
Cinta seperti apa yang kau mau? kisah seperti apa yang kau nantikan? Tau kah kau, bahwa sebenarnya setiap cerita dalam hidup seseorang selalu menarik untuk di kisah kan. Hanya saja, apa yang mereka lalui, tak sejalan dengan isi kepala mereka sendiri. Seandainya saja mereka mengerti, bahwa apa yang mereka terima adalah sesuatu yang lebih baik dari yang mereka harapkan.
Hari-hari Queen setelah hari itu menjadi kian sibuk. Bukan karena tugas kuliah, bukan juga karena sibuk tentang pernikahan. Melainkan karena Queen yang sedang berusaha menekan egonya.
Apapun Queen lakukan, agar dirinya tak selalu ingin bertemu dengan Aska. Apapun itu, asal Queen tidak selalu memikirkan Aska.
Sama seperti hari ini, tiga hari menjelang hari bahagia, Queen meminta Rindi untuk menemaninya pergi ke salon. Perawatan diri, juga hati. Queen ingin tampil lebih cantik agar lelakinya bisa lebih mencintainya lagi dan lagi..
"Queen.. mau ambil paket yang mana?" Tanya Rindi sambil melihat isi dari daftar perawatan dalam salon.
"Yang mana aja lah, yang paling lama, biar gua bisa pulang terus tidur." Rindi juga beberapa pegawai yang mendengar ucapan Queen serentak menoleh kepadanya.
"Yang ada juga, lu tidur pas lagi perawatan, terus sampe rumah lu kepikiran sama mas Aska lu lagi deh." Ledek Rindi, Queen melengos sambil mencebikkan bibirnya.
"Jangan yang mahal-mahal Queen, belajar hidup hemat. Lu juga harus menyesuaikan diri dengan dompet lu kedepan." Nasihat Rindi.
Rindi lalu memilih perawatan dengan paket lengkap, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebenarnya, Queen tidak terlalu membutuhkan treatment semacam ini, Hanya saja, ini bagian dari dirinya agar sibuk, dan tak selalu bertandang ke kamar Aska.
"Habis putus cinta ya mba.." Salah seorang pegawai bernama Neni, yang sedang membersihkan wajah Queen mulai mengajak bicara.
"Engga mba. Cuma pengen santai aja." Jawab Queen sopan.
"Dia sebentar lagi mau nikah, lagi di pingit, biar nggak ketemu sama pacarnya, tapi apa daya, pacarnya tinggalnya di sebelah dia, jadi susah deh. Bawaannya pengennya berduaan terus." Rindi tergelak, tertawa puas setelah menceritakan kebenaran dari isi pikiran Queen.
Queen tak ingin ambil pusing, dirinya hanya menikmati setiap sentuhan pada tubuhnya. Lembut dan menenangkan.
Tak terasa waktu yang menyenangkan, memang cepat berlalu. Queen dan Rindi selesai dengan perawatan mereka masing-masing. Saat langit di luar sudah hampir gelap.
"Berapa lama sih Rin kita di dalem?" Tanya Queen bingung. Rasanya mereka tak selama itu, sampai awan cerah saat siang tadi, berubah menjadi gelap hampir malam.
"Enggak, cuma tiga jam doang kita di dalem."
"Kok, langit ampe item begini? Lu apain emang?"
'What? Somplak kali otak sih Queen, kebanyakan di sampoin.' Rutuk Rindi dalam hati. Rasa kesal menjalar dalam tubuhnya dari atas hingga ke hati.
"Lu besok maen-maen lah ke BMKG. Biar lu tau perbedaan langit kalo mendung ama cerah tuh gimana. Jangan ngayapnya ke mall mulu, ke bioskop mulu. Jadi percuma kan isi dalam kepala lu." Gemas Rindi.
Cuaca mendung, membuat langit sore yang seharusnya menunjukan senjanya, berganti menjadi awan hitam dan angin yang kencang.
Queen dan Rindi yang tadi berangkat ke kampus menggunakan kendaraan umum, begitu juga saat menuju ke salon, mereka menggunakan taxi online dari kampus.
"Gimana Rin baliknya? Mau ujan gini." Tutur Queen, berada di luar pintu salon, sambil memandang langit yang terhampar di pandangan mereka.
"Pesen online aja lah, repot banget." Rindi sudah bersiap untuk memesan jemputannya. Berbeda dengan Queen, yang masih tampak ragu dengan usulan Rindi.
"Buruan Queen, keburu ujan. Taxi pesenan gua udah mau sampe ni, lu mau gua tinggal disini sendirian?" Sentak Rindi membuyarkan lamunan Queen.
"Oke deh." Baru saja Queen akan melakukan pemesanan, nomor Aska sudah tertera di layar sebagai panggilan masuk. Queen kesal, baterai ponselnya sudah mau habis, bagaimana kalo nanti tidak cukup untuk pesan taxi.
"Halo. Kenapa mas?" Tanya Queen ketus.
"Gitu banget jawabnya. Lagi di mana emang? Kok selesai ngampus belum pulang sampe sekarang?" Aska tak kalah sengit. Queen memang tak memberi kabar tentang kepergiannya kali ini. Ide ini spontan begitu saja di kepala Queen, saat ia merasa kulitnya nampak kering.
"Aku baru selesai dari salon sama Rindi, mau pulang eh malah hujan." Adu Queen. Rintik rintik gerimis mulai turun menyentuh kulit Queen, Rindi yang sudah bersiap di jemput oleh pesanannya, menyentuh tangan Queen, untuk pamit pulang duluan.
"Gua duluan ya Queen, abang Is udah nunggu di rumah gue."
"Oke deh, pacar emang lebih penting Rin.. ati-ati." Rindi nampak khawatir meninggalkan Queen sendirian di pinggir jalan seperti ini, tapi mau gimana lagi. Cewek Mana yang rela ngebiarin pacarnya nunggu lama-lama di teras rumah. Kecuali, mereka pacaran nggak pake hati.
"Ra.." Panggil Aska, yang masih terhubung.
"Iya, mas, tolong pesenin taxi online dong, baterai hp aku udah low, takut nggak sempet pesen, Rindi juga udah pulang duluan. Keburu ujan juga disini. Tolong ya mas.." Rengek Queen memelas.
"Dimana posisi kamu?" Tanya Aska datar.
"Di depan salon kemuning, posisinya nggak jauh dari kampus aku."
"Disitu ada tempat berteduh nggak?"
"Ehm.." Queen mengarahkan pandangannya ke kanan ke kiri, mencari tempat yang seperti di katakan Aska. "Nggak ada mas, aku tunggu di dalem salon aja ya, nanti mas bilang sama drivernya suruh cari aku di dalem salon." Jelas Queen.
__ADS_1
"Oke. Kamu diem-diem disitu ya, jangan kemana-mana." Titah Aska.
Lelaki itu kemudian mematikan sambungan telfonnya. Karena hujan yang semakin lebat, Queen memutuskan masuk ke dalam salon, seperti usulnya pada Aska tadi.
"Permisi mba, saya numpang neduh sebentar ya, sampe jemputan saya dateng." Izin Queen pada pegawai dalam salon.
"Oh iya mba, santai aja. Silahkan duduk."
"Makasih ya." Queen duduk sambil memainkan ponsel, baru saja ia membuka aplikasi, belum sempat kebuka, baterai ponsel Queen sudah mati.
Dasar sial. Queen masih menunggu dengan sabar. Hingga saat pintu salon kebuka dengan tangan dari sosok lelaki yang Queen kenal.
"Lho? Kok mas Ask yang jemput sih?" Queen bingung.
"Iya, sama aja lah. Yang penting bisa pulang."
Aska dan Queen pamit pada pegawai di dalam salon, masih setengah tak percaya, Queen masuk dan duduk di sebelah Aska yang mengemudi.
"Mas.. kamu kok gitu sih?" Tanya Queen ambigu.
"Apa?" Aska sekilas melirik ke arah Queen.
"Aku tuh udah berjuang buat nggak ketemu kamu sampe hari akad nanti, eh kamu malah dengan santainya ngejemput aku disini." Queen masih memandang intens lelakinya.
Aska tersenyum, sesaat pandangan mereka beradu, menciptakan suasana hangat dalam hati Aska.
"Cowok mana Ra, yang rela ngebiarin ceweknya sendirian di pinggir jalan, udah mau hujan, hp lowbat, abis perawatan pula." Aska menggeleng geleng pelan. "Nggak ngebayangin saya, kalo kamu sampe di culik sama oknum tak bertanggung jawab." Aska terkekeh, menaikan alisnya, seperti meledek Queen.
"Ya udah lah terserah.." Queen tak ambil pusing, ia melipat kedua tangannya di depan dada.
Hening sesaat, di dalam mobil Aska menyalakan radio, menikmati momen berdua dengan Queen, di bawah guyuran hujan yang semakin menggila.
Aska tau, Queen juga suka hujan. Bagusnya Queen masih punya rasa malu, jika tidak, setiap ada hujan Queen mungkin sudah menari di bawah guyuran hujan sambil menikmati setiap sentuhan air di atas kulitnya.
**rinai hujan basahi aku..
temani sepi yang mengendap,
dan semua saat manis itu..
Segalanya seperti mimpi,
ku jalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap, takkan berubah..
Aku.. selalu bahagia,
saat hujan turun
karena aku dapat mengenang mu untukku sendiri..
selalu ada cerita,
tersimpan di hatiku
tentang kau dan hujan
tentang cinta kita yang mengalir seperti air..
Aku.. selalu bahagia,
saat hujan turun
karena aku dapat mengenang mu untukku sendiri..
aku.. bisa tersenyum sepanjang hari,
karena hujan pernah
__ADS_1
menahan mu disini,
untukku**..
Satu lagu hujan dari Utopia, terdengar indah di telinga Queen. Pintar sangat sang pembawa acara radio itu memilih lagu. Pas.
Queen jadi teringat, saat dulu dirinya masih bersama dengan Arya, dan sudah jatuh dalam pesona tetangga barunya. Queen senyum-senyum sendiri mengingatnya.
Queen yang dulu sangat tertarik dan sudah jungkir balik dengan perlakuan sikap Aska yang selalu berubah-ubah setiap waktu, Queen sampai hampir putus asa, ketika lelaki yang kini akan memimpinnya untuk masa depan, ia mengira akan menikahi gadis lain di kampung.
Ingatkah Aska akan kejadian itu, kejadian dimana ia rela mengejar Queen dalam guyuran hujan. Hanya demi sebuah penjelasan. Yang seharusnya itu tidak berarti, karena mereka yang belum terikat hubungan.
Queen juga tidak tau pasti, kapan lelaki itu masuk dalam jebakan hati Queen. Mulai menerima Queen di hatinya.
Mungkinkah karena rasa bersalah atas Arya? atau rasa tanggungjawab karena Queen sudah kehilangan lelaki sebaik Arya? Atau memang dirinya benar mencintai Queen sepenuh hati?
Ingin sekali Queen bertanya saat ini juga, tapi Queen takut, jawabannya nanti tidak bisa ia terima dan malah akan membuat hubungan mereka renggang. Queen takut.
Aska perduli dan Aska mengerti setiap perubahan raut wajah Queen saat ini. Meski pandangannya fokus kedepan, tapi ia menyempatkan melirik gadisnya.
Melihat dan mengamati, kenapa gadis konyol ini menjadi begitu tenang. Setelah ia ikut bernyanyi bersama lagu dalam radio tadi. Queen benar-benar seperti orang yang memiliki kepribadian ganda.
"Ra.." Seru Aska seraya menyentuh lembut jemari Queen. Aska tak ingin mengejutkan Queen.
Queen menoleh dengan wajah penasaran.
"Kenapa diem aja? Marah sama saya?" Tanya Aska.
Queen menggeleng kecil. Wajahnya sendu mengingat perasaan Aska yang menjadi abu-abu.
Abu-abu? Bagaimana Queen bisa meragukan besarnya cinta Aska? Tidakkah ia ingat pengorbanan yang sudah lelakinya itu lakukan demi menjaga keutuhan hubungan mereka.
Bagaimana juga, jika Aska tau, kalau gadisnya itu meragukan cinta Aska. Meragukan setiap momen indah yang berusaha ia lakukan demi membuat Queen merasakan kelembutan dan kenyamanan.
"Ngomong aja, mikirin apaan kamu? Jangan diem-diem. Saya bukan malaikat yang tau isi hati juga pikiran kamu."
Sentilan kalimat Aska dalam telinga Queen, sungguh membuat hati Queen terasa geli. Itu juga sebenarnya yang sedang Queen rasakan.
Pernikahan mereka sebentar lagi akan terjadi. Tetapi Queen masih saja meragukan hati Arya, itu pasti akan berdampak pada hubungan mereka kelak.
"Ini masih lama lo Ra nyampenya. Kalo kamu ada yang mau di omongin atau di beli, masih keburu. Jangan sampe nanti usah sampe rumah kamu baru ngomong ada yang di mau. Saya nggak mau anter lagi." Tegas Aska.
What?? Tuh kan bener hati Aska tidak seutuhnya untuk Queen. Buktinya dia bisa menolak keinginan Queen.
Belum juga Queen bersuara, Aska sudah siap dengan sikapnya nanti.
Queen kesal, ia membuang arah pandangnya ke luar jendela. Menikmati pemandangan dimana rintik hujan mampir di jendela mobil Aska. Jatuh dan menetes dengan cepat meluncur hilang ke bawah.
Tanpa di sengaja, jari Queen mengikuti setiap alur jejak rintikan itu. Ia juga hampir membuka kaca jendela di sebelahnya. Kalau saja Aska tidak sigap mengunci jendelanya.
"Ngapain sih Ra? Nggak sadar apa, di luar lagi ujan?" Aska sedikit kesal, dengan suara dominatif dan tegas.
Tak tahan lagi, Aska menarik dagu Queen, memaksanya menatap manik mata Aska.
"Coba ngomong, kamu kenapa? Saya ada salah sama kamu? Hng?"
Queen masih enggan membuka suaranya, menggeleng perlahan lalu melepaskan dagunya dari pegangan Aska.
Sikap bungkam Queen membuat Aska semakin frustasi. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
Masa iya, Aska harus menghentikan laju mobilnya sekarang juga, dan bikin macet jalanan yang ada di belakangnya. Kira-kira gimaan reaksi Queen kalau Aska menghentikan mobilnya tiba-tiba?
"Kalo kamu nggak mau ngomong juga saya turunin di sini nih." Ancam Aska. Kalimatnya sukses membuat Queen merespon.
Awalnya tatapan tajam mata Queen yang ia terima, tapi itu adalah awal yang bagus untuk memancing kalimat Queen keluar.
"Kenapa? Mau di turunin disini?" Desak Aska.
"Ya udah, turunin aja." Tantang Queen, Aska melongok di buatnya.
Ada apa sih dengan gadisnya, kenapa bisa tiba-tiba berubah drastis begini. Masa iya, cuma karena sebuah lagu, bisa mempengaruhi perasaanya dalam sekejap.
__ADS_1
Amazing! Perasaan wanita emang amazing. Aska sampai pusing di buatnya.