
Keesokan harinya, Aska bangun lebih dulu. Seperti biasa, sebelum adzan subuh berkumandang, ia sudah selesai mandi. Namun kali ini sedikit berbeda. Jika biasanya Queen selalu membantu Aska untuk menyiapkan segala keperluannya, kali ini, Aska harus melakukannya sendiri. Karena ia tak mau mengganggu tidur Queen.
Setelah Aska selesai menyiapkan sarapannya yang ia beli sendiri dan tak jauh dari kediamannya, barulah ia berani membangunkan Queen. Aska sangat yakin, istrinya itu pasti belum makan dari semalam, atau mungkin dari siang, mungkin juga seharian kemarin ia benar-benar tak makan apapun. Astaga, hati Aska tersayat perih memikirkan hal itu.
"Ra.." Aska berbisik lembut di telinga Queen. "Bangun dulu yuk, kita sarapan." Queen mengerjap karena belaian jemari Aska di pipinya.
"Aku nggak laper." Suara parau Queen, terdengar samar dan pelan.
"Em, aku mau sarapan di temenin sama kamu."
"Aku masih ngantuk."
Penolakan yang begitu nyata bagi Aska, hingga kepalanya tertunduk dan berpangku pada bahu Queen.
"Sebentar aja Ra, abis itu kamu bisa tidur lagi." Bujuk Aska tak mau kalah. Queen yang sedang memendam cinta dan benci di hatinya, tentu luluh mendengar suara Aska yang penuh keputus-asaan. Andai itu hanya cara bujukan Aska pada Queen, itu tak masalah. Toh, ada hal yang harus Queen bicarakan, mungkin nanti juga Aska akan merasakan sakit yang sama dengan dirinya.
Queen bergerak, Aska yang menyadari itu langsung menegakkan kembali kepalanya. Queen beranjak bangun, berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sedangkan Aska, dengan senyum bahagianya, ia duduk di sofa dimana makanan yang ia beli tadi sudah ia persiapkan. Tak perlu waktu lama Queen datang dan bergabung dengan dirinya untuk sarapan.
"Ikut makan ya Ra.. Aku suapin ya.." Aska berpindah duduknya di sebelah Queen. Menyuapkan satu sendok nasi uduk untuk Queen. Namun, Queen menutup matanya, dan yang Aska dapat artikan bahwa Queen enggan menerima suapan itu.
"Em, kamu mau makan sendiri?" Rasa kecewa Aska pendam dalam tidak mau membesar-besarkan ha ini.
Baru saja Aska menyuapkan satu sendok untuk dirinya sendiri. Suara Queen nyaring terdengar di telinga. Memaksa Aska menelan makanan itu dengan kasar.
"Aku mau pisah."
Meski ia mendengar dengan pasti, tapi Aska tidak ingin menjawab. Ia tak terima.
Di banding marah, Aska justru memejamkan matanya, mencoba melupakan ucapan itu dan melanjutkan kembali sarapannya. Namun selera makannya sudah hilang seketika. Dirinya mati rasa saat itu juga.
"Kita pisah aja mas.. aku ngerasa hubungan kita nggak akan sehat lagi kedepannya." Queen mengulangi keinginannya, membuat Aska semakin menggila dalam diamnya.
Tidak bisakah Queen melihat, mereka sedang berhadapan dengan rezeki pemberian Tuhan. Tapi Queen seolah tak menghargai dengan mengucapkan kalimat yang paling di benci oleh Tuhan nya, juga untuk Aska sendiri.
"Jangan mikir yang aneh-aneh Ra. Nggak baik untuk anak kita. Dia mungkin bisa dengar suara kita." Aska menatap nanar melihat perut Queen yang sudah membuncit. Mengusapnya lembut.
"Tapi hubungan kita sekarang juga enggak baik untuk perkembangan dia nanti. Mending kita udahan sekarang aja mas. Itu jalan terbaik untuk semuanya." Queen kembali terisak dalam tangisnya.
"Udahan?" Aska tersenyum getir, entah ia mengejek dirinya sendiri atau pemikiran Queen. "Kita lagi nggak mainan Ra. Nggak usah asal ngomong deh. Aku anter kamu tidur lagi aja ya, kamu masih ngantuk kan?"
"Aku udah sadar mas Aska. Aku tau apa yang aku ucapin."
"Aku berangkat sekarang ya Ra, udah hampir telat ini." Aska melirik jam tangannya. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan Queen hanya bisa diam sambil menangis.
Aska membawa makanannya dan menyimpan di meja dapur. Mungkin nanti setelah kepergiannya Queen akan merasa lapar. Ia mengenakan jaketnya, lalu mengecup kening Queen dalam.
"Jangan mikir yang macem-macem ya sayang, semuanya bakal kembali baik." Mengusap lembut perut Queen. "Ayah kerja dulu ya sayang, jaga bundanya baik-baik." Meski dengan hati yang perih Aska masih memaksakan senyumnya, mengusap pucuk rambut Queen, lalu meninggalkan wanitanya yang masih terdiam.
Tangis Queen kembali pecah, seiring suara tutupan pintu oleh Aska.
__ADS_1
Tak jauh berbeda dengan Queen, baru beberapa menit sejak laju motornya keluar dari pintu gerbang, Aska menepi dan menghentikan lajunya. Dengan suara mesin yang masih menyala Aska menyembunyikan tangisnya di balik helm yang ia kenakan.
Persetan dengan orang yang bilang dirinya cengeng. Aska tak perduli. Hatinya begitu perih. Ia tak percaya Queen akan mengucapkan kata yang paling ia takuti. Sialnya hubungan mereka baru seumur jagung, Queen juga baru mengandung anak pertama mereka. Kenapa mudah sekali ia mengucapkannya. Tidak bisakah ia memberi kesempatan untuk dirinya. Bukannya ia juga hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Hatinya begitu teriris mendengar ucapan Queen tadi, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Ia berusaha mempertahankan rumah tangga yang selama ini seperti mimpi baginya.
Bukankah Queen tau, bagaimana perjuangannya mendapatkan hubungan yang di akui secara agama dan hukum. Tidakkah Queen menggunakannya sebagai bahan pertimbangan. Tidakkah Queen menghargai sedikit waktu lalu yang mereka lewati. Tidakkah itu semua berarti.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Aska. Namun satu jawaban pasti yang Aska dapatkan atas pertanyaannya sendiri. Andai saja Aska tidak berbohong pada Queen tentang janji itu pada Rendi. Mungkin semua ini dipastikan tidak akan terjadi.
Dalam tangis dan penyesalannya, Aska tiba-tiba teringat dengan Queen yang sendiri di dalam rumah. Rasa takut kehilangan kembali menyergap hati juga fikirannya. Bagaimana jika Queen pergi saat dirinya sedang tidak ada di rumah. Bagaimana jika Queen tidak menunggu dirinya menyelesaikan masalah mereka. Queen adalah wanita muda yang nekat, dapat di pastikan ia bisa melakukan hal apapun yang ia mau tanpa berfikir panjang.
Aska bergegas mengeluarkan ponselnya menghubungi Queen. Butuh beberapa saat sampai Queen mengangkat panggilannya.
"Ra.. kamu mau aku bawain apa nanti?" Tanya Aska menyembunyikan kekhawatirannya.
"Aku udah nggak mau apapun."
"Aku pulang cepet hari ini, kamu tungguin ya."
"Hm." Queen memutuskan panggilan mereka. Aska kembali merasakan lemas pada lengannya. Tak masalah, yang penting Aska sudah menyampaikan perasaannya pada Queen.
Saat itu juga Aska merasa, dirinya sudah terlalu jauh meninggalkan Queen sendiri dalam penantian yang menyakitkan. Harusnya Queen tak pernah merasakan rasa sakit ini.
***
Waktu bergulir, lambat merantai langkah perjalanan kita.
Mengerti kah engkau? perasaan ku tak terhapuskan.
Malam menangis, tetes embun membasahi mata hatiku.
Mencoba bertahan di atas puing-puing cinta yang tlah rapuh..
Apa yang ku genggam, tak mudah untuk aku lepaskan.
Aku terlanjur cinta kepadamu
dan tlah ku berikan seluruh hatiku,
tapi mengapa baru kini kau pertanyakan, cintaku.
Aku pun tak mengerti yang terjadi,
apa salah dan kurang ku padamu?
kini terlambat sudah untuk di persalah kan
karna skali cinta
__ADS_1
aku tetap cinta..
***
Selama berada dalam waktu tugasnya, Aska sangat sulit fokus pada pekerjaannya. Ia selalu merasa Queen akan melarikan diri, dan tak dapat Aska temui lagi saat ia pulang nanti. Tak tahan dengan perasaan ini, Aska memutuskan meminta Rendi menemani Queen di rumahnya. Setidaknya Aska bisa tau jika Queen akan pergi meninggalkannya, terlepas dari mampu atau tidaknya Rendi menjaga wanita kesayangannya agar tetap menunggunya pulang nanti.
"Halo, Ren.." Suara Aska memburu seketika saat Rendi mengangkat panggilannya.
"Apa?" Rendi mendapat shift malam tadi, jadi ia sedang tertidur ketika Aska telfon.
"Ke rumah gua sekarang Ren.. temenin bini gua di rumah."
"Ha?? apaan??" Rendi sedikit terkejut mendengar kalimat Aska.
"Temenin bini gua, dia sendirian dirumah."
"Tiap hari juga dia di rumah sendirian. Kenapa emang? Dia sakit?"
"Enggak. Dia lagi salah paham ama gua, gua takut dia nggak ada pas gua pulang nanti." Suara Aska melemah.
"Ah.. gembel lu. Jadi maksud lu gua suruh jadi satpam lagi gitu? Emang lu mau kemana lagi?"
"Enggak. Dia salah paham tentang perjanjian kita. Dia ngira gua selingkuh sama si Dissa. Dia minta pisah sama gua Ren.." Aska memejamkan matanya. Rasa sakit itu kembali menyerangnya saat Aska mengingat ucapan Queen tadi pagi.
"Ha,?? Apaan?? Yang bener aja lu. Bercanda kali lu. Bukan april mop ini woy.. nggak lucu candaan lu."
"Justru gua berharap ini April mop. Jadi Queen cuma bercanda sama gua."
"Wuah gila lu As.. lu mati bener kalo lu sampe kehilangan dia. Dia janda juga gua masih doyan As.. masih banyak yang mau ama dia."
"Ya karena itu Ren.. tolongin gua. Tolong banget Ren.. jagain dia sekarang sampe gua pulang. Gua juga mau bawa di Dissa kesitu. Biar dia jelas."
"Jangan-jangan.. gua yakin si Dissa bakalan jadi kompor. Gua tau dia suka sama lu men.."
"Ha??"
"Waktu kemaren gua ketempat lu, gua pengen ngomong sama lu. Tapi elu nya malah nggak pulang-pulang. **** dasar."
"Terus gua harus gimana jelasin sama dia Ren.." Aska melepas topinya, mengacak-acak rambutnya frustasi. Cara yang paling ampuh sudah tidak bisa ia gunakan. Bagaimana lagi ia harus menjelaskan pada istrinya.
"Yaudah, entar gua bantu jelasin sama dia."
"Okeh. Thanks ya Ren.."
"Yok.."
Aska memutuskan panggilannya. Harapan ia dalam pada Rendi. Karena hanya dia yang paling tau tentang permasalahannya.
Sial.. pantes saja Aska merasa aneh, karena Rendi tak pernah bergabung bersama mereka. Dan Dissa selalu meminta Aska menemaninya setelah berganti shift. Ternyata ada maksud lain di balik semua itu.
__ADS_1
Aska merasa bodoh. Dirinya sudah di tipu mentah-mentah oleh seorang gadis. Niatnya ingin membantu Rendi, malah dirinya sendiri yang terjebak dalam situasi bagai neraka di hidupnya.
🙃🙃😉