Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
tengah malam


__ADS_3

Selama sisa perjalanan semenjak mereka berlalu dari restauran tempat mereka makan tadi. Aska sama sekali tidak tidur. Bukan karena ia tidak mengantuk. Ada sedikit rasa was-was di dalam hatinya. Karena baru kali ini ia mengajak seorang gadis ikut bepergian bersamanya.


Aska tidak ingin, jika Queen yang saat ini sedang tidur, nantinya akan bangun dan membutuhkan bantuannya. Padahal, semua apapun yang mungkin di perlukan selama perjalanan sudah tersedia di hadapan mereka.


Aska memainkan ponselnya, jarinya bergerak meluncur di atas layar. Hampir semua aplikasi yang terdapat di ponsel ia buka. Demi membunuh rasa kantuk dan jenuhnya saat ini.


Bagaimana ia tidak mengantuk, setelah semalaman ia berpatroli demi menjaga keamanan di jalan, sepulangnya ia langsung berangkat bersama queen menuju kampung halamannya. Sama sekali tidak ada celah untuk ia bisa memejamkan matanya.


Queen menggeliat dari tidurnya. Bergerak tidak nyaman hingga membuat matanya terbuka.


"kenapa?" Kalimat pertama yang Aska ajukan untuk Queen saat gadisnya bangun.


"Nggak pa-pa. Udah sampe mana kita mas sekarang?" Tanya queen. Ia membetulkan selimut yang membungkus dirinya.


"Masih lumayan jauh ra.. Kita baru sampe Pemalang." Jawab Aska. Matanya melirik ke arah jendela sebelah Queen.


"Emh... Jam berapa mas sekarang?"


"Hampir jam sebelas malam."


"Aku lama juga ya tidurnya. Kamu nggak tidur mas? nggak ngantuk?"


"Nggak.. Nanti aja kalo udah sampe rumah."


"Iya mas, nggak usah tidur. Aku takut kita kebablasan." Tutur Queen dengan polosnya.


"Hahaha... ada-ada aja kamu ra" Aska mengusap lembut pucuk kepala Queen, gemas.


Queen melirik kearah jendela. Menemukan pemandangan yang selama ini ia kagumi. Keindahan malam. Melihat kegiatan manusia di malam hari, entah kenapa membuat hatinya membuncah hangat. Ada rasa kagum seperti orang yang melihat sun set.

__ADS_1


Dan entah kenapa Queen selalu suka melihat lampu lampu yang menyala saat malam. Ada keindahan tersendiri yang tak bisa ia jabarkan.


Saat ketika bis mereka memasuki daerah Pekalongan, masih ada beberapa toko baju batik yang buka. Padahal ini sudah hampir larut malam. Rasanya, ingin sekali Queen turun dan membeli beberapa potong batik. Agar perjuangan sang bapak si penjual, tidak sia-sia.


Queen membuang nafasnya berat.


Andai saja mereka bawa mobil pribadi. Sayangnya saat ini kendaraan yang mereka tumpangi tidak bisa berhenti semaunya seperti keinginan Queen.


Aska benar-benar membuat Queen melatih kesabarannya.


"Kenapa ra?" Aska nampak khawatir.


"Engga pa-pa mas. Aku cuma suka ngeliatin pemandangan malam hari. Rasanya begitu tenang dan damai." Matanya masih menatap ke luar jendela.


"Iya, emang lebih tenang." Lelakinya menggenggam lembut jemari Queen. mengusap punggung tangan gadis itu.


Aska merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam sikap Queen saat ini. Ia juga yakin, banyak hal yang entah Queen sengaja sembunyikan atau belum sempat Queen ceritakan. Tapi Aska tidak ingin se posesif itu. Kali ini ia sangat ingin gadisnya nyaman dalam dekapan dan hubungan yang tengah mereka jalani.


"Apa?" Jawab Aska lembut.


"Em.. Ibu kamu udah tau belum kalau kamu pulangnya ajak aku?" tanya Queen hati-hati.


"Belum. Kenapa?"


"Nanti kalau dia nggak suka sama aku gimana mas? terus aku nggak di bolehin masuk ke rumah kamu?"


"Ya kamu tidur di hotel aja. Duit kamu kan banyak." Suara Aska begitu serius.


Queen sangat terkejut mendengar jawaban lelakinya itu. Jika laki-laki lain mungkin akan memberikan jawaban yang menenangkan. Beda halnya dengan yang Aska berikan pada Queen. Gadis itu menarik jemarinya dari genggaman Aska, di lanjutkan dengan memukul lengan Aska kasar.

__ADS_1


"Dih... Gitu banget dah mas.. Jahat!" pekik Queen.


Aska malah tertawa, yang mana langsung mendapat lirikan dari penumpang lain di sebelahnya.


Queen yang melihatnya kemudian meminta maaf sambil tersenyum.


Gemas rasanya hati Queen kepada Aska, ia cubit bagian perutnya sedikit.


"Aww.. Sakit Ira..." Aska meringis.


"Sama! Kayak hati aku!" Queen membuang pandangannya ke arah jendela, mengabaikan Aska yang masih saja tertawa meski dengan suara pelan.


Hati Aska rasanya gemas, melihat gadisnya yang tengah cemberut membuang muka darinya. Ia merengkuh kepala Queen, menariknya pelan kedalam pelukannya.


"Tenang aja Ira sayang... Ibu saya orang yang baik. Siapa yang nggak suka ngeliat mantunya yang cantik begini" Puji Aska, membelai lembut rambut Queen.


"Mantu?" Queen mengucap pelan. mengulanginya beberapa kali.


"Kenapa? enggak mau nikah sama aku emang?"


Queen menegakkan badannya. menghadap Aska. Sorot mata mereka bertemu.


"Kamu nggak salah mas?" Tanya Queen memastikan.


Aska hanya tersenyum misterius, menanggapi pertanyaan gadis nya. ia kembali menarik kepala gadis itu di dalam dekapannya.


"Biar waktu aja yang jawab kamu nantinya." jawab Aska.


Bis yang mereka tumpangi semakin dekat jaraknya dengan Kota tujuan mereka. Bacaan selamat satang dari setiap Provinsi yang mereka lalui, dan selamat tinggal setelahnya.

__ADS_1


Ini merupakan perjalanan yang lama bagi Queen di dalam bis. Kalau naik pesawat mungkin ke luar negri dirinya sudah biasa. Tapi naik bis, baginya adalah pengalaman pertama. Tapi hatinya begitu tenang dengan lelaki di sampingnya. Dan pemandangan yang Queen tidak dapat saat menaiki pesawat.


__ADS_2