lama Queen datang dengan membawa panci, meletakkannya di atas meja di depan Aska. Lelakinya tercengang, Queen begitu sibuk mondar mandir ke dapur mengambil mangkuk, sendok, garpu, lalu minumannya. Baru saja ia duduk, Queen kembali beranjak, kali ini keluar, mungkin ke kamarnya.


"Mau kemana Ra?" Tanya Aska cepat, melihat Queen sudah di depan pintu.


"Ambil sumpit mas sebentar." Queen sudah tak terlihat, tapi suaranya masih terdengar.


Aska menggeleng. Astaga.. mau makan aja repot banget. Gimana nantinya kalo Queen benar-benar ngidam. Apa yang akan ia minta nanti. Pasti ia akan memanfaatkan keadaan demi menyiksa Aska.


Aska menghembuskan nafasnya berat. Diiringi dengan senyum yang terukir. Membayangkannya membuat hati Aska sedikit ngilu. Ngidam? Gimana bisa, kalo restu saja belum bisa ia dapatkan. Apa bikin ngidam dulu baru dapet restu kemudian? Hati Aska mencelos.


Bersamaan lamunan Aska tentang restu yang terhalang, ponsel Aska mendapatkan pesan dari nomor yang tak di kenal.


Kalau kamu serius dengan Queen, datang temui saya di tempat kemarin, weekend ini. Tanpa ajak Queen.


Aska tertegun. Baru membacanya saja Aska tau siapa pengirim pesan tadi. Apakah Aska harus senang atau harus curiga.


Queen datang, membawa dua paket sumpit di tangannya. Melihat Aska yang terus fokus pada ponselnya kecurigaan Queen datang kembali.


"Oh.. Ini, si Fiki ngajak ketemu." Alibi Aska.


"Fiki, temen kamu di tempat yang baru, yang orangnya masih muda plus putih itu?" Queen sengaja menjabarkan ciri ciri fisik Fiki, ingin membuat Aska ikut kesal.


"Iya, yang masih muda itu, tapi gantengan saya kemana mana." Aska mulai makan masakan Queen. "Enak banget Ra.." Puji Aska.


"Yang bener mas? Yey.. berati aku jago masak ya.." Queen bangga.


"Mie itu, mau siapapun yang masak pasti rasanya sama Ra. Yang enak itu karena bumbunya cocok sama lidah saya." Aska membenarkan.


Queen mencebik. Selera makannya seketika berkurang. Entah kenapa lidah Aska saat ini terasa tidak bersahabat.


***


Beberapa hari setelah kejadian malam itu, Queen selalu waspada dengan sikap dan kebiasaan sehari-hari lelakinya. Bisa di bilang Queen malah menjadi lebih posesif di banding Aska.


"Kamu curiga sama saya Ra?" Tanya Aska saat Queen selalu bertanya tentang keberadaannya. "Nanti kalo udah selesai juga saya langsung pulang Ra.." Tutur Aska meyakinkan kekasihnya.


"Ya mana aku tau mas Aska selesainya kapan?" Queen masih mengeyel. Di sela-sela kesibukan patroli, Aska masih menyempatkan diri menjawab panggilan telfon Queen.


"Kalo kamu nggak percaya, video call aja. Jangan di matiin sampe saya pulang." Tawar Aska, merasa gerah dengan tingkah aneh gadisnya. Juga ledekan yang tidak henti dari Fiki.


"Heum.. lelaki mah selalu bisa cari cara main di belakang." Aska membuang nafasnya jengah, memijit pangkal hidungnya.


"Terserah kamu aja lah Ra." Aska mengalah.


"Iyalah terserah aku, dulu juga kamu bisa ngerebut aku dari Arya. Siapa yang tau kalo kamu bakal ngelakuin ke cewek lain." Queen semakin menjadi.


"Oke. Saya yang salah. Nanti saya pulangin kamu ke Arya. Puas?" Aska mematikan sambungan telfonnya. Melempar ponsel ke atas dashboard mobil patroli. Ia sedang tugas saat ini, sangat tidak ingin di ganggu oleh kecurigaan yang tak beralasan.


Apalagi akhir minggu ini Aska juga harus ke Bandung lagi, menemui sang calon mama mertua. Masih berjuang meminta restu untuk pernikahan yang sangat diinginkan gadisnya.

__ADS_1


Kecurigaan Queen bukan tanpa alasan. Semua itu karena Rendi. Lagi-lagi Rendi, mengirim chat ke Aska, memberitahukan bahwa Zahra ada di kamarnya. Entah apa maksud lelaki itu.


Dan kenapa Queen tidak membahasnya dengan Aska. Hanya memikirkan sendiri dengan asumsi sendiri. Sangat berbahaya bagi hubungan mereka.


Aska memang jengah dengan sikap Queen, Aska juga tidak ingin di ganggu saat tugas, tapi saat jam tugasnya selesai, dengan secepat mungkin ia berusaha untuk cepat sampai di rumah. Aska tau gadisnya pasti ngambek lagi.


"Ira.." Panggil Aska, baru saja sampai kontrakan, Aska langsung menghampiri kamar Queen.


"Apa?" Mata Queen sembab, benar pikirannya tadi, gadisnya pasti menangis karena ucapannya.


"Ayok ikut sebentar." Aska menarik tangan Queen memaksanya ikut duduk di bagian belakang motornya. Ingin segera menyelesaikan masalah di hati Queen.


Queen hanya diam saja, mengikuti setiap perintah dari Aska. Saat sedang serius seperti ini, Queen tidak berani membantahnya.


Selama perjalanan, tidak sama sekali Aska membuka suaranya. Tanpa Queen tau, Aska sesekali melihatnya dari kaca spion motor. Queen tidak mengenakan jaket, tidak juga mengenakan helm. Tapi tidak sedikitpun membuat Aska menghentikan laju motornya sampai di tempat tujuan.


"Rumah siapa ini mas?" Tanya Queen penasaran.


"Rumah si biang masalah kamu." Aska masih nampak kesal. Segera ia mengeluarkan ponsel memanggil seseorang. "Gua di depan rumah lu." Suara Aska tegas.


Tak lama, sosok seorang yang mereka kenal keluar. Membuka pintu, menyambut kedatangannya Queen dan Aska.


"Masuk bro. Masuk Queen.." Rendi melembutkan suaranya saat menyebut nama Queen.


Mereka masuk ke dalam. Mendapati seorang gadis tengah duduk di sofa ruang tamu, Aska menghampirinya, menyalami gadis tadi di ikuti oleh Queen.


"Ini Ra yang namanya Zahra." Aska mengenalkan Queen. Membuat Queen tertegun. Apa maksud lelaki ini.


"Hai Zahra.. Ini Ira, pacar saya." Zahra tersenyum kaku. Dapat terlihat bahwa gadis muda itu tengah kecewa.


"Santai aja Zahra, masih ada aku kan?" Ucap Rendi merangkul pundak gadis itu.


"Jadi aku di panggil kesini cuma karena ini?" Akhirnya gadis muda itu membuka suara.


"Maaf ya Ra. Mm maksud saya Zahra. Pacar saya cemburu sama kamu. Saya tau mungkin cara saya kasar sama kamu. Tapi saya nggak mau ada kesalahpahaman di antara hubungan saya sama pacar saya." Aska yang duduk di dekat Queen menatap lekat Zahra.


"Lu juga Ren, jangan chat yang ambigu gitu lah.. udah tau pacar gua sensitif. Sengaja pasti lu." Kali ini pandangannya menatap Rendi. Sedangkan yang di tatap hanya cengar-cengir seakan membenarkan tuduhan Aska.


"Kenapa pacar ka Aska cemburu sama aku? Aku kan nggak ngapa-ngapain?" Zahra membela diri.


"Ya itu karena Si Rendi yang kasih tau kalo kamu ada sama Rendi, pacar saya kira, saya ada sesuatu sama kamu." Aska mulai tenang. Queen hanya diam, memandangi wajah lelakinya.


"Tapi aku bener suka sama ka Aska." Zahra menantang. Tatapannya tak lepas dari manik mata Aska. Queen berdecak. Dan itu terdengar oleh Aska.


"Haha.." Aska tertawa. "Nggak ada yang salah, cuma, saya sama dia udah mau nikah." Aska tersenyum simpul. Aska tau gadis ini masih muda, tidak bisa di hadapi dengan cara seperti Arya dulu. Queen selalu terdiam sejak kedatangannya.


"Queen, mau minum apa?" Tanya Rendi mencairkan suasana. "Abis nangis emang nggak haus?" Ledek Rendi yang juga melihat mata merah Queen.


"Mas Aska jahat banget sih, masa cewek cantik kayak gitu di bikin nangis." Kali ini Aska yang menjadi incaran Rendi.


"Gara-gara lu cumi." Tutur Aska. "Ya udah kita pamit dulu ya Zahra. Pacar saya butuh hiburan." Sekali lagi Aska menegaskan hubungan mereka.


"Yaudah sono lu pergi. Hush hush.." Usir Rendi.


"Pamit dulu Ra." Aska berucap lembut dengan Queen.


"Aku pulang dulu ya ka Rendi." Queen menyalami Rendi berganti Zahra. "Aku permisi ya Zahra." Awalnya Zahra tidak mau menerima jabatan tangan Queen, tapi Rendi menggerakkan tangan Zahra menerima salaman Queen.


Aska dan Queen pergi dari kediaman Rendi. Meninggalkan gadis muda yang nantinya akan menjadi santapan Rendi. Aska tau itu pasti terjadi.


"Udah percaya belum sama saya?" Aska memakaikan jaketnya ke badan Queen, sebelum menyalakan mesin motornya.


Aska memang belum sempat mengganti atau menanggalkan atribut apapun saat sampai tadi, yang di tujunya adalah Queen. Segera membawa Queen ke tempat Rendi, seperti yang sudah di rencanakan Rendi dan Aska.


Queen mengangguk malu, sebagai jawaban atas pertanyaan Aska tadi. Ia tak ragu lagi akan kesetiaan lelakinya. Semoga semua ini akan selalu seperti ini.


Rendi adalah teman yang membawa pengaruh buruk bagi Aska, tetapi ia teman yang setia. Ia selalu mau membantu urusan Aska, seperti saat tadi, membawa Zahra ke hadapan Queen. Juga. Aska susah meminta Rendi menemaninya ke Bandung nanti.


Mama Queen memang bilang tidak perlu membawa Queen, bukan melarang Aska mengajak orang lain.

__ADS_1


**Pengennya pake visual. Tapi kalo pake visual, lama banget lolos up nyaa. Jadi.. masih boleh minta like, komen juga poin nya nggak?**


🙃🙃😉


__ADS_2