
Hari telah berganti, Aska sudah berangkat lebih dahulu seperti biasanya. Kemarin, Queen tidak mendapati apa yang menjadi ekspektasinya, Queen tetap menghabiskan waktunya di kamar bersama Aska.
Hanya saja, sore itu saat Queen sedang merasa bosan berbaring di atas pangkuan Aska, entah kenapa ia tiba-tiba teringin menghubungi mamanya.
"Mas.." Panggil Queen. Rasanya sangat ragu untuk mengambil keputusan yang sangat kaku baginya.
"Apa?" Jawab Aska, meski tatapannya tak pada wajah Queen, tapi tangan lelaki itu tidak berhenti mengusap kening Queen.
"Aku kayaknya mau telfon mama sekarang deh." Queen menggigit ujung ponselnya. "Kalo nanti ketemu jadinya aku nggak kaku gitu mas.." Queen mengangkat arah pandangnya ke wajah Aska.
Aska terkejut, alisnya terangkat sambil membalas pandangan Queen. "Boleh juga. Yaudah telfon." Aska yang paling antusias. Tak ada apapun lagi saat ini yang berarti bagi Aska selain ucapan Queen barusan.
Queen bangun, duduk bersandar di sebelah Aska. Lelaki itu dengan semangat memberi keyakinan pada Queen. Aska tersenyum saat sambungan telfon mereka terhubung.
"Halo, mama.." Sapa Queen.
"Halo Queen. Ada apa?" Tanya mama Queen, nadanya masih datar seperti biasa, tapi Queen tak lantas berkecil hati. Tekatnya sudah bulat ingin memperbaiki hubungan mereka, salah satu alasannya karena demi mendapat restu.
"Eem.. mama apa kabar?" Queen kaku.
"Kabar baik, kenapa telfon mama?" Queen tak tau harus jawab apa. Iya memandang wajah kekasihnya. Aska tersenyum, mengusap kening Queen lembut.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma pengen telfon mama aja. Boleh kan?" Dalam diam ada haru di hati mama Queen.
"Boleh. Kapanpun kamu telfon pasti mama angkat." suara mama Queen mulai parau.
"Oke deh. Sekarang aku masih nggak tau harus bilang apa, lain kali pasti akan ada yang aku ceritain sama mama." Queen tersenyum, tertunduk. Hatinya berdesir, air matanya juga mulai memenuhi pelupuk mata.
"Oke. Sampai nanti ya Queen."
"Iya ma." Queen menunggu hingga mamanya memutuskan sambungan telefonnya lebih dulu.
__ADS_1
Aska terharu mendengarnya. Tak apa, meski hanya obrolan singkat yang penting Queen susah berusaha. Dengan cepat Aska memeluk gadisnya. Membawa tubuh Queen dalam dekapan.
"Selamat Ra, kamu udah berhasil ngatasin ego kamu." Queen tersenyum seraya menyeka air matanya. mengangguk pelan dalam dekapan tubuh Aska.
"Ini semua karena mas Aska. makasih ya mas." Aska mengangguk. Ia mencium pucuk kepala gadisnya berulang. Bersamaan dengan haru mereka pada waktu itu, ponsel Aska berdering karena sebuah chat dari mama Queen.
"Saya tunggu kamu dan keluarga kamu tanggal 14, di Bandung."
Sayangnya, Aska tidak langsung melihat isi pesan itu. Ia masih tidak menghiraukan apapun selain gadisnya kali ini. Hingga malam menjelang, yang Aska bisa berikan hanya menuruti setiap keinginan Queen soal makanan. Tak ada yang lain yang menyenangkan bagi Queen.
Seperti biasa, Aska dan Queen kembali tidur di atas satu ranjang. kali ini entah kenapa Aska merasakan kegetiran dalam hatinya.
Sampai kapan mereka harus seperti ini, berada di atas satu ranjang hampir tiap malam. Bukan karena Aska takut tergoda akan tubuh molek Queen, tapi Aska di besarkan dalam lingkungan yang penuh dengan nilai agama.
Bagi kehidupan Aska, Queen benar-benar virus. Aska sangat sulit menolak setiap pesona Queen, entah itu saat gadisnya marah, bahagia atau sedang manja sekalipun, tetap bisa menarik Aska tak ingin jauh darinya.
Sampai kapan Aska harus berbuat demikian. Memeluk dan mencium seorang gadis manja yang kesepian, bukankah sama saja dengan pelecehan bagi Queen. Meski mereka sama-sama suka, setidaknya mereka tidak tau siapa jodoh mereka nantinya.
Queen sudah tertidur lelap, tapi Aska masih saja tak bisa memejamkan matanya. Ia harus berbuat apa, agar hatinya tenang kembali.
Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya, jika ia masih memiliki Tuhan dalam agamanya. Aska berjalan masuk kedalam kamar mandi. Di tengah malam ia basuh tubuhnya, mandi dengan niat suci, kemudian mengambil air wudhu.
Aska melakukan shalat malam. Meminta sang pemilik kuasa dalam hidupnya memberinya ketenangan hati. Tak banyak yang ia pinta, ia hanya ingin yang terbaik untuk hubungannya dengan Queen berjalan seperti apa adanya, yang sudah di tetapkan oleh sang kuasa.
***
**Bila..
waktuku t'lah tiba untuk selalu disisi
menjaga hatimu
__ADS_1
aku kan s'lalu mencoba berikan yang terbaik untuk kau miliki
tapi ma'afkanlah aku, waktuku hanya sesaat..
Sungguh di batas asaku, hanya ingin kau bahagia jalani hidupmu
aku kan s'lalu mencoba berikan yang terbaik untuk kau miliki
tapi ma'afkanlah aku, waktuku hanya sesaat..
Aku tak bisa memiliki, menjaga cintamu
walau sesungguhnya hatiku, mencintaimu memilikimu
aku tak ingin kau terluka mencintai aku
hapuslah air matamu dan lupakan aku**..
Queen yang baru saja bangun, setelah Aska sudah berangkat sejak tadi. Saat sedang berjalan keluar menuju pintu untuk kembali ke kamarnya, Queen menemukan secarik kertas di atas meja depan tv. Queen penasaran, tanpa rasa ragu ia lalu membaca isi tulisan dalam kertas.
Betapa terkejutnya Queen, entah apa ia salah mengerti atau tidak, tapi Queen paham sedikit dalam kalimat terakhir tulisan itu.
Benarkah ini tulisan tangan Aska, untuk dirinya kah? Atau untuk wanita lain? Tapi rasanya Aska tak pernah menyembunyikan apapun dari Queen s'lama ini.
Queen masih tak percaya, meski ia baca berulang-ulang, tetapi otaknya menolak untuk mengerti.
Begitu juga dengan hatinya. Queen benar-benar tak berdaya dengan isi tulisan itu. Dengan cepat Queen mencari ponselnya yang berada di atas sofa semalam.
Queen menelfon Aska. Ia harus mencari jawaban atas spekulasi di kepalanya. Berkali-kali Queen menelfon Aska, tetapi tak kunjung di angkat. Queen mencoba tenang, berfikir positif tentang lelakinya.
Queen kembali ke kamarnya, bersiap menuju kampus. Selama perjalan menuju kampus Queen terus memikirkan isi tulisan itu.
__ADS_1