
"Mas.." Queen menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sebelah Aska duduk.
"Apa?" Aska masih asik meluncurkan harinya diatas ponsel.
"Aku masih capek tau, masa' udah mau jalan lagi?" rengek Queen manja, membuat Aska menoleh. Rasanya gemas ketika melihat wajah Queen yang seperti itu.
"Saya juga Ra.. Tapi mau gimana lagi. Kamu juga kan harus kuliah."
"Iya bener juga ya mas, kan masih ada yang nungguin aku di sana." Queen membetulkan duduknya, ia ikut memainkan ponsel pintarnya.
Namun dengan cepat, Aska mengambil gadget milik Queen.
"Apa sih mas?"
"Siapa yang nungguin kamu? kalo maksud kamu sih tetangga baru itu, mending kamu diem aja disini, saya yang pulang sendiri."
"Dih.." Tawa Queen pun pecah, bagi Queen, Aska yang sedang cemburu tidak beralasan seperti ini sangat lucu. Queen memang sengaja menggantungkan ucapannya tadi.
"Maksud aku tuh Rindi mas.. Hahaha..." Sambung Queen dalam tawanya.
"Oh.. Rindi.." Hati Aska menenang, tapi ia tidak lantas mengembalikan ponsel milik Queen. Fokusnya malah ia alihkan pada benda bersifat pribadi itu. Mulai mengecek isi dalam setiap aplikasi. Terutama pesan WhatsApp.
"Arya mulu isinya." Kalimat pertama yang terucap sari Aska, saat melihat pesan pribadi itu
"Emang. Kan cuma dia yang slalu inget aku." Jawab Queen asal.
Aska menoleh, melihat dengan intens wajah Queen.
"Saya juga inget Ra sama kamu."
"Tapi mas lupa sama aku, kalo udah main sama temennya."
Aska diam. Entah kenapa pikirannya kosong. Kenyataan tentang ucapan Queen memang benar adanya. Begitu juga yang di ucapkan oleh Ibu tadi pagi. Apakah dirinya memang benar separah itu. pikirnya.
"Keluar yuk mas, nanti kan udah mau pulang. Aku mau jalan-jalan sebentar disini." Ucapan Queen membuyarkan lamunan Aska.
"Ayuk. Ganti bajumu jadi lebih sopan. Kita mau ketempat ibunya abang Is."
"Oke" Queen segera bangkit dari kursinya, melesat kedalam kamar Aini, dimana ia meletakkan kopernya.
Setelah siap, Aska memboncengnya dengan motor matic milik Aini. Perlahan keluar gang tempat rumah Aska. Keadaan masih belum terlalu siang, sebagian ibu-ibu masih ada di sawah.
Begitu sampai di depan sebuah rumah yang nampak sepi, Aska memarkirkan motornya dan mengucapkan salam.
Tidak lama keluar wanita sebaya dengan Aini.
"Eh ada tamu. Masuk mas.." Sapanya yang sudah nampak akrab.
__ADS_1
Aska dan Queen masuk, duduk di atas sofa seperti yang tuan rumah pinta tadi. Tidak lama wanita paruh baya keluar dengan suaminya.
"Nak Aska, kapan pulang?" Tanya sang bapak.
"Kemarin pak"
"Eh... Ini calonnya ya?" Tanya sang Ibu.
Queen tersenyum manis, dan Aska yang menjawab.
"Insyaallah pak, bu. Minta do'anya"
"Satu kampung udah geger kedatangan bidadari, tau taunya punya mas Aska" puji sang Ibu.
Queen dan Aska hanya tersenyum menanggapi.
"Mas Is disana apa kabar?"
"Alhamdulillah baik bu.. Dia juga titip salam buat Ibu sama bapak.." Jelas Aska.
"Untuk Nisya enggak? Nisya kan adiknya" Sela seorang wanita yang tadi mereka temui saat datang. Kini di tangannya membawa nampan dengan empat gelas teh hangat. Menaruhnya di hadapan masing-masing.
Aska jadi teringat sesuatu melihat gelas berisi teh hangat itu.
"Nis.. Ini pake gula nggak?" Tanya Aska menunjuk gelas Queen. Queen jadi bingung.
"Pake. Kenapa mas?" Tanya Nisya yang juga ikutan bingung.
"Nggak papa mas" ucapnya pelan.
"Mas Aska kemarin janji mau buatin teh hangat enggak pake gula. Mungkin dia baru inget" Jelas Queen kepada Tetua di hadapannya.
"Oh.. Mas Aska bikin kaget Nisya aja. Perhatian banget sih mas sama mbak nya. Kok dulu sama Nisya enggak gitu." Aska dan Queen menjadi hening. Queen tidak tau harus meresponnya dengan cara apa, ia takut jika tingkahnya salah.
Sedangkan Aska hanya menanggapinya dengan senyum simpul. Dan Ibu bapaknya juga tertawa ringan,mencoba mencairkan suasana. Mungkin akan beda suasananya jika tidak ada Queen di hadapan mereka.
Setelah beberapa saat berbasa-basi, Aska memutuskan untuk pamit. Tapi Nisya tidak henti-hentinya memandangi Queen. Samapi saat akan pulang ia tidak sanggup lagi menahannya.
"Cantik banget sih mbak nya, pantes mas Aska jarang pulang" Kalimat yang ternyata salah di artikan oleh Queen, tapi ia tidak menunjukkannya sekarang.
"Makasih, calonnya mas Is juga cantik." Tuturnya, yang mana malah membuat dua orang paruh baya di hadapannya saling berpandangan.
"Oalah.. Jadi pada kepincut gadis Jakarta toh" Tutur sang bapak. Mereka pun kembali tertawa, sampai Aska memohon pamit dan menyalami punggung dua orang tua dihadapannya. Di ikuti oleh Queen selanjutnya.
Setelahnya mereka pun pulang dengan kembali berboncengan, tapi Queen lebih menjaga duduknya, agak berjauhan. Tidak mesra seperti saat berangkat.
Perjalanan yang seharusnya hanya sekitar lima menit, menjadi hampir satu jam, saat Aska sengaja mencari rute terjauh menuju rumahnya. Hampir mengelilingi satu desa. Aska bahkan menunjukkan letak sawah dimana tempat ibunya berada kini.
__ADS_1
Jalan hingga tembus menuju jalan raya,dan kembali masuk ke arah persawahan, kemudian masuk ke gang dimana letak rumah Aska berada.
"Beres-beres baju kamu. Sebentar lagi kita pulang."
Queen hanya diam tanpa suara menanggapi, dia malah asik duduk di atas sofa sambil memainkan gadgetnya.
"Bedanya kamu sama Nisya. Dia enggak pernah ngambek kaya kamu." Ucapan Aska yang santai namun begitu mengena di hati Queen. Dengan tatapan yang tajam Queen memandang intens wajah Aska, kemudian bangun hendak menuju kamar Aini.
Tapi Aska tau perubahan sikap gadisnya. Dengan cepat ia memegang tangan Queen.
"Kenapa sih Ra?" Pulang jalan bukannya seneng malah marah.
"Siapa yang enggak marah, denger pacarnya ngebandingin sama mantan?"
"Ya, soalnya kamu udah ngambek duluan kan sebelum saya bandingin?" Melihat emosi Queen yang begitu menjadi, Aska jadi bingung sendiri.
"Mana sih cewek yang dibilang hebat itu? yang ada dia juga sama. Bisanya cuma ungkit masa lalu."
"Yang mana sih Ra?" Tanya Aska lebih sabar.
"Tau yang mana! Jujur aja deh mas, kamu bilang kamu cuma anggap dia ade, tapi makin kesini aku liat, kamu yang nggak bisa move on dari dia. iya kan? ngaku aja deh!"
Aska mengusap wajahnya, mencoba mencari kata yang tepat di ujung kesabarannya.
"Engga Ira.. Gimanapun masa lalu saya sama dia, tapi hati saya udah sepenuhnya buat kamu. Masa depan saya itu kamu" Aska mencoba berkata selembut mungkin.
"Makasih. Tapi percuma kalo kamu nya masih sering nengok kebelakang" Dengan nada sarkas Queen berucap kemudian pergi meninggalkan Aska. Masuk kedalam kamar Aska.
"Ira buka dulu pintunya, saya belum selesai ngomong." Aska mengetuk pintu kamarnya sendiri. Queen masih tidak ada jawaban. Jika saja ini terjadi di kontrakan mereka. Pasti sudah Aska dobrak. Tapi ini dikampung, Aska tidak ingin membuat keributan.
Ia mendudukkan tubuhnya di sofa, sambil meluncurkan jarinya, mengirim pesan untuk Queen.
"Masih banyak lelaki yang coba nyentuh hati kamu. Dan saya nggak akan biarin itu"
Satu pesan hanya Queen lihat.
"Ra.. Percaya sama saya. Segalanya udah tentang kamu sekarang"
Queen masih seolah tidak perduli. Aska masih tidak mendapatkan balasan.
"Ra... Please.. Masalah nggak akan selesai kalau kamunya diem aja. Saya sayang kamu."
Disaat semua pesan mental begitu saja. Aska berjanji jika satu pesan masih tidak Queen balas, maka dia akan mendobrak pintu kamarnya sendiri.
"Kita makan bakso yuk Ra.." Setelah mengirim pesan tersebut. Aska menghitung sampai sepuluh, Dan tidak lama Queen keluar dari persembunyiannya.
Aska pun tersenyum lega, bangun dan segera menghampiri Queen. Memeluknya pelan seraya berucap.
__ADS_1
"Jangan tinggalin saya ra. Please.. "
Queen pun tersenyum bangga penuh kemenangan.