Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
kejutan


__ADS_3

Mari mencintai yang seharusnya di cintai.


Suasana sore di kediaman keluarga kecil Aska kali ini lebih ramai dari biasanya. Beberapa orang terdekat dari pasangan konyol itu tengah turut meramaikan pesta perayaan ulang tahun Queen, yang khusus di siapkan secara diam-diam oleh suaminya sendiri. Aska. Sayangnya, tanpa sadar Queen sendiri yang mempersiapkan pesta sederhana miliknya sendiri.


"Birthday sayang.." Aska mengucap sebentar kening Queen. Tapi jawaban Queen hanya terpaku tak percaya mendengar ucapan dari sang suami.


Queen dan Aska tengah berduaan di meja makannya, mempersiapkan minuman untuk para tamunya. Dan Aska dengan tiba-tiba berbisik lembut di telinga istrinya. Kalimat yang hanya ia dengar satu kali dalam setahun. Biasanya lelaki itu hanya mengucapkan ketika ia baru membuka kelopak matanya. Tapi kali ini??


"Selamat ulang tahun Ira, bunda dari anakku, bos dalam keluarga kecil kita, teman hidup aku." Ucapannya seolah mengunci tatapan keduanya. Queen masih diam, "Maaf ya sayang, di hari istimewa kamu, malah sengaja aku bikin capek." Aska terkekeh kecil setelahnya.


Entah rasa kesal yang ia tahan sejak pagi, atau rasa bahagia bercampur haru yang membuat air matanya perlahan turun dari kelopak matanya, Queen tersenyum sebagai jawaban dari kalimat Aska.


"Kamu nggak marah kan?" Aska memastikan. Queen memeluknya, mengeratkan pelukannya. "Hari ini adalah bukti, kalo aku nggak salah pilih istri, kamu yang terbaik." Sesaat keduanya terhanyut dalam kehangatan hati masing-masing. Aska mengusap lembut rambut belakang Queen, dengan Queen yang menyandarkan wajahnya di dada bidang Aska. Yah.. tinggi keduanya memang tidak sama.


"Jadi, kamu udah ngerencanain semuanya?" Queen melepaskan pelukannya. "Makanan ini?" Queen menunjuk hasil masakannya. "Mereka?" Jari telunjuk yang berganti mengarah ke luar.


"Hm.." Aska mengangguk.


"Ya ampun mas..."


"Kenapa?"


"Jangan gini lagi ya.."


"Kamu nggak suka?"


"Aku jadi tambah cinta sama kamu. Gimana dong?" Suara rengekan manja Queen, membuat hati Aska terenyuh.

__ADS_1


"Ra.. Kita suruh pulang aja ya mereka, sekalian Gita biar di ajak main sama Rendi. Sama Arya juga nggak papa deh, yang penting kita bisa berduaan. Gimana?"


"Tapi aku lebih milih sama mereka sekarang. Maaf ya.." Queen tersenyum. Ia melenggangkan kakinya sambil membawa minuman dengan nampan.


"Tadi katanya cinta. Sekarang di tolak. Dasar." Aska bergumam sendiri. Lalu membantu Queen membawakan cemilan untuk para tamunya.


***


Tidak ada acara yang spesial dalam pesta sederhana itu. Hanya Aska yang ingin melihat Queen tersenyum, tertawa lepas tanpa beban ketika berbincang dan bercanda dengan orang-orang terdekatnya. Mereka yang juga turut berperan dalam kisah asmara mereka sebelumnya.


Kehadiran Arya yang masih saja tanpa pasangan, tidak serta merta membuat hati Aska tak nyaman. Ini sudah biasa, ketika Queen dan buah hatinya datang, bisa di katakan Arya sering datang sambil membawa bingkisan untuk buah hati dari mantan tersayangnya, tentu saja berkunjung saat Aska ada di rumah.


"Bang.." Arya berbisik pelan di dekat telinga Rendi.


"Apa?" Jawabnya.


"Hubungan bang Aska sama Queen lagi nggak ada masalah kan?" Tanyanya serius. Rendi seketika menoleh menghadap Arya dengan tanda tanya tercetak jelas dalam sorot matanya.


"Nggak napa-napa sih bang, cuma.. gua ngerasa bang Aska dari tadi ngeliatin Queen melulu. Kayak nggak ngedip dah. Emang bang Aska lagi di cuekin ama Queen?"


Mendengar penjelasan Arya, Rendi langsung tertawa tanpa sadar. Membuat Arya kebingungan.


Tawa Rendi juga sukses menarik perhatian Aska. Ia melempar kulit pisang ke arah Rendi.


"Biasa aja dong ketawanya. Yang lagi bahagia bini gue, lu nggak usah ikut-ikutan." Jawab Aska setelah mendapat lirikan maut dari Rendi.


"Nggak boleh ngelempar makanan tau As.. dosa lu." Rendi melemparkan lagi kulit pisang itu ke arah luar.

__ADS_1


"Lah.. kulit pisang juga makanan ya bang?" Arya berkomentar.


"Bukan kulitnya dodol. Pisangnya!" Sentak Rendi.


"Tapi.. tadi.. kan.."


"Udah buru-buru pergi keluar negri sono lah, berisik banget lu, komplen mulu kalo gua ngomong." Rendi menyela kalimat Arya yang belum tuntas.


Dan Arya hanya memajukan bibirnya sambil bergumam sendiri.


"Tadi ketawa-ketawa sekarang berantem, udah kayak orang pacaran aja lu berdua." Rindi ikut bersuara.


"Diih.. masih normal gua Rin, nggak biasa sama orang yang makan pake sendok emas." Sindir Rendi.


"Yang sopan ya.. ini istri saya." Bang Is ikutan menyudutkan Rendi.


"Omegat... di keroyok gua. Tata.. kita ayan-ayan aja yuk." Ajak Rendi, yang kini berpusat pada Gita dalam pangkuan Aska.


"Enggak. Enak aja lu, anak gua jadi pelarian."


"Pelarian apa sih As?" Rendi makin frustasi.


"Itu, lu lagi berantem sama Arya, malah ngajak jalan anak gua."


"Ya ampun.. masih normal gua ini. Nih, si Arya tadi nanya sama gua, kenapa lu ngeliatin si Queen mulu." Pandangan Arya beralih ke Arya. "Kalo lu mau tau, emang begitu sih Asbak kalo ngeliatin bininya. Lu baru tau. Gua mah udah kenyang ngeliatin laki-laki bucin itu." Suara Rendi memburu, memberi penjelasan pada semuanya.


Queen tersenyum, fokusnya pada ucapan Rendi yang mengatakan kalau suaminya masih bucin hingga kini. Ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aska yang duduk merapat dengan dirinya. "Aku tunggu kado kamu nanti malem."

__ADS_1


Aska terkejut. Lagi, hatinya berdegup kencang. Bagaimana suara manja itu berbisik kata-kata nakal yang menggoda hasrat dalam dirinya.


🙃🙃😉


__ADS_2