Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
sekolah.


__ADS_3

Tahun ajaran baru bagi mereka yang sudah memiliki buah hati yang sudah bersekolah. Begitu juga dengan keluarga kecil Aska. Gita, buah hati mereka baru berusia lima tahun, tapi Queen sudah bersikukuh untuk membuat putri kecil mereka memiliki rutinitas pergi ke sekolah.


Bagi Queen dan Rindi yang asalnya memang dari keluarga berada, tetap saja memiliki sifat bawaan tuan putri mereka sejak kecil. Berbeda dengan suami-suami mereka yang terlahir dari keluarga sederhana.


Para istri menginginkan anaknya untuk bersekolah di antara sekolah dengan pendidikan terbaik, meskipun jauh dari kediaman mereka, tapi tak jadi masalah selama Queen dan Rindi menempatkan anak mereka di sekolah yang sama.


"Itu jauh dari sini Ra.. kasian Tata nya, nanti keburu capek di jalan." Aska bersuara dengan lembut, memberi pengertian pada sang istri tercinta.


"Tapi dia kan naik mobil. Nggak masalah dong mas.. dia masih bisa santai selama di perjalanan." Queen menjawab dengan percaya diri.


"Iya, kalo aku lagi masuk siang, aku punya waktu. Terus kalo aku lagi masuk pagi atau malem gimana?" Aska masih dengan sejuta rasa kesabaran yang ia miliki.


"Ada Rendi, atau aplikasi jaman sekarang kan udah canggih mas.. nggak usah di bikin pusing lah.."


"Nggak selalu harus ngerepotin Rendi kan Ra.. kalau kamu pulang pergi naik taksi online selama satu minggu full, bukannya itu buang-buang pengeluaran ya Ra.. kamu tau kan pemasukan keuangan kita?" Queen mengunci tatapannya pada sang suami, dengan tajam dan intens.


"Kamu pelit!" Queen beranjak dari posisi duduk mereka, hendak meninggalkan sang suami yang juga duduk di dekatnya. Suasana malam yang tenang, mendukung mereka untuk berbicara dengan tenang dan serius.


"Kok gitu." Cepat-cepat Aska menahan pergelangan tangan istrinya, memintanya kembali pada posisi sebelumnya. "Bukan gitu maksudnya Ira.." Ya.. lelaki mana yang terima di cap seperti itu dari orang yang di kasih. Hati Aska seolah tertancap sesuatu yang tak terlihat.

__ADS_1


"Kalo ternyata semua karena uang, aku bisa bantu. Tabungan aku banyak, kita bisa pakai dari pendapatan uang sewa bulanan kontrakan ini. Mama aku juga pasti mau bantu kok."


"Aku nggak setuju!" Aska menolak tegas penuturan sang istri.


"Kenapa lagi sih?"


"Harga diri aku gimana Ra.. kalo pake uang tabungan kamu, oke aku masih bisa terima, tapi kalo minta bantuan sama mama kamu untuk urusan sekolah anak kita? hah.. aku nggak bisa terima itu." Aska menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa, mengusap mukanya dengan kasar.


"Aku jadi bingung deh sama kamu." Queen sudah habis pikir, merasa setiap apa yang di utarakan menjadi selalu salah di mata Aska-suaminya.


"Kita omongin nanti lagi ya Ra.. aku udah mulai pusing."


Tak jauh berbeda dengan Queen, Aska juga merasakan hal yang sama. Kali ini ia tidak menahan langkah dari kaki sang istri. Hanya menatap tubuh cantik itu hingga masuk ke dalam kamar belakang, lalu menutup matanya, pusing di kepala benar-benar menguras hampir habis kesabaran di hatinya. Ini bukan sifat Aska, mengakhiri obrolan tanpa mendapat keputusan yang pasti. Harus bagaimana dirinya menghadapi sifat keras kepala Queen dengan permintaannya kali ini.


***


Percakapan mereka yang semalam, benar-benar berimbas pada sikap dan kelakuan Queen di hari berikutnya. Queen tidak menyiapkan sarapan atau bekal untuk suaminya, juga baru bangun sesaat sebelum Aska hendak berangkat. Aska tentu saja sudah hapal dengan kelakuan istrinya saat sedang merajuk. Memang bukan kali ini dia bersikap seperti itu, tapi hati Aska sedih setiap kali di perlakukan seperti itu.


Karena itu, Aska tak ingin sikap istrinya terus berlanjut, ia memilih berdiskusi dengan suami dari Rindi. Bukan tanpa alasan, karena salah satu alasan Queen menyekolahkan anak mereka di sekolah elit yang jauh dari tempat kediaman mereka adalah, karena Rindi juga menyekolahkan anaknya disana.

__ADS_1


"Saya juga kurang setuju As sebenarnya, ini masih jadi obrolan panas di antara saya sama dia.." Suara putus asa tak jauh berbeda dari nada Aska terdengar di balik sambungan telfonnya. Dua suami yang masih harus ekstra memberikan pengertian untuk para istri.


"Masalahnya Gita baru masuk Tk mas.. rasanya sayang banget kalo ngabisin tabungan cuma buat itu, kan masih panjang nantinya. Nggak masalah kalo buat kuliah, tapi ini baru Tk mas.." Aska terdiam sebentar, menggeleng kepalanya beberapa kali. "Bingung saya tuh.."


"Kamu bingung, apalagi saya, Farhan baru umur tiga tahun As.. tiga tahun.. kalo di kampung anak segitu masih ikut emboknya kesawah." Keduanya terdiam sebentar, saling berkutat dengan pemikiran masing-masing.


"Coba deh mas, bujuk Rindi.. mas kan bisa lebih tegas dari saya. Mungkin aja Rindi mau ngedengerin pendapatan mas.. kan juga berdampak sama Ira nantinya.." Suara Aska penuh harap.


"Iya.. nanti aku coba omongin lagi. Tapi kamu juga harus bujuk Queen. Jangan cuma saya aja yang berusaha.."


"Saya aja udah di bilang pelit semalem."


"Saya juga di katain nggak tanggung jawab sama masa depan anaknya sendiri."


Keduanya terkekeh bersamaan, sama-sama merasa lucu dengan ucapan istri masing-masing.


"Yaudah ya mas.. aku tak muleh sek.." Aska mengakhiri obrolannya setelah mendengar deheman dari lawan bicaranya.


Begitulah dua suami yang sama-sama pusing dengan tingkah kelakuan istri-istrinya. Belum habis pembicaraan tentang perjodohan, sekarang di tambah sekolah yang harus sama. Padahal tempat kediaman mereka yang berjarak jauh dan tak satu arah.

__ADS_1


🙃🙃😉


__ADS_2