Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
deapan belas


__ADS_3

"Gitaaaa...." Teriak Queen. Enggan mengetuk pintu kamar anak perempuannya itu, apalagi masuk kedalam hanya untuk memberitahu kalau jemputannya sudah datang.


"Gitaaa.... buruaann... nggak usah pake dandan segala ya.. percuma." Sambungnya.


Farhan yang sedang bergabung bersama Queen dan Aska duduk di sofa depan tv, hanya bisa mengernyit heran atas ucapan Queen.


Aska menyadari raut wajah anak lelaki itu. Ia hanya menghela nafas pelan, tidak ingin membuat masalah berlarut. Menepuk paha Queen lalu berucap pelan. "Bun... biar ayah yang panggil ya." Tuturnya lembut.


"Serah." Jawab Queen ketus.


Aska beranjak dari tempatnya, menghampiri kamar Gita lalu mengetuknya pelan.


"Gita.. Farhan udah dateng nih, jangan lama lama, kasian."


"Iya .. jangan lama lama dandannya percuma. Mending belajar masak aja sono di dapur, dari pada kelamaan di depan kaca." Sahut Queen.


Asa sengaja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus berbuat apa.


"Apa sih bun.. masih aja deh " Gita akhirnya keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Nih ya, Farhan bunda bilangin mulai dari sekarang. Kalau jadi lelaki itu harus jujur, suka ya bilang suka, kalau enggak suka ya nggak usah di paksain juga. Percuma, nggak baik belakangannya." Nasihat Queen yang langsung di jawab cepat oleh Farhan.


"Farhan suka kok bun sama Gita. Bener deh nggak bohong."


"Bukan sama Gitanya. sama masakannya maksud bunda."


Farhan terdiam sebentar, ia melirik Aska lalu mendongak menatap Gita yang berdiri di belakangnya.


"Tapi Gita belum pernah masak buat Farhan sih bun.. nanti deh lain kali.."


"Apaan sih.. nggak usah dengerin bunda lah, lagi senewen sama ayah dia." Gita cemberut, ia lalu menarik tangan Farhan mengajaknya lekas pergi.


"Ayah sih.. makanya, kalau tau istrinya suka ngambek tuh sering sering di ajak belanja gitu lho yah.. kaya om Rendy sama aunty Zahra itu. Adem aja mereka tuh, biarpun om Rendy nya bikin pegel hati tapi tetep aja aunty Zahra mah ngerelain. Karena apa? Karena di sogok terus sama kartu item." Gita terkikik geli sendiri saat berbicara.


"Ya udah.. ayok pergi belanja. Belanjain semua yang bunda mau. Beli apa aja terserah. Ayah emang nggak kaya, nggak punya kartu item, tapi ayah masih punya tenaga kalau uang gajihan sebulan yang baru di transfer langsung habis dalam satu jam." Setelah mengatakan itu Aska langsung berbalik masuk ke kamar.


"Gantian deh ngambeknya." Gita cepat mencium tangan Queen di ikuti oleh Farhan. Pertanda mereka segera berangkat.


"Ayah Gita sama Farhan berangkat ya .. Nggak usah ikutan ngambek ya yah .. entar adeknya Gita nggak jadi jadi dong. Assalamualaikum." Pamitnya.

__ADS_1


***


"Bunda ngambek kenapa?" Tanya Farhan. Mereka kini sudah di dalam mobil, siap berangkat menuju tempat les Gita.


Hari sabtu, hari libur bagi Farhan tapi tidak untuk Gita. Karena dirinya yang sebentar lagi harus siap menghadapi ujian, maka tidak ada waktu libur baginya meskipun hari minggu. Begitu juga dengan Farhan. Ia tentu saja merelakan waktu istirahat nya hanya untuk mengantar dan menjemput Gita ke tempat less atau ke toko buku.


"Nggak tau. Katanya sih ayah salah ngomong. Terus bunda langsung ngomel nggak jelas. Sampe nggak jadi masak. Aneh banget sih bunda ngambeknya." Cicit Gita. Tangannya sibuk memainkan ponsel membuat janji pada teman sebangkunya.


Farhan yang hanya bisa mengintip nama si penerima hanya bisa diam. Ia dia diam karena Gita chatting dengan sesama perempuan yang ia kenal. Tapi beda urusannya jika lawan chat nya adalah lelaki.


"Aku nanti turun di seberang tempat less aja ya." Tatapannya intens pada mata Farhan.


"Tempat makan? Ngapain?"


"Ya makan dong.. Far.. masa kencan. Eh tapi sekalian kencan juga bisa ya kan?" Gita nampak berfikir.


"Enggak." Farhan membuang arah pandangnya menatap lurus.


"Yaelah... egois. Orang cuma tanya." Gita ikut membalikan wajahnya menatap pemandangan di luar jendela di sisinya.

__ADS_1


"Enggak usah ikutan ngambek ya Gita.. entar adeknya nggak jadi jadi dong." Ledek Farhan.


🙃🙃😉


__ADS_2