
Jika mencintai Queen yang dulu itu terasa sulit dan penuh dengan ujian kesabaran. Kali ini Aska lah yang memberikan ujian kesabaran ekstra untuk Queen. Bukan karena Aska sedang balas dendam, melainkan karena Queen yang sedang mengandung.
Queen sudah siap dengan segala yang terjadi pada hidupnya, ketika ia sudah memantapkan hati, menerima lamaran dari lelaki pujaan hati. Queen juga sudah di berikan berbagai wejangan dari Ibu kandung Aska, yang kini sudah resmi menjadi Ibu mertua Queen.
Meski tidak setiap hari Queen berinteraksi dengan orang tua yang ia muliakan sejak pertama bertemu itu, tapi setidaknya dalam seminggu pasti ia sempatkan. Terkadang Queen menelfon hanya sekedar basa-basi. Tak jarang pula Queen video call, meminta bantuan tentang bumbu-bumbu saat Queen sedang masak.
Sama seperti saat ini, ketika Queen baru selesai berbicara dengan ibu mertuanya. Wanita muda yang tengah mengandung itu menceritakan segala tingkah aneh Aska selama masa kehamilan Queen. Tak lama suara pintu terdengar seperti terketuk. Dengan cepat Queen berusaha sampai pada daun pintu. Queen tau, siapa yang berada di depan pintu kontrakannya.
"Mas Aska.." Sambut Queen dengan senyum manisnya yang mengembang.
"Hm.." Aska yang wajahnya tak secerah biasanya membuat Queen sedikit khawatir.
"Capek banget ya kamu mas? Sampe pucet gitu?" Queen menerima jaket yang di ulurkan oleh Aska, menggantungnya di balik daun pintu.
"Ahh.." Aska merebahkan tubuhnya di atas sofa, tanpa sempat membuka seragam yang seharian tadi ia kenakan. Rasa lelah bercampur lapar membuat tubuh Aska benar-benar seperti kehabisan tenaga. Bagaimana tidak, jika kemarin-kemarin Aska menginginkan makanan yang agak sulit dan ribet dalam pemikirannya. Kali ini Aska tidak bisa makan nasi seperti biasanya. Entah kenapa selera makannya langsung hilang seketika saat melihat makanan yang menjadi hal pokok dalam masyarakat awam Indonesia. Sayangnya, Aska belum sempat memberitahu keadaannya kali ini pada istri tercinta.
"Mau minum apa mas? Teh atau kopi?"
"Aku mau minum susu aja Ra. Tolong ya.." Akibat letih yang menguras tenaganya, Aska bahkan berbicara sambil terpejam. Dengan satu tangan berada di atas kening, lelaki itu mencoba melepaskan segala penat di tubuhnya.
"Tunggu sebentar ya mas.." Queen berjalan dengan cepat, tidak tega rasanya melihat lelaki yang amat di cintai, kini terbaring tak berdaya. Namun apa mau di kata, itu sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk menafkahi Queen, guna mencukupi seluruh kebutuhan keluarga kecilnya kelak.
Tak lama, Queen datang dengan segelas susu coklat hangat untuk Aska. Awalnya Aska selalu minum susu putih, tapi karena indera penciumannya kurang baik kali ini, jadi ia beralih pada susu coklat yang baunya kurang menyengat.
Aska bangun dari posisinya, bergerak dengan Perlahan hingga tubuhnya duduk dengan sempurna bersandar pada punggung sofa.
__ADS_1
"Kamu capek banget sih mas kayaknya.. emang tadi ngapain aja?" Queen mengangsurkan gelas berisi susu untuk suaminya. Dan Aska menerimanya dengan senyum.
"Makasih ya sayang.." Dengan cepat Aska menenggak habis, hanya dalam satu tegukan. "Aku bukannya capek Ra.. tapi badan rasanya lemes banget. Aku kayak orang yang lagi puasa Ra.."
Sambil mendengarkan suaminya bercerita, Queen membuka satu persatu kancing baju tugas Aska, dari atas hingga ke bawah. Membantunya hingga pakaian itu tanggal dari tubuh Aska. Wanita mana yang tega melihat suami tercinta yang baru saja ia miliki dengan sah, terlihat begitu lemah dan tak bertenaga.
"Tapi.. mas Aska kan udah biasa puasa kata Ibu. Masa masih lemes juga?"
"He'em... tau nih.." Aska kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kali ini badan bagian atasnya sudah tidak mengenakan pakaian. Hanya celana bahan panjang yang masih melekat di bagian bawah tubuh Aska.
"Mandi dulu mas biar seger.. terus kita makan, biar kamu tambah seger." Usul Queen. Wanita itu masih setia berdiri di samping Aska, hingga lelakinya beranjak bangun dan berjalan ke belakang, mengikuti instruksi Queen. Barulah Queen merapikan atribut yang tadi di gunakan suaminya.
Aska takut. Ia takut kalau nantinya Queen tersinggung dengan sikapnya saat mencium bau nasi hangat. Saat ini hidung Aska sedang menolak bau nasi hangat juga bau susu putih yang terasa amis baginya. Jadi, sebelum Aska beranjak masuk ke dalam kamar mandi, ia menyempatkan untuk mencoba mendekatkan dirinya dengan nasi putih yang masih berada di dalam benda penanak nasi elektronik.
Perlahan Aska memejamkan matanya, menyuap satu comot nasi dari tangannya. Sialnya perut Aska mulai bereaksi, rasa mual kembali ia rasakan. Aska harus mencobanya. Meski ia dapat menelan dengan paksa, tapi perutnya seolah menolak makanan itu. Dengan kasar Aska menutup penanak nasinya lalu berlari ke dalam kamar mandi. Ia menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Segera menyalakan keran agar dapat meredam suara yang timbul akibat ia mengeluarkan isi dalam perutnya.
Semuanya keluar.. satu gelas susu coklat yang tadi mengganjal perutnya sudah harus ia muntahkan lagi, bersama dengan sedikit nasi yang ia paksa telan.
Aska menyiramnya hingga bersih. Sungguh lega rasanya setelah semua itu bisa ia keluarkan. Rasa lemas dan keringat dingin mulai menyergap dirinya. Aska memutuskan segera membasuh tubuhnya dengan air dingin di hadapannya. Berharap tubuhnya kembali merasa segar, meski isi dalam perutnya baru saja ia kuras tadi.
Cukup lama Queen menunggu Aska keluar dari kamar mandi, ia bahkan sudah meletakkan nasi di atas piring, mendinginkannya sambil menunggu Aska keluar dari kamar mandi.
"Kamu lama banget sih mas mandinya.." Melihat Aska dengan rambut pendeknya yang basah, dan sisa-sisa butiran air di atas tubuhnya membuat Aska terlihat lebih segar dari sebelumnya. "Kalo gini kan enak diliatnya." Queen tersenyum menatap Aska, di balas tatapan intens Aska yang juga tersenyum.
"Aku udah siapin baju kamu ya, di atas kasur." Queen sedikit berteriak karena dirinya masih berkutat dalam dapur.
__ADS_1
Aska tidak menjawab, ia hanya terus berjalan menuju kamar sambil berfikir tentang bagaimana cara ia makan nanti di hadapan Queen. Ia takut melukai hati istrinya. Kalau nanti Queen salah paham lalu ngambek, terus tidak mau masak lagi, itu akan membuatnya repot. Mengurus dirinya yang sedang terkena "Ngidam" saja membuatnya kepayahan. Apalagi harus membujuk Queen yang sedang merajuk. Astaga.. itu sangat sesuatu baginya.
"Ayok mas Aska buruan.. udah siap nih makannya. Nanti keburu dingin, nggak enak sayurnya"
"Iya, sebentar Ira.." Jawab Aska sedikit enggan. Ia sudah selesai dengan bajunya. Kali ini sudah tidak bisa mengelak lagi dari makanan yang sudah disiapkan Queen.
"Hmm.." Aska melirik isi makanan dalam piring di atas meja. Itu pasti untuk dirinya. Nasi disiram kuah sop ayam dengan tempe goreng dan sedikit sambal di pinggir. Ya ampun, begini cara makan yang Aska suka, tapi kali ini makanan itu akan menyiksanya. Rasa nasi yang sedang menjadi musuh bagi perutnya, juga bau sop ayam yang mungkin akan terasa amis baginya.
Aska menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas sofa. Mengambil piring dari atas meja, setelah sebelumnya ia meminum sedikit air dari gelas yang sudah Queen siapkan.
"Em.. tolong beliin aku biskuit ya Ra, buat temen nge-teh nanti." Pinta Aska. Ia sudah memprediksi seberapa cepat perutnya menolak makanan ini, karena itu ia ingin Queen tidak menemaninya makan kali ini.
"Oke.."
Barulah saat istrinya sudah pergi ke warung Aska berani menyuap satu sendok nasi kedalam mulut. Perlahan ia mengunyahnya, dengan mematikan segala Indra yang ia punya. Mata Aska terpejam, ia berusaha tidak merasakan makanan itu. Aska hanya mengunyahnya lalu menelan dengan susah payah.
Aska pikir, cara ini pasti berhasil. Namun sayangnya baru suapan ke empat perut Aska sudah menolak. Aska segera berlari ke dalam membawa piringnya. Ia keluarkan lagi yang baru saja ia makan.
Sudah cukup. Ini tak bisa di teruskan. Aska memilih membuang makanannya lalu mencuci piringnya. Ia pikir Queen tidak akan mengetahuinya. Setelah semuanya dirasa bersih. Barulah Aska berjalan pelan kembali ke ruang depan tv. Di hentakan punggungnya kasar, bersandar pada sofa. Aska menenggak air putih di gelasnya hingga habis. Ia rasanya sudah tak tahan dengan semua yang ia alami. Tapi bagaimanapun, ini semua bukan keinginannya. Tapi keinginan calon sang buah hati yang sedang berjuang dalam perut Queen.
Apapun yang sedang Aska rasakan saat ini, ia sadar kalau perjuangan istrinya kelak akan lebih berat dari dirinya saat ini. Karena itulah Aska bisa kuat menerima keadaannya saat ini. Saat kekuatannya berada pada titik terendah sekalipun.
**ini sebenarnya belum kelar episode ini, tapi karena aku lagi ribet, jadi setengah dulu. kelanjutannya nanti malam.**
🙃🙃😉
__ADS_1