Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
dua belas


__ADS_3

"Capek banget gue sumpah." Susan, teman baik Gita semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Duduk di kantin masih dengan baju oleh raga, sedikit mengibas ngibaskan kaosnya demi mendapat semilir angin.


Jujur saja, cuaca hari ini benar benar seperti matahari ada dua di atas sana. Di tambah lagi jadwal pelajaran olah raga mereka. Tidak tanggung-tanggung, guru mereka meminta kelasnya untuk lari berkeliling lapang sebanyak sepuluh putaran.


Astaga.. dosa apa kelas mereka pada gurunya.


Santai banget sih lu Git?" Tanya Susan, mendapati wajah Gita yang seperti tidak merasakan apa apa. "Nggak capek emang lu?"


"Capek lah.." Gita menyeruput es teh manis yang tadi mereka pesan.


Nasib baiknya waktu istirahat setelah pelajaran olah raga mereka selesai.


"Kalo gua banget ta.. catet ya, pakek banget."


Perlahan suasana kantin yang tadi sepi mulai penuh dengan siswa lain yang berdatangan seiring dengan bunyinya bel istirahat


"Mau makan apa?" Masih Susan yang banyak bersuara, sedangkan Gita..


"Apa aja terserah lo." Seraya merebahkan kepalanya pada meja di hadapannya. Entah kenapa ia kurang semangat hari ini.


Susan berdecak malas, tapi tetap beranjak dari duduknya untuk memesan dua porsi siomay.


Gita memainkan bulir bulir air yang mengalir di gelasnya, melihat itu dengan pandangan tak bersemangat, semakin entah apa yang ia rasakan, ia memilih memejamkan matanya fokus pada hati yang kian mengganjal.


Sampai ia merasakan bangku panjang yang ia duduki bergerak perlahan. Gadis itu tetap enggan untuk membuka matanya.


Merasakan kepalanya di usap lembut oleh sebuah telapak tangan, Gita kenal usapan itu, usapan lembut yang sudah ia rasakan semenjak ia kecil.


Perlahan Gita membuka matanya, mengerjap beberapa kali sampai fokusnya pada netra coklat milik Farhan segaris lurus dengan matanya.


Farhan tersenyum lembut, masih dengan usapan di rambut gadisnya. Tanpa mau mengeluarkan suara.


Gita balas tersenyum. Ia tidak merasa canggung sedikit pun dengan lelaki di hadapannya. Ya, karena sebagian besar hidupnya memang selalu di isi oleh bocah konyol ini.


Sejenak mata mereka bertatapan, dalam seperti menyelami netra masing masing. Mencoba mencari tahu apa yang tengah di pikirkan.


Sampai pada Gita kehilangan senyuman itu, wajahnya berubah menjadi masam. Bibirnya mengerucut dan pandangannya tak lagi dalam. Hanya seperti melihatnya sekilas.


Tentu saja perubahan yang tak menyenangkan itu membuatnya aneh. Ia tidak suka, karena itu Farhan memilih menurunkan tangannya pada pipi Gita dan mengusapnya lembut.


Dalam hati Farhan, ia tau pasti ada kesalahan yang tak sengaja ia buat pada gadis di hadapannya. Tapi Farhan masih enggan bersuara.


"Lebih nyaman meja kantin kayaknya di banding kasur empuk di rumah." Sindir Susan sembari meletakkan kasar dua piring siomay yang ia beli tadi.


Gita mendesah pelan, dengan malas mengangkat kepalanya hingga kembali duduk tegak.

__ADS_1


"Makasih.." Lirih Gita sesaat setelah Susan mendorong piring untuk Gita.


"Kenapa sih Git, nggak semangat gitu?" Akhirnya Susan mulai bertanya.


Gita menggeleng, mengaduk aduk siomay di hadapannya. Melihat itu seperti perasaannya yang sedang campur aduk, membuatnya tak mengerti.


"Lu ngapain sih Far, sampe bikin Gita kayak gini?"


Farhan baru memutus pandangannya pada Gita, mendengar namanya di sebut ia mendesah pelan. Mengangkat kepalanya, duduk tegak. Ia kembali meletakkan tangannya pada puncak kepala Gita, menggoyang nya perlahan.


"Aku ada salah Ta?" Tanya Farhan.


Bukan tanpa alasan Farhan bertanya, tapi perubahan sikap Gita tadi membuatnya mengerti ada yang sedang mengganggu pikiran Gita tentangnya.


"Nggak ada." Jawab Gita santai. Memasukan satu suap potongan tahu ke dalam mulutnya.


Farhan mengangguk pelan. Tangannya turun beralih pada gelas es teh manis Gita yang kian basah. Menyeruput tanpa permisi sudah tidak aneh lagi bagi keduanya, termasuk Susan yang terbiasa melihatnya.


Belum sempat tertelan habis satu suapan itu, ponsel Gita berdering, dengan nama aunty Zahra di layar.


Gita kembali meminum es nya seraya melancarkan kerongkongannya. Sembari menunggu itu, Farhan mengambil ponsel Gita, menjawab panggilannya dan menekan tombol pengeras suara.


Meskipun Gita berdecak tidak suka, tapi ia tidak menolak perlakuan Farhan.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Jam dua deh kayaknya. Kenapa emang?" Setelah berucap, Gita membuka mulutnya, memberi kesempatan pada Farhan yang sudah menyodorkan sendok berisi potongan siomay tadi.


"Aunty jemput ya, kita lunch bareng.."


Farhan berdecak, tanda tidak suka. Tapi tangannya terus saja memberi suapan pada Gita.


"Aku ijin bunda dulu boleh?" Tentu saja, ia juga sedang menatap bocah lelaki di depannya, seperti meminta persetujuan.


"Aunty tadi udah ijin dulu sama bunda kamu kok." Gita mengangguk mengerti, meski tidak terlihat oleh lawan bicaranya.


"Ehm.." Gita masih berpikir, ia masih belum mendapat jawaban dari lelaki di depannya. Wajah itu seperti tidak suka, jadi Gita bingung harus jawab apa.


"Kenapa? Kamu udah ada janji sama temen?" Tanya Zahra kian tak sabar.


"Aku boleh ikut ga tante?" Suara Farhan menyela obrolan mereka.


"Oh ada Farhan juga toh. Em.. gimana ya?" Farhan mengangkat gelas ke hadapan Gita, seraya mengarahkan sedotannya ke depan mulut Gita dengan terus menatap nya.


"Tante sih pengen pergi berdua aja tadinya, tapi nggak apa apa deh, tapi kamu jangan ngeluh ya kalo kita shopping nya kelamaan."

__ADS_1


"Udah biasa." Jawab Farhan cepat.


"Yaudah nanti aunty jemput langsung ke sekolahan ya.."


"Ya aunty.." Gita mengakhiri panggilannya.


Ia meletakkan ponselnya ke atas meja dengan kasar.


"Kenapa lu. Bikin kaget aja." Susan akhirnya berani bicara, setelah sari tadi hanya bisa melihat tindakan Farhan pada Gita.


Ya.. meskipun ia sudah sangat terbiasa dengan itu, tapi tetap saja jiwa jomblo nya berkobar ketika adegan itu tersaji.


"Ngapain sih ikut segala?"


"Entar yang bawain belanjaan kalian siapa?" Jawab Farhan santai. Ia masih menyuapi Gita, namun kali ini Gita menolak menerima suapan itu.


"Kenapa? Kenyang?" Tanya Farhan.


"Kesel."


Farhan tertawa kecil. Ia menyuap sendiri makanan itu untuk dirinya.


"Lo kesel Git, apa lagi gue yang ngeliat lo sama selingkuhan gue dari tadi."


Gita melirik ke arah Susan.


"Becanda elah." Tatapan sengit itu, Susan tau Gita sedang tidak bisa di ajak bercanda.


"Kalo udah kenyang balik sana ke kelas. Jangan kebiasaan nongkrong di kantin." Seru Farhan. Sisa siomay yang belum habis itu sudah berada di hadapannya.


"Napa emang. Masih jam istirahat ini." Sergah Susan.


"Yeu.. kalo lo terserah deh kak. Tapi Gita jangan. Mending ngabisin waktu di perpus. Banyak banyak belajar udah kelas dua belas."


"Bilang aja takut Gita di gangguin cowok ya kan." Goda Susan.


"Iya emang." Jawab Farhan cepat.


Gita beranjak dari duduknya, menarik tangan Susan dengan paksaan. Sebelum pergi ia menitipkan satu kata pada Farhan.


"Curang." Tanpa mau menunggu jawaban Farhan ia lalu bergegas pergi, meninggalkan Farhan yang terdiam kebingungan.


"Dih, kenapa tuh bocah."


🙃🙃😉

__ADS_1


__ADS_2