
"Mas, kemana aja sih?" Tanya Queen membuka obrolan, saat ini mereka tengah duduk di sofa depan meja tv, seperti permintaan Aska.
"Saya sibuk Ra, saya kan udah pernah bilang, kalau ada acara perayaan besar begini pasti sibuk" Afra memang menjelaskan, tetapi fokusnya tetap pada layar ponsel dalam pegangannya.
Meskipun kini Queen tengah duduk di sebelah dan menghadapnya, tapi lelaki itu terasa enggan untuk melihatnya.
"Ya, tapi kan aku nggak tau, kalo itu bakal ngambil seluruh waktu kamu."
"Enggak kok, saya masih tetap inget kamu kan?" Sesaat Aska memang melihat ke arahnya, tetapi kembali melihat kearah layar dihadapannya.
"Mas.." Queen mulai gemas.
"Hm?" Aska masih tidak menoleh.
"Aku tuh di sebelah kamu. Bukan lagi telfonan sama kamu" Suara Queen mulai meninggi.
Aska menatap kearahnya bingung, tapi sesaat kemudian ia mengerti, gadisnya itu tengah meminta perhatiannya.
Queen berbalik, duduk lurus menghadap kedepan, dengan punggung yang ia hentakkan pada senderan kursi dan tangan yang terlipat di depan dada.
Melihat gadis kesayangannya tengah merajuk dengan wajah cemberut, membuat hati kecil Aska terasa gemas. Ia meletakkan ponsel di atas meja yang berada di hadapannya.
Kini, gantian Aska yang duduk miring menghadap Queen, dengan satu tangan yang menjulur di belakang tengkuk leher Queen, dan satu tangan bergerak memainkan rambut atas Queen.
"Kenapa sih Ira sayang, hng?" Tanya Aska dengan suara lembut, dan senyuman di akhir kalimat.
"Kamu tuh, mulai terasa jauh tau nggak!" Queen merajuk.
"Iya, saya minta maaf. Tapi itu semua murni karena kerjaan. Saya bisa apa?" suaranya masih terdengar lembut seperti merayu. Sorot matanya juga tidak melihat ke wajah Queen, melainkan mengikuti tangannya yang bergerak memainkan rambut Queen.
"Ah, alasan aja kali."
"Engga Ra." Ada jeda sebentar di antara mereka saat Queen tidak menjawab.
"Oke deh, karena nanti saya nggak bisa temenin kamu, untuk kali ini, kamu boleh pergi sama temen-temen kamu. Gimana?" Lanjut Aska.
"Beneran? kalo mereka cowok?" Queen mulai luluh.
"Ya... untuk kali ini saya nggak masalah. Yang penting kamu perginya nggak berduaan"
"Aku enggak kok, enggak berdua, kan ada Rindi juga, pasti ntar yang lainnya juga ikut." Queen antusias. Wajahnya sangat terlihat bahwa hatinya sangat gembira.
Ia berbalik menghadap Aska dan memeluknya dengan semangat. "Makasih mas pengertiannya, makasih, makasih.." Ucap Queen dengan semangat. Di akhir kalimatnya Queen mencium leher samping Aska. Yang tanpa ia sadari menghasilkan gelenyar hangat di tubuh lelaki itu.
__ADS_1
Aska terpejam sesaat, merasakan sensasi hangat di tubuhnya, kemudian dengan cepat ia melepaskan pelukan Queen.
"Ck, kamu ini" Ucapnya seperti tak suka.
"Kenapa?" Queen bingung.
"Udahlah," Aska melirik jam di dinding sekilas. "Baru jam tiga. Kamu tidur lagi, saya temenin sebentar." Tanpa menunggu jawaban Queen, lelakinya itu seketika mengangkat tubuh Queen, membopongnya ke dalam, dan meletakkan dengan lembut ke atas kasur. Sama seperti seorang ayah yang akan menemani putri kecilnya akan tidur.
"Kok sebentar mas?"
"Iya, saya masih di jam tugas Ra, mampir sebentar lihat kamu." Aska ikut merebahkan dirinya di samping Queen. Sebelumnya ia menarik selimut untuk menutupi gadis di sampingnya.
"Sampe kapan sih mas, perasaan kamu hampir nggak ada di rumah deh?"
"Iya. Sampe libur tahun baru selesai Ra. Udah tidur. Waktu saya udah nggak banyak. Atau mau saya tinggalin sekarang?" Dipandang dengan tatapan serius seperti itu membuatnya menggeleng dengan cepat.
Aska tersenyum, membelai rambut Queen dengan lembut, sampai saat wanita di hadapannya itu tertidur nyenyak, Aska bangkit perlahan, dan memastikan selimutnya benar menutupi tubuh gadis kesayangannya.
***
Hari berikutnya, Queen dan Rindi sudah bersiap dengan Agung dan Iriana. Mereka kumpul di kamar Queen. Ingatkan kalo Agung itu tetangga baru Queen. Tapi sayangnya Agung tak seberuntung Aska yang langsung bisa mendapatkan perhatian Queen dulu.
Queen sangat tertutup kepada Agung, interaksi mereka hanya sesekali. Karena Queen yang selalu menutup pintu saat Aska tak berada di sampingnya.
"Udah siap? Yok berangkat!" Ajak Agung.
Berangkat di sore hari, membuat mereka akhirnya terkepung macet, belum lagi sampai di tujuan lautan manusia sudah mendahului mereka. Ada rasa penyesalan di hati Queen, tapi itu ia relakan demi Aska-kekasihnya-.
"Ayolah, it's ok. Udah nyampe sini juga. Nggak asik kalo nggak dinikmatin" Bujuk Agung, kepada ketiga wanita itu yang terlihat malas.
"Yaudahlah, Queen lo hutang sama kita. Pokoknya malam ini lo yang harus traktir." Ketus Rindi.
"Iya bawel." Jawab Queen yang tak kalah ketus. Akhirnya mereka ikut menikmati alunan musik dari artis ibukota, meski mereka tak melihat orangnya, dan hanya panggung besar yang terlihat, tapi tak masalah, yang penting bisa menikmati suasana pergantian tahun dengan begitu ramai.
Ketika petasan siap di ledakkan, semua orang yang hadir di sana kompak untuk menghitung mundur waktu, menyambut pergantian tahun baru.
lima..
empat..
tiga..
dua..
__ADS_1
satu..
Duar.. duar.. duar.. suara petasan bergemuruh di langit. Semua pasang mata tertuju pada warna warni yang timbul di gelapnya langit malam.
Agung yang duduk di sebelah Queen, membisikan kata tepat di samping telinga Queen.
"Selamat tahun baru ya Queen, semoga apa yang kita inginkan di tahun ini akan tercapai"
Queen terdiam terkejut mendengarnya. Tak lama ia mengulas senyum.
"makasih ka.. selamat tahun baru juga." Jawab Queen.
Rindi melirik sekilas, memperhatikan interaksi dua orang itu, waspada jika nantinya mereka akan kelewat batas. Tapi rasanya cinta Queen memang sudah terpatri pada Aska. Tak ada yang mereka lakukan setelahnya dan kembali menatap langit malam yang meriah.
***
Tak lama setelah acara puncak selesai, mereka memutuskan untuk pulang, seperti permintaan Queen sebelumnya. Dan acara akan dilanjutkan esok pagi.
Hujan rintik mengguyur selama perjalanan mereka menuju rumah. Lalu lintas yang begitu padat, membuat laju mobil Agung bergerak pelan.
Di bawah guyuran hujan yang semakin deras, samar-samar Queen melihat polisi yang bertugas mengawasi lalu lintas sekitar. Queen yang duduk di belakang Agung, menurunkan kaca jendela disebelahnya. Dengan penuh harap ia berdo'a bahwa petugas itu adalah lelakinya.
Dan sepertinya Tuhan sedang berbaik hati malam ini, ia mengabulkan permohonan kecil Queen. Aska berdiri dengan jas hujan dan lampu tongkat warna merah. Menggerakkan kekanan dan kekiri.
Tapi perhatiannya tertuju pada satu wajah yang terlihat dari dalam mobil, sedang tersenyum manis kepadanya. Aska terdiam tanpa ekspresi, apalagi melihat seseorang di balik kemudi. Kepalanya seakan memanas.
Mobil itu melaju meninggalkannya yang masih diam tanpa ekspresi, satu petugas menghampiri Aska.
"Woy, di kasih senyuman sama cewek cantik tajir langsung nggak berdaya lo" Ledek teman Aska.
"Kenal gua" Sahutnya santai, saat kesadarannya datang kembali.
"Masa? manis gitu. Kenalin lah"
"Dalam mimpi" Sungut Aska ketus. Ekspresi wajahnya datar.
"Pacar ?" Rendi-teman Aska- makin penasaran.
"Hm"
"Wuidih. Mati aja lu As, cowoknya lagi kerja ujan ujanan gini, ceweknya malah asik jalan ama cowok laen. Haha..." Tawa Rendi pecah, apalagi melihat ekspresi Aska yang sudah seperti mayat hidup.
"Sabar bos.. tapi cakep juga cewek lu. Kalo lu putus bilang gua ya, gua siap nampung." Kalimat terakhir Rendi, sukses membuatnya memalingkan wajah dengan rahang yang mengetat ke arah Rendi, membuat lelaki itu semakin tergelak kencang melihatnya.
__ADS_1
**apa yang terjadi selanjutnya?**
🙃🙃