Polisi Muda Tetanggaku

Polisi Muda Tetanggaku
Masih menanti


__ADS_3

"Kamu mau apa Ra? Bakso atau mie ayam?" Tanya Aska sambil melihat menu warung bakso.


"Engga!" Queen menolak. Entah emosi atau rada malu yang membuatnya menjadi begitu keras kepala saat ini.


Aska menoleh, tak percaya dengan jawaban gadis yang duduk di sampingnya.


"Yakin?" Alis Aska terangkat, memastikan. Namun tak ada jawaban dari Queen.


"Bener nih? Kamu belum makan lho!"


"Udah kenyang duluan, makan kabar yang ga enak didenger" Queen ketus.


Aska mengangguk mengerti. Menghampiri pedagang bakso tersebut, memesan hanya untuk dirinya dan tamu dirumah tanpa Queen ketahui.


***


"Harusnya tadi kita beli minuman dulu, baru beli baksonya mas. Kalo kayak gini, ya keringlah kuah baksonya." Tutur Queen.


"Engga, saya kan mesennya nggak pake mie. Cuma bakso sama kuahnya aja." Aska mengambil beberapa botol minuman rasa teh, dan air mineral. Tanpa membuang waktu lagi mereka menuju meja kasir untuk membayar.


Perjalanan arah pulang dari minimarket menuju kontrakan mereka tidak jauh, hanya saja, jalan yang mereka lalui adalah rute angkot. Jadi itu cukup memakan waktu. Apalagi saat mobil Aska berada di belakang angkot. Entah apa yang membuat angkot berjalan seperti seekor siput, kenapa tidak membiarkan mobil Aska lewat terlebih dahulu.


Itulah yang menyebabkan Queen menjadi tambah emosi, wangi bakso yang menguar di hidungnya membuat perut Queen terasa kosong.


Masih diiringi gerimis, Aska dan Queen turun dari mobil, berlari kecil menuju kamar kontrakan Aska. Seketika langsung di sambut heboh oleh teman-teman Aska.


"Wuedeh.. Yang abis jalan berduaan. Ampe lupa ama tamu" Sambut Dimas.


"Maap ya ka. Tadi ada penguasa jalanan. Jadi agak lama deh."


"Iya nggak pa-pa kok Queen. Yang penting selamet." sahut Rendi.


"Woy.. udah ada yang punya tuh" Bang Is memukul lengan Rendi pelan.


"Selamet baksonya bang maksudnya. Apa dah,pada curigaan aja bawaannya kalo sama gua" Rendi mendramatisir, seolah sedang teraniaya.


Dan semua yang ada mengucapkan "Oh.. kirain." Dengan serempak, kemudian tertawa.


Berbeda dengan Aska, setibanya tadi ia langsung masuk menuju dapur untuk mengambil mangkok sendok dan garpu. Tidak perlu gelas, karena minuman mereka adalah minuman kemasan botol, tinggal teguk, langsung masuk ke tenggorokan. Haha..


"Mas, aku mau ngomong bentar." Queen berbisik pelan di sebelah Aska, saat melihat semua sudah menuangkan baksonya.


Aska yang sudah mengerti, hanya tersenyum samar sambil mengikuti langkah Queen.


"Kenapa?" Mereka kini berada di dapur, dengan suara sepelan mungkin saat membuka suara.


"Kok kamu belinya cuma buat mereka?" Queen bingung.


"Enggak. Saya juga beli kok" Jawab Aska santai.


"Terus, buat aku?" Dengan jari telunjuk yang mengarah ke wajah.


"Buat kamu? Tadi bilangnya nggak mau." Aska seolah tak bersalah.


"Dih, mas gitu banget deh. Masa temennya di beliin akunya enggak?" Queen memelas.


"Tadi kan kamu sendiri yang bilang nggak mau Ira.."


"Tapi kan kamu tau aku belom makan. Masa gitu sih" Queen merajuk


"Lah, tadi bilangnya udah kenyang.. kamu lupa?" Senyum Aska makin terlihat saat melihat Queen yang putus asa.


"Iya kirain, mas Aska ngerti, terus tetep beliin. Tau taunya, zonk.. padahal kan aku laper mas.." Queen semakin memelas, memegang tangan Aska, dan menggoyangkannya kekiri kekanan.

__ADS_1


Aska luluh. Tadinya ia ingin memberi sedikit pengajaran pada gadis manjanya itu, agar berkata sesuai apa yang ia rasakan. Tidak lagi membuang kesempatan hanya karena emosi sesaat.


Tapi Queen adalah Queen. Terkadang sulit untuk mendidiknya menjadi lebih dewasa, dirinya tetap menuntut untuk di perhatikan dan di manja oleh kekasihnya.


"Yaudah, punya saya buat kamu." Aska mengusap pelan rambut belakang Queen, dengan penuh ketulusan.


"hehe.. makasih mas, em.. kita makan berdua ya."


"Iya." Jawab Aska singkat, menuntun Queen kembali kedepan.


Seperti yang sudah di sepakati, satu porsi bakso telur tanpa mie atau sayuran yang tadinya milik Aska, kini berada di hadapan Queen. Aska hanya fokus pada layar ponselnya, sambil sesekali di suapi oleh Queen.


"Ka." Panggil bang Is. Aska menoleh, dengan masih mengunyah bakso yang tadi Queen suapi.


"Emang kenyang lo makan berdua gitu? duit lo udah abis?" Tanya bang Is, sambil menutup botol minuman yang baru di minumnya.


"Engga. Tadi ada insiden dikit, jadi anak kucing nggak kebagian." Aska kembali fokus pada gadgetnya.


"Queen, kalo kurang punyaku masih ada nih.." Tawar Rendi. Queen hanya tersenyum menanggapi.


Aska melirik tajam, tak suka melihat Queen yang terus menebar senyum kepada sesama anggotanya.


***


Malam semakin larut, saat Queen memutuskan untuk tidur bersama Aska. Bukan 'tidur' dalam artian yang lain, tapi hanya tidur biasa. Sebatas menginap tanpa ada maksud apapun, kecuali membahas tentang sikap Aska yang menyembunyikan pindah tugasnya.


"Udah tidur belum?" Queen mencolek pipi lelaki yang tengah berbaring dengan mata terpejam di sebelahnya.


"kenapa?" Jawab Aska dengan suara sedikit parau.


"Aku belum bisa tidur, ada yang masih ngeganjel gitu dipikiran aku." Aska membuka matanya, menoleh ke arah Queen.


"Apa?" Aska serius.


"Enggak" Jawabnya singkat. Queen mengerjap tak percaya.


"Loh, terus kerjaan kamu gimana?"


"Saya nggak pindah jauh, mereka nya aja yang berlebihan."


"Kemana emang?" Queen mulai antusias.


"Masih di Jakarta Barat. Deket, cuma perlu satu setengah jam naek motor, nyampe" Aska masih memejamkan matanya, berbicara dengan tenang dan pelan.


"Wuah.. Kamu nggak capek nantinya?"


"Nanti juga terbiasa." Dengan satu tangan sebagai bantalan, Aska berbicara santai.


Queen kembali mencolek pipi Aska. Membuat Aska membuang nafasnya pelan,


"Kenapa lagi sih Ra?" Rasa gemas di hatinya membuat ia menoleh tak sabar.


"Aku kok masih laper ya, mas Aska laper nggak? Tadi kan cuma makan sedikit doang." Astaga, hati Aska menjerit, jika mendengar suara Queen yang sudah begitu manja meratap di hadapannya.


Aska mengusap wajahnya kasar, kemudian bangun dan duduk di pinggiran tempat tidur.


"Ayok, mau makan apa?"


"Aku mau mie instan aja. Tadi aku liat ada mie instan di dapur kamu" Masih dengan posisi berbaring memeluk guling, Queen seperti memerintah.


"Mie?" Aska berbalik menghadap Queen. "Nggak salah?" Aska memastikan.


"Tadi mas bilang, semalam udah habis traktir temennya, tadi juga traktir lagi, kalo aku masih milih milih, nanti tabungan kamu nggak nambah nambah dong."

__ADS_1


Ya Tuhan, demi apapun saat ini, rasanya hati Aska menghangat mendengar jawaban Queen. Abang tukang baksonya pake resep apa sih, Queen bisa tiba-tiba jadi dewasa gini.


"Oke, kamu tunggu. Jangan tidur ya.." Aska segera bangkit menuju dapur. Menyiapkan makanan yang di pinta oleh gadis kesayangan yang sekarang tambah menjadi gadis yang tersayang.


***


Aska memasukan dua mie kedalam panci yang berisi air hangat. Pikirannya jauh menerawang kebelakang. Mengingat obrolan singkatnya tadi bersama bang Is.


Tapi kali ini, mereka berbicara secara pribadi, sebagai seorang teman lama. Bukan sebagai atasan dan bawahan.


flash back.


"Ka, saya liat, kamu udah siap ngejalanin yang lebih serius sama pacarmu. Kamu udah kasih makan dia tiga kali sehari, tidur malem bareng, makan semangkok berdua. Udah bisa lah di ajak serius." Aska menoleh, terkejut dengan topik pembicaraan mereka. Meski yang lain masih ada disana, kecuali Queen yang sibuk mencuci bekas makan mereka.


"Ya.. semogalah mas, minta do'a nya aja."


"Terus, mau nunggu sampe kapan?" Bang Is serius.


"Nggak tau nih, bingung saya juga. Banyak banget yang belum siap." Meski Aska menatap layar ponsel, tapi bang Is tau, kalo temannya sedang memikirkan sesuatu.


"Kalo masalahnya uang, kamu nggak usah khawatir, saya bisa bantu." sambil menepuk pundak Aska pelan.


"Ya, kalo itu saya percaya semua sudah ada rezekinya masing masing. Tapi makasih tawarannya, bakal saya tagih nanti." Aska menoleh tersenyum. Kemudian kembali menunduk.


"Terus masalahnya dimana?" Bang Is menuntut.


"Masalahnya, saya masih nunggu dia bicara soal keluarganya. Kemarin niat saya ngajak dia ke kampung tuh, biar dia juga bisa cerita. Tapi, dia kayak udah ngunci masa lalunya, nggak ada yang dia ungkit. Saya jadi bingung harus gimana." Aska mengurut pangkal hidungnya, mengusap rambutnya kebelakang. Sangat terlihat rasa putus asa dari Aska.


"Kalo dia udah ngunci masa lalunya, harusnya kamu tuntun dia jalan ke depan. Buat apa kamu nunggu dia buka kunci, sedangkan dia pengennya ngebuka lembaran baru. Nggak akan ketemu Ka. Yang ada nanti kamu malah nyesel pas liat dia udah di gandeng sama cowok lain."


Aska bukan cowok yang bodoh sebelumnya. Ia juga mengerti apa yang di maksud oleh bang Is, hanya saja dirinya masih tak tau harus berbuat apa kedepannya. Yang ia tau hanya mengikuti alur hidupnya.


"Terus saya harus gimana? masa tau tau saya nikahin dia."


"Ya kamu lamar dulu lah.. semua ada prosesnya, sabar.. jangan langsung pengen malam pertama aja."


Ha? Apa? Kenapa bang Is bisa sebut malam pertama sih.


"Apa? Jangan-jangan udah duluan ya?" Melihat reaksi Aska tadi, bang Is mencoba menebak. Tapi langsung di bantah tegas oleh Aska.


"Enggak!! belum" *T*api hampir. Dalam hatinya.


Di jawab dengan anggukan kepala oleh bang Is.


"Oh iya mas, lamaran itu gimana sih?"


"Ya kamu dateng ajak keluarga kamu terus bilang sama keluarganya Queen, kalo kamu serius, pengen dia jadi istri kamu. Dodol, gitu aja nggak tau." Kesel bang Is.


"Oh.. ah.. mas.. kayak udah pernah aja, padahal mah kita kan sama. Haha.." Mereka tertawa mencairkan suasana.


"Tapi satu hal Ka, yang jadi point utama waktu kamu mau melamar, jangan sampe kamu abaikan" Serius bang Is, dan semua anggota yang ada memasang kuping dengan serius.


"Apa tuh mas?" Aska tak kalah serius.


"Jangan sampe kamu salah pintu rumah pas dateng mau melamar, apalagi pacar mu nggak ada di tempat. Itu hal paling bahaya nantinya" Bang Is yang sudah berbicara dengan seserius mungkin, malah mendapat tanggapan yang berbeda. Ada yang melempar dirinya dengan bantal kecil, makanan ringan, atau botol kosong sisa minum mereka.


"Itu mah cuma ada di film film lah yang begituan mah.." Sahut Aska tegas, sesaat mereka tertawa, sampai bang Is berseru.


"Siapa tadi yang berani ngelemparin saya? Mau dapet jatah dua kali piket berturut-turut?"


Dan keadaan hening seketika, dengan wajah yang saling menunduk.


flashback off.

__ADS_1


**hay guys. boleh minta like nya nggak? kayaknya ada yang lupa ngelike. apa karena ceritanya terlalu slow motion.. haha..**


__ADS_2