
Di iringi suara hujan yang begitu menggema hingga terdengar dari kamar Aska, dapat mereka ketahui, betapa derasnya air yang mengguyur sebagian wilayah pinggiran ibukota.
Queen dan Aska sedang melakukan kegiatan yang menghangatkan tubuh mereka. Anggukan kecil dengan wajah tertunduk milik Queen, tidak Aska sia-siakan begitu saja.
Queen berharap lelakinya akan segera mengganti cara berfikirnya, dan beralih memberikan apa yang Queen mau.
Aska tengah menyesap bulatan kecil merah muda milik Queen yang bertengger di atas dadanya.
Queen terkungkung di bawah tubuh kokoh milik Aska, menikmati setiap sentuhan lembut Aska di area sensitif Queen.
Lelakinya tengah di gulung gairah. Tapi tatapan mata Aska saat kejantanannya akan ia satukan, begitu dalam dan terlihat penuh kasih.
Aska mengecup lembut kening Queen, beralih merasakan candu pada bibir wanitanya. Lembut namun menuntut, membuat Queen mengalihkan rasa dari inti tubuhnya.
Ternyata benar kata Aska. Rasa sakit itu sudah tidak separah kemarin, saat mereka pertama kali melakukannya. Penyatuan mereka kali ini begitu mendamba bagi Queen, dan lancar bagi Aska. Dirinya sudah tidak perlu menahan seperti kemarin, akibat dinding yang masih berpenghalang.
Queen mendesah, membuka kakinya lebih lebar, memberikan akses bagi Aska agar bisa menghujamnya lebih cepat dan leluasa.
Aska semakin menjadi, gerakannya semakin lincah dari kemarin, dan tempo yang membuat Queen semakin membuncah. Queen melenguh merasakan benda yang terasa keluar masuk di dalam inti tubuhnya.
Sesapan halus dan kadang sedikit gigitan kecil pada benjolan kecil itu membuat Queen menggila. Queen mengalungkan tangannya pada leher Aska yang masih asik bermain di gundukan atas dadanya.
Rasa menggebu pada diri Aska juga membuat lelaki itu sesekali melenguh hingga matanya terpejam menikmati rasa dari tubuh wanitanya. Aska semakin terbuai ketika Queen mendesah kan nafasnya dekat telinga Queen.
"Mas.." Cicit Queen pelan. Aska mengangkat kepalanya, menatap wajah Queen. "Aku sebentar lagi.. mmph." Masih dengan mata terpejam, Queen memberi tau apa yang sedang ia rasakan.
Ucapan Queen membuat Aska menjadi lebih semangat. Senyumnya tertarik lebar di bibirnya. Wanitanya benar-benar sudah ia bikin menggila di bawah tubuh tegapnya.
Aska mencium lembut bibir Queen lalu kembali bermain pada gundukan di atas dada Queen. Semakin cepat gerakan lidah Aska membelit serta menggigit halus benjolan kecil milik Queen, Semakin keras juga Queen rasakan tangan Aska pada gundukan yang di sebelahnya. Aska juga terus menarik turun batangnya dari inti tubuh Queen, menghujamnya semakin cepat dan cepat.
Tiga sensasi yang berbeda pada area sensitif Queen membuat wanita itu tidak dapat lagi menahan gejolaknya yang membuncah. Queen sampai. Ia melenguh dengan suara desahan yang terdengar merdu menyebut nama lelakinya. "Mas Aska...ahhmp"
Aska yakin Queen sudah sampai, denyutan yang Aska rasakan pada benda miliknya dari dalam inti Queen, membuat lelaki itu tak kalah menggila. Inti Queen sudah dua kali ia tembus, tapi masih saja terasa begitu rapat, begitu hangat, cairannya basah Queen seperti memberikan akses Aska untuk mempermudah naik turun dan keluar masuk batang kejantanannya Aska.
__ADS_1
Aska mengangkat kepalanya, matanya terpejam dengan mulut terbuka, menengadah ke belakang, sedikit lagi. Sedikit lagi rasa itu akan kembali Aska nikmati. Bergerak lebih cepat demi sampai pada kepuasan, Aska terus menarik dan menghujam milik Queen, semakin cepat dan semakin cepat. Sampai ia rasakan miliknya sampai pada klimaksnya.
Matanya masih terpejam dan menengadah kebelakang saat Aska menggeram merasakan kenikmatan pada batang kebanggaannya. "Iraaa.. ahh.." Aska tumbang. Desahan dan deru nafas Aska begitu terdengar dan menggelitik di telinga Queen.
Lelaki itu benar-benar tidak ingin di perbudak Queen. Ia tidak membiarkan Queen yang ingin bermain di atasnya.
Aska bahkan sudah tidak canggung lagi, mengintervensi lidah Queen dalam belitannya. Lelaki itu juga menunjukan kebolehannya hingga membuat wanitanya klimaks dua kali.
Astaga.. ini baru seminggu mereka menjadi pasangan yang sah, bagaimana jika ini terus berlanjut. Apakah Queen sanggup menyeimbangkan gerakan Aska?
Bersamaan dengan berhentinya suara hujan yang terdengar, Queen dan Aska selesai pada kegiatan panas mereka. Kegiatan yang membuat tubuh Queen lemah karena lelah, tapi tidak untuk Aska.
Senyuman manisnya masih terpancar mempesona bagi Queen. Aska mencium dalam kening Queen, berganti turun ******* sebentar bibir Queen. "Kamu cantik Ra.." Satu kalimatnya yang selalu Aska ucapkan ketika selesai sampai pada kepuasannya, lalu melepas penyatuan tubuh mereka
Queen sudah lelah, ia mengantuk. Matanya sudah tak kuat untuk terbuka. Membuat Aska tak tega namun gemas.
"Sebentar lagi saya mau berangkat Ra.." Bisik Aska lembut, berusaha menyadarkan wanitanya.
"Hmm.." Queen mengganti posisinya, berbaring miring, merangsek memeluk Aska. Aska hanya tersenyum mendapati tubuh Queen yang sudah menempel pada tubuhnya.
Aska menggeser tubuh Queen pelan. Ia bangun untuk mengambil tisu yang ada di atas meja rias Queen sebelah ranjang tempat mereka bergulat tadi.
Dengan telaten Aska membersihkan sisa cairan pada inti tubuh Queen, dan yang tercecer di atas seprei. Aska berdecak, seraya menggeleng pelan menatap wajah wanitanya.
"Belum saatnya kamu punya anak Ra.." Lirihnya halus hingga tak terdengar oleh Queen. Setelah berganti membersihkan batang miliknya, Aska mengenakan kembali celana dalam yang tadi jatuh ke bawah dekat ranjang. Ia kembali masuk kedalam selimut, memeluk wanitanya yang sudah menunggu Aska membersihkan sisa-sisa mereka.
"Sepuluh menit ya Ra saya temenin kamu. Habis itu saya harus siap-siap berangkat."
"He'em.." Jawab Queen. Tubuhnya sudah hangat dalam dekapan Aska. Ia tidak ingin membayangkan bagaimana ia bisa tidur nanti malam, jika selimut sekaligus guling hidup ternyaman-nya tidak ada bisa ia rasakan nanti malam.
Aska mengusap lembut rambut belakang Queen, dengan pelan dan mengulang. Rasa sayang di hatinya tidak pernah bilang, bahkan terus bertambah, seiring kenikmatan yang Queen berikan untuknya.
Sepuluh menit sudah berlalu, seperti janji Aska, ia menyentuh tubuh Queen pelan, membuatnya setengah tersadar. "Saya mau mandi dulu Ra." Bisik Aska. Queen melepaskan pelukannya, membiarkan lelakinya bangun untuk melakukan rutinitasnya.
__ADS_1
Setelah Aska beranjak masuk ke kamar mandi, mau tidak mau Queen harus bangun untuk membantu Aska menyiapkan keperluannya.
Duduk dan menguncir rambutnya hingga membentuk sanggul. Queen hanya mengenakan celana dalam dan kaos Aska yang ia ambil, karena berada paling dekat dengan tangannya. Ia beranjak ke arah lemari, menyiapkan pakaian dinas serta semua uang akan Aska kenakan.
Mulai dari celana dalam, singlet, kaos dan seragam coklat milik Aska, semua ia letakkan di atas selimut kasur mereka. Selanjutnya ia beranjak ke dapur, menyiapkan bekal untuk Aska.
Queen dan Aska akan selalu menyempatkan untuk masak bersama, entah saat waktu makan apa mereka tengah bersama. Seperti tadi pagi, meski dengan bumbu cepat saji yang mereka beli di mini market.
Sayur capcay dan ayam goreng, di temani sambal hasil buah tangan Aska. Haha.. Aska yang meminta dirinya untuk melakukannya, ia tidak ingin tangan Queen menjadi lelah.
Atau sebenarnya, Aska belum percaya pada hasil dari ulekan Queen. Wanitanya tidak pernah melakukannya dulu, Aska juga tidak sabar melihat isi dari sambelan itu tidak halus-halus karena gerakan lembut tangan Queen.
"Udah siap semua mas.." Lapor Queen, sat lelakinya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang begitu segar dan wangi yang menguar.
"Makasih Ira.." Aska mengecup lembut pucuk kepala Queen. Beranjak ke kamar untuk mengenakan seragamnya.
"Udah kamu mandi, jangan lama-lama. Temenin saya makan." Titah Aska, Queen segera melaksanakannya.
Aska sudah selesai menggunakan segala perlengkapan yang Queen sediakan. Selanjutnya ia berjalan ke arah lemari. Mengambil seprei serta selimut yang baru.
Aska tidak ingin Queen tidur di atas seprei kotor karena sisa mereka tadi. Sambil menunggu Queen selesai mandi, Aska mengganti seprei serta selimut mereka dengan yang baru.
Queen yang mandinya tidak selama Aska, kini sudah rapih memakai kaos oblong dan celana pendek sebatas paha. Aska memicing melihatnya. "Jangan buka pintu atau jendela, apalagi sampai keluar rumah." Tegas Aska.
Queen hanya diam dengan bibir yang mengerucut. Meskipun ia tidak suka tapi ini perintah sang suami. Maka Queen harus melaksanakannya. Sehabis menemani Aska makan, ia membereskan perlengkapan bekas makan Aska tadi, lalu berjalan keluar, menghampiri Aska yang sudah menunggunya di ambang pintu.
"Saya berangkat dulu ya Ra.. kamu inget pesan saya tadi." Aska menyentil kening Queen. "Nanti saya telfon begitu ada waktu senggang." Aska mengecup kening Queen, juga bibir Queen sebentar.
Berganti dengan Queen yang mencium punggung tangan Aska. "Hati-hati di jalan ya mas.. langsung chat aku kalau kamu udah sampe."
"Iya sayang." Senyuman Aska menjadi penutup pertemuan mereka hari ini. Lelakinya pergi dengan mobil, karena rintik hujan masih sesekali turun.
Queen bergegas masuk, melaksanakan perintah mutlak dari Aska. Mengunci pintu dan menutup hordeng jendela kamar mereka.
__ADS_1
'Saatnya duduk manis sambil menonton acara drama Korea favorit.' dalam hati Queen.
🙃🙃😉