
Mobil Aska mulai memasuki lahan parkir di sekitar lingkungan kontrakan Aska.
Queen yang masih terlarut dalam tidurnya, membuat aska setengah hati untuk menyadarkan gadis manja di sebelahnya itu.
Aska menatap dengan pandangan penuh memuja pada paras cantik Queen. Hati Aska yang tadi merasakan getirnya rasa cemburu, mulai tergantikan dengan rasa tenang yang memenuhi isi hatinya.
Setelah melepas sitbelt yang membelit tubuh dirinya dan Aueen. Aska memilih membangunkan Queen dari alam mimpinya.
"Ra... Bangun." Aska mengguncang pelan tubuh Queen, dilihatnya ada pergerakan pada tubuh Queen, Aska mengambil payung kecil yang terdapat pada jaring di belakang kursi mobil.
Hujan yang mulai turun sejak setengah dari perjalanan mereka, semakin banyak air yang tumpah dari langit yang tengah berawan gelap.
Lelaki itu membuka payungnya, kemudian menghampiri Queen dengan mengitari sisi lain dari mobil itu. Membuka pintu nya, dimana tempat Queen berada.
Aska kembali mengguncang tubuh Queen pelan, memastikannya benar benar tersadar.
Dengan mata yang masih mengerjap, Queen seakan terkejut dengan dimana kini keberadaan dirinya.
Aska mengusap rambut Queen, membantu menyelipkan sedikit rambut yang menutupi sebagian wajah Queen, penampilannya sedikit kacau, akibat dari tidur nya tadi.
"Ayo bangun Ra... Kita udah sampe" Aska mencoba mengangkat kesadaran Queen.
"Dimana mas?"
"Di kontrakan saya."
Setelah merapikan penampilan rambut Queen yang tadi sedikit acak acakan, Aska berbalik memunggungi Queen masih dengan satu tangan yang memegangi payung.
"Ayok Ra... Mulai dingin nih..." Aska memerintah tak sabar.
Queen yang sudah terbiasa dengan sikap Aska yang memanjakannya, mengerti dengan apa yang di maksud oleh lelaki di hadapannya itu.
Queen mengalungkan tangannya di leher kokoh milik Aska.
Menempelkan tubuh mereka dengan dada Queen berada di belakang punggung Aska.
Berikutnya Queen melingkarkan kedua kakinya, mengapit di pinggul Aska yang sedikit membungkuk menanti Queen.
Aska menyangga bagian bawah Queen dengan kedua tangannya. Sedangkan payungnya di pegang oleh Queen, yang asik bersandar manja dengan dagu di atas pundak Aska.
Queen tak banyak bicara selama dalam gendongan Aska. Meskipun hatinya sudah tidak marah lagi dengan pertengkaran mereka tadi siang, hatinya justru di landa perasaan yang menghangat, serasa ada kemenangan yang menguar di pikirannya.
Lelaki itu juga tak berbicara, hanya fokus menapaki jalanan yang licin karena di basahi oleh air hujan.
Tidak ingin sampai salah langkah dan terpeleset, apalagi sampai jatuh.
Alih alih menyuruh Queen berjalan beriringan dengannya, Aska lebih memilih menggendong gadis kesayangannya itu. Tidak tega karena Queen baru bangun, sekaligus penebusan rasa bersalah atas perlakuannya tadi siang.
__ADS_1
Queen benar benar seperti gadis kecil yang perlu di manjakan dalam pikirannya.
Mereka sudah sampai di depan pintu, Aska mengambil payung yang di pegang Queen, menaruhnya ke bawah dengan pelan, dilanjutkan membuka kunci pintu kamarnya masih dengan satu tangan yang menyangga tubuh Queen dari bawah.
Aska baru menurunkan Queen di atas sofa dalam ruangan depan Aska.
Tidak ada sedikitpun niat dalam hati Aska, untuk melakukan pelecehan selama ia menggendong Queen di belakang punggungnya.
***
Queen tersenyum senang, melihat Aska yang kini duduk di sebelahnya, mengusap lembut rambutnya dengan senyuman manis terpampang di wajah tegas Aska.
"Maafin saya ya Ra... Tadi udah kasar sama kamu." Aska memulai percakapan dengan wajah serius. Tangannya beralih menggenggam tangan Queen kini.
"Saya nggak mau yang kayak tadi terjadi lagi. Please Ra... Jangan bawa orang lain dalam hubungan kita. Ini hanya tentang kita." Tutur Aska bersungguh sungguh.
Bukannya menjawab keseriusan kata kata aska, Queen malah membuang wajahnya dari hadapan Aska. Bibirnya merengut seperti merajuk.
"Aku nggak ngerti, sama arti dari kata hubungan kita!" Queen berkata dengan nada ketus.
Aska membuang nafasnya kasar. Di pejamkan matanya sebentar. Meraih pundak Queen membuatnya menghadap pasti di depannya. Tangannya kembali ia rapatkan pada tangan Queen.
"Oke, saya ngerti mau kamu. Dan saya bakal ikutin itu. Saya mau kita pacaran mulai kemarin."
"Apa??" Queen terkejut mendengar pernyataan Aska.
"Saya nggak terima penolakan Ra..." Jawab aska lembut, tapi tegas.
"Ck.. Ah ilah... Gitu bener."
Queen melepaskan genggaman mereka secara kasar. Tapi lelaki di dekatnya, tidak ingin ambil pusing lagi. Ia bangkit dari duduknya, sedikit membungkuk untuk mengecup kening Queen sebentar namun dalam.
"Kamu disini aja ya. Saya susah kalo kamu nggak ada waktu saya pulang." Ucap Aska sedikit berbisik tepat di depan wajah Queen.
Mendengar itu Queen menunduk malu, dengan anggukkan tipis tanda setuju.
Aska tersenyum tipis. Beranjak meninggalkan Queen yang masih duduk manis di atas sofa.
Lelaki itu membersihkan tubuhnya sebentar kemudian mengganti kaosnya yang tadi setengah basah.
Aska merebahkan tubuhnya di atas kasur. Membuang nafasnya kasar yang membuat dadanya terasa lega.
Matanya terpejam, dengan sedikit nada tinggi aska berucap
"Ra.... Jangan tidur ya... Gantian saya yang tidur!!"
Mata Queen seketika membulat mendengar perkataan Aska. Dengan cepat Queen turun dari sofa berlari menghampiri Aska yang sudah berbaring enak di atas kasur empuknya.
__ADS_1
Queen melompati Aska, meraih tempat posisinya untuk berbaring,
dan langsung menghambur memeluk Aska saat tubuhnya mendarat kasar diatas kasur.
Aska tersenyum dalam diam menanggapi sikap bocah nya Queen. Dia benar benar rindu memeluk tubuh Queen. Padahal baru tadi pagi mereka melakukannya.
"Ra..." Masih dengan mata tertutup Aska memanggil Queen yang juga sudah mendapatkan posisi enak di pelukan hangat Aska.
"Hmm..." Jawab Queen tanpa menoleh.
"Kamu... Udah siap belom ketemu sama ibu saya?"
Queen terkejut. Dia angkat wajahnya mencari wajah Aska di atasnya.
"Insya allah aku siap mas.. Kapan dimana?" Queen antusias.
"Sekarang, di mimpi!"
Queen yang mengerti Aska sedang menggodanya langsung mencubit gemes perut Aska yang nyaris tak berlemak.
Aska mengaduh kesakitan dengan tawa yang tak bisa ia sembunyikan.
"Iya maaf maaf.. Aduh ampun..." Aska menyerah, memegangi tangan Queen, menahannya agar tidak melanjutkan perbuatannya lagi.
Aska menaruh kembali tangan Queen di belakang punggungnya. Memintanya kembali untuk memeluk seperti semula.
"Ra...."
Aska kembali berucap. Kali ini dengan nada serius.
"Apaan..." Jawab jutek Queen.
"Em... Saya ini... Orangnya posesif sama pasangan. Saya takut, kamu nggak kuat." Terdengar ada nada khawatir dalam ucapannya.
Tapi, bukannya menjawab dengan serius Queen malah berbalik menggoda.
"Uwuh... Mau dong di posesifin..." Goda Queen.
Kali ini Aska yang mencari wajah Queen di bawah dagu nya.
"Bener... Kalo gitu kita tidur sekarang. Besok saya nggak akan tahan lagi. Karna kamu udah jadi perempuan saya. " Ucapnya serius.
Ada sedikit perasaan risau dalam hati Queen, juga ada rasa senang di pikiran nya. Posesif.. Se posesif apa lelakinya itu besok... Apakah akan terasa parah untuk hubungannya yang baru di mulai?.
❣️❣️❣️❣️❣️💓💓💓💓
*seperti biasa. minta like and commen nya ya guys.....
__ADS_1
.😅😅