Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
akhir penantian


__ADS_3

Di hari bahagia, menjadi akhir penantian Aska, menunggu akan kedatangan Queen untuk segera memulai lembaran kehidupan tang baru.


Aska nampak yakin dengan pilihannya, tetapi ia ragu wanitanya akan datang. Pasalnya Queen tidak memberi kabar meski hanya sekedar pesan via aplikasi.


Menunggu dengan penuh harap dan cemas. Sampai Rindi memberinya kabar bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung hotel yang akan menjadi tempat ijab Qobul sekaligus tempat mereka resepsi nanti.


Aska sudah siap menunggu kedatangan Queen, wanita yang selama ini sudah merebut hatinya. Hari dimana Aska menikah, adalah hari patah hati bagi polwan muda yang mengidolakan Aska sebagai lelakinya.


Sampai saat mobil milik mama Queen, mulai memasuki halaman parkir dalam hotel tersebut.


Aska mulai merasa tenang, juga tegang. Rasa khawatir nya yang lalu karena menunggu kedatangan Queen, berganti menjadi ke khawatiran tentang proses ijab Qobul dirinya nanti.


Queen datang, dengan balutan kebaya putih menjuntai dan rambutnya yang di sanggul. Pernikahan mereka berkonsep modern internasional. Aska dan Queen tidak memasukan budaya dalam pernikahan mereka, karena mengutamakan Queen yang sebagai kaum wanita remaja millenial.


Apapun demi kenyamanan Queen. Begitu juga dengan tema pernikahan. White and soft. Warna putih tersebar di antara penjuru tempat dalam mereka melangsungkan acara.


Queen tersenyum, menunduk tersipu malu, setelah sebelumnya melihat Aska yang memandangnya dengan penuh binaran di matanya.


Siapa saja terpukau melihat keanggunan Queen, sayangnya hanya orang dan kerabat terdekat yang menghadiri pernikahan mereka. Itu juga karena permintaan Queen sebelumnya.


Dirinya tak terlalu suka dengan keramaian. Ia hanya ingin acara yang sederhana namun bermakna.


Aska tak mengatakan apapun, meski Queen sudah ada di dekatnya, duduk bersanding di hadapan pak penghulu.


Aska yang tak berhenti memandangi anugrah Tuhan yang di berikan padanya, membuat pak penghulu tersipu malu sendiri.


"Ayok mas, bisa kita mulai acaranya? Biar cepet sah." Ledek pak penghulu.


Aska terkejut, cubitan kecil di lengan Aska membuyarkan pandangannya, segera beralih ke arah pak penghulu.


"Oh iya pak silahkan." Aska malu. Terdengar jelas suara tawa dan bisikan para tamu di sekitar mereka, karena Aska yang terlalu terpukau pada Queen.


Mulanya, pak penghulu membacakan ke dua nama mempelai, memeriksa data para saksi juga wali bagi Queen.


Ya, ayah Queen sudah meninggal, jadi di gantikan dengan adik dari ayah kandungnya. Siapapun wali mereka, Queen tak masalah asal itu sah menurut agama dan negara.


Tibalah saatnya Aska membaca satu ayat dalam Al-Qur'an, yang menjadi mas kawin mereka.


Kali ini Queen yang terpukau, mendengar suara merdu Aska saat melantunkan ayat suci itu. Queen pernah mendengar Aska bernyanyi, harusnya Queen juga tau akan lebih baik saat Aska membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Terlebih karena Aska sudah sangat biasa dalam hal mengaji.

__ADS_1


Tangan Aska berjabat dengan sang wali untuk Queen. Perasaan Aska mulai bercampur aduk, takut salah menyebutkan nama atau gugup hingga tersedak.


Segala kemungkinan akan terjadi nantinya, dan Aska tak akan rela merusak acaranya hingga menjadi guyonan para tamu.


"Siap mas Aska?" Sekali pak penghulu meyakinkan Aska. Aska menghirup nafas sedalam-dalamnya, menghilangkan rasa takut yang kian mendera.


Ini benar-benar perjuangan untuknya, dan hanya dirinya yang harus melewati rasa ini. Sedangkan Queen hanya duduk manis menanti kata sah yang menjadi pembatas status mereka.


Aska melirik Queen dari ujung ekor matanya, berusaha mencari kekuatan dari diri wanitanya. Queen sadar, Aska sedang tidak baik-baik saja. Maka itu ia mencoba menyemangati Aska dengan menyentuh satu tangan yang berada di atas pangkuannya.


Dari dinginnya kulit tangan Queen, Aska juga jadi tau, bahwa Queen sama-sama sedang berjuang dengannya, menghadapi rasa gugup dalam hati mereka.


"Sang wali mulai mengucapkan kata kata ijab Qobulnya, sialnya, ia menjalankan perannya sangat baik, tanpa cela kesalahan ataupun nada yang terpeleset.


Aska berusaha fokus pada setiap kalimat yang ia dengar, dengan sesekali tarikan nafas ia mencoba meraih kembali ketenangan dalam hati juga fikirannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Queeneira wijaya binti Daniel wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas lima gram di bayar tunai." Aska mengucapkannya dengan tegas. Satu tarikan nafas, juga tanpa celah.


Aska sendiri nampak ragu sampai saat para saksi mengucapkan kata "sah"


"Alhamdulillah.." Hilang segala beban di hati Aska. Dadanya terasa kosong seperti, bongkahan batu besar yang terangkat dari atas dadanya.


Buktinya, meski beberapa hari lalu mereka sempat bertengkar, tapi Queen tetap hadir. Sangat cantik dan menawan, layak menjadi pusat perhatian di satu harinya menjadi ratu.


Sentuhan dingin tangan lembut Queen, membuat dirinya juga bisa mendapatkan kembali keberanian dalam dirinya.


Apapun Aska lakukan demi gadisnya. Mulai saat ini, Queen sudah wajib menjadi tanggung jawabnya.


Menerima segala kekurangan Queen tanpa mengeluh. Juga kelebihan Queen yang kadang membuat lelaki lain ikut tergoda. Aska harus siap dengan segala kemungkinan yang mereka hadapi nanti.


Apapun itu, Aska tidak lagi perduli, hatinya sedang bahagia setelah melewati batasan dalam masa lajangnya.


Queen mencium punggung tangannya, hal yang sudah lama Aska dambakan. Senyum Queen yang tak henti ia tujukan untuknya, astaga.. sekali lagi, Aska terpana. Pandangannya tak juga lepas dari wajah anggun Queen saat ini.


Siapa yang mengira, di balik anggun dan lembutnya wajah manis Queen terdapat sifat manja nan konyol yang hampir membuat pernikahan mereka urung di lakukan.


"Ayok, saatnya sungkem sama orang tua." Pak penghulu mengingatkan.


Rasa haru kian membuncah, saat Queen datang bersimpuh di bawah kaki mamanya. Tak terbayang bahwa dirinya akan sekali lagi bertemu dengan penuh kasih sayang. Layaknya pasangan antara ibu dan anak lainnya.

__ADS_1


Semua itu karena Aska. Perjuangan Aska demi menghubungkan dan memperbaiki kembali hubungan antara mama Queen dan Queen yang sudah merenggang sejak lama.


Queen menangis dalam pelukan mamanya, pelukan hangat yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak ia rasakan.


Tak bedanya dengan Queen, mama Renata begitu terharu mendapati putri cantik semata wayangnya sudah siap dan sah di persunting oleh lelaki lain.


Mama Renata memang tidak mengenal Aska. Tapi ia yakin Aska adalah lelaki yang tepat baginya, untuk mengatasi segala sikap manja dan pikiran konyol Queen.


Selanjutnya, Queen berganti bersimpuh di bawah kaki Ibu Aska. Wanita setengah baya yang langsung menjadi sosok favorit Queen saat mereka pertama kali bertemu.


"Makasih ya ndok, udah mau terima Aska.." Bisik sang Ibu lirih di telinga Queen, dengan logat Jawa kental.


Tidak salah dengarkah Queen, atau memang Ibu Aska yang tidak tau tentang kelakuan menantu barunya ini.


Harusnya mama Queen yang mengucapkan kata demikian pada Aska. Atau Queen yang paling utama mengucapkan kalimat itu.


Queen kembali berderai air mata saat wanita mulia itu memeluk Queen dengan erat.


Siapapun yang melihatnya pasti iri. Queen dengan segala kekurangan sikap dan kelakuan buruknya yang ia miliki. Tapi ia berhasil mendapat lelaki yang rela melakukan apapun untuknya, juga di terima dalam keluarga yang harmonis. Mencintai Queen layaknya anak kandung.


Setelah rangkaian acara selesai, sampailah mereka pada waktu resepsi. Queen pergi sebentar, memperbaiki dandannya yang sedikit berantakan karena acara tangis yang tidak tertera dalam jadwal rentetan pernikahan mereka.


"Kamu cantik banget Ra.." Bisik Aska halus. Queen duduk bersanding di atas bangku pelaminan, berhiaskan rangkaian bunga yang menjuntai di atas kepala mereka.


Itu adalah kalimat biasa yang di ucapkan setiap pasangan pengantin. Tapi Queen masih terharu mendengarnya.


Apalagi kecupan hangat Aska terasa di bibir Queen. Meski sebentar dan terasa samar, sadarkah Aska saat melakukannya di depan publik.


Beberapa orang mungkin melihat adegan itu, karena itu mereka bersorak dan bertepuk tangan.


Aska memang nampak tak perduli, tapi pipi Queen sudah bersemu merah.


"Saya masih sabar buat nunggu waktu kita berdua nanti malam." Suara bisik Aska di telinga Queen, diiringi deru nafas hangatnya, membuat hati Queen melemah. Malu, ia memejamkan matanya menenangkan debaran jantung yang terasa menggila.


Tak sedikitpun Aska melepaskan rangkulan tangannya pada pinggang mungil Queen. Kecuali saat tamu hendak memberi doa untuk mereka. Selebihnya Aska terus merapatkan tubuhnya dengan Queen.


Mengecup kecil pipi atau kening Queen dengan penuh rasa syukur.


**maaf lagi lagi visualnya ku hapus. karena lama banget lolos riviewnya.**

__ADS_1


__ADS_2