
Kalau ada yabg bilang si Farhan itu pansos sama orang tuanya? Big No. Farhan nggak pernah nyebutin apapun tentang pekerjaan orang tuanya. Ayah, ibu sama adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Kalaupun Deni tau tuh karena dirinya sendiri yang sangat penasaran dengan bocah lelaki yang baru saja masuk dan mengganggu hubungannya bersama Gita.
Hubungan yang baru mereka jalin beberapa bulan. Hubungan yang sedang romantis dan hangat hangatnya. Lalu tiba tiba harus ada orang ketiga yang selalu saja Gita sebut namanya.
Mereka tidak pernah bertemu, tapi Gita selalu mengatakan tidak bisa pergi kemanapun selain dengan bocah lelaki itu, tidak bisa lagi mengantarnya pulang meskipun hanya sampai gerbang sekolah. Gita selalu saja di tunggu oleh Farhan, meskipun Gita ada kegiatan tambahan.
"Bunda... aku nggak mau lagi ketemu sama Farhan, jangan kasih ijin dia masuk ke rumah ini lagi, nggak usah ijinin dia ketemu aku lagi.."
Gita baru saja sampai rumahnya dengan di jemput oleh Rendi dan langsung masuk ke kamar dengan menutup pintunya kencang
Lelaki yang sebaya dengan ayah Aska itu awalnya bingung, kenapa Gita minta di jemput. Padahal sudah ada Farhan yang biasanya pulang bareng.
"Gitaaa...." Tak kalah nyaringnya suara Queen meneriaki nama anaknya seraya mengetuk pintu kamar Gita tak sabar. "Gitaaa buka nggak pintu nya. Gitaaa..."
Rendi yang baru masuk langsung mengambil alih posisi Queen di depan pintu.
"Gita.. buka pintunya dulu sayang, ngomong baik baik." Bujuk Rendi.
Maklum, ayah Aska nya sedang bertugas jadi peran nya di gantikan Rendi.
"Ini tuh ada apa sih Han, kenapa Gita nya?" Queen ikut duduk di sebelah Farhan.
Ya, bocah lelaki itu mengikuti mobil om Rendi yang ada Gita di dalamnya.
__ADS_1
"Emang salah Farhan sih bun. Ya wajarlah Gita marah." Farhan bicara santai.
Farhan tuh gitu, kayak punya dua kepribadian, di luar dan di dalam rumah
"Iya, emangnya kamu ngapain sampe dia ngambek gitu?"
"Em, tadi Farhan ke kelasnya bun,"
"Terus?" Cecar Queen.
"Farhan nggak ijinin Gita ke kantin."
"Gitu doang?"
"Iya. Mungkin Gita malu kali bun sama temen temennya.." Jawab Farhan santai tanpa sedikitpun keraguan.
Dan tiba tiba pintu kamar Gita terbuka.
"Nggak ya om. Nggak ada perjodohan perjodohan lagi. Aku nggak mau deket deket sama dia." Gita masih tersulut emosi.
Berkat ucapan Rendi yang sedikit lebih keras, nampaknya membuat Gita mencuri dengar obrolan mereka.
"Kenapa sih Git, gitu doang. Bagi bunda apa yang di lakukan Farhan masih dalam batas wajar kok." Bela Ira.
"Dia itu berantem sama Deni bun."
__ADS_1
"Siapa Deni?" Sela Rendi cepat.
"Itu temen kelas nya Gita om." Farhan yang jawab.
Gita seketika terdiam. Ia hampir saja membuka sendiri hubungannya yang sudah berjalan diam diam selama beberapa bulan. Syukurnya Farhan membela nya.
"Pokoknya aku nggak mau ketemu ama Farhan lagi, titik." Dan suara pintu kembali terdengar dengan nyaring.
"Ayah.. cepet pulang. Anaknya kalo ngambek gitu bener sih..." Lirih Queen.
"Kelakuan kamu dulu kayak gitu Queen."
"Aku enggak ya bang."
"Nggak nyadar aja kali." Rendi tertawa kecil. Ia bangun dan menepuk pundak Farhan. "Pulang aja dulu, biarin Gita nya adem dulu. Entar baru di bicarain baik-baik berdua." Saran Rendi.
"Abang mau kemana?" Tanya Queen.
"Pulang dulu ah.. mau jemput si Zahra, tadi dia aku tinggal di toko roti." Lalu Rendi melangkah keluar pintu.
"Aku pulang ya bun, nanti kalo ada apa-apa kabarin aku aja." Setelah mendapat anggukkan dari Queen, Farhan mencium punggung tangan Queen kemudian pergi.
"Gitta.. terserah ya, kalo kamu ngambek terus bunda nggak akan ajak kamu ke Semarang weekend nanti."
Ceritanya emang agak lambat, soalnya sedikit sedikit up nya.
__ADS_1
🙃🙃😉